
Posesif, satu kata yang ringan tapi mengandung berbagai larangan yang kadang membuat seseorang jengah.
Jengah dengan segala peraturan dan sikap cemburu buta.
Posesif, takut kehilangan atau terlalu mencintai kepemilikannya. Dengan sikap kewaspadaan berlebih, ia ingin menjaga orang dicinta.
Tanpa disadari, pasangan kita terkadang tidak nyaman. Menurut sebagian orang sikap itu mengekang dan terlalu menuntut. Bahkan jiwa kebebasan seseorang harus terhempas ketika kukungan itu sudah mengelilingi.
Apa boleh buat, Kei seorang wanita yang harus menjalani hari-hari dengan segala peraturan atau larangan dari suami over posesifnya, bahkan bukan hanya posesif tapi juga over protective.
Sang suami seperti paduka raja yang harus dipatuhi.
Tidak ada yang berani melawan keinginan atau perintah tuan paduka raja. Apa yang diperintahkan wajib dilakukan.
Kei sudah ingin membantu Ken untuk berpindah ke kursi roda tapi Ken menolak, ia tetap ingin menghubungi Lee untuk segera datang.
"Sayang, kamu nggak kasihan dengan sekretaris Lee harus mondar mandir kesana kemari? sudah jangan ganggu dia dulu, biarkan dia menikmati masa kebersamaan bersama keluarganya. Bayangkan jika posisi Lee itu adalah kau, apa kau mau, disaat anak kita lahir malah disibukan dengan pekerjaan." Kei memberi pengertian. Ia yang bersikap normal dan bisa lebih dewasa dibanding Ken, padahal umur keduanya terpaut 8tahun.
Ken menghembuskan nafas, memang benar yang dikatakan istrinya. "Baiklah, aku akan memanggil pengawal yang berjaga didepan,"
"Pengawal...!" Ken setengah berteriak tapi pengawal yang berjaga didepan belum ada yang masuk. Pintu ruangan yang tertutup maka suara Ken tidak terdengar jelas.
"Bodoh. Kemana mereka!" Ken kesal.
Kei mengelus punggung tangan Ken, "Sabar, mungkin mereka tidak mendengar. Biar aku saja yang manggil." kata Kei tapi Ken menarik tangan Kei, tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Diam disini, biar aku telpon mereka,"
'Hoooo,,, apalagi tuan muda satu ini, bahkan hanya memanggil pengawal juga dilarang! kau sama seperti patung Kei.' Kei duduk lagi disofa.
2pengawal berjalan dengan langkah lebar, menunduk sebentar dihadapan tuan Ken.
"Kalian tuli. Hah, dari tadi aku memanggil tapi kalian tidak masuk!"
Begitu saja urat urat dileher sampai menonjol. Kei hanya menggelengkan kepala, bagaimana bisa ada orang searogan suaminya.
Dia benar-benar dingin dihadapan orang lain, dihadapan anak buah pun selalu tegas dan arogan.
"Maaf tuan Ken, kami tidak mendengar."
"Untuk itu, kalian tuli!" Ken masih berbicara sinis. "Sekarang bantu aku berpindah ke kursi roda dan antar keruang rawat istrinya Lee." perintahnya.
__ADS_1
2pengawal bersiap membantu tuan Ken berpindah keatas kursi roda, tidak kesusahan karna Ken terluka dibagian bahu bukan dikedua kakinya. Jika orang kalangan biasa masih bisa untuk berjalan sendiri tanpa bantuan orang lain. Tapi jangan lupakan ia lah sultanya.
2perawat dipanggil untuk menjaga baby Kio, baby itu masih sangat pulas tertidur, Kei tidak tega jika mengusik kenyamanan putranya.
2perawat yang berdiri tak mampu menegakkan kepala, saat ini sang sultan sedang memberinya ultimatum hal penting dalam menjaga putra keturunannya.
Apa yang bisa dilakukan perawat itu selain mengangguk dan menjawab 'baik tuan, kami akan menjaga putra anda dengan baik'.
Berbagai proses panjang, kini Ken dan Lee menyusuri lorong menuju kekamar Dewi.
Saat pengawal membuka pintu terlihatlah pemandangan didalam.
"Tuan mu datang dan kau suguhi adegan 29, Lee?" ucap Ken dengan nada mengejek.
