Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Kejutan Yang Tak Terduga.


__ADS_3

Akhirnya Kei mengikuti Dewi untuk pulang lagi kerumahnya, sampai dirumah Kei membersihkan diri agar terlihat lebih segar. Saat ini pikirannya benar-benar tidak menentu, bersedih, menyalahkan diri sendiri, entah semuanya menjadi satu.


"Kei.." Dewi muncul dari balik pintu. "Iya mbak?" Kei yang masih duduk dimeja rias milik Dewi langsung menoleh. "Aku ada urusan sebentar untuk antar pesanan kue, tidak apa-apakan kalau aku tinggal." ucap Dewi didepan pintu tanpa masuk kedalam.


"Iya mbak, tidak pa-pa. Mbak pergi saja." Kei tersenyum. "Eum, kamu istirahat saja ya. Aku pergi, bye..." Dewi melambaikan tangannya dan sudah berlalu pergi. Kei belum pernah melihat Dewi bersedih, dia tipe perempuan yang tidak terlalu melankolis.


Setelah sore hari terlihat Dewi baru pulang, memarkirkan motornya didepan rumah dia bergegas masuk untuk mencari temannya yang sedang dirundung kesedihan. "Kei... Kei..." memanggil dengan tidak sabaran. "Ada apa mbak?" Kei keluar dari dalam kamar dan menghampiri.


"Kei, ayo kita bersiap." Dewi begitu antusias. "Bersiap kemana, mbak?" Kei mengerutkan dahi. "Temanku ada yang ulang tahun kita akan pergi ke pesta."


"Ya sudah mbak saja yang pergi biar aku dirumah saja." Kei menolak, dia sendiri tidak mengenal orang yang mengadakan pesta kenapa harus ikut.


"Kei, ini pesta paling meriah bukan sembarangan pesta. Disana bakal banyak cowok." Dewi membujuk. "Mbak lupa, aku sudah pernah katakan jika aku berpisah dengan tuan Ken aku tidak akan menyukai pria lagi." Kei berjalan dan duduk dikursi.

__ADS_1


Dewi terlihat berpikir dan sedang mencari ide, untuk hal ini Dewi lupa untuk menyiapkan rencana. "Kei, ayolah plis... demi aku. Aku ingin mengenalkanmu dengan seseorang yang berharga untukku." akhirnya Dewi menemukan ide. "Tetapi mbak, aku tidak mengenal orang yang mengatakan pesta bagaimana aku akan datang?" Kei mengatakan alasannya.


"Kamu tenang saja disana memakai penutup wajah seperti topeng jadi tidak akan ketahuan, tetapi aku sudah punya dua undangan satu untukmu dan satu untukku." Kei menaikan alis, merasa aneh. "Sudah yang penting kamu ikut ya, sekalian menghibur diri. Ok..." Kei masih diam saja belum memberi jawaban.


"Ayo..." Dewi menarik tangan Kei. "Kemana, mbak?" terpaksa berdiri karna tangannya ditarik. "Ke-salon, merias diri biar cantik." ucap Dewi dengan gaya sok cantik. Kei menggelengkan kepala dan tersenyum. Dewi mengajak Kei pergi ke salon, Kei meneliti ruangan yang begitu mewah ruangan itu seperti salon untuk make-up artis. Bahkan dirinya seperti orang yang spesial seluruh pegawai salon begitu ramah kepadanya, ia tidak bisa menanyakan kebingungannya karna dia sendiri berpisah dengan ruangan Dewi.


Kei benar-benar bingung, setiap ingin pergi para pegawai itu mencegahnya. Bukan lagi satu atau dua orang, melainkan ada enam orang yang mendandani dirinya itu semua membuatnya semakin bingung. Hampir 2jam Kei terkurung didalam ruangan itu, dia merasa jenuh dan kesal para pegawai salon itu mendandaninya layaknya boneka Kei harus begini, haus begitu, dari ujung rambut hingga ujung kaki semua tidak luput dari pengawasan mereka.


"Mbak, silahkan berganti pakaian." pelayan itu memberikan gaun kepada Kei. "Mbak mungkin salah orang, mana mungkin saya pakai gaun ini. Saya tau gaun ini pasti mahal sekali dan saya tidak akan sanggup membayar, saya juga tidak memesannya mbak." Kei menolak.


