
"Sekretaris Lee, berhenti...!" suara Kei mengejutkan Lee, hingga mengerem mobil dengan tiba-tiba membuat badan mereka sedikit terhuyung kedepan. Ken mendesis.
"Maaf maaf..." Kei mengucap maaf, dia tau sudah membuat kaget. Menyengir kuda kearah Ken.
"Ada apa?" Ken bertanya dengan dingin.
"Ini jalan yang biasanya, aku ingin turun disini." tidak menunggu persetujuan dari Ken, sudah turun dari mobil berlalu dengan cepat. Dia tau tuan Ken akan marah.
"Lee, yang benar saja! begitukah sikapnya, dasar... keras kepala!!!" Ken marah dan kesal.
'Anda tidak sadar diri tuan, anda lebih keras kepala mengalahkan batu. Huh, jadi kalian berdua cocok, sama-sama batu. Begitulah intinya.' bukan menjawab, tetapi asik melamun.
"Lee akhir ini kau sering menggerutu dibelakang ku! Turun...!"
"Tu turun?"
"Kau tuli? turun!!" sentak Ken. Lee yang ketakutan menuruti perintah bos dinginnya. Ken keluar dari mobil dan berpindah dikursi pengemudi. Melajukan mobil dengan tinggi meninggalkan sekretaris Lee dipinggir jalan. Ketika melewati Kei yang berjalan dipinggiran, Ken memainkan gas mobil.
"Dasar Bos arogan!! hati batu!! hah, turun imege gue! seorang sekretaris dari perusahaan besar, miliki wibawa sepertiku harus turun ditengah jalan! semua gara-gara Bos miring, seenaknya sendiri, mengerikan!" Lee sangat kesal. Menggerutu disepanjang jalan.
"Nona Kei...!!!" berteriak memanggil Kei yang sudah lumayan jauh. Kei berbalik arah kebelakang.
"Sekretaris Lee?" Kei berucap lirih dengan keheranan.
"Hah, hah," Lee mengatur nafas.
"Kenapa anda juga turun disini?"
"Hah, tuan Ken sedang ketempelan awan hitam dan dengan teganya menurunkanku disini." Kei bingung mendengar jawaban Lee. Mulai berjalan lagi, Lee mengikuti.
"Bos anda memang aneh."
"Jangan berbicara formal, nona." Kei mengangguk tersenyum.
__ADS_1
'Ah, pantas saja tuan Ken jatuh hati ternyata nona Kei sangat manis jika tersenyum seperti itu.'
"Aku baru kenal dan baru tau, jika ada manusia seperti itu."
"Tuan Ken memang seperti itu nona, semaunya sendiri."
"Apa memang dari dulu seperti itu?" Lee mengangguk.
Kaki sudah sampai di gerbang Kantor, Kei memberanikan diri untuk masuk menguasai rasa gugup. Masih berjalan berdua memasuki halaman Kantor dan masuk ke Loby.
Benar saja seperti prediksi sebelumnya, banyak karyawan yang memandang kearahnya.
"Nona, saya permisi langsung keatas." Lee berbisik. Kei melirik dan menganggukan kepala. Saat ingin melanjutkan berjalan kearah ruang OB.
"Kei...?" suara yang tidak asing, Kei menengok. Hem... ternyata Izhamlah yang memanggil. Melihat dengan wajah terkejut dan tidak percaya bahkan Mira yang berada disampingnya tidak kalah menunjukan ekspresi sangat terkejut, membuka mulut dan membuka mata dengan lebar. Suara panggilan dari Izham membuat yang lain menghentikan aktifitasnya sejenak dan memperhatikan kami, tanpa disangka Izham melangkahkan kaki menghampiri Kei. Karyawan laki-laki berbisik dan juga menunjukan rasa kagum dengan perubahan Kei, wanita yang dulu sama sekali tidak dilirik karna tidak sempurna.
"Ke Kei? ini benar kamu?" Izham tercengang meneliti penampilan Kei dari atas hingga kebawah.
'Sapaan seperti apa itu?' Kei menautkan alis.
"Sayang..." Mira sudah mendekat. Bibir sebelah Kei terangkat, tersenyum merendahkan. Mira melakukan hal yang sama, namun terlihat kesal.
"Lihat Mira, ini Kei?" mendengar itu Mira tersentak dengan cepat menatap suaminya.
"Lalu kenapa kalau dia Kei? tetap saja bagiku dia wanita cacat!"
