Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Obrolan Singkat di Lorong Rumah Sakit


__ADS_3

Tony penasaran dengan sosok istri tuan Ken, ia memberanikan diri untuk melirik kearah Kei. Ia sedikit melebarkan bola mata.


"Hei, berani sekali kau menatap istriku!" sentak Ken.


Tony segera menunduk kembali. "Maaf tuan Ken, saya hanya penasaran dengan istri anda."


"Jangan! aku melarang mu menghirup wangi sabun Kei, tapi kau malah menatapnya seperti itu! keterlaluan, berani sekali kau." kesal Ken.


'Apa-apaan tuan Ken marah seperti itu, bukan aku yang keterlaluan, tapi kau sendiri yang berlebihan. Cih.' Tony membatin kesal, tapi tak berani untuk membantah. Ia tau sikap tuan Ken yang tidak terbantahkan, tapi ia tak tau jika tuannya itu memiliki jiwa posesif yang berlebih.


Di suasana sedikit tegang, pintu ruangan kembali terbuka. Dan muncul satu lagi orang yang menyebalkan dan mengancam ketentraman jiwa Ken.


Tristan tersenyum cerah dan berjalan mendekat. Kali ini ia membawa buah tangan, yaitu parsel buah.


Ken berdecak, 'Manusia satu itu kenapa juga ikut muncul, membuat mood buruk.'


Kei tidak memperdulikan para lelaki itu, ia sibuk untuk mengurus baby Kio dan memandikannya.


"Kalian sedang rapat penting? apa kehadiranku mengganggu?" tanya Tristan.


"Sangat," Jawab Ken singkat.


"Ah, kawanku satu ini tidak pernah berubah. Selalu saja bersikap seperti itu, disaat seperti apapun." ucap Tristan kesal.


"Selamat pagi, manusia lurus." Tristan menyapa Lee.


"Pagi, tuan Tristan." jawab Lee acuh.


"Nggak tuan, nggak sekretaris sama aja, sama-sama lurus." ejek Tristan.


"Bagaimana lukamu, Ken?" tanyanya lagi, ia sudah berdiri disamping ranjang Ken dan berjajar dengan Tony.


"Lukaku sangat sakit Tan, apa kau tidak pernah merasakan ditikam pisau?"


"Kau itu kenapa ketus begitu? aku bertanya baik-baik."


"Entahlah, suasana hatiku sedikit kurang baik."

__ADS_1


"Yah ya, aku paham."


Mereka kembali mengobrol bertiga, sesekali membahas urusan perusahaan. Setelah perusahaan Tristan yang tadinya berkembang tapi mengalami kebangkrutan gara-gara Deny, sekarang pun Tristan bekerja dibawah naungan Ken.


Tak berapa lama Kei keluar dari kamar mandi dengan baby Kio yang sudah tampan, setelah Kei memandikan bayi mungil itu.


Keluarnya Kei dari balik pintu kamar mandi mengundang perhatian para lelaki tadi.


Ken tak suka dengan keadaan itu, ia mendengus sebal. "Hei, kalian jangan melihat kearah istri dan anakku. Sekarang aku tidak main-main, jika ada yang melihat ataupun melirik aku akan benar-benar memberi kalian hukuman." ancamnya.


Tristan dan Tony segera mengakhiri tatapannya pada Kei dan kembali melihat kearah Ken.


"Ck... Lee, sembunyikan istri dan anakku diruang aman. Aku tidak suka mereka memandangi istriku begitu." perintahnya pada Lee.


"Baik tuan muda." tentu Lee segera melaksanakan perintahnya. Meskipun perintah itu tidak masuk akal atau terdengar nyleneh atau apalah, ia tak bisa menolak dan membantah.


Ia bangkit dari duduk dan berjalan mendekati Kei yang baru saja menaruh baby Kio kedalam box bayi.


"Nona, mari ikut saya." Lee mengajak Kei untuk berpindah ruangan.


Sedari tadi Kei sengaja tidak mendekati perkumpulan para lelaki, ia hapal dengan sikap over yang mendarah daging di diri suaminya. Untuk itu ia mencoba tak memperdulikan keberadaan mereka dan fokus mengurus baby Kio.


"Sementara waktu anda akan dipindahkan keruang yang lain." jawab Lee.