Pelayan itu sudah menebak hal ini pasti terjadi, dia tersenyum kearah Kei dan sedikit mendekatkan wajahnya. "Mbak gaun ini tidak mahal, ini yang KW mbak." mendengar itu mulut Kei terbuka, dirinya terkejut. "Ini sudah dibayar mbak tinggal pakai saja." pelayan menyodorkan gaun itu didepan Kei lagi, kali ini Kei tidak bisa menolak dia terima dan berjalan pelan masuk keruang ganti.


"Benarkah gaun ini palsu? tetapi kenapa begitu indah sekali? hiasan berlian-berlian ini begitu berkilauan seperti asli. " Kei meneliti gaun berwarna hitam dengan hiasan berlian biru yang menghiasi dibagian depannya. Ajaib, ukurannya-pun begitu pas saat ia kenakan. Selesai memakai gaun Kei keluar dan kembali bercermin, "Ho..." Kei membuka mulut, tidak percaya dengan penampilannya yang begitu berbeda. Dia merasa ini bukan dirinya, sangat cantik dan elegan.

__ADS_1


"Ho...how.. mbak, kau sangat perfect. Artis-artis saja kalah dengan penampilanmu saat ini." salah satu pegawai salon, memuji Kei. Kei belum merespon dia sendiri sedang memandangi dirinya lewat cermin, dan begitu takjub sampai melupakan keberadaan Dewi.


"Kei... Wow... Amazing, kau cantik sekali Kei? aku sampai tidak mengenali mu." Dewi yang baru datang menghampiri Kei. "Mbak, ini acara apasih kok aku dimake-up seperti ini?" Kei bertanya belum menemukan jawaban dari tadi. "Pestanya akan dimulai, ayo kita berangkat." Dewi tidak menjawab dan mengajak Kei untuk berangkat. Dewi memberikan topeng untuk dikenakan Kei dan menggandeng tangan Kei keluar dari salon, didepan sudah ada mobil putih yang akan membawa mereka ke gedung pesta. Setiap Kei bertanya Dewi tidak menjawab dan selalu mengalihkan topik, akhirnya Kei diam dengan kebingungannya. Tidak lama mobil sudah berhenti didepan gedung, Kei dan Dewi keluar dari mobil.


"Mbak, aku pulang saja ya..." Kei sudah bisa melihat didalam gedung itu sudah banyak sekali dengan hadirnya tamu. Kei merasa tidak percaya diri. "Kita sudah sampai disini Kei, kenapa pulang. Aku akan mengenalkan dirimu kepada orang spesial ku setelah itu baru kita pulang." jawab Dewi.


Baru sampai didepan pintu lampu utama sudah menyorot kearah mereka berdua, tangan Kei gemetaran baru kali ini dia menghadiri pesta meriah seperti ini, ia terus menggandeng tangan Dewi. Dewi mengajaknya untuk duduk dikursi paling depan, tetapi Kei menolak, Dewi terus menggandeng tangan Kei setengah paksaan Kei menuruti Dewi dan mereka sudah duduk kursi paling depan.


"Mbak, harusnya kita duduk dibelakang saja kenapa harus disini? bukankah ini kursi untuk orang penting?" Kei setengah berbisik. Semua tamu seakan melihat kearahnya, dia menjadi pusat perhatian. Kei benar-benar merasa tidak nyaman, beruntung dia memakai penutup wajah orang-orang tidak akan mengenalinya. Entah intruksi seperti apa, seluruh tamu undangan menjadi hening. Kei melihat kesana kemari ingin melihat orang yang mengadakan pesta tetapi tidak menemukannya. Tetapi tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang, Kei sangat terkejut dan ingin memberontak.


"Happy Birthday, Honey." suara itu berbisik lembut ditelinga Kei. Tubuh Kei menegang dan mematung, sedetik kemudian dia berbalik. "Tu-tuan..." memanggil dengan terbata.


Ken tersenyum dan membuka topeng yang dikenakan Kei, Kei langsung memeluk tuan Ken dengan erat dan menangis terisak diperlukannya.

__ADS_1


__ADS_2