Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Mood yang berubah-ubah (Menyebalkan)


__ADS_3

Sejak beberapa hari lalu tuan Ken tidak bisa berdekatan bahkan tidak bisa merasakan candunya, tapi sore ini seperti memenangkan sebuah tender besar, tuan muda yang berwajah kusut tadi sudah kembali ceria. Senyum dibibir terus tersungging. Burung gagak hitam tadi sudah berhasil masuk ke sarangnya.


Meski sesudah melakukan itu Kei terus mengomel tapi tuan Ken tidak perduli, yang terpenting hasratnya sudah terpenuhi.


"Kamu licik, kenapa melakukan itu! 'kan aku sudah peringatkan jangan melakukan itu! Huh..." Kei terus mengomel disepanjang jalan menuju kekamarnya. "Maaf Honey, aku tidak bisa menahannya. Kau candu yang memabukkan." hanya itu yang bisa Ken ucapkan, berharap Kei tidak lagi merajuk. Kini Ken sudah hampir pandai membaca sikap Kei yang tadinya manis, sesaat kemudian bisa menjadi ganas. Sikap ibu hamil yang bisa berubah mood hanya dalam hitungan beberapa menit saja.


Ketika malam hari menjelang tidur, Kei mengomel tiada henti. Entah apa masalahnya, Ken sendiri tidak paham. Tetapi tiba-tiba saja perintah Kei seperti bomerang. "Aku tidak mau tidur satu ranjang denganmu!" Kei sudah bersiap ingin tidur tapi merajuk, menyilangkan tangan diatas perut. "Biasanya aku tidur disampingmu, diranjang yang sama denganmu, Honey." Ken sedikit was-was, jangan sampai istrinya menjadi aneh.


"Tapi malam ini aku tidak mau tidur diranjang yang sama denganmu, titik!" jika sudah ada kata titik, maka itu tidak ada bantahan. Ken menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menahan segara amarah yang ada. 'Sabar Ken, sabar...' Ken mengatakan itu untuk dirinya sendiri.


"Lalu aku harus tidur dimana?" pertanyaan itu keluar dari mulut Ken. "Terserah kamu, mau tidur diruang ganti, sofa atau tidur dilantai juga tidak apa-apa." jawab Kei santai, menatap langit-langit kamarnya. "Apa?" Ken terkejut, sungguh tega istrinya menyuruh tidur dilantai. Bahkan tuan muda itu tidak pernah tidur disofa atau dikasur yang keras, setiap tidur dimanapun dia selalu mendapat fasilitas ruang VIP atau ruang unggulan. Tapi, yang benar saja malam ini harus tidur disofa atau dilantai.


"Aku tidak bisa tidur disofa, kakiku terlalu panjang maka sofa itu tidak akan muat." jawab Ken. "Makanya kalau punya kaki jangan panjang-panjang, susahkan kalau mau tidur disofa!" bukannya merubah perintah, justru Kei mengatakan itu. 'Kaki panjang itu berarti aku tumbuh dengan baik, dasar aneh.'


"Aku ngantuk, mau tidur." Kei menepuk bantal dan melemparkan dipangkuan tuan Ken, mengusirnya untuk pindah. Sudah seperti itu, tuan Ken terpaksa turun dari ranjang empuknya dan berjalan menuju kesofa. "Baru tadi sore bisa merasakan candu, malam ini harus tidur disofa. Sial!" Ken menggerutu kesal, mengambil ponsel diatas meja dan melakukan panggilan kenomor Lee.


"Ada apa, tuan muda?" ketika sambungan telpon sudah tersambung Lee langsung melayangkan pertanyaan, bertanya-tanya kenapa jam 11malam menelpon. Apakah ada hal gawat darurat.


"Lee, aku sudah tidak tahan seperti ini! ini sangat menyebalkan!" tuan Ken berbicara marah, tak ingin mengganggu istrinya, tuan Ken berjalan keruang kerja. Diseberang telpon Lee kebingungan.

__ADS_1


"Apa yang menyebalkan, tuan muda?" Lee bertanya. "Kau jangan bertambah membuatku marah!" Lee yang tadinya sudah tertidur dan harus bangun karna mendengar telpon dari tuan Ken, ketika sudah tersambung tuan Ken tiba-tiba berbicara marah kepadanya tanpa dia tau apa kesalahannya, dan apa penyebab tuan Ken seperti itu.


