
Bel apartemen terdengar nyaring. Lee yang baru turun dari kamar putrinya langsung menuju ke ruang depan untuk membukakan pintu.
Ceklek!
"Tuan muda?" Lee terkejut.
"Paman ...."
"Masuklah!" titah Lee. Rasa kecewa dan sakit hati jelas ada, tetapi Lee tak bisa meluapkan emosinya terhadap Akio. Pemuda yang juga dianggapnya seperti anak sendiri. Dihormati atas kedudukannya sebagai anak majikannya, yang selalu dijaga laiknya Tuan Ken.
Selain itu, penampilan Akio jauh berbeda dari terakhir ia melihatnya beberapa jam lalu. Lee menghela napas, bisa menebak apa yang sudah terjadi.
Lee mempersilahkan Akio duduk, namun Akio terus mendongak ke kamar Zee. Berharap secepatnya bisa berbicara empat mata dengan gadis yang saat ini sedang patah hati.
"Paman, maafkan aku. Apa Io boleh menemui Zee?" izin Akio penuh harap.
"Tuan Muda, sebelumnya saya juga minta maaf, untuk saat ini Zee belum mau bertemu dengan Anda. Tolong di mengerti."
Akio menelan ludah. Bagaimana sekretaris ayahnya itu masih berbicara baik padanya meski ia telah menyakiti putrinya. Akio semakin dalam akan rasa bersalahnya.
"Tuan muda ... apa itu Tuan Ken yang melakukannya?" Lee menunjuk lewat sorot matanya.
"Aku memang pantas mendapat ini, Paman. Paman juga harusnya memberiku pukulan untuk apa yang aku lakukan," ujar Akio dengan menunduk.
Hening.
"Paman, bagaimana keadaan Zee?"
"Dia sangat terpukul. Badannya sempat lemas, tidak bisa duduk dan terus-terusan menangis," jelas Lee.
"Io sangat ingin bertemu. Apa Io boleh naik ke kamarnya?"
"Tapi Zee melarang Paman untuk memberi izin Tuan muda menemuinya. Setelah Zee tenang dan mulai membaik, dia pasti mau menemui Anda. Paman mohon bersabarlah."
Akio membuang napas panjang, lalu mengangguk patuh. "Apa Paman tidak marah padaku?"
__ADS_1
"Tidak ada orang tua tidak marah saat ada yang menyakiti putrinya, tapi Paman tidak bisa berbuat banyak karena Tuan Muda sama seperti Al. Paman tidak bisa menyalurkan emosi dengan kekerasan. Semua sudah terjadi, apa yang bisa diubah dari takdir?"
Deg! Akio tertohok dengan ucapan Lee. Rasanya lebih menyayat melihat perlakukan Lee padanya yang masih baik bahkan masih menganggapnya seperti anak.sendiri setelah apa yang ia lakukan sangat fatal.
Sungguh, lebih baik ia menerima kemarahan dari Lee karena telah melukai putrinya daripada masih menerima kebaikannya.
Waktu terus berputar, Akio tak jera menunggu Zee berubah pikiran dan mau berbicara padanya. Namun nihil, hampir 2 jam tetapi Zee ataupun Dewi tak ada yang keluar. Akio terpaksa pamit dan berpesan agar Paman Lee mau mengabari perkembangan Zee. Begitu membaik, ia akan segera menemuinya.
Di perjalanan menuju rumah sakit, Akio mencoba berkonsentrasi penuh tetapi sesekali tetap teringat Zee. Selain itu, ia juga kepikiran dengan mommy Kei dan Naya.
"Io, Nak?! Ya Tuhan ...!" Kei memekik terkejut melihat Akio babak belur seperti waktu dulu.
"Mom, maafin Io." Entah sudah berapa kali dalam satu hari ini Akio mengucap maaf kepada semua orang. Namun rasanya percuma, keadaan tak ada yang membaik.
Di sudut ruangan Ken bergeming. Tak bereaksi apapun meski Kei menyorot padanya. Enggan melihat seluet putranya. Kekecewaan masih belum mereda meski telah memberi Akio pelajaran.
"Sayang, kamu tidak khawatir wajah putramu seperti ini?! Wajar kalaupun Lee marah, tapi nggak semestinya menghajar Io seperti ini," ujar Kei. Perempuan yang terbaring lemah itu mengira Lee memukuli Akio sampai babak belur. Tetapi fakta berkata lain.
