
Sama halnya dengan Akio yang tidak bisa tidur karena kurang nyaman dengan keadaan barunya. Kei juga hanya bergelimpangan di atas kasur. Dengkuran halus dari sang suami membuat hati Kei memendam kesal. Bagaimana suaminya bisa tidur nyenyak tanpa kepikiran dengan putranya.
Gusrak gusruk ....
"Huh!" desah Kei.
"Honey, kau kenapa dari tadi tidak bisa diam?" Karena suara bising yang ditimbulkan Kei, akhirnya Ken terbangun. Berbalik arah dan memandang Kei yang terlihat gelisah.
"Bagaimana aku bisa diam! Aku kepikiran Io," sungutnya.
"Jangan pikirkan putramu, dia sedang bersenang-senang dengan istrinya," jawab Ken enteng.
"Mungkin begitu, tapi kenapa aku gelisah, seperti kepikiran terus. Baru ini dia keluar dari rumah, nggak tahu di sana keadaannya bagaimana. Kata Io, Naya berasal dari keluarga sangat sederhana, apa dia betah di rumah Naya?" Kei mengutarakan kegelisahan. Mungkin ikatan seorang ibu memang sangat kuat, hingga dapat merasakan ikatan batin dengan anaknya.
Persatuan Akio dan Naya tanpa adanya acara lamaran, begitu Naya keluar dari rumah sakit dengan kondisi lumayan membaik, Ken langsung menyiapkan acara ijab kabul. Hingga Kei dan Ken tak ada waktu untuk bertandang ke rumah Naya. Mereka tidak tahu keadaan Naya sesungguhnya.
"Kalau dia tidak betah, dia akan menghubungi kita, sayang. Kau tidak perlu berlebihan memikirkannya. Yang kamu pikirkan sedang asik menikmati malam kedua."
"Adu-duh! Sakit, sayang!" pekik Ken yang terkena capitan tangan Kei.
"Apaan sih! Pikirannya gitu amat. Nggak ada gelisah-gelisahnya sama sekali," gerutu Kei.
"Apa yang mau dipikirkan? Aku sudah menyuruh mereka memilih tinggal apartemen, villa, atau mau bulan madu di hotel, di pulau manapun, tapi mereka tidak mau. Inilah, sikap Zee dan menantu kita, siapa namanya ...?"
"Naya," sahut Kei.
"Yaitulah, Naya, sangat berbeda. Sepertinya menantumu itu kurang baik. Apa ya ... munafik juga."
"Hush! Kok ngatain munafik segala?!" sahut Kei seolah tidak terima.
__ADS_1
"Kalau dia berasal dari keluarga sederhana, harusnya nggak perlu menolak tawaranku. Toh, harusnya dia senang, bukan?"
Kei menghela napas panjang. "Entahlah. Tapi jangan mengatakan dia munafik juga. Mungkin saja Naya tidak enak dengan kita, atau dia merasa rendah diri."
"Atau kita telpon Io?" lanjut Kei memberi usul.
"Astaga ... kau benar-benar kepikiran dengan Io?!"
"Heh, kamu kira aku becanda?"
"Sudahlah, biarkan saja. Kalau ada apa-apa dia pasti menelpon. Besok pagi saja kita ke sana."
"Sungguh?!" Kei terkejut, namun wajahnya berubah sumringah.
"Sungguh, tapi kalau malam ini kau memberi aku servis oke!" Ken tersenyum jahil dengan memainkan kedua alisnya.
Wajah sumringah Kei berubah dengan hidung kembang kempis. "Sarangnya diportal, kamu nggak bisa masuk! Udah tua, bukannya gelisah mikirin jauh dari putra kita, ini bisa-bisanya mikirin servis!"
"Tanpa kamu bilang, aku tidak berhenti memikirkan Zee. Tapi aku sedikit tenang karena kata mbak Dewi, Zee mulai baik dengan keadaan barunya."
"Syukurlah kalau begitu. Semua sangat sulit untuk Zee. Semoga di sana segera mendapat kebahagiaan lain," doa Ken. Bukan hanya Lee yang menganggap Akio seperti putranya sendiri, karena faktanya Ken pun sangat peduli dengan Zee. Ketika Zee memutuskan pilihannya, dia begitu menyetujui. Dipikir itu yang terbaik untuknya saat ini. Salah satu cara menyembuhkan luka.
*
Di rumah Lee.
