
Sekitar 1jam Ken mulai mengerjapkan kelopak matanya yang juga membiru, menutup mata sebentar untuk menyesuaikan.
"Ken... Ken, kamu sudah sadar nak." mami Lyra mendekati putranya, Ken masih mengerjapkan mata pelan semua tubuhnya terasa sakit.
"Ma..." ingin bersuara tetapi sudut bibir kanan kirinya terasa sangat sakit.
"Ken, kamu jangan bicara dulu bibirmu pasti sakit nak." mami Lyra segera mencegah agar Ken tidak berbicara dulu. Lee juga baru saja mendekati tuan Ken.
"Tuan muda..." Ken melirik kearah Lee. Ken menggerakkan tangan sebagai kode dia menginginkan sesuatu, mulanya Lee tidak mengerti tetapi dia punya ide untuk memberikan ponsel kepada tuan Ken agar dia mengetik sesuatu disana dan lebih mempermudah. Ken mengetik sesuatu diponsel itu, "Dimana, Kei?".
"Nona Kei sedang..." Lee bingung menjawab apa, memandang kearah mami Lyra.
"Kei sedang diluar Ken, kamu tenang saja kami menjaganya." akhirnya mami Lyra menjawab berbohong agar Ken tidak khawatir.
Tidak ingin kehilangan Kei lagi Ken menyuruh Lee untuk memanggilkan Kei agar menemuinya, lagi-lagi Lee kebingungan dia sendiri tau jika nona Kei sedang berbaring lemah bahkan sampai saat ini belum sadar entah apa yang terjadi dokter belum memberi keterangan.
"Maaf tuan muda anda harus istirahat dulu, nanti saya panggilkan nona Kei." melihat gelagat yang mencurigakan membuat Ken tidak percaya dan ingin mencarinya sendiri, ingin berusaha bangkit tetapi tubuhnya benar-benar sakit. Mami Lyra tidak tega melihat Ken seperti itu, meski tidak mengatakan tetapi mami Lyra tau Ken pasti sangat ingin melihat Kei.
"Baiklah Ken, kita akan menemui Kei tetapi apa kamu kuat duduk dikursi roda? jika tidak jangan dipaksa ya nak, kita tunggu kondisimu lebih baik. Kamu tenang saja kami menjaga Kei dengan baik." ucap mami Lyra. Jari Ken mengetik sesuatu diponsel lagi dan menyerahkannya kepada maminya.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa mi, aku ingin menemui Kei." tetap itu yang menjadi keinginan putranya, apa boleh buat mami Lyra harus menuruti kemauan Ken. Dia sendiri belum tau keadaan Kei bagaimana dan penasaran dengan yang terjadi. Lee menyiapkan kursi roda untuk tuan Ken, membantu tuan Ken untuk berpindah. Ken menahan rasa sakit disekujur tubuhnya hanya demi menemui Kei, dia takut Kei pergi lagi. Lee mendorong kursi roda tuan Ken keluar mami Lyra mengikuti disampingnya. Ken penasaran dimana Kei berada, kenapa harus memasuki sebuah ruangan VIP juga, apa yang terjadi dengan istrinya?
Saat membuka pintu ruang rawat Kei masih ada dokter dan perawat yang mengecek kondisi Kei, mereka menundukkan kepala saat tuan Ken masuk. Ken terkejut melihat Kei berbaring lemah dan ada alat medis yang menempel ditubuh istrinya, segera mengetik sesuatu dan memberikannya kepada Lee.
"Dok tuan Ken bertanya, apa yang terjadi dengan nona Kei?" Lee menyampaikan pertanyaan yang ditanyakan tuan Ken.
"Jahitan bekas operasi nona Kei sedikit terinfeksi dan sepertinya bekas itu juga terkena pukulan benda tumpul yang mengakibatkan bekas jahitan itu terbuka, kami sudah melakukan tindakan dengan menjahit kembali dan memberikan obat agar infeksinya tidak menyebar. Setelah nona Kei sadar nanti akan merasakan sakit dan panas seperti awal terjadinya operasi." panjang lebar dokter memberi penjelasan. Ken mengetik sesuatu dan memberikannya kepada Lee kembali.
"Bekas jahitan apa itu, dok?"