"Mom."
"Aku tidak khawatir karena aku yang buat Io seperti itu. Bukan Lee!" jawab Ken.
Beberapa waktu lalu, ketika Lee dan Dewi pulang. Ken yang merasa malu bertambah murka terhadap Akio, hingga tak bisa mengendalikan diri dan menghajar putranya dengan tangannya sendiri.
Itu adalah sejarah pertama Ken memukul Akio, dari kecil hingga dewasa, Ken tak pernah bertindak keras bahkan bila Akio mendapat luka sedikitpun ia akan kelimpungan untuk mengobati. Mungkin kekecewaan Ken sudah melewati ambang batas, hingga tega melakukan itu.
Kei beralih lagi pada Akio. "Bagaimana Zee?"
"Zee sudah tahu, Mom. Dan dia juga tidak mau bertemu dengan Io."
"Wajar Zee tidak mau bertemu. Kamu bayangkan kalau itu terjadi padamu, kamu pasti juga tidak mau bertemu, bukan?"
Akio tak menjawab, namun membenarkan ucapan mommynya.
Kembali hening menyambangi mereka.
__ADS_1
"Io, Mom ingin bertemu dengan gadis itu. Bawa ia menemui Mom." Tiba-tiba Kei berkata lagi, membuat Akio lekas-lekas mendongak dan menatap tidak percaya.
"Sebenarnya dia ada di rumah sakit ini juga. Tapi bagaimana Io membawanya kemari."
Kei mengernyit.
"Kondisinya masih lemah. Dia sama-sama dirawat," terang Akio.
"Kenapa? Apa kandungannya lemah?"
Akio mengangguk. "Kandungannya lemah setelah kemarin Naya berusaha bunuh diri."
"Astagfirullah ...." Kei menutup mulut lalu mengelus dada. "Bunuh diri?" ulangnya.
"Naya mencoba bunuh diri saat teman-teman kampus mengetahui kehamilannya dan melontarkan berbagai hinaan. Kemarin Io pulang malam mengatakan ada urusan, sebenarnya Io sedang mengantar Naya ke rumah sakit."
"Antar Mom ketemu dia, Io," pinta Kei lagi.
"Honey, pikirkan kesehatanmu. Kau belum boleh banyak bergerak, juga nggak boleh pergi kemanapun," sahut Ken sambil berjalan ke brankar Kei.
"Dokter nggak bilang begitu. Memang aku sakit apa sampai nggak boleh banyak gerak? Lagian cuma keluar kamar dan masih di rumah sakit juga, kalau terjadi sesuatu padaku, dokter bisa langsung melakukan tindakan," kilah Kei.
"Kenapa harus bilang kalau wanitamu di rawat disini? Kau tahu 'kan Mom harus banyak istirahat," kesal Ken terhadap Akio.
"Maaf Dad, Io hanya berkata jujur," Akio menjawab dengan menunduk.
Tanpa banyak berdebat, akhirnya Ken mengalah, membiarkan Kei dan putranya untuk menemui perempuan bernama Naya.
Saat Ken juga akan ikut, langkahnya terhenti karena mendapat telepon dari Lee.
Akio melanjutkan mendorong kursi roda menuju ruang kelas 1. Sisi kanan dan kiri Kei ada perawat yang ditugaskan Ken untuk mengawal istrinya.
Begitu sampai di depan pintu, tiba-tiba pintu dibuka dari dalam. Satu dokter dan satu perawat bertepatan keluar.
Di dalam ada Ibu Naya yang ternyata sudah kembali, melihat ke arah Akio dengan tatapan khawatir juga lamat-lamat masih terdengar isak tangis.
__ADS_1
Akio dan Kei mendekat. Ibu Naya memicing dengan kening berkerut, merasa aneh dan penasaran kenapa Akio datang bersama perempuan seumuran dengannya. Ibu Naya hanya menduga itu ibunya Akio.
Mendekat ke brankar Naya, mata Akio tak beralih melihat wajah Naya yang masih tetap pucat. Ia buru-buru mengejar Zee hingga meninggalkan Naya begitu saja. Yang ia tahu, Naya pasti kepikiran dengan kata Zee.