Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Sembunyi


__ADS_3

Mami Lyra sedang bersiap-siap mengemasi barang yang akan dibawa pulang. Sedari Ken bangun dari tidurnya, lelaki yang kehilangan sebagian ingatannya itu tak hentinya melontarkan kata-kata kesal. Entah apa penyebab Kendra Kenichi uring-uringan tapi tak hentinya dia mengomel. Kesalahan sedikit pun jeli untuk diperdebatkan.


Dokter yang tadi mengganti perban dikepala Ken sampai ketakutan menghadapi monster mengerikan. Dia kembali seperti tujuh tahun yang lalu, dingin, kejam, dan menakutkan. Para dokter segera menyelesaikan tugasnya dan segera pergi dari ruangan eksekusi itu.


Sepanjang menit berlalu, Ken diam ditempat. Seperti ada sesuatu yang dipikirkan.


'Mungkin dia lelah,' batin mami Lyra yang melirik Ken dari ujung matanya.


Tapi prasangka mami Lyra sebenarnya salah. Ken terdiam mengingat suara anak kecil yang berbisik di telinganya dengan lembut. 'Semoga Daddy cepat sembuh dan ingat dengan Io.' suara itu mampu mengganggu pikirannya.


Dia sempat berpikir mungkin hanya bermimpi, karna suara itu terdengar saat ia tengah terlelap tapi samar-samar dia bisa mendengar suara itu dengan jelas. Ingin bangun tapi matanya terlalu berat untuk dibuka.


"Mi, anak kecil bernama Io itu siapa?" tanya Ken pada mami Lyra yang sibuk mengemas baju ganti.


Gerakan mami Lyra langsung terhenti, ia langsung menoleh kearah Ken.


"Kio anak kecil yang kamu tolak kehadirannya dan kamu usir bersama mommy nya, beberapa hari lalu." mami Lyra sengaja menjawab seperti itu, berharap ingatan Ken pelan-pelan berangsur pulih.


"Dia anak wanita munafik itu?!" balas Ken sengit.


Mami Lyra bernapas kasar. Sampai kapan kamu membenci keluargamu sendiri, Ken? batin mami Lyra sedih.


"Kalau dia sudah menikah, kenapa tinggal di rumah kita? Mami tidak memecatnya?" Ken acuh.


'Bagaimana aku mengusirnya, Ken? dia anak dan istrimu sendiri!!!!' ingin rasanya mami Lyra mengatakan itu. Tapi dia ingat pesan dokter tidak boleh memaksa Ken untuk mengingat sesuatu, yang justru akan memperburuk daya ingatnya. Mami Lyra hanya bisa bersabar.


"Suaminya baru saja mengalami kecelakaan, Mami nggak tega mengusir Kei dan anaknya." jawab mami Lyra.


"Kenapa anak itu memanggilku Daddy? aku bukan ayahnya. Jangan-jangan wanita itu memanfaatkan keadaan." tuduh Ken.


"Memanfaatkan keadaan bagaimana?" mami Lyra tidak maksud dengan tuduhan Ken.


"Dia menyuruh anaknya untuk mendekatiku, dia memanfaatkan itu agar aku menikahinya dan dia akan menjadi Nona dirumah kita." Ken berkata sinis.


Pandangan mami Lyra berubah tajam, bagaimana bisa Ken berpikir seperti itu. Kei dan Kio adalah putranya sendiri.


"Bagaimana kau punya pemikiran seperti itu, Ken?" tanya mami Lyra sinis sekaligus miris.


"Dia munafik, apapun bisa direncakan. Kita tidak tahu asal usul wanita itu. Mami saja terlalu baik padanya, sampai dia memanfaatkan Mami supaya mengijinkan dia tinggal dirumah kita."

__ADS_1


"Meskipun istriku Olive sudah pergi, aku tidak akan menikahi wanita itu. Tidak akan pernah, Mi." Ken menolak dengan tegas.


"Ken, almarhum Olive sudah pergi sejak tujuh tahun lalu. Ingatlah Ken. Coba kamu ingat semuanya." mami Lyra tidak sabar menghadapi Ken yang hilang ingatan. Rasanya semakin frustasi.


"Olive pergi setelah kecelakaan kemarin, bersamaku." suara Ken merendah. Yang dia ingat, dia mengalami kecelakaan bersama Olive dan calon anaknya.


Tapi pikiran Ken tidak bisa menjangkau terlalu jauh, jika Olive pergi karena kecelakaan kemarin. Harusnya Kei tidak memiliki anak. Karna dulu Kei datang ke rumahnya sendirian.


