
"Ah..." Ken terlihat kesal, ia ikut menyusul Kei kekamarnya.
Lee duduk disofa, melonggarkan dasi yang terasa mencekik. 'Apa aku harus maju atau mundur? aku bimbang dengan ini, pasti tuan muda akan murka. Tapi, ini sudah direncanakan.' Lee mendongak menatap langit-langit ruang tamu. Mengamati lampu gantung yang begitu indah, pikirannya terasa penuh.
Ken masuk kedalam kamar, matanya sedikit melotot saat Kei sedang menyiapkan tas pakaian.
Melihat suaminya datang, Kei mematikan sambungan telpon. Ia terlihat sibuk mengemasi pakaiannya dengan pakaian baby Kio.
"Honey. Sweety, apa-apaan ini? hei, kau mau kemana?" Ken terkejut dan segera menghampiri istrinya.
"Aku akan pergi untuk sementara waktu." ucapnya ketus.
"Apa? tidak-tidak! tidak sayang, kau tidak boleh pergi seditikpun." Ken sudah panik segera mendekap tubuh Kei.
Kei memberontak untuk melepas dekapan. "Aku ingin menenangkan diri."
"Kau marah? sumpah demi apapun, aku tidak menikmati cumbuan itu, sayang. Percayalah padaku. Maafkan aku." Ken semakin erat mendekap tubuh Kei agar tidak pergi.
"Didalam video itu sangat jelas kau menikmatinya. Sudah biarkan aku pergi untuk sementara waktu, dan aku akan membawa baby Kio." Kei melepas delapan itu.
"Jangan Honey, plis... jangan pergi apalagi membawa baby Kio, aku tidak bisa jauh dari kalian." Ken memandang dengan tatapan memelas.
Sebenarnya Kei tidak tega, tapi ia harus melakukan itu.
"Kau sayang padaku?" tanya Kei.
"Sangat." jawab Ken.
"Kalau begitu biarkan aku menangkan diri. Jangan halangi aku." ucap Kei. Ia yang sudah selesai berkemas sekarang menghampiri box baby Kio mengambil dan menggendongnya.
Melihat itu Ken semakin kalap, ia bergerak tak jelas. Bagaimana ia akan mencegah istri dan anaknya agar tidak pergi.
Kei berjalan keluar menggendong baby Kio dan membawa tas pakaiannya. Ken terus mengikuti dari belakang.
"Sweety, aku mohon..." Ken ikut masuk kedalam lift.
__ADS_1
Kei cuek dan tidak begitu perduli, padahal dalam hati merasa tidak tega.
Keluar dari lift menuju keruang tamu, disana masih ada sekretaris Lee yang langsung berdiri melihat kedatangan mereka.
Kei mengedipkan mata, Lee hanya memandang kearah Kei sebentar dan beralih melihat tuan Ken.
"Lee, kau harus mencegah istriku agar tidak pergi." perintah Ken.
"Maaf Nona, anda mau kemana?" Lee bertanya, tak mengindahkan perintah tuan mudanya.
"Bilang pada tuan muda mu jangan mencegahku, aku ingin menenangkan pikiran sejenak." kata Kei pada Lee. Ia menatap dengan serius.
Lee terlihat bingung, ia harus bagaimana.
"Honey, kau boleh marah padaku tapi jangan pergi dari rumah ini. Apalagi membawa baby Kio, aku tidak bisa jauh dari kalian." Ken terus memohon.
Kei tidak perduli, ia tetap berjalan keluar rumah.
"Lee bilang pada satpam jangan membuka pintu gerbang!" perintah Ken dengan kemarahan.
Saat didepan pintu, Kei sudah masuk kedalam mobil sport warna putih. Ken sangat terkejut, ia tak mengetahui itu mobil siapa.
"Honey... Honey..." Ken berteriak memanggil Kei yang sudah berada didalam mobil.
"Hei... cepat tutup pintu gerbang! jangan biarkan mobil itu keluar!" teriak Ken dengan keras.
Lee mendekati tuan mudanya yang sedang panik.