Lee terkejut dan memberi jarak pada Dewi. Menggaruk pelipis dan tersenyum malu.
"Tuan muda maaf, saya tidak tau jika anda dan nona Kei akan datang kemari."
Pengawal kembali mendorong kursi roda masuk kedalam.
"Mbak, selamat ya, akhirnya sudah berhasil menjadi seorang ibu." Kei mencium pipi Dewi kanan dan kiri bergantian.
"Maaf ya mbak, aku belum bawa sesuatu buat malaikat kecilmu." raut wajah Kei berubah lesu, tak enak hati dengan Dewi. Ia sama sekali tidak membawa apapun.
Melihat pemandangan mereka, Ken tersenyum.
Suara Lee terdengar menyahut. "Nona Kei tidak perlu membawa apapun, kemarin tuan muda mengirimi berbagai barang kebutuhan bayi. Sebagai hadiah untuk anak kami."
Kei langsung melihat kearah Ken, lelaki itu hanya tersenyum simpul.
Kini berganti Kei yang tersenyum senang kearah suaminya, ternyata Ken paham dengan hal itu. Bahkan dia yang seorang perempuan sampai melupakannya.
"Imut sekali mbak." Kei sudah beralih mengelus pipi kecil itu.
"Berat badannya hanya 2,8kg Kei, nggak gemuk seperti putramu." ucap Dewi.
"Nggak pa-pa mbak, nanti kalau minum asinya kuat pasti langsung gemuk."
"Jagoanmu diberi nama siapa Lee?" tanya Ken.
"Dia bukan jagoan tuan muda, tapi putri kecil." jawab Lee.
__ADS_1
"Jadi keturunan mu perempuan?" Ken baru tau jika anak Lee adalah perempuan, dari kemarin ia lupa menanyakan hal itu.
"Aku juga ingin punya anak perempuan," kata Kei.
"Kau ingin anak perempuan Honey? setelah sembuh aku akan mengambulkan." jawab Ken dengan senyuman. Tapi Kei melirik sinis.
"Kau suka proses pembuatannya saja, tidak merasakan sakitnya melahirkan."
"Hei kata siapa aku tidak merasakan kesakitan, kau lupa sudah menganiaya ku sampai tak berbetuk. Bahkan ruang itu bagai ruang eksekusi." sungut Ken.
"Betul itu, tuan." Lee mendukung, ia mengalami pengalaman yang nyaris sama.
"Nah gitu mau mengabulkan keinginanku memiliki anak perempuan." sahut Kei.
"Kita bisa menyicil prosesnya, keberhasilannya bisa menyusul."
Kei mendengus, sedang yang lain menahan tawa.
'Panci kali dikridit, tuan Ken aneh-aneh saja,' batin Lee menahan tawa. Ia takkan berani mengejek seperti itu.
"Eh, anaku laki-laki sedangkan anakmu perempuan mbak, kalau dewasa mungkin keduanya bisa berjodoh." ucap Kei antusias.
'Aku berbesan dengan tuan muda!!! oh no!!! aku bisa menua lebih cepat, terserang darah tinggi, penyakit hati lalu lumpuh. Jika ada pilihan, lebih baik berbesan dengan orang biasa.' batin Lee dengan wajah pucat.
Diatas kursi roda Ken tergelak, ia menertawai wajah pucat sekretarisnya. "Apa yang kau pikirkan Lee? apa begitu menakutkan berbesan denganku?" tanyanya dengan mengejek.
'Bukan lagi menakutkan tuan, mengerikan, bahkan aku sangat takut hanya membayangkan saja'
"Tidak tuan muda, bukan seperti itu. Saya merasa tidak pantas berbesan dengan anda." jawab Lee dengan sangat sopan. Meski didalam hati menggerutu tapi dimulut ia harus hormat dan sopan.
"Kita tidak tau kedepannya seperti apa, belum bisa memprediksi dan memutuskan."
"Anda benar tuan."
"Aku memang selalu benar Lee, kapan aku salah?" sentaknya.
"Anda tidak pernah salah tuan muda, orang lain yang salah."
"Tidak begitu juga Lee, aku pernah melakukan kesalahan beberapa hari lalu."
'Terserah anda saja tuan, belum menjadi besan saja sudah seperti ini apalagi sudah resmi, bisa-bisa kehidupan keluargaku pindah ke jeruji besi.'
__ADS_1