"Pindah keruang lain? memang kenapa? kau membuatku bingung." Kei belum bisa menerima ajakan Lee, masih bingung dengan alasannya.


"Ini perintah tuan muda, agar tuan Tristan dan Tony tidak bisa melihat anda lagi, jadi sementara waktu anda harus berpindah ruangan. Setelah mereka pergi, anda akan kembali kesini." Lee menjelaskan.


Mendengar itu Kei bersungut-sungut, "Keterlaluan sekali tuan muda mu itu, bahkan istrinya sendiri harus diungsikan agar lelaki lain tidak melihatku. Posesifnya benar-benar sudah kelewatan sampai tak bisa ditangani." Kei bersungut kesal, tatapan matanya terlihat marah. Dirasa suaminya keterlaluan.


"Mari Nona," Lee mempersilahkan.


Saat berjalan keluar Kei melirik sebentar kearah mereka bertiga. Ken tersenyum kearahnya, tapi Kei tidak membalas, ia masih kesal.


Berjalan dibelakang Lee, Kei masih saja mengomel. Lee membuka ruangan, ruangan itu berada disebelah kamar rawat Ken. Ia mempersilahkan Nonanya untuk masuk.


Setelah memastikan Kei aman, ia kembali keruangan Ken.

__ADS_1


Urusan Tony dengan tuan Ken sudah selesai, ia berpamit untuk undur diri. Ia sendiri tidak merasa aman berlama-lama keluar dan berada ditempat umum.


Keluar dari ruangan Ken, berjalan diantara lorong rumah sakit. Tepat saat itu Kei keluar dari ruangan tadi, ia akan mengambil sesuatu didalam kamar rawat suaminya.


"Hana,"


"Tama."


Keduanya berdiri di lorong rumah sakit, Kei melirik keruang sebelah jika suaminya tau entah apa yang akan dilakukan.


"Berati kau benar Hana," ucap Tony.


"Heum," Kei berdehem.


"Kau istrinya tuan Ken? lalu Izham?" tanyanya.


"Aku sudah lama pisah dengan mas Izham. Dan, suamiku sekarang adalah Ken." jawab Kei.


Terdengar helaan nafas dari Tony.


"Apa setelah SMA kau pindah ke Jakarta?" kini Kei yang bertanya. Yang dibalas anggukan oleh Tony.


Beberapa tahun yang lalu, ketika Kei masih berstatus pelajar SMA, ia pernah satu kelas dengan lelaki bernama Tony yang tak lain sedang berada dihadapannya saat ini.


Tony memang tidak pernah bersosialisasi, ia suka menutup diri. Sama seperti Kei dulu yang juga suka menyendiri.


Pernah suatu dulu Tony menolong Kei saat wanita itu dibully teman lainnya, mulai saat itu mereka berkenalan dan berteman namun hanya sebatas teman karna Kei sendiri selalu menutup diri. Ia yang memiliki fisik tidak sempurna membuatnya tidak percaya diri untuk berdekatan dengan yang lain.


Bahkan suatu ketika lelaki didepannya itu pernah mengungkapkan perasaan pada Kei, tapi tak mendapat balasan karna Kei sendiri sudah dekat dengan Izham.


Setelah lulus SMA, Kei tak lagi bertemu dengan pria itu dan baru dipertemukan lagi sekarang, setelah bertahun-tahun lamanya.


Keduanya sedikit canggung kalau mengingat waktu dulu. Tapi semua sudah berlalu.


Hana dan Tama, adalah nama panggilan mereka saat berteman di SMA dulu. Tony memilih memanggil dengan nama Hana, karna berbeda dari yang lain.


Sedangkan Kei memanggil Tony dengan sebutan Tama karna dulu sewaktu SMA, manusia misterius itu disebut dengan nama Tama, ia memiliki nama panjang Tony Aditama.

__ADS_1


Melihat gerak gerik Kei yang gelisah, Tony memutuskan untuk menyudahi obrolan singkat itu. Meski masih ingin berbincang tapi tak ada keberanian lebih, jika tuan Ken tau, entah akan semarah apa.


Tony melanjutkan langkah kaki untuk keluar dari rumah sakit. "Bertahun-tahun kenapa harus bertemu denganmu lagi." ucap Tony acuh, meski ada perasaan lain yang dirasa.


__ADS_2