Dewi sedang sibuk menata kue ke dalam piring, juga membuat teh herbal untuk suaminya yang baru pulang dari kantor.
Di rumah yang biasa ramai dengan suara candaan Zee dan adiknya, kini terasa sangat sepi. Ketika Lee berangkat ke kantor, dia hanya sendirian di rumah. Alvaro pun jarang pulang dan lebih sering menginap di apartemen tak jauh dari tempatnya menempuh pendidikan.
__ADS_1
"Tumben pulang lebih cepat?" tanyanya. Dia menaruh nampan berisi kue dan minuman di atas meja yang ada di depan Lee.
"Pekerjaan tidak terlalu banyak. Tuan Ken memberiku ijin pulang duluan. Kamu pasti kesepian," ucapnya. Lee memandang Dewi dan menggenggam telapak tangan istrinya.
"Tadi Zee udah telepon. Kita video call, dan aku paksa dia untuk makan. Kalau nggak seperti itu, dia tidak mungkin ingat untuk mengisi perutnya," cerita Dewi. Perempuan paruh baya itu menunduk, menyembunyikan genangan air mata agar tidak di ketahui suaminya.
Namun, sepandai apa dia menyembunyikan, Lee tetap hapal dengan gelagat kesedihannya. Lee menarik tubuh Dewi ke dalam pelukan.
"Dia akan baik-baik saja. Putri kita akan kembali lagi seperti dulu."
"Aku masih berusaha belajar ikhlas, tapi sulit. Dari kecil kita tidak pernah berpisah dengan Zee. Selalu kita asuh di rumah ini. Dan sekarang, tanpa perencanaan, dia tiba-tiba pergi. Sebagai ibu, perasaanku sangat mencemaskan nya."
"Dia justru lebih baik ada di sana. Biar dia hidup dengan suasana baru, di sini dia akan sulit menerima keadaan."
"Benar sulit di sangka, Akio bisa menghamili gadis lain. Pemuda yang selalu baik dan sopan dan tidak pernah macam-macam tapi mencengangkan. Sepertinya ada yang salah dengan pengakuan itu?" ujar Dewi dengan kening berkerut.
"Tidak ada yang salah. Memang itulah kebenarannya. Akio sendiri yang mengungkapkan, kalau pun itu salah, tidak mungkin tuan muda mau mengakui. Entah bagaimana, tapi itulah yang terjadi. Putri kita tidak berjodoh dengannya."
"Benar-benar malang putri kita. Andai bukan keluarga Tuan Ken, rasanya aku ingin mengirim santet pada mereka. Sekali putri kita dikecewakan, kekecewaan itu mengoyak pedih hati Zee."
"Dari kecil, bahkan dari belum mengenal apapun, Zee sudah sangat menyukai Akio. Bahkan pernikahan mereka tinggal menghitung mundur, aku sebagai ibunya tak sanggup membayangkan rasa sakit juga kekecewaan putri kita."
Lee membuang napas berat, apa yang dikatakan Dewi memang benar. Semua sudah hampir terlaksana. Namun harus gagal dengan cara tragis, tak tertahan, dia pun ikut kecewa.
"Apa Al tidak pulang?" tanya Lee mengalihkan perbincangan. Dia tak ingin istrinya semakin larut memikirkan tentang Zee. Dia sendiri sedikit lega Zee memutuskan untuk melanjutkan keinginannya.
"Sejak kakaknya pergi, putra kita jarang pulang. Anak itu ... kau pantau juga putra kita, jangan melulu memantau keluarga Tuan Ken," cetus Dewi.
Lee menoleh dengan kening berkerut. "Itu pekerjaan tetap ku. Bagaimana aku tidak boleh terlalu memantau. Kau tahu sendiri, apa yang terjadi dengan keluarga Tuan Ken, imbas kemarahannya akan sulit di redamkan. Walau begitu, aku tetap ingat tugasku sebagai ayah, putra putri kita tetap aku utamakan. Al masih aman, tidak masalah dia menginap di apartemen. Justru aku memikirkan mu, kamu pasti sangat kesepian," ujar Lee panjang.
__ADS_1
Dewi menggenggam tangan Lee. Pria tampan dan gagah di depannya selalu menjadi yang terbaik.
"Aku memang kesepian, tapi bisa menyibukkan diri dengan membuat kue. Dengan begitu aku tidak kesepian lagi."