
Para dokter berjalan tergesa menuju ruang ICU, di mana Akio kini berada. Saat ini jam telah menunjukan pukul 1 dini hari, namun ketenangan para dokter terusik karena mendapat panggilan darurat dari rumah sakit.
"Selamat malam menjelang pagi, Tuan Ken," ucap salah satu dokter dari ketiga yang ada. Masing-masing adalah dokter spesialis gigi, spesialis kulit dan juga spesialis organ dalam. Seperti permintaan Tuan Ken sendiri yang meminta mereka datang untuk memeriksa Akio.
Di sapa demikian, Ken langsung melihat jam dipergelangan tangannya. Memang sekarang pukul 1 lebih 20 menit, tetapi dia tidak peduli meski sadar telah menganggu waktu istirahat para dokter.
"Hem. Kalian, tolong periksa putraku. Periksa dengan teliti jangan sampai terlewat di bagian penting!"
"Baik, Tuan. Kami akan melalukan pemeriksaan secara menyeluruh," jawab salah satu dokter. Setelah mendapat anggukan, ketiga dokter itu masuk ke ruang Akio untuk memeriksanya.
Ken lalu mendekati Kei yang tengah menangis dalam diam. Didekap langsung tubuh sang istri agar bisa bersandaran.
"Siapa yang melukai putra kita? Selama ini Akio nggak pernah terlibat perkelahian," ujar Kei.
"Besok biar Lee yang mencari tahu. Aku akan mengusutnya sampai tuntas." Ken mengelus rambut Kei dengan lembut.
"Siapapun yang membuat Io terluka, kamu harus membalasnya, Ken!" oma Lyra ikut menyahut.
"Iya, Mi. Walau anak presiden pun tetap aku usut sampai tuntas. Sekarang Mami istirahat saja, biar Ken yang tunggu dokter selesai memeriksa."
Oma Lyra mengangguk, dia bersandar di kursi dengan memejamkan mata. Sedangkan Kyu sudah terlelap dalam mimpi dengan tertidur di kursi tunggu.
30 menit kemudian, para dokter dan perawat terlihat keluar satu per satu.
"Bagaimana? Apa ada yang serius? Gigi putraku masih utuh? Apa gusinya bengkak?"
"Gigi Tuan Muda masih utuh, Tuan. Tetapi gusinya memang membengkak."
"Kalau luka di kulit pelipisnya, apa sudah dijahit?"
"Untuk luka itu tidak perlu tindakan jahit, Tuan. Itu hanya luka lecet, cuma perlu diobati dan ditutup perban saja."
"Untuk luka lebam kebiruan di tubuh Tuan Muda, juga tidak sampai pada organ dalam. Hanya luka luar dan akan sembuh dalam 2 atau 3 hari kemudian." Dokter spesialis organ dalam langsung menjelaskan meski Ken belum bertanya.
"Kamu yakin? Tapi aku ingin melihat hasilnya langsung, jadi besok tetap lakukan pemeriksaan rontgen keseluruhan!"
__ADS_1
"Baik, Tuan. Besok pagi kami akan langsung melakukan rontgen menyeluruh. Kami permisi, kalau ada apa-apa Tuan bisa memanggil kami."
"Hem."
•
Seperti biasa, jam 7 pagi Lee sudah datang ke rumah Tuan Ken. Tetapi petugas keamanan memberitahu bila Tuan Ken belum pulang dari rumah sakit. Hal itu membuat Lee sangat terkejut, pasalnya dia tidak diberitahu sama sekali perihal Tuan Ken ke rumah sakit. Biasanya Ken tidak pernah lupa untuk menghubungi kalau dalam keadaan genting, tetapi semalam tak ada telepon masuk.
Tak banyak kata, Lee memundurkan mobil dan melenggang pergi untuk menyusul ke rumah sakit. Sampai di sana dia berjalan tergesa-gesa menuju ruang VVIP yang biasanya disediakan untuk keluarga tuannya itu.
"Selamat pagi, Tuan."
"Lee, kau sudah di sini?"
"Maaf Tuan, saya baru datang. Kenapa Anda tidak menghubungiku semalam?"
"Aku tidak kepikiran, Lee. Sekarang aku butuh kau untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan putraku. Dengan siapa dia berkelahi sampai membuatnya babak belur."
