Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Janji


__ADS_3

Entah kalimat ampuh apa yang dikatakan Kei hingga mampu meruntuhkan kegigihan Naya untuk tetap tinggal di rumahnya. Saat ini, perempuan yang sudah membaik itu akhirnya mau diajak tinggal lagi di rumah orang tua Akio. Semua atas bujukan Kei.


Satu yang membuat Naya berat, dia harus berpisah dengan ibunya. Sang ibu tidak mau ikut tinggal di rumah megah itu, alasannya tidak mau merepotkan. Meski begitu, demi menghindari kecemasan istrinya, Akio sudah mencari seseorang untuk menjaga ibu mertuanya.


Ketika sudah sampai di rumah, Kei menyuruh pelayan untuk melayani Naya dengan baik.


"Bawa istrimu istirahat di kamar dulu, Io. Nanti makan siang diantar saja ke kamarmu," kata Kei.


"Iya, Mom." Akio mengajak Naya ke kamarnya, perempuan itu tersenyum pada Kei sebelum dia mengikuti jejak suaminya.


Di dalam kamar Akio terlihat sumringah dan tersenyum-senyum. "Mom bicara apa aja sampai kamu langsung setuju tinggal di sini?" tanyanya.


"Adalah, rahasia." Naya memilih duduk di sofa, Akio mengikutinya.


"Besok aku mulai masuk ke kantor, kamu tidak pa-pa kan disini? Nanti aku suruh mom temenin kamu," ujar Akio. Naya hanya mengangguk.


*


Naya merasa sepi ketika Akio sudah berangkat ke kantor, dia hanya berdiam diri di dalam kamar. Bosan dengan itu dia berpindah ke balkon kamar untuk menikmati mentari pagi.


Saat sarapan bersama, Kei sudah memberitahu kalau dia akan pergi berbelanja. Dia yang tidak bisa menemani Naya menyuruh Kyu untuk menemani kakak iparnya itu agar tidak kesepian. Kebetulan sekolah Kyu sedang libur.


Namun, sampai saat ini adik iparnya yang lumayan mirip dengan suaminya tak juga muncul. Naya jelas enggan untuk mengakrabkan diri.


Sedangkan oma Lyra, sedari awal sangat menentang pernikahan itu. Bahkan menyuruh Akio tetap menikahi Zee, sedangkan Naya hanya akan diberi dukungan finansial saja sampai melahirkan, setelah anak itu lahir, hak asuh akan diminta keluarga Akio untuk dibesarkan Zee dengan dalih adopsi anak.


Namun hal itu ditentang keras oleh Akio, dia tidak mau menuruti perkataan oma Lyra. Akhirnya Ken yang memutuskan untuk mengikuti keinginan Akio dan memberi pengertian pada ibunya.


Ken pernah menceritakan ide oma Lyra, tetapi Lee juga tidak setuju. Bahkan Zee yang mengetahui itu pun sudah tidak mau jika dia masih melanjutkan pernikahan dengan Akio. Hatinya terlalu sakit atas pengkhianatan pria itu.


Tok ... tok !!!


"Masuk!"


"Iya, mom, Kyu sedang bersama kakak ipar," ucap Kyu berbincang di telepon.

__ADS_1


"Iya-iya, mom nggak usah khawatir kakak ipar kesepian."


"Oke, mom, bye." Kyu menatap malas ke arah Naya setelah menyimpan handphonenya kembali. Gadis itu membuang napas panjang dan duduk di sofa.


"Kakak kenapa sih harus nikah sama kakakku?!"


Naya bingung harus menjawab apa. Harusnya gadis itu sudah tahu semuanya, kenapa bertanya lagi. Dari awal sikap Kyu memang tidak ramah, tapi saat ini lebih dari itu. Memberi tatapan sinis dan berbicara ketus.


"Ih ditanya diem aja. Kasihan sama kak Zee, tau! Kita sama-sama perempuan, gimana perasaan kakak kalau jadi kak Zee? Sakit kan?!"


"Emang dari awal kakak nggak tahu kalau kak Io adalah tunangan kak Zee, kok bisa kakak malah hamil sama kakakku? Kak Io udah tunangan orang, sama aja kakak itu kayak pelakor."


"Kakak kan belum nikah sama kak Io? Kok mau aja berhubungan sebelum menikah?! Kalau mom, dia sering bilang, aku nggak boleh berhubungan jauh sama laki-laki. Sebagai perempuan harus pintar menjaga marwah."


