
Tuan Ken lebih dulu masuk kedalam air kolam, kedua tangannya direntangkan didepan Kei. "Sayang aku takut tenggelam. Aku tidak bisa berenang." tadi Kei sangat ingin masuk kedalam kolam renang itu, tapi ketika melihat tubuh tuan Ken yang tenggelam dan menyisakan kepalanya saja membuat Kei takut. Tinggi badannya sangat berbeda jauh, Kei sudah parno jika tenggelam.
"Hei, aku akan memegangimu. Jangan takut, ayo turunkan badanmu." perintah tuan Ken. Kei menggelengkan kepalanya ragu-ragu, dia sangat ingin tapi juga takut. Tuan Ken tidak sabar melihat istrinya yang tak kunjung turun, Ken memegang pinggang Kei dan menariknya masuk kedalam kolam.
"Aaakh... sayang..." pekik Kei. Ken tergelak melihat Kei cemberut. "Kamu jahat, ngetawain aku!" Kei terlihat sebal.
"Tenang saja tidak akan tenggelam, aku akan memegangimu erat."
"Ini dalam banget, kaki ku tidak sampai." Kedua tangan Kei memegang leher tuan Ken dengan erat. "Bukan kolam renangnya yang dalam, tapi tubuhmu yang pendek." Ken tersenyum, tentu candaan untuk Kei. Kei mengerucutkan bibirnya, kesal mendengar perkataan tuan Ken yang mengatakan tubuhnya pendek.
Tuan Ken gemas untuk mencium bibir Kei yang seperti itu, saat ini tubuh keduanya menempel satu sama lain. Ken memajukan wajahnya dan segera melahap candunya yang sudah lama tidak bisa ia nikmati. Kei yang terbuai kelembutan bibir tuan Ken hanya mampu menikmati dan memejamkan mata, seolah hanya mereka berdua yang berada didunia.
Kedua bodyguard yang berjaga tadi harus membalikkan tubuh demi menghindari pemandangan yang merusak kepolosan mereka. Keduanya saling berbisik.
Kei lebih dulu melepas dan menjauhkan wajahnya. "Kau curang, kenapa mencium ku! aku sudah bilang jangan menciumiku dan jangan memelukku!" Kei tiba-tiba marah. Tuan Ken terbengong, melebarkan kelopak matanya. Sikap aneh ibu hamil itu kembali lagi, padahal dia tadi begitu menikmati. begitulah yang Ken pikirkan tapi tidak berani mengatakannya langsung.
"Tapi kau tadi juga tidak menolak." Ken tidak mau disalahkan. Nyatanya, Kei tadi tidak menolak dan malah menikmati. "Jadi kau berani menyalahkan aku?" Kei masih berbicara marah.
__ADS_1
Ah, lagi tuan Ken dibuat bingung. Posisinya kini selalu terjadi tersangka, entah salah atau tidak tetap dia tersangkanya.
"Sekarang kembalikan ciumanku!" kata Kei. Ken menautkan alis, bagaimana bisa istrinya itu meminta mengembalikan ciuman. Bagaimana caranya?
"Sweety, bagaimana aku akan mengembalikan ciumanmu?" tuan Ken benar-benar bingung, tidak tau maksut Kei. Tanpa menjawab, Kei memajukan bibirnya dan mencium bibir tuan Ken seperti tadi. Tuan Ken terkejut, tapi sedetik kemudian dia menikmati ciuman dari Kei dan lidah mereka saling berbelit, cukup lama sampai Kei menyudahinya.
"Sudah.. Ingat, kau tidak boleh mencuri ciuman seperti tadi! mengerti!" Kei menggertak. Ken tertawa mendengar penuturan istrinya. Ada-ada saja tingkah aneh Kei, kalau mencuri ciuman dan harus mengembalikan lagi tentu saja Ken sangat senang melakukannya.
Ketika angin berhembus dan rasa dingin sudah merajai tuan Ken segera mengangkat tubuh Kei keatas. Kedua bodyguard tadi sudah bersiap siaga memberikan dua handuk kimono untuk tuan Ken dan juga Kei. Tuan Ken mengajak Kei untuk mandi didalam kamar ganti dekat kolam, disana terdapat fasilitas lengkap seperti kamar mandi didalam rumah. Sebelum masuk, Ken menyuruh bodyguard itu untuk mengambil baju ganti untuknya dan Kei.
