
Pandangan Lee fokus melihat kejalanan yang semakin gelap, menjelang maghrib Ken tak membiarkan sekretarisnya untuk beristirahat. Tuan muda yang sedang frustasi karena kepergian sang istri membawa baby boy, memaksa tangan kanannya itu untuk mencari mobil putih yang membawa istrinya kabur.
Dari tadi Ken mengomel dan menggerutu, ia duduk dengan gelisah, berpindah duduk tidak jelas.
"Lee, bukankah selama ini Kei tidak pernah macam-macam? lalu siapa yang menjemputnya tadi?" Ken masih sangat penasaran dengan pemilik mobil putih.
"Saya juga tidak tau tuan?" jawab Lee sekenanya.
Merasa jawaban Lee tidak memuaskan, Ken mendengus dengan kaki sebelah yang menendang kursi depannya.
Apalagi yang Lee lakukan selain mendiamkan aksi tuan mudanya yang over.
"Lee, sebelumnya aku tidak memprediksi kejadian ini. Aku tidak mengira jika Kei akan marah." ucap Ken dengan penyesalan.
"Padahal aku tidak melakukan apapun, wanita ular itu yang mencumbuiku. Aku harus bagaimana Lee?" Ken terlihat sedih.
Lee menjadi pendengar baik, ia selalu mendengarkan setiap curhatan tuan Ken.
Saat ini pikirannya juga bercabang, biasanya ia sudah pulang kerumah dan menemani Dewi, tapi pada hari ini harus terjebak permainan mereka.
"Tuan muda, kita sudah berkeliling tapi tidak menemukan mobil tadi. Sekarang mau kemana lagi?" tanya Lee. Sebenernya ia sudah lelah, ingin mengistirahatkan tubuh.
"Kemanapun Lee, yang terpenting cari mobil putih itu sampai ketemu!" perintah Ken tak bisa dibantah.
"Apa pengawal juga belum berhasil menemukan mobil itu?" Ken berganti bertanya.
"Sepertinya belum, mereka tidak ada yang menghubungi." jawab Lee.
"Tidak ada yang bisa diandalkan! kalian tidak becus. Mencari mobil itu saja tidak bisa. Apa aku harus menyewa detektif luar negeri?" kesalnya.
__ADS_1
'Terserah anda tuan, marahlah sesuka hati anda. Kita saja dari tadi tidak bisa menemukan mobil itu, apalagi mereka. Terkadang anda pintar tapi juga bodoh. Mencari satu mobil diantara lautan mobil lainnya, tanpa ada petunjuk sama sekali. Bukankah itu hal sulit? Anda tidak berpikir kami juga manusia, bukan robot atau alat yang bisa mendeteksi dan menemukan apapun dengan mudah.' Lee membatin. Melirik dari kaca spion.
Lee kasihan melihat tuan mudanya yang terlihat sangat kacau, tapi tak bisa berbuat apa-apa.
"Tuan muda, bukankah kita hanya sia-sia memutari jalanan seperti ini?" Lee ingin menyudahi perjalanan. Berharap tuan Ken mengerti.
"Tidak ada yang sia-sia Lee. Kita akan terus memutari jalanan sampai menemukan istri dan anakku."
'Apa? Anda jangan gila tuan, sama saja menyiksaku.' Lee kesal setengah mati.
"Percuma tuan, nona Kei pasti bersembunyi." kata Lee menggebu, ia tak sadar. Dorongan dari hati menyuruhnya untuk menyerah tapi sudah kepalang tanggung.
"Tuan muda, sebaiknya kita pulang saja. Percuma, nona Kei belum akan pulang kalau dia sendiri yang ingin pulang."
Ken mengerutkan dahi. "Apa maksudmu Lee? kenapa kau mengatakan itu! apa aku harus menunggu kepulangannya tanpa ada usaha mencari?"
"Kau tau sendiri, satu jam tidak melihat mereka pikiranku sudah tidak tenang. Lalu aku harus membiarkannya berada diluaran tanpa tau keadaanya? jangan gila Lee. Kau tidak masuk akal, aku tidak bisa mengandalkan mu. Jika kau tidak mau menemani mencari Kei, biar aku sendiri yang akan mencari. Meski sampai ke Norwegia atau Saudi Arab, aku akan menyusulnya kesana."