"Mira, jaga bicara mu!!" Izham membentak Mira namun dengan nada yang ditahan agar orang-orang tidak mendengar.
"Aku disini untuk bekerja, bukan untuk bertemu orang-orang dari masa lalu. Jadi abaikan saja keberadaanku, anggap saja kita tidak saling kenal." butuh keberanian besar Kei mengucap kalimat itu, dia mengingat perkataan Ken untuk menjadi diri sendiri dan tidak memikirkan orang lain. Setelah itu Kei berlalu. Izham masih setia berdiri memperhatikan mantan istrinya berjalan dengan normal, dengan pakaian yang sama seperti Mira namun lebih terlihat modis. Izham benar-benar tidak percaya dengan perubahan mantan istrinya, belum terpikir Kei mendapatkan biaya dari mana. Izham masih shok melihat Kei jauh lebih cantik dan lebih segalanya dibanding dulu saat menjadi istrinya, wajah yang hampir tidak tersentuh make-up, rambut yang tidak terawat, tubuh kurus kering. Berbanding sangat jauh dengan penampilan yang sekarang, perbedaan 180derajat. Sudahkah hatinya merasa menyesal telah membuang berlian hanya demi nafsu sesaat dan sebuah ego yang menginginkan keturunan?.
"Sayang, ayo kita masuk keruangan. Kita tidak level masuk keruangan staf OB." Mira menarik tangan Izham, mengikuti langkah Mira didepannya tetap saja pemikirannya masih tertuju dengan sang mantan istri.
Mira sendiri tau bahwa Izham memikirkan perubahan Kei, dalam hati sudah berkecamuk ingin mendatangi wanita itu dan memberi pelajaran. Sudah mulai merasa tersaingi dengan perubahan mantan rivalnya yang dulu tidak layak untuk dipandang, tetapi wanita yang tidak layak dipandang itu sudah menjadi seorang ratu.
__ADS_1
"Sttt... auw... auw..." Mira mendesis.
"Kamu kenapa, sayang?" Izham tersadar dan beralih melihat Mira.
'Apa setelah aku berpura-pura kesakitan seperti ini kamu baru sadar dan memperhatikan aku, Izham? kurang ajar... wanita cacat itu sudah membawa pengaruh buruk untuk Izham. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, tunggu saja Kei. Kamu akan seperti Cinderella, setelah keberuntunganmu habis kau akan kembali seperti dulu.'
"Tidak sayang, tadi bayi kita menendang dengan kuat aku merasakan kesakitan." berbicara manja seperti biasanya, jika seperti itu Izham akan luluh.
"Aku pikir, kamu kenapa." Izham mengelus perut Mira yang sudah sangat buncit kehamilannya kini sudah memasuki 7bulan dan masa kerja hanya tinggal 1bulan setengah lagi, setelah itu mengambil masa cuti untuk melahirkan.
"Kamu tidak khawatir, sayang?" Mira bertanya, biasanya jika seperti itu Izham akan menunjukan kekhawatiran yang berlebihan, tetapi kali ini responnya masih biasa saja.
"Tentu aku khawatir. Mir, aku ketoilet sebentar. Kamu duluan saja, ya." Izham berlalu dari hadapan Mira. Mira setengah terkejut, bukanya menghibur dan bersikap romantis seperti biasanya, Izham justru ingin pergi ketoilet. Sudah pasti ingin menghampiri Kei. Mira semakin marah dan emosi, menghentak-hentakan kaki memandangi Izham yang sudah berlalu.
"Helo, cintaku. Kenapa cemberut begitu, hem?" seorang lelaki sudah berdiri dibelakang Mira.
"Hah, sial! kurang ajar wanita cacat itu benar-benar membawa pengaruh buruk!" suaranya terdengar marah.
"Wanita cacat? heum,,, wanita cacat mantan istrinya Izham bodoh itu?" bertanya dengan nada mengejek.
"Siapa lagi kalau bukan dia!"
"Hei,,, jangan marah-marah begitu dong. Aku kan tidak tau apa-apa, kenapa kau melampiaskannya kepadaku."
"Iya iya, maafkan aku Cinta." tersenyum manis.
"Nah, begitu dong terlihat cantik. Kapan kita lembur lagi, Cinta?"
"Tunggu beberapa hari, kemarin malam kita sudah lembur, jika keseringan Izham bisa curiga."
"Aku selalu rindu ingin bersamamu."
"Tentu, aku juga rindu."
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita lanjutkan bekerja." mereka berdua masuk keruang mereka.