Semakin dipikirkan, kepalanya semakin sakit.


"Entah kenapa aku tidak diperbolehkan pulang. Ken ingin melihat Olive dan calon anakku dimakamkan dimana?"


Lagi-lagi mami Lyra menghembuskan napas, yang Ken ingat waktu terjadinya kecelakaan bersama Olive tujuh tahun silam.


"Setelah kita pulang, Ken ingin langsung mengunjungi makam anak dan istriku." pintanya.


Mami Lyra tidak tahu lagi harus memberikan keterangan. Dia diam saja.


Herlambang dan Lee baru datang, mereka berdua baru menyelesaikan serangkaian syarat agar Ken bisa pulang hari ini juga. Itu pun atas kemauan Kendra Kenichi yang tidak bisa dirubah atau dibantah.


"Tuan Muda, semuanya sudah selesai. Kita bisa pulang sekarang." lapor Lee.


Semua sudah selesai, kini semuanya sedang berada diperjalanan pulang.


"Pa," Ken memanggil Herlambang.


"Iya," jawab Herlambang dan langsung menoleh ke kursi belakang dimana Ken duduk bersama mami Lyra.


"Papa tidak marah denganku karna kecelakaan itu anak papa dan calon cucu papa harus pergi untuk selamanya?"


Mata Herlambang bergerak kesana kemari, bingung harus menjawab apa.


"Papa tidak menyalahkan ku?" tambah Ken.


Karna bingung Herlambang hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban tidak.


Beberapa saat setelah pertanyaan itu semuanya diam. Hanya suara mesin mobil yang terdengar nyaring ditelinga mereka.


"Lee, bagaimana dengan keadaan kantor?" Ken bertanya pada Lee.

__ADS_1


"Keadaan kantor aman, Tuan. Aku dan Tony yang mengurus." jawab Lee.


"Bagus. Kau memang selalu bisa diandalkan." Ken memuji.


"Apa Tristan sudah kembali dari Amerika?" tiba-tiba Ken mengingat Tristan yang masih tinggal di Amerika.


"Belum Tuan." jawab Lee singkat. Dia tidak mau menjelaskan panjang lebar yang dirasa percuma, karna ingatan Ken telah hilang sebagian.


"Papa, terima kasih sudah menemaniku selama dirawat dirumah sakit. Dan mau mengantar Ken pulang." Ken mengucap terima kasih setelah mobil yang ditumpangi sudah terhenti didepan halaman rumahnya.


Herlambang memandang istrinya dengan kebingungan, selama di rumah sakit kemarin sama sekali belum mengatakan bahwa dia telah resmi menikahi mami Lyra. Kini semua kebingungan akan menjelaskan seperti apa supaya Ken bisa mengerti.


Mami Lyra juga sama seperti suaminya, dia juga bingung harus mengatakan apa.


"Lee, setelah ini kau harus mengantar papa Herlambang ke rumahnya. Dengan selamat." perintah Ken.


Lee melirik ke arah Herlambang yang duduk kursi sampingnya. Herlambang memberi kode dengan menganggukkan kepala pelan.


Lalu Lee menjawab. "Baik Tuan Muda."


Lee turun lebih dulu untuk membukakan pintu tuan mudanya dan beralih ke bagasi untuk mengambil kursi roda, tapi dicegah oleh Ken.


"Tidak perlu Lee, aku bisa berjalan normal. Hanya tanganku saja yang masih sakit."


Didalam rumah, di balik jendela ruang tamu, Kio tengah mengintip kedatangan mereka.


"Mom... Mom..." Kio memanggil Kei yang masih memangku Kyura disofa.


"Iya Sayang." balas Kei.


"Daddy, Oma, Opa dan Paman Lee sudah datang. Ayo kita sembunyi." Kio menghampiri mommy nya.


Deg...


Jantung Kei berdetak sangat kencang. Apa begitu takutnya Kio dengan ayahnya sendiri, sampai tidak mau muncul dihadapan Daddy nya.


Tangan Kei ditarik oleh Kio dan diajaknya bersembunyi di kamar tamu yang ada dilantai bawah, kamar pertama yang Kei tempati sewaktu pertama kali datang kerumah itu.


Kei benar-benar tak sampai hati jika putranya terus menerus ketakutan. Ia harus segera menanyakan penjelasan pada mami Lyra.

__ADS_1


Karna detik ini pun Kei tidak tahu pasti kondisi suaminya seperti apa. Mami Lyra atau pun Lee belum menjelaskan.


__ADS_2