•
"Ma, ayo, cepetan. Zee nggak sabar pengen liat Kak Io." Dia memaksa mamanya untuk berjalan cepat. "Ya ampun, Kak. Kemarin kamu baik-baik aja. Kenapa sekarang denger kabar dirawat di rumah sakit," ujarnya pada diri sendiri.
"Oma, Tante Mommy .... Kak Io," Zee lebih dulu menyapa oma Lyra dan Kei. Saat ini hanya ada mereka berdua di dalam ruangan Akio. Ken dan Lee sudah pergi entah ke kantor atau pergi ke suatu tempat untuk menyelidiki kasus Akio. Sedangkan Kyu sudah berangkat ke sekolah.
"Sayang, tenang. Kak Io-mu sudah membaik. Jangan panik gitu," ujar Kei yang tahu pasti kekhawatiran Zee.
"Tadi pas papa telepon kasih tahu kalau Kak Io dirawat, Zee hampir pingsan. Terbayang kalau Kak Io terluka parah. Duh, makanya Zee khawatir banget."
Kei tersenyum dan mengelus lengan Zee. "Sana samperin Io. Biar mamamu di sini dulu," titah Kei. Saat ini mereka berada di dekat pintu, sedangkan Akio tidur di atas brankar.
Dengan pelan Zee mendekati Io. Sangat hati-hati takut membangunkan tidur pria pujaannya itu.
"Kak Io, ya ampun, Kak. Kenapa kamu bisa begini? Kamu berkelahi dengan siapa? Lukanya seperti itu, pasti sakit banget," ucap Zee lirih. Pandangannya meniti luka di wajah Akio.
"Sudah mendingan, Zee. Kamu nggak usah sedih."
__ADS_1
"Kak ...." Zee terkejut mendengar Akio menyahutinya. Padahal mata pria itu masih terpejam.
"Bagaimana aku nggak sedih, Kak. Kamu digigit semut dan bentol aja aku nggak rela, apalagi sampai melihat Kakak seperti ini. Rasanya duniaku hancur, Kak."
"Kelewat lebai, Zee." Akio membuka mata, sekaligus melebarkan bibir dan tersenyum memandang Zee. "Dasar mis gombal," ejeknya.
"Ck. Gombalan-gombalan ini tulus buat Kakak. Tapi aku nggak tahu sih, kenapa setiap dekat Kakak auranya pengen ngegombal terus. Sehari nggak ngegombal itu rasanya kurang afdol."
Akio menanggapi dengan senyum simpul.
"Memang Kakak berantem sama siapa? Kakak nggak pernah ada musuh?"
Akio merubah posisi setengah duduk dan bersandar di kepala ranjang. Zee membantu membenarkan letak bantal di punggung Akio agar lebih nyaman.
"Semalam berantem sama berandalan jalanan. Mereka menghadang di tengah jalan, mungkin berniat mau membegal."
"Huh, ngeri banget, Kak. Kenapa harus dilawan, kenapa nggak nelpon Tuan Dad buat minta bantuan."
"Semalam hujan deras, signal ponsel hilang." Akio menjelaskan dengan tatapan menerawang. Mengingat kembali apa yang terjadi. Naya, dia justru teringat dengan gadis itu.
"Kakak kenapa nggak pulang dari sore. Zee udah kasih tahu Kakak kalau keluarga kita akan makan malam bersama. Gitu malah pulang larut." Zee yang tadi khawatir kini berubah cemberut.
"Memang apa spesialnya keluarga kita makan bersama. Toh, biasanya juga sering begitu."
"Kakak nggak dikasih tahu Tante Mom? Semalam itu penting dan spesial banget, Kak."
Akio menghendikan bahu.
"Semalam mau bahas kebersamaan kita. Tapi Kakak malah nggak pulang-pulang."
"Kebersamaan kita? Maksud kamu?"
"Ish ... masak nggak tahu. Kita mau dijodohkan, Kak."
Deg! Akio terperanjat. Kata 'dijodohkan' membuat jantungnya berpacu lebih cepat. Dulu dia sempat menduga hal itu, tetapi lambat laun tak lagi terpikirkan karena memang tidak ada yang membahas. Lalu sekarang ...?!
__ADS_1