Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Percaya pada Siapa?


__ADS_3

"Lee, kau sudah mengurus semuanya?" tanya Ken dari sambungan telpon. Ia sedang berada diruang kerja. Setelah melakukan perjalanan bisnis, Ken mengambil libur satu hari.


"Semua sudah beres tuan muda," jawab Lee.


"Kau masih memantau pergerakannya?"


"Masih, bahkan akarnya juga sudah kita ketahui."


Ken tersenyum, "Kau memang selalu bisa diandalkan. Tidak salah aku percaya padamu." disudut bibir Ken mengembangkan senyum, ada kebanggaan memiliki pengikut yang setia seperti Lee. Selalu mengerti apa yang ia inginkan, bisa diandalkan dalam urusan apapun.


"Perkiraan, nanti sore akan ada pergerakan tuan. Anda harus bersiap." Lee memberi peringatan. Keamanan tuan muda merupakan hal utama yang harus ia lindungi.


"Heum... Aku siap melihat pertunjukan itu." jawabnya dengan tersenyum miring.


"Tuan muda, ada E-mail masuk dari perusahaan baru, nanti akan saya kirim ke anda."


"Perusahaan baru?" kening Ken tampak berkerut.


"Iya tuan, nanti akan saya kirim."


"Aku sedang mempelajari berkas kerja sama dengan Abadi Grup. Kirim E-mail itu sekarang saja, biar aku periksa sekalian." perintah Ken.


"Baik tuan muda,"


Setelah mendengar jawaban dari Lee, Ken mematikan panggilan.


Ia meneliti lagi huruf demi huruf yang ada dilayar laptop. Kacamata untuk melindungi retina sudah terpasang diatas hidung mancungnya. Mata yang bergerak kesana-kemari menandakan ia sedang fokus.


Pintu ruangan terbuka, Kei muncul dengan menggendong baby Kio. "Eum, Daddy sedang sibuk. Apa kita mengganggu?" tanyanya, seolah ia berbicara dengan baby Kio.


"Ada apa Honey? kemarilah... aku sedang memeriksa E-mail." kata Ken, melihat kearah Kei sebentar dan melanjutkan menatap laptop.


Kei mendekat dan berdiri disamping suaminya. Seketika Ken mencium harum wangi khas bayi, ia menyuruh Kei lebih mendekat untuk mencium baby Kio. "Jagoan Daddy harum sekali," Ken menciumi pipi baby Kio yang mulai gembul. Rasanya gemas ingin mencubit.


Baby Kio bergerak-gerak, dengan lidah yang sekali dikeluarkan.


"Hei, kapan kau bisa bicara dan memanggil Daddy? berlari mengejar Daddy, heum? Aku sudah tidak sabar menunggu waktu itu. Kita akan bermain bersama." kata Ken masih memandangi wajah putranya. Ada kebahagiaan yang terpancar.


"Sabar sayang, keinginan mu masih lama untuk terwujud. Baby Kio baru berumur 1bulan lebih sedikit, kau masih harus menunggu satu tahun lagi." kata Kei dengan tersenyum.

__ADS_1


"Apa? satu tahun lagi? itu terlalu lama, Sweety."


"Ya memang perkembangannya membutuhkan waktu sayang, kamu kira satu atau dua bulan dia sudah bisa berjalan?" Kei menggelengkan kepala dengan tersenyum.


"Sweety, kau harus yakin aku sangat mencintaimu dan anak kita. Jika ada yang terjadi, kau jangan mudah percaya." Ken mengalihkan topik pembicaraan, mengatakan dengan pandangan serius.


Kei membalas pandangan itu, tapi ada sedikit kejanggalan yang dirasa. Ia merasa suaminya bersikap aneh. Dari semalam mengatakan cinta dan menyuruhnya untuk percaya. Sebenarnya ada apa? apakah ada sesuatu yang disembunyikan? dalam hati ia merasa waspada, tidak tau apa yang akan terjadi.


"Dari semalam kau mengatakan itu, memang ada apa?" tanya Kei.


"Tidak ada apa-apa." jawab Ken singkat. Ia kembali duduk. Kembali menatap laptop, apakah sudah ada notifikasi E-mail baru.


"Ya sudah kau teruskan pekerjaanmu, aku mau turun kebawah." kata Kei. Ia masih menyembunyikan rasa penasaran. Bagaimana agar suaminya berkata jujur?


Ken mengangguk. "Jangan turun lewat tangga, pakai lift saja." perintahnya.


