
Hari demi hari telah terlewati, Kei menjalani kehidupan yang baru. Kehidupan yang semakin jauh membuatnya frustasi, mempunyai suami yang over protective dan over posesif membuatnya kewalahan menghadapi sikap tuan Ken. Semua serba dibatasi, diawasi dengan pengawasan super ketat dari orang-orang pengikut tuan Ken.
Sudah dua minggu ini pasangan suami istri itu melakukan program hamil, untuk itu tuan Ken menambah sikap over protective-nya terhadap sang istri. Semua anjuran dari dokter segalanya dia penuhi, begitupun dengan larangannya.
Tring...tring...
Kei sudah hapal, segera menyentuh layar hijau. "Hallo, sayang." menjawab seperti biasanya.
Tiada hari yang terlewat, tepat jam 12 siang sesibuk apapun tuan Ken pasti akan menghubungi Kei, memastikan yang terbaik untuk istrinya. Yang terbaik bagi dirinya bahkan belum tentu baik menurut Kei, rasanya seperti hidup di-tahanan cinta tuan Ken.
"Honey, kau sedang apa?" hanya terdengar suara tuan Ken, orangnya sedang sibuk tenggelam dalam mengurus berkas Kantor.
"Yah... apalagi yang bisa aku lakukan selain rebahan, sayang." setelah malam ulang tahun itu Ken menyuruh Kei mengganti panggilan tuan menjadi sayang. Sedetik kemudian tuan Ken sudah terlihat dilayar ponsel, wajah tampannya tetap mempesona.
"Mana menu makan siangmu?" setiap hari tuan Ken menelpon tepat jam 12 siang memang hanya untuk memantau, apakah istrinya makan dengan benar, menu makanan harus sesuai jadwal. Ken memperkerjakan 2koki khusus untuk menyiapkan makanan.
"Belum ada. Rina dan Desti belum menghidangkan makan siang." Kei menjawab jujur, saat ini kedua koki itu belum mengantarkan menu makan siang. "Bagaimana bisa, ini sudah waktunya kau makan siang, honey! mereka berdua tidak becus, aku akan memarahinya!" sudah terlihat kesal.
__ADS_1
Baru saja tuan Ken selesai berbicara sudah ada yang mengetuk pintu kamar, sudah bisa dipastikan itu koki yang mengantar makan siang. Dan benar saja keduanya masuk membawa menu makan siang.
"Kami sudah menyiapkan menu makan siang sesuai jadwal, nona. Silahkan dinikmati." keduanya menghidangkan beberapa piring antik berisi menu makanan diatas meja. Tubuh Kei seperti lemas kala melihat menu makanan yang membosankan, setiap hari harus wajib ada. "Apa menu makananmu sudah terhidang?" pertanyaan setiap saat yang harus Kei dengar. "Sudah sayang... ini..." Kei menjawab dengan mengalihkan layar ponsel berganti menyorot menu makanan.
"Bagus, habiskan." sebuah perintah.
"Iya nanti aku habiskan, ya sudah aku tutup panggilan videonya." Kei ingin mencari aman. "Berani menutup panggilan, 20 menit aku akan sampai didepan rumah." sebuah peringatan atau sebuah ancaman, tetapi bagi Kei itu sama saja. "Baiklah-baiklah, sayang." mengalah jika sudah mendengar ancaman, tuan Ken selalu pintar dalam hal ancam mengancam.
Kei menaruh ponsel diatas meja, segera menyendok makanan yang sudah terhidang. Menu makanan seperti di Rumah sakit, semua harus steril, semua mengandung protein, asam folat, lemak, vitamin yang lengkap, susu-pun wajib ada, itu-pun masih banyak lagi yang harus Kei konsumsi.
