Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Tertawa bersama


__ADS_3

Ditengah kebahagian keluarga Ken, semua sedang menikmati makan malam. Suasana terasa menghangat dengan berkumpulnya semua anggota keluarga.


Makan malam yang hikmat telah usai dan semua telah berpindah keruang keluarga.


Viona tak mau jauh-jauh dari kakak iparnya, bukan Kei yang membuat ia terus menempel melainkan keberadaan Kyura. Bayi menggemaskan itu mencuri perhatiannya.


Sedari tadi ia tak lelah memangku baby Kyura, hanya pada saat kehausan dan kelaparan saja Viona mau mengembalikan pada Kei, setelah itu akan berada di pangkuannya lagi.


"Ih... kamu gemesin banget sih, cantik. Mudah-mudahan calon anak Tante juga cantik seperti kamu ya," manik mata Viona menatap lekat-lekat wajah bayi mungil itu.


Bayi mungil itu hanya mengerucutkan bibir dengan ujung mata yang bergerak kesana kemari. Kaki dan tangan yang tak henti memukul-mukul di udara.


Ray sedang asik menjahili Kio. Ken duduk disamping Kei dan tak henti memainkan ujung rambut istrinya yang tergerai bebas.


Membuat Kei terlihat sangat keibuan.


"Perjalanan dari Amerika kesini sangat jauh, untung saja kandunganmu baik-baik saja." mami Lyra yang bersebelahan dengan Viona mengulurkan tangan mengusap perut Viona yang sedikit terlihat membuncit.


"Iya Mi, sebelum kesini aku sudah periksa dan konsultasi dulu sama dokter. Dan aku diberi vitamin penguat agar calon bayiku baik-baik saja." jawab Viona melihat ke arah mertuanya sebentar lalu beralih kembali melihat wajah Kyura. Seolah tak bosan mengagumi wajah keponakannya yang cantik dan lucu.


Ia sangat menginginkan anak perempuan, sedangkan suaminya malah menginginkan anak laki-laki.


Keduanya sama-sama berharap seperti keinginan masing-masing. Untuk itu mereka bersepakat tidak mau mengetahui jenis kelaminnya sebelum calon anak mereka lahir ke dunia. Biar nanti saja menjadi kejutan.


"Perutmu sudah membesar Nak, kalau di USG pasti sudah kelihatan jenis kelaminnya. Apa kalian sudah pernah bertanya pada dokter, tentang jenis kelamin anak kalian?" mami Lyra begitu penasaran dengan jenis kelamin calon cucu ketiganya. Apakah berjenis kelamin laki-laki atau perempuan?


"Setiap bulan rutin USG Mi, tapi kami tidak ingin mengetahui jenis kelaminnya. Biar nanti saja buat kejutan seperti kelahiran Kio dan Kyura yang menjadi sengaja buat surprise." Viona mengerling kearah Kei yang dibalas dengan anggukan dan senyuman.


"Kalian ini kompak banget. Kalau jenis kelaminnya udah ketahuan, kalian bisa siap-siap membeli perlengkapan bayi sesuai jenis kelamin." mami Lyra melihat Viona dan Ray bergantian.


"Itu mah gampang Mi, tinggal beli dua-duanya saja." jawab Ray santai.


"Kamu ini...!" mami Lyra mencibir. Tapi Ray hanya tersenyum menanggapi cibiran dari maminya.

__ADS_1


Perbincangan keluarga itu harus terhenti karna waktu yang semakin larut, padatnya aktivitas membuat badan terasa lelah dan segera ingin beristirahat.


Satu persatu masuk kekamar mereka masing-masing.


Kio telah terlelap digendongan Ken, bocah itu kelelahan setelah bermain bersama Ray.


Ken menurunkan Kio di ranjang khusus milik Kio sendiri.


Sedangkan Kei menaruh baby Kyura di dalam box.


Kei telah duduk di pinggir ranjang. Mengamati kedua anaknya yang sudah terlelap. Ken ikut menyusul duduk di samping Kei, mengulurkan tangan melewati bahu Kei dan mendekap dengan hangat.


"Kenapa?" tanya Ken. Ketika melihat wajah istrinya termenung.


"Nggak pa-pa. Waktu cepat sekali berlalu, nggak terasa kita sudah memiliki dua anak." ucap Kei dengan pandangan yang sama sekali tidak beralih melihat Kio dan Kyura secara bergantian. Bibirnya menyunggingkan senyum.


