Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Tinggal di Apartemen


__ADS_3

Setelah selesai meneguk beberapa obat dengan satu gelas air putih, Ken memberikan gelas kosong itu pada Lee dan mulai merebahkan tubuhnya diatas pembaringan.


"Tuan Muda, apa perlu saya panggilkan dokter?" tanya Lee.


"Tidak. Satu yang harus kau pastikan." ucap Ken serius. Baralih dari pertanyaan Lee barusan.


"Apa, Tuan?" Lee juga serius.


"Pantau Mami, aku yakin dia pasti tidak tinggal diam. Menyuruh wanita itu tinggal disalah satu hotel atau fasilitas lainnya. Besok periksa pengeluaran kartu debit. Jika Mami mencairkan uang yang lumayan, bisa dipastikan Mami membantu wanita itu." ucap Ken dengan sinis.


Lee diam saja, tapi disaat diam, dikejutkan dengan suara ponsel yang berdering. Ternyata telpon dari Dewi. "Sebentar Tuan, Saya menjawab telpon dulu." Lee meminta izin pada Ken.


"Iya Ma? ada apa?" Lee menanyai Dewi setelah sambungan telpon mereka terhubung.


"Iya, Papa usahakan untuk pulang lebih awal."


"Iya, Ma..Iya... love you."


Ken tadinya sudah berbaring, kini duduk kembali dan bersandar di sandaran ranjang. Menatap Lee tanpa berkedip dengan kening yang mengernyit.


Lee melirik dengan ujung matanya.


"Barusan kau berbicara dengan siapa, Lee?" tanyanya dengan raut keheranan.


"Dengan istri saya, Tuan." jawab Lee jujur, dia lupa jika Ken tidak ingat apapun tentang tujuh tahun terakhir.


"Istri?!" tanya Ken dengan sangat terkejut. Kapan sekretarisnya menikah? kenapa tiba-tiba Lee sudah punya istri.


Lee ikut terkejut, ah... bagiamana bisa dia lupa jika ingatan tuan Ken hilang sebagian.


"I iya Tuan." jawab Lee ragu-ragu.


"Kau sudah punya istri?!" kembali Ken memastikan.


"Bukan hanya istri, saya juga sudah punya dua anak." kepalang basah, Lee memberitahu saja sekalian.


"Kau juga sudah punya dua anak Lee?" Ken benar-benar terkejut.


"Saya sudah menikah sekitar 6tahun yang lalu. Sebenarnya bukan hanya saya, tapi anda juga." ragu-ragu melirik tuan mudanya. Ken diam saja, tidak ada respon marah atau kesal. Keadaan itu membuat Lee berani untuk melanjutkan. Meski yang dilakukan bukan hal besar untuk mengembalikan ingatan Ken, setidaknya sedikit saja ada yang diingat.


"Dan... Anda pun memiliki dua an.."


"Cukup Lee, kau juga akan berbicara asal sama seperti Mami ku?" dari sini Ken mulai tidak suka.


"Maaf Tuan, maaf." Lee meminta maaf. Jika Ken mulai marah, dia akan menghentikan ceritanya.


"Aku sangat benci wanita sok baik itu. Bagaimana aku bisa menikahinya?! lalu punya dua anak?! bukankah hal itu tidak mungkin!" sanggah Ken dengan ketus.


"Entahlah Tuan, jika Tuhan sudah berkehendak, yang tidak mungkin pun akan menjadi mungkin. Memang pada saat anda menikahi wanita itu, anda tidak menyukainya. Tapi waktu lah yang mengubah semua perasaan. Hingga lama-lama mengubah semuanya. Bahkan cinta anda sangat besar untuk..." Lee tidak melanjutkan menyebut nama Kei, dia takut Ken marah. Tapi lagi-lagi respon Ken hanya diam seperti ingin mengingat sesuatu.


"Anda menikah karna permintaan Nyonya besar, jadi pernikahan anda belum disadari perasaan." imbuh Lee.


"Kenapa sangat sulit mengingat apapun Lee. Semakin diingat, kepalaku semakin sakit." bukannya marah, Ken malah mengeluh jika kepalanya sakit karna dia paksa untuk mengingat seperti yang Lee ceritakan barusan.


"Maaf Tuan, jika cerita saya membuat kepala anda sakit."


"Aku tidak bisa mengingat apapun, Lee. Tapi ada suara yang memanggilku dengan sebutan Daddy. Apa dia benar-benar putraku?" tanya Ken memastikan, namun mulutnya masih mengerang sakit.