Beberapa dokter melarang Kei untuk hamil dalam waktu dekat ini mengingat Kei belum lama telah melakukan operasi, tetapi tuan Kendra Kenichi tidak puas dengan larangan itu dan memanggil dokter luar negeri untuk memantau istrinya. Tentu bukan biaya yang ringan, kembali sang milyader itu harus merogoh kocek yang fantastik tentunya untuk membayar gaji dokter yang dikontrak selama istrinya program hamil dan hingga nanti berhasil bahkan bila perlu sampai melahirkan.
"Huh, aku bosan!" terdengar ketus suara Kei. "Apa? kau bosan denganku?" tuan Ken terkejut, dirinya kembali menyambar berkas diatas meja dengan mengawasi Kei. Otak yang harus dibagi konsentrasi menjadi dua sehingga tidak fokus mendengar perkataan sang istri. 'Ho... apalagi kau tuan? aku berbicara apa kau nyambungnya kemana!' Kei menyimpan kekesalan didalam hati, tentu tidak ada keberanian jika untuk menunjukan didepan tuan Ken.
"Saya...ng, aku bosan dengan menu makanannya bukan bosan seperti yang kau pikirkan!" Kei menjelaskan sehalus mungkin. "Oh, honey... aku pikir kau bosan denganku." Ken bernafas lega. Sedangkan Kei seperti sesak, 'Aku bosan dengan sikap over-mu yang kelewat batas tuan arogan! hiks... aku ingin merasakan kebebasan. Huhu...' Kei membatin lagi.
"Mana mungkin aku bosan dengan-mu, bahkan aku sangat menyayangimu." kejujuran isi hati Kei, tetapi terkadang suka mengeluh tentang sikap tuan Ken. Padahal tuan Ken memang menunjukan kasih sayangnya dengan sikap over, baginya itu sikap wajar dan romantis. Dua manusia yang berbeda sudut pandang, tetapi Kei tidak bisa membantah dirinya akan berada diposisi sulit.
__ADS_1
"Muach... cium dari jauh." tuan Ken tersenyum, memberikan kiss secara tidak langsung. Kei tersenyum menatap layar ponsel, bukan hanya Kei tetapi dua koki yang masih setia berdiri disana ikut tersenyum. Dalam hati tentu mendamba dan menginginkan suami seperti tuan Ken yang tampan dan sangat romantis.
"Kau tidak membalas cium jauh ku!" raut wajah cemberut diperlihatkan oleh Ken. "Sayang, lihatlah.. disini bukan hanya aku tetapi ada orang lain, malu!" Kei menolak, meski sudah sering seperti itu kiss jarak jauh tetapi Kei tetap malu jika ada orang lain yang mendengar atau melihatnya.
"Anggap saja mereka patung!" dengan nada ringan tuan Ken menyuruh Kei menganggap 2koki itu sebagai patung. 'Apa ada patung yang bisa bergerak!' ingin rasanya Kei menjawab itu.
"Kiss jauhnya nanti saja."
"Ancaman keduaku masih sama seperti yang pertama honey, 20 menit bisa sampai didepan pintu." tersenyum tipis. Kei yang mencebik. "Muach..." akhirnya melakukan sama seperti tuan Ken tadi, gerakan kiss jauh. Tentu saja senyuman manis langsung terbit dibibir tuan Ken.
"Makanannya sudah habis, sekarang jadwalnya kamu tidur siang. Harus 2jam, tidak boleh lebih atau kurang."
'Ya Tuhan, kegilaan yang berlanjut. Bagaimana tidur siang pun memakai sistem waktu?' Kei menghela nafas berat.
"Oke..." menjawab oke saja, biar cepat berakhir perbincangan itu.
Penjagaan dirumah sudah seperti di lapas kantor polisi, tuan over itu menempatkan pengawal wanita berjaga didepan kamar tidurnya untuk menjaga sang tuan putri. Setiap satu jam membuka pintu dan mengecek keadaan nonanya itu sedang apa. Tak jarang Kei yang sudah terbangun dari tidur siang itu harus berpura-pura tidur ketika para pengawal memeriksanya, jika 1jam sudah terbangun tentu pengawal itu akan melaporkannya kepada tuan Ken.
__ADS_1