"Baby, bagaimana kalau kita mandi bersama." tuan Ken me-naik turunkan alisnya, tentu ada niat tersembunyi dibalik ajakannya itu. Kini tuan Ken tidak bisa mengajak hubungan suami istri seperti biasanya, dia harus meminta persetujuan dari Kei. Jika tidak istrinya itu akan mengomel, mengamuk, semenjak hamil Kei berubah lebih ganas. Istrinya itu sudah bukan Kei yang dulu, meski wujudnya sama tapi sikapnya sudah berubah 180 derajat.
"Boleh, tapi jangan macam-macam!" Kei memperingati tuan Ken lagi, jari telunjuknya tegak didepan wajah tuan Ken. Tuan Ken yang sudah menaruh harapan besar kini harus menciut karna Kei memberi peringatan agar tidak melakukan apapun. Itu tindakan yang amat menyiksa, dia bisa melihat tubuh polos istrinya tapi tidak bisa menikmatinya. Lalu, dia sendiri yang akan tersiksa menahan gelora panas. Ken mendesah berat, bagaimana ini, tentu seperti itu pertanyaannya.
"Ayo kita mandi bersama, aku sudah kedinginan." ajak Kei. "Baby, kau mandi lebih dulu saja. Aku masih ingin berenang." Ken terpaksa mengatakan itu, dia sudah mempertimbangkan keputusannya. Dia tidak akan bisa menahan godaan tubuh Kei, lebih baik membatalkan ajakannya tadi.
"Aku ingin mandi bersama."
__ADS_1
Mampus! kini Ken harus menelan pil pahit atas ajakannya tadi. Kei menginginkan untuk mandi bersama, tapi jika Kei tidak mengizinkan untuk melakukan itu gagak hitam yang akan lemas dan tersiksa.
Kei memaksa tuan Ken untuk masuk kedalam kamar mandi itu, setengah gontai Ken mengikuti. Sudah didalam Kei membuka kimono dan bajunya, tuan Ken menelan ludah menyaksikan dua buah yang kembar itu semakin besar dan menantang.
Selesai menanggalkan baju, Kei mulai menurunkan celana pendek dan menyisakan segitiga hitam. Semakin besar godaan tuan Ken, pelan-pelan dibalik celananya sudah menggembung. Geloranya semakin panas.
"Sayang, tolong buka pengaitnya." Kei membelakangi tuan Ken dan menyuruh membuka pengait onderdil yang membungkus bukit kembarnya. 'Godaan ini berat! aku tidak bisa menahannya.' batin Ken meronta. Jiwa ke-lelakiannya hadir tapi tidak berani menyentuh Kei tanpa izin.
Tangan tuan Ken terulur kedepan untuk melepas pengait itu, tangannya menyentuh kulit mulus Kei membuat darahnya kembali berdesir. "Baby, apa kau tidak menginginkan sesuatu?" tuan Ken bertanya, ingin mengetahui apakah istrinya merasakan seperti yang ia rasakan. "Tidak." jawab Kei.
"Eum, sekarang apa kau merasakan sesuatu?" kata Ken lagi, tubuh bagian depannya dia dekatkan dibagian tubuh belakang Kei. Kei merasakan ada sesuatu yang mengganjal.
"Iya, tapi aku tidak ingin melakukannya."
Seketika tubuh tuan Ken melemas, 'Aku tidak ingin melakukannya' kalimat itu bagaikan kalimat keramat yang amat menyiksa. Ken mengusap wajahnya dengan kasar, bagaimana dia akan meredam burung gagak yang sudah tegak sempurna. Tuan Ken membalikan tubuhnya menghadap kedinding, itu lebih baik menghindari pemandangan indah tetapi tidak bisa dinikmati.
Kei melihat kearah tuan Ken yang terlihat frustasi, tapi dia malah menyunggingkan senyum. Tiba-tiba tangan Kei memegang sesuatu membuat tuan Ken terlonjak.
__ADS_1
"Kei?" tuan Ken membalikan badannya lagi, Kei menyeringai dan me-naik-turunkan alisnya seperti tuan Ken tadi. Seketika raut wajah tuan Ken kembali ceria dan sudut bibirnya menyeringai.