
"Buih...buih... baby oh no... stop, honey.... jangan dimakan lagi! itu bukan nasi goreng, tapi racun mematikan!!" setelah tuan muda Ken mencicipi hasil masakannya sendiri, dia begitu histeris dan menghentikan istrinya untuk menyendok nasi goreng hitam legam. Dengan segera tuan Ken merebut piring berisi nasi goreng itu, tetapi Kei tidak memberikan dia memegang pinggiran piring dengan kuat. "Jangan, aku mau makan ini!" Kei menatap tajam, tidak suka jika tuan Ken akan membuang nasi goreng itu.
Bagi orang normal mungkin nasi goreng itu pantas dijuluki nasi goreng racun, nasi goreng malapetaka atau nasi goreng tidak layak dimakan. Tetapi bagi ibu hamil yang sedang ngidam, nasi goreng hitam legam dengan berbagai rasa itu sungguh sangat nikmat.
"Sweety, jika kau ingin makan nasi goreng biar 2koki yang buatkan lagi, yang ini jangan dimakan, aku takut anak kita bisa keracunan."
"Tapi aku mau makan yang ini, ini enak kok... aku suka." ucap Kei memelas. Ken terdiam, memutar otak bagaimana agar istrinya itu tidak lagi memakan nasi goreng Sianida buatannya.
"Sebentar baby, aku akan menelpon dokter untuk menanyakan apakah nasi goreng itu boleh kau konsumsi atau tidak." Ken mengambil ponsel disaku celana jeans dan mencari nomor dokter khusus menangani kandungan istrinya, Ken berjalan menjauh saat berbicara ditelpon. Tanpa menyiakan kesempatan, dengan cepat Kei menghabiskan sisa nasi goreng itu sebelum tuan Ken membuangnya.
"Hugh...." Kei bersendawa, setelah menghabiskan nasi goreng. Tuan Ken baru saja mengakhiri panggilannya, berjalan menghampiri Kei. Baru saja mendaratkan pantatnya untuk duduk dikursi sudah dibuat tercengang, nasi goreng racun yang baru dia bahas dengan dokter tadi sudah habis tiada sisa.
"Dimana nasi goreng tadi?" Ken bertanya, "Sudah habis..." Kei menjawab tanpa bersalah.
Tuan Ken hanya mengedip-ngedipkan mata, sungguh ajaib selera ibu hamil. Tersadar, tuan Ken segera berdiri dan memegangi lengan Kei. "Baby, kau harus memuntahkan nasi goreng itu! itu racun, aku takut terjadi sesuatu dengan anak kita. Apakah perutmu sakit? mulas? ayo kita ke rumah sakit menyuruh dokter untuk mengeluarkan nasi goreng yang kau makan tadi!" Ken sudah terlihat khawatir. Tetapi Kei biasa saja. "Aku baik-baik saja, berapa kali aku katakan nasi goreng buatanmu sangat enak, sayang. Aku ingin lagi." kata Kei.
"Apa....?" tuan Ken sangat terkejut, istrinya meminta nasi goreng sianida lagi. 'Lama-lama aku bisa gila menghadapi aksi ngidam istriku!' Ken menggerutu dalam hati, kedua tangannya menyangga kepala.
Hari ini tuan Ken tidak masuk ke Kantor, Lee menggantikan tugas tuan Ken untuk sementara waktu. Jika sehari kemarin Kei tidak mau didekati tuan Ken, tetapi berbeda dengan hari ini. Kei merengek kepada tuan Ken agar terus menemaninya sepanjang hari, tentu dengan senang hati tuan Ken mengabulkan keinginan istrinya.
Mobil yang dikendarai Lee baru saja tiba di depan Kantor, setelah mematikan mesin mobil segera keluar. Tetapi kedua bola matanya menangkap seseorang yang sangat dia hapal, matanya terus menatap tajam tidak suka dengan pemandangan yang dia lihat. Didekat pos satpam, tangan Dewi sedang digenggam oleh seorang lelaki. Pemandangan itu membuat Lee geram, rasanya ingin melayangkan pukulan untuk lelaki itu. Tetapi akal sehatnya masih bisa berpikir jernih, itu tidak akan ia lakukan karna akan merusak nama baiknya.