"Kalau udah terlanjur begini, tetep aja kan kasihan kak Zee. Dia sangat kecewa sampai pergi dari negara ini."


"Zee pergi ke luar negeri?" tanya Naya dengan suara lirih menahan sesak dan isakannya.


"Iya, aku jadi nggak bisa ketemu kakak perempuanku gara-gara orang baru seperti kakak yang tiba-tiba datang gitu aja," sinis Zee.


Dia tak sanggup menanggapi perkataan-perkataan yang dilontarkan Kyu. Apa yang dikatakan benar, tetapi kenapa hatinya terlalu sakit. Bukankah dia pantas mendapat perkataan demikian.


"Ih, jangan cengeng, Kak. Nanti ada apa-apa, Kyu yang disalahin. Yang kuat dikit, jangan terlalu lemah. Kyu bukan nggak suka kakak, tapi masih kesel aja, kenapa posisi kak Zee harus kakak gantikan. Aku udah asik dan nyaman dengan kak Zee, tapi tiba-tiba dia pergi, aku juga nggak bisa hubungi dia lagi. Kyu sangat sedih kehilangan seseorang yang Kyu anggap kakak."


Naya tak kuat lagi menahan air mata, kedua pipinya sudah dibanjiri air mata. Dengan pelan dia berjalan mendekati Kyu dan duduk di seberang sofanya.


"Aku minta maaf sudah mengacaukan semuanya. A-aku janji, suatu saat akan mengembalikan Zee pada keluarga ini lagi. Untuk saat ini, aku mohon biar seperti ini dulu. Dari awal aku sudah bilang pada Akio untuk merahasiakan aib kami, tapi alasannya demi status calon anak ini Akio memilih bertanggung jawab."


"Kyu tahu cerita itu. Hanya aja masih belum rela dan belum terbiasa dengan kehadiran kakak. Memang apa yang mau kakak lakuin sampai berjanji akan buat kak Zee kembali?"


"Tidak tahu apa yang akan aku lakuin, tapi aku akan menepati janjiku."


"Eh, jangan ngomong macam-macam sama kak Io! Ntar kakak ngadu lagi," tukas Kyu.


"Enggak. Ini hanya obrolan kita."

__ADS_1


Kyu tersenyum sinis. "Kukira kakak tukang ngadu. Ntar Kyu tambah kesel sama kakak."


Naya menggeleng.


"Dah ah, Kyu mau balik ke kamar." Gadis tanpa dosa itu beranjak. Lalu kembali melihat pada Naya. "Kalau mom tanya, bilang aja aku tadi udah nemenin kakak. Masa iya aku harus di sini sampai mom pulang. Bakal bosan," imbuhnya.


"Kamu nggak perlu nemenin aku, aku juga mau istirahat," ucap Naya singkat. Dia berharap Kyu segera keluar dan dia bisa leluasa meluapkan perasaanya.


Brak ...! Pintu sudah ditutup oleh Kyu. Naya bergeming, namun pikirannya tak henti memikirkan ucapan Kyu.


Kyu masih gadis kecil, tetapi terlalu polos dengan perkataanya. Naya mengusap perutnya, andai bukan permohonan dari Kei, rasanya dia memilih kembali tinggal rumah ibunya.


Ponselnya tiba-tiba berbunyi, dia segera melihat siapa yang menelpon.


"Ada apa?"


'Kamu tidak pa-pa? Perutmu tidak sakit?' Ternyata Akio yang menghubungi.


"Aku tidak pa-pa."


'Suaramu berbeda?' Akio menyadari suara Naya sedikit serak.


"Suaraku biasa aja. Mungkin karena aku baru bangun tidur," kilah Naya.


'Kamu tidur lagi? Nggak baik tidur di jam-jam segini, lebih baik cari aktifitas lain. Maksudku kamu bisa mengobrol dengan oma atau Kyu, nonton tv atau yang buat kamu senang yang penting jangan tidur.'


"Iya, nanti aku ke bawah buat cari aktifitas lain."


'Ohya, nanti sore siap-siap ya, pulang dari kantor aku mau ajak kamu keluar.'


"Iya." Sesingkat itu Naya menjawab, dia ingin segera mengakhiri pembicaraan.


'Ya udah, aku tutup teleponnya. Kalau ada apa-apa, cepat hubungi aku.' Akio memberi pesan.


'Iya.'

__ADS_1


__ADS_2