Perintahmu dari tadi tidak masuk akal, hanya buang-buang waktu saja. Memutari jalan ini hampir empat kali, bahkan kau juga tidak sadar.
Tidak perlu jauh-jauh ke Norwegia atau Saudi Arab tuan. Bahkan tiga puluh menit saja kita sudah sampai.'
"Kenapa diam Lee? hari ini kau aneh, tidak seperti biasanya. Apa ada yang kau sembunyikan?" Ken mengamati wajah Lee dari kaca spion.
Lee sedikit gelagapan. "Tidak. Tidak ada yang saya sembunyikan." jawabnya.
"Kenapa kau terlihat gugup?" Ken menelisik.
"Tidak, saya biasa saja. Hanya, sedikit lelah tuan."
__ADS_1
"Jika kau lelah hentikan mobilnya dipinggir jalan dan turun, biar aku sendiri yang mencari Kei." ucap Ken dengan kekesalan.
'Jika aku tidak memikirkan keselamatan dan keamananmu, sudah dari tadi aku tinggal kau dipinggir jalan.'
"Tidak tuan muda, saya akan menemani anda." jawaban yang terpaksa.
Beberapa saat, mereka terdiam. Ken masih memikirkan teka-teki keberadaan Kei dan juga pemilik mobil putih.
Lee terdiam karna memikirkan Dewi, istrinya sudah hamil tua, ia harus bersiap siaga sewaktu-waktu Dewi melahirkan.
"Tuan muda, saran saya biarkan nona Kei pergi untuk sementara waktu. Jika hati nona Kei sudah tenang, aku yakin pasti akan pulang dengan sendirinya." kata Lee. Ia menyiapkan seribu keberanian hanya untukengatkan sarannya. Entah itu bisa diterima oleh tuan Ken atau tidak. Setidaknya ia berharap bisa beristirahat sejenak.
"Tapi, apa aku bisa tidur tanpa mereka? perasaanku tidak akan tenang sebelum menemukan dan memastikan keadaan mereka baik-baik saja." jawab Ken lemas.
'Apa aku harus menyuruh nona Kei untuk menghubungi tuan Ken? dengan begitu tuan Ken tidak lagi khawatir dan tugasku menjadi ringan. Aku bisa pulang.' Lee kebingungan, ia menggaruk kepala yang tidak gatal.
Mobil yang ditumpangi sudah beberapa kali hanya memutari jalan yang sama, Ken tidak protes itu artinya ia juga tidak sadar dengan keadaan sekitar.
Disebuah kamar mewah.
Baby Kio tidur dengan lelap, bayi itu tidak terpengaruh dengan sekitar. Meski bukan berada dirumah Daddy nya, ia tetap nyaman-nyaman saja.
Kei berdiri dibalkon kamar, menatapi bintang-bintang diangkasa yang berkelip indah. Tapi tak seindah perasaanya saat ini.
"Apa dia baik-baik saja? atau mengamuk seperti biasanya?" Kei bertanya-tanya. Ia merenung.
Sedetik kemudian bibir itu tertarik keatas, ia tersenyum. "Dia pasti sedang kebingungan mencari ku. Memang sedikit jahat, tapi tidak pa-pa, ini hanya permainan kecil." dia seperti orang gila yang berbicara dan tersenyum sendiri. Ia bisa membayangkan kegilaan apa yang akan dilakukan suaminya, bisa ditebak pasti sekretaris Lee orang paling direpotkan saat ini.
Sebenarnya tidak tega, tapi demi rencana bersama dan dia pun menyetujui jadi semua harus sesuai yang disusun.
__ADS_1
Pintu ruangan terbuka, sosok pria muda masuk kedalam. Mendekati baby Kio yang terlelap diatas kasur. Kei hanya melihat sebentar dan membiarkannya.
Menghirup udara dimalam hari, saat ini ia bebas melakukan apapun, tapi hatinya seperti ada yang kurang. Jika dulu menginginkan kebebasan, tapi saat ini Kei merindukan kukungan dari Ken. Mungkin ia sudah nyaman dengan aturan dan sikap over dari suaminya, kini ada sesuatu yang hilang saat berada jauh darinya. Ia merindukan suami over nya.