"Sepertinya bekas operasi pengangkatan ginjal tuan karna lukanya terletak pada perut bagian sebelah kanan dan sedikit dibagian bawah. Jika bekas operasi Caesar biasanya terdapat diperut bagian tengah, tetapi itu hanya perkiraan saya. Anda bisa menanyakan langsung kepada nona Kei atau melakukan pemeriksaan." Dokter kembali menjelaskan dan memberi saran, Ken mengerutkan dahi terlihat bingung.
Apalagi mami Lyra terlihat gugup saat mengatakan pendapatnya. Ken mengetik sesuatu lagi, " Dok, lakukan pemeriksaan saja. Aku ingin mengetahui Kei pernah melakukan operasi apa!" lagi Lee sebagai penyampai kalimat.
"Baik tuan."
"Dok, tidak perlu Dok! tidak perlu melakukan pemeriksaan." mami Lyra tetap berusaha menolak. Ken sudah sangat geram dengan penolakan dari mami Lyra, jika mulutnya tidak sakit sudah pasti akan berteriak marah. Mami Lyra sangat gugup melihat Ken menatapnya tajam, pasti Ken sangat marah.
"Baiklah Dok, jika ingin melalukan pemeriksaan apa sebaiknya kita menunggu Kei sadar."
__ADS_1
"Lakukan sekarang!!" akhirnya Ken tidak bisa menahan kemarahannya tidak perduli bibirnya yang robek dia sedikit membentak, hingga kedua ujung bibirnya mengeluarkan darah lagi. Mami Lyra terlonjak kaget, karna suara Ken yang keras. Dokter dan sekretaris Lee juga terkejut.
"Tuan muda anda jangan berbicara dulu, bibir anda terluka dan sekarang mengeluarkan darah lagi." Lee khawatir, samping itu mami Lyra juga khawatir. Ken meringis kesakitan dan memegangi kedua sudut bibirnya.
"Maafkan mami Ken, baiklah jika kamu dilakukan pemeriksaan tidak apa-apa lakukan saja, iya... lakukan saja." mami Lyra ketakutan. Ken tetap meringis menahan sakit, tetapi dia mengetik lagi diponsel Lee.
"Lakukan pemeriksaan setelah hasilnya keluar harus cepat menyerahkannya kepadaku. Dan lakukan pemeriksaan tentang rahim Kei apakah bermasalah atau tidak, aku ingin mengetahui apakah istriku mandul atau tidak." Lee menyampaikan itu, dokter itu mengangguk mengerti. Lee membawa tuan Ken untuk kembali keruang rawatnya, sebenarnya Ken masih ingin melihat Kei tetapi dokter harus segera melakukan pemeriksaan. Dia juga membutuhkan perawatan lagi karna kedua sudut bibirnya terus mengeluarkan darah.
Mami Lyra ikut masuk keruangan Ken, kembali menemani putranya dengan dokter yang membersihkan bekas darah dan mengoles obat lagi.
"Dari dulu mami tau jika aku benci dengan kebohongan, aku rasa mami sedang menyembunyikan sesuatu?" Ken memberikan ponsel kepada mami Lyra, mami Lyra yang membaca itu bingung harus bagaimana. Jika memberitahu kejujurannya berarti dia sudah ingkar janji, tetapi jika tidak jujur-pun sebentar lagi semuanya akan ketahuan. Mami Lyra menunduk dan menggelengkan kepala.
"Ken, kenapa kamu menyuruh dokter untuk memeriksa rahim istrimu? bukankah kamu sendiri yang mengatakan jika Kei mandul?" mami Lyra mengalihkan obrolan sejenak.
"Aku hanya memastikan saja, tidak ada salahnya memeriksa lagi agar kita semua yakin. Waktu itu Kei tidak menunjukan surat hasil tesnya, jadi Ken sedikit ragu." Ken memberikan ponsel kepada mami Lyra, ketika mami Lyra membaca dia hanya mengangguk-anggukan kepala.
"Lee, setelah pemeriksaan Kei sudah selesai bilang kepada perawat agar memindahkan Kei agar satu ruangan bersamaku."
"Baik, tuan muda. Sekarang istirahatlah, setelah hasilnya keluar saya akan membangunkan anda." Ken mengangguk dan memejamkan matanya.
__ADS_1