"Maaf tuan muda, bukan maksut ingin membuat bertambah marah. Tapi sungguh saya tidak mengerti."


"Kau tau! Kei mengusirku dari ranjang ku sendiri! dia menyuruhku tidur diatas sofa Lee, apa itu bukan tindakan gila!" diakhir kalimat tuan muda itu mendengus sebal.


'Dasar Bos aneh, siapa yang membuat marah, siapa juga yang kena imbas kemarahannya.' Lee ikut kesal, tentu saja hanya membatin.


"Sabar tuan muda, anda tau sendiri mood Ibu hamil suka berubah-ubah. Mungkin nona Kei saat ini ingin tidur sendiri."


"Jadi kau membela Kei? kau sudah tidak lagi bersama ku!"


'Hei... pernyataan apa itu dasar tuan gila! aku tidak membela siapapun, kalian itu sama saja!!! malam-malam mengganggu tidurku hanya untuk mengatakan hal tidak penting ini!!' ingin sekali Lee meneriakkan suara hatinya.


"Aku harus bagaimana Lee?" terdengar tuan Ken frustasi. "Tidak sanggup jika menunggu sampai Kei melahirkan." menimpali lagi.


"Huaa...." terdengar suara Kei menangis. Setengah berlari tuan Ken menghampiri Kei diranjang, ponsel masih tersambung dengan Lee.


"Ada apa Baby? kenapa kau menangis?" tuan Ken cemas, takut terjadi sesuatu dengan Kei.

__ADS_1


"Hua... kau jahat! kenapa kau tidak tidur bersama ku? kau bosan denganku! kau tidak mau mengusap perutku yang ada anakmu!" Kei memukul-mukul dada tuan Ken. Tentu saja tuan Ken terbengong mendengar ucapan Kei barusan yang mengatakan dirinya jahat dan segala macam. Apa-apaan! siapa yang tadi mengusirnya untuk tidur disofa, lalu sekarang Kei menuduh dia tidak sayang dengan bayinya. Apa maksut semua ini, dasar ngidam ibu hamil benar-benar menyebalkan tingkat akut!.


"Tadi kau yang menyuruhku tidur disofa, jadi aku berpindah kesana."


"Siapa yang menyuruhmu tidur disofa! kau mengada-ada." meski salah ibu hamil tidak bisa disalahkan.


'Apa selain rabun, ibu hamil juga pikun? bukankah beberapa menit lalu dia sendiri mengusirku dari ranjang dan menyuruh tidur disofa. Dasar aneh!'


Lee masih bisa mendengarkan obrolan itu, sambungan telpon dengan tuan Ken masih tersambung.


'Jika begini, bukan hanya anda saja yang frustasi tuan muda, aku juga ikutan frustasi.'


"Hallo tuan muda.." Lee ingin menyadarkan tuan Ken bahwa dia masih tersambung dalam panggilan itu, jika sudah tidak ada yang dikeluhkan ia ingin mengakhiri masa panggilan daripada mendengarkan raja hutan dan ratu hutan itu beradu mulut, lebih baik melanjutkan mimpinya bersama Dewi.


"Iya aku mendengarmu." tuan Ken menjawab.


"Larut malam begini kau telponan bersama siapa? selingkuhanmu, iya...! aku hamil anakmu dan kau berani berselingkuh?"


Mendengar itu tuan Ken semakin frustasi tingkat dewa, begitu menyulitkan sekali menghadapi sikap ibu hamil dengan aksi ngidam yang luar biasa seperti ini. Bagaimana lagi dia akan menghadapi istinya.

__ADS_1


Siapapun tolong aku, itu jeritan hati tuan Ken. Para dokter yang menangani istrinya ikut menjadi sasaran umpatan dan serapah dari tuan yang sedang menahan amarah paling besar. Kesabaran yang diuji tapi tidak tau kapan ujian itu akan berakhir.


'Dasar para dokter tidak berguna! aku sudah membayar mereka dengan mahal tapi tidak ada yang bisa menghilangkan ngidam aneh Kei. Tetap saja aku yang kesusahan. Hatiku sudah tidak ada kedamaian.' tubuh Ken melemas, tidak sanggup menghadapi sikap istrinya.


__ADS_2