"Iya." jawab Kei yang sudah melangkah kearah pintu.


Pintu sudah tertutup rapat, Ken tak lantas melanjutkan pekerjaan. Ia menyangga dagu dan terlihat menerawang kedepan. Menerka-nerka apa yang akan dilakukan wanita ular itu.


Meski sudah ada bayangan tapi ia belum bisa memastikan, ada sedikit ketakutan jika wanita ular merubah rencana yang sudah disusun. Ia benar-benar harus waspada dengan manusia licik yang akan menghancurkannya.


Jarum jam bergerak cepat, kini sudah menunjukan pukul 16.30wib.


Ken baru saja duduk diruang tamu, ia baru selesai menelpon Lee. Ada pekerjaan yang belum diselesaikan, tangan kanan itu meminta waktu sedikit lagi.


Kei menghampiri Ken yang duduk sendirian.


"Sweety, mami kemana?" Ken bertanya, dari tadi manik mata itu tak melihat ibunya.


"Mami baru saja keluar, katanya ada urusan sebentar." jawab Kei.


Mbak Rini berdiri tak jauh dari majikannya, "Nona, apa baby Kio ingin ditidurkan dikamar?" tawarnya.


"Nanti aja, Mbak." jawab Kei.


Belum lama mereka mengobrol, ada mobil yang terhenti dihalaman rumah.


'Dasar ular sialan, berani juga kau melanjutkan permainanmu?' batin Ken.

__ADS_1


Kei juga melihat mobil itu, "Siapa?" tanyanya. Ken mengangkat bahu sebentar.


Wanita berkacamata hitam turun dan berjalan anggun untuk masuk kedalam. Melihat Ken dan Kei berada diruang tamu, ia semakin tersenyum lebar karna seperti penyambutan.


"Tuan, kenapa semalam kau meninggalkanku dikamar Hotel?" tanpa basa-basi, Tasya mengatakan itu.


Mendengar kalimat itu bola mata Kei melotot, melihat kearah suaminya. Tapi Ken terlihat biasa saja.


"Tidak pa-pa." jawab Ken singkat.


Kei sedikit membuka mulut, ia terkejut, suaminya dengan nada ringan menjawab seperti itu. Ia masih belum mampu untuk ikut berbicara, biarlah menjadi pendengar setia.


"Apa setelah melakukan malam panas dengan puas, kau melupakan kenangan itu?" bibir Tasya tersenyum miring, merendahkan keberadaan Kei disana. Begitu percaya diri sudah bisa menaklukan raja bisnis dengan memberikan kenikmatan tubuhnya.


Kei semakin tak mengerti, ia sudah menatap tajam kearah dua orang itu bergantian.


Melihat sorot mata Kei yang berbeda, Ken bergeser mendekati istrinya.


"Honey, aku sudah katakan, apapun yang terjadi aku hanya mencintaimu. Percayalah padaku." ucapnya.


"Mbak Rini, tolong bawa baby Kio kekamar." Kei menyuruh babysister yang berdiri tidak jauh darinya untuk membawa baby Kio pergi dari sana. Ia tak mau tidur nyenyak putranya terganggu.


"Apa-apaan ini? jelaskan, apa maksut kamu mengatakan malam panas dan kenangan itu?" Kei tak memperdulikan keberadaan Ken.


"Tanyakan saja pada suamimu, dia pasti tau." jawabnya dengan santai.


Ken tersenyum miring. "Bukan aku yang akan menjelaskan, tapi bukti nyata yang akan memberi penjelasan." ia tak kalah santai dari wanita ular itu.


Kei semakin bingung.


Tasya mengambil ponsel dan memberikan itu pada Kei.


Mata Kei memerah, nafas yang susah dikendalikan. "Apa maksut foto ini!" membentak suaminya, dan menunjukan foto mereka berdua semalam didalam kamar hotel.


"Apa kau tidak mempercayaiku? kau lebih percaya padanya?" tanya Ken dengan lembut. Memandang dengan sorot mata teduh.


Kei terdiam, ia membuang ponsel itu diatas sofa.


"Tapi kau juga melihatnya? lalu aku harus percaya pada siapa?" kata Kei. Ia tak ingin gegabah menghadapi masalah ini. Jauh dalam lubuk hati, ia mempercayai suaminya. Tapi melihat foto itu, hatinya juga tercubit dan meninggalkan bekas sakit.

__ADS_1


__ADS_2