Hanya bisa memendam kekesalan dalam hati, cukup lama Dewi dan lelaki itu berbincang-bincang tidak menyadari ada seseorang yang sedang dibakar api cemburu.
Dengan cepat Lee berjalan masuk dan menuju ke Lift, sapaan dari staf karyawan tidak dihiraukan padahal sekretaris Lee meski terkenal dingin tetapi masih mau membalas sapaan dari karyawan.
Dewi baru saja masuk keruang OB, kepala OB sudah menyuruhnya mengantar kopi pesanan sekretaris Lee. Dewi segera membuat dan mengantar kopi itu keruang sekretaris Lee.
__ADS_1
Tok...tok...
"Masuk..."
Dewi berjalan mendekat dan menaruh kopi buatannya didepan sekretaris Lee yang terlihat sibuk menatap layar laptop. "Tuan sekretaris ini kopinya, minumlah selagi hangat." kata Dewi.
"Apakah hangatnya kopi itu, seperti hangatnya tanganmu yang sudah digenggam pria tadi!" tanpa mengalihkan pandangan, suara sekretaris Lee terdengar sinis. Dewi mengerutkan dahi, tidak mengerti dengan ucapan sekretaris Lee.
"Maaf, tuan sekretaris berbicara apa? saya tidak mengerti."
"Oh.. itu Deni, dia temanku tuan. Apakah tuan melihat, aku dan Deni tadi?" dengan santai Dewi menjawab, baginya tidak ada masalah. "Teman? apakah ada pertemanan antara seorang pria dan wanita? dia pasti menyukaimu!" Dewi semakin aneh dengan sikap sekretaris Lee, dia belum menangkap keadaan sekretaris Lee yang cemburu dengan pria itu.
"Maksudku, dia teman satu pekerjaan menjadi OB. Memang sih, tadi pagi Deni telah menyatakan perasaanya kepadaku."
Lee sedikit terkejut tetapi sebisa mungkin menutupinya, 'Jadi aku punya saingan! huh.. jangan sampai keduluan lelaki tengil itu! aku harus bergerak cepat untuk memiliki canduku!' Lee terdiam dengan lamunannya.
"Tuan sekretaris, hallo... kenapa anda melamun?" Dewi melambaikan tangannya didepan wajah sekretaris Lee. "Apa kau sudah menerima pria itu menjadi pacarmu?" memberi pertanyaan dan begitu berdebar menantikan jawaban.
__ADS_1
"Belum tuan, aku masih meminta waktu."
"Fiuh..." Lee bernafas lega, itu artinya dia masih memiliki kesempatan. Dia harus memikirkan rencana untuk bergerak cepat.
"Apa kau memiliki perasaan kepada pria itu?" lagi-lagi Lee yang penasaran terus bertanya. "Tuan sekretaris seperti mengintrogasi saya!" Dewi dibuat bingung dengan pertanyaan dari sekretaris Lee. 'Aku memiliki perasaan dengan seorang pria tuan, tetapi pria itu ya anda. Tetapi aku tahu, tidak mungkin anda membalas perasaan ku.' Dewi bersedih dalam hati.
"Aku hanya ingin tau!"
"Itu pribadi saya, tuan."
"Jika ada yang mengajakmu menikah sekarang, apa kau mau?" tiba-tiba pertanyaan itu lolos dari mulut Lee.
"A-apa, menikah? Hahaha.... anda aneh-aneh saja tuan, apa ada yang seperti itu? saya tidak punya pacar, siapa yang akan menikahi saya?"
"Saya yang akan mengajakmu menikah!" kata sekretaris Lee dengan lantang dan tegas, tidak ada keraguan diwajahnya.
Mendengar pernyataan dari sekretaris Lee membuat Dewi setengah mati terkejut, mulutnya terbuka lebar. Jantung yang berdegub kencang, dia tidak percaya sekretaris Lee mengatakan itu. Dia tidak tau apakah itu sungguhan atau hanya ucapan yang asal.
Dewi diam mematung, Lee menatap kedua mata Dewi sebagai bentuk keseriusannya.
__ADS_1
"Haha... tuan pasti bercanda." Dewi menanggapi ucapan sekretaris Lee sebagai candaan.