__ADS_1


"Iya Tuan Muda. Namanya, Akio Ryuga Kenichi."


"A Akio Ryuga Kenichi?"


"Aku tidak ingat Lee. Aku tidak ingat. Akh..." Ken sangat frustasi.


"Jangan dipaksa mengingatnya, Tuan. Lebih baik anda istirahat dulu."


Meskipun dikantor pekerjaannya sangat padat karna menggantikan tuan Ken, setelah mendapat telpon dari pelayan tadi, Lee segera meninggalkan urusan kantor demi mengendalikan keributan dirumah Ken.




Didalam mobil yang ditumpangi Kei nampak sunyi. Tak ada suara yang berati yang berbicara.



Sesekali masih terdengar senggukan dari Kio. Bocah itu memandang jendela mobil tanpa bersuara.



Kei sendiri masih kalut dengan pemikirannya. Entah bagaimana dia akan menjalani hari kedepannya.



"Nona, sekretaris Lee menyuruh saya mengantar anda ke Apartemennya." setelah fokus menatap layar ponsel, Tama atau Tony memberitahu Kei tentang tujuannya.




"Io mau kemana, Nak?" tanya Kei, ia akan menuruti kemana putranya mau.


Tapi Kio menggeleng.



"Em... Ta...ma." Kei sedikit canggung memanggil nama itu.



Tony melirik dari kaca spion kecil yang ada didepannya.



"Jangan antar saya ke Apartemen Sekertaris Lee. Sementara saya ingin tinggal di kontrakan atau kost-kostan saja." kata Kei.



"Sebentar saya hubungi sekretaris Lee." Tony menghubungkan sambungan telpon tapi dicegah oleh Kei.



"Tidak perlu, carikan yang terdekat biar saya dan anak saya segera istirahat." cegah Kei.


__ADS_1


Lagi-lagi Tony melirik kebelakang. Melihat penampilan Kei yang berantakan membuatnya tidak tega, akhirnya melajukan mobil menuju salah satu Apartemen mewah yang tidak jauh dari tempatnya mengemudi.



Akhirnya mobil telah sampai dihalaman Apartemen, Tony lebih dulu mencari tempat parkir yang kosong. Setelah itu memarkirkan mobilnya.


Membukakan pintu untuk Kei dan menggendong Kio, ternyata Kio tidak menolak.



Bukan hanya Kei yang membuatnya kasihan, namun melihat Kio yang senggukan juga sangat kasihan.



Entah apa yang diperbincangkan Tony dengan staf karyawan, Kei tidak begitu memperhatikan. Mungkin untuk mengisi data.



Pendaftaran itu begitu mudah, ketika Tony mengeluarkan satu kartu yang ada nama perusahaan Taisei Comporation.


Setelah serangkaian itu selesai, barulah staf itu memberikan kunci Apartemen pada Tony.



Tony mengajak Kei menuju lift dan Kio masih berada di gendongannya.



"Nona, sebelumya maaf. Anda tunggu sebentar disini, biar saya tidurkan Tuan Muda Kecil dulu. Kalau kita masuk bersamaan, saya takut akan menjadi fitnah." Tony benar-benar merasa canggung berada didekat Kei. Bahkan tidak berani menatap mata Kei secara langsung. Lebih baik dia menyuruh Kei untuk menunggu diluar dan dia akan menidurkan Kio karna bocah itu baru saja tidur. Mungkin karna kelelahan menangis.



"Iya, kau benar. Biar aku tunggu disini. Kau masuklah lebih dulu." kata Kei.



Meski pun mereka tidak akan berbuat macam-macam tapi lebih baik menghindari fitnah, karna Kei sendiri masih berstatus istri.



Kei menyandarkan tubuhnya didinding depan Apartemen. Kedua bola matanya lagi-lagi menggenang airmata, ia segera menyusut sudut matanya.



Untuk langkah kedepannya saja dia masih belum tau, entah sampai kapan dia akan terpisah dengan suaminya.



Disaat terpisah seperti sekarang, semoga tidak ada lagi ombak besar yang akan menerjang rumah tangganya.



"Terima Kasih," Kei mengucap terima kasih saat Tony keluar.



"Sama-sama. Nona istirahatlah. Di atas laci kamar ada kartu nama saya, anda bisa menghubungi saya jika membutuhkan sesuatu. Tapi saya sudah memberitahu sekretaris Lee dimana alamat Apartemen ini, dia akan kemari setelah urusan dirumah utama selesai."

__ADS_1


__ADS_2