Tiba-tiba Ken melayangkan pukulan, Lee yang tidak siap harus menerima bogem mentah. 'Huh, dasar...! kalian yang bermain, aku yang harus kena imbasnya. Inilah bayaran mahal karna membuat tuan Ken marah. Kalian tidak kasihan padaku, akhir-akhir ini tugasku sudah cukup berat. Tapi karna ulah kalian semuanya semakin berat. Nasibmu Lee, Lee.' Lee hanya mampu menggerutu dalam hati.
Meski Ken terlihat marah dan panik, Lee terlihat tenang. Ia memegangi bekas pukulan dari tuan mudanya.
"Samuel Aeron Lee, kenapa kali ini kau bodoh sekali! lihatlah, Kei pergi dan kau tidak melakukan apapun. Huh... Aku harus bagaimana Lee? dia pergi membawa anakku. Kenapa kau diam saja! Hah..." begitulah sikap Ken saat sedang panik atau marah maka orang yang ada didekatnya akan terkena imbas. Entah mereka salah atau tidak.
Selain orang, benda-benda yang ada disekitar ikut menjadi korban.
__ADS_1
'Kalian memang aneh-aneh saja. Lihat, pada akhirnya aku yang akan menerima imbasnya' lagi-lagi Lee menggerutu dalam hati.
"Kalian semua bodoh! tidak becus." Ken masih berteriak marah. Padahal didekatnya hanya ada Lee. Pengawal dan pelayan tidak ada yang berani mendekat, mereka lebih baik menjauhi singa yang sedang mengamuk.
"Tuan muda, tenanglah." akhirnya saran dari abad ke abad keluar. Ketika tuan Ken sedang marah selalu itu yang diucapkan Lee.
"Kau menyuruhku tenang? Hah? apa kau sudah gila Lee? kau tidak waras! istri dan anakku pergi dan kau menyuruhku diam!" Ken tidak terima dan berganti memarahi Lee dengan suara terdengar mengerikan.
Tidak terlihat khawatir, Lee tetap tenang dan diam saja. Diam adalah senjata terampuh saat tuan mudanya sedang marah.
"Lee, Kei pergi dengan siapa? dia dijemput dengan siapa? aku harus mencarinya. Akan aku bunuh orang yang berani menculik Kei. Ayo Lee, kita periksa cctv untuk melihat plat nomor kendaraan. Setelah itu kita akan melacak keberadaannya." Ken terus saja memberi perintah.
Apalagi yang Lee bisa lakukan selain menuruti perintah sang sultan. Mereka berdua masuk kedalam menuju ruang kerja yang ada dikamar Ken.
Setelah sampai diruang kerja, mereka berdua sama-sama mengamati mobil putih yang menjemput Kei tadi, tapi tidak terlihat siapa yang berada dibalik kemudi, karna kaca jendela berwarna hitam pekat.
"Tuan muda, kita tidak bisa melacak karna plat nomornya tidak terpasang." kata Lee.
"Ah... sial! kepa**t. Bagaimana ini Lee." Ken mengumpat kasar, wajahnya benar-benar terlihat panik dan khawatir.
Lee tidak tega melihat tuan mudanya seperti itu. Tapi ia tak bisa melakukan apapun.
"Lacak nomor ponsel Kei. Cepat."
Lee terlihat sibuk mengotak-atik layar ponselnya. Menghubungi Tony untuk melakukan tugas dari tuan Ken yang menyuruh untuk melacak nomor Kei.
"Maaf tuan muda, ponsel nona Kei tidak aktif." Lee memberitahu.
Mendengar itu, Ken semakin frustasi. Tubuhnya semakin melemah, ia bersandar dikursi kerja. Kedua matanya terpejam, bukan karna tidur melainkan menyesal dan kecewa.
Ia sangat kecewa dengan keputusan Kei yang pergi dari rumah. Harusnya Kei tidak perlu mengambil keputusan secara sepihak. Karna dia juga tidak sengaja melakukan itu, mencumbui Tasya beberapa menit hanya karna ingin menjebak Tasya agar mengetahui dalang dibalik rencana yang disusun.
Dari sana Ken dan Lee berhasil mengungkap kebusukan mereka.
"Aku harus bagaimana Lee? Kei pergi untuk menenangkan pikiran. Aku harus berbuat apa? aku penasaran dengan siapa dia pergi? jangan-jangan Kei punya selingkuhan?" Ken segera menegakan tubuhnya dan melihat kearah Lee.
__ADS_1
Lelaki itu masih tenang.