Ken semakin mendekap erat tubuh Kei. Tubuh yang menjadi candu disetiap malam untuk dipeluk dengan kenyamanan.


"Iya. Dan sebentar lagi kita akan menua." ucap Ken malah menggoda.


"Kau selalu menjadi bidadari tercantik di hatiku."


"Gombal ah.." Kei mencubit dada Ken.


"Jangan menggodaku Baby, aku tidak akan bisa menahan diri." ucap Ken terdengar parau.


"Eh, mau apa kau? ingat, aku masih belum bersuci. Kau tidak boleh menyentuhku. Puasa 42 hari." Kei tergelak ringan. Melihat wajah Ken yang berubah suram.


"Aku senang mendapat malaikat kecil, tapi aku kesal harus berpuasa selama itu. Menyebalkan." sungut Ken.


"Ya mau bagaimana lagi, memang begitu kan prosedurnya." Kei mengerling tapi Ken mendesah berat.


"Sudah ayo tidur, biar otakmu nggak kepikiran itu terus." ajak Kei. Ia melepas dekapan tangan suaminya, beralih ingin berbaring tapi Ken tak juga berpindah.

__ADS_1


Kei kembali melihat wajah Ken yang berganti termenung. Kening Kei mengerut.


Ken tau tengah diperhatikan oleh Kei, ia bersuara. "Andai kau tidak hadir, apa hidupku akan sesempurna ini?!" tanyanya dengan wajah sendu.


Kei yang tadi hampir beranjak kini kembali ke posisi semula. Mungkin suaminya masih ingin berbicara dan menghabiskan malam untuk mengenang yang telah berlalu.


"Entahlah, aku juga tidak tau."


"Tapi bukan hanya kamu yang merasa sempurna. Hidupku lebih sempurna dari apapun, memiliki suami yang begitu mencintaiku. Kedua malaikat yang tampan dan cantik."


"Sebelum bertemu denganmu, bahkan hari-hatiku begitu suram. Tidak ada tujuan hidup apalagi bayangan untuk bahagia. Tidak ada sama sekali."


"Bahkan aku memutuskan untuk mendonorkan ginjal padamu, setelah itu akan menghabiskan waktu di panti asuhan. Menghibur anak-anak yang kurang beruntung, seperti diriku."


"Sejak kejadian naas itu tawaku telah hilang secara paksa. Menjalani hari tanpa pandangan normal, orang-orang memandang ku dengan hinaan."


"Kau tau, kebahagiaanku tercipta setelah aku bersamamu."


"Sebelum itu aku mengalami ketidakadilan, membuatku terpuruk dan hancur. Tapi berkat pernikahan yang singkat itu aku bisa menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya."


"Jadi, siapa kah disini yang paling beruntung dan paling merasa sempurna? tentu saja, aku." Setelah panjang lebar bercerita, Kei menyudahi kalimatnya dengan senyum yang mengembang. Kedua mata berbinar memandang suaminya yang semakin matang dewasa.


"Mendengar kisah mu, aku jadi teringat waktu pertama kali mengenalmu. Bahkan aku juga bersikap tidak adil padamu. Tanpa tau kesalahan pasti aku membenci mu." ucap Ken.


"Iya, kau dulu begitu jahat dan menyebalkan. Dingin dan arogan. Aku sampai bingung apa kesalahanku karna kamu membenciku."


"Ingin rasanya aku meminta ginjalku kembali, kesal sudah mendonorkan ginjal pada orang yang salah. Tapi Tuhan tidak pernah salah mengirimkan jodoh. Setelah saling mengenal, cinta kita bisa bertumbuh dengan seiringnya waktu."


"Aku bersikap seperti itu karna marah pada Tuhan yang telah memberiku ujian berat. Aku kehilangan 2orang tersayang dan harus mengalami sakit yang parah."


"Jika aku tau kau yang mendonorkan ginjal untukku, mungkin saat itu juga aku akan menikahi mu dan tidak ada drama kebencian." ucap Ken dengan senyum.


"Sebenarnya aku ingin menyimpan rahasia itu sampai mati, tapi kau sudah lebih dulu tau."

__ADS_1


"Entahlah, masa lalu lucu atau masa lalu pahit?"


"Yang benar dua-duanya." mereka tertawa bersama.


__ADS_2