Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Sama Saja 42 Hari


__ADS_3

"Tidak apa, hah? jelas-jelas kalian berdua melihat gambar yang tidak pantas dilihat." Kei menatap nyalang kearah dua pria itu, seakan ingin memberi pelajaran dengan memukul kepala mereka.


Ken dan Lee menciut, wajah keduanya terlihat memucat. Yang mereka takutkan terjadi. Kei marah dan menuduh mereka melihat video p*rno. Padahal mereka berdua ingin mencari tau tentang perbedaan cara persalinan.


"Aku bisa jelaskan, ini salah paham." ucap Ken.


"Jelaskan jelaskan! kalau ketahuan kalian baru mau menjelaskan, kalau nggak ketahuan kalian tetap melihat video begituan? sungguh memalukan. Kalian berdua orang terpandang, jangan merusak citra diri dengan melihat tontonan yang tidak pantas. Kalian harusnya tau, seperti itu dilarang untuk dilihat." Kei terus mengomel dengan nada kesal. Tatapan mata tidak berubah, ia bergantian menatap Lee dan Ken. Terutama sang suami, lebih lama ia menatap dengan kemarahan.


Ken menghela nafas. "Apa-apaan ini Lee. Inikan yang aku takutkan tadi." ucapnya lirih.


"Iya tuan muda, nona Kei salah paham dengan keingintahuan kita." jawab Lee sedikit berbisik.


"Lalu bagaimana tuan?" tanya Lee lagi dengan kebingungan.


"Honey,"


"Apa!"


"Kau mau mendengar penjelasan kita. Kenapa kita melihat gambar yang tidak pantas dilihat?" Ken berbicara lembut.


"Kenapa?" tanya Kei singkat. Ia masih kesal dengan keduanya.


"Tadi aku tanya sama Lee, apa sarang milik Dewi digunting? kata dia tidak. Harusnya 'kan digunting biar sama seperti punyamu waktu itu." akhirnya Ken berkata jujur.


Kei melebarkan kelopak mata, 'Apa-apaan mereka berdua ini!


"Punyamu dulu digunting, punya Dewi tidak. Itu tidak adil namanya!" sungut Ken. Ia masih belum terima dengan perbedaan cara bersalin itu.


"Aku harus berpuasa 42hari, sedangkan Lee cuma 10hari. Hah... menyebalkan."


Kei menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan penjelasan dari suaminya.


Ia berjalan mendekat, melewati disamping sekretaris Lee.


"Honey, kau mau apa? kenapa mendekati Lee? lewatlah yang sebelah sana, jangan berdekatan begitu." sentak Ken.


Kei dan Lee terkejut, bersamaan menatap kearah Ken.


"Memang kenapa tuan muda?" tanya Lee.


"Siapa yang mau mendekati sekretaris Lee?" berganti Kei yang bertanya.

__ADS_1


"Wangi parfum yang kamu gunakan tercium wanginya sama Lee." jawab Ken dengan serius.


Lee menghembuskan nafas. Sedangkan Kei memutar bola mata malas. Begitu saja menjadi permasalahan, memang dasar suami posesif.


"Kalau perlu aku akan memeluk sekretaris Lee!" jawab Kei ketus.


"Berani melakukan itu, Lee yang akan ku hajar." jawab Ken tidak terima.


"Terserah. Hajar saja sampai babak belur." perintah Kei. Ia masih kesal.


"Eh, kenapa saya? salah saya dimana? jangan menghakimi seseorang tanpa kesalahan. Itu fitnah, kalian bisa terkena pasal."


"Hei. Sejak kapan kau punya pasal Lee! aku yang punya pasal, dan hanya aku yang sah menggunakan pasal untuk orang-orang yang bersalah."


"Sudah-sudah, hanya karna parfum bisa sampai pasal." Kei menghentikan keduanya. Jika tidak, urusan itu semakin panjang.


Tangan sebelah sudah terangkat dan menekan tombol dokter.


Berapa lama beberapa dokter nampak masuk dengan langkah lebar, perawat juga bermunculan dibelakangnya. Mereka dituntut waspada untuk melayani tuan Ken sang pemilik Yayasan rumah sakit.


"Ada apa tuan? apa luka anda bermasalah?" tanya seorang dokter bernama Haris.


Jawaban seperti itu jelas membuat para dokter bingung. Mereka tidak paham. "Nona bisa lebih dijelaskan kalimatnya? kami kurang paham."


"Kalian tanyakan pada dokter, kenapa cara bersalin itu berbeda-beda. Atau tanyakan tentang semuanya yang membuat kalian bingung." ucap Kei memandangi suaminya dan Lee secara bergantian.


Ken dan Lee saling melempar pandang, siapa yang akan bertanya kepada dokter.


"Anda saja yang bertanya tuan, mereka akan menjawab pertanyaan dari anda." Lee menyuruh Ken.


"Hei kalian, siapa tadi yang membantu proses persalinan Dewi? istrinya Lee?" tanya Ken pada jajaran dokter yang berdiri sedikit jauh dari ranjangnya.


Dua dokter wanita maju kedepan. "Kami berdua ikut membantu tuan." jawab salah satu dari mereka.


Biasanya hanya dokter Sovia yang berani menjawab setiap pertanyaan tuan Ken. Tapi dokter itu sedang mengambil cuti untuk pulang ke negaranya.


Kini hanya dokter asli rumah sakit yang menghadap tuan Ken, nyali mereka tak sekuat dokter Sovia. Keringat didahi bercucuran.


"Katakan. Kenapa sarang Dewi tidak digunting seperti punya istriku dulu? kalian curang! hah."


"Dasar tuan muda arogan!" sungut Kei. Ia mengatakan itu untuk suaminya sendiri.

__ADS_1


"Kau sedang bertanya atau sedang mengintrogasi penjahat. Bertanya dengan baik, jangan menakuti mereka."


"Honey, malam ini kau terlihat garang."


"Aku garang gara-gara kalian."


Para dokter yang berjajar saling berbisik. "Kita dipanggil apa suruh jadi saksi percekcokan mereka?" bisik dokter dengan pelan.


"Mungkin saja mereka sedang mencari dukungan. Kalian mau dukung siapa?"


"Kalau ditanya dukung siapa, lebih baik aku pura-pura sakit gigi. Daripada kena pasal berlapis, dari tuan Ken."


"Kalian jelaskan, kenapa cara bersalin mereka berbeda? harusnya kalian menggunting jalan lahir punya istri Lee biar sama seperti Kei dulu."


Hah... para dokter saling melempar pandangan. Tentu terkejut dengan pernyataan tuan Ken.


"Kami tidak menggunting jalan lahir Nona Dewi karna memang persalinannya tidak perlu dilakukan tindakan Episiotomi atau pengguntingan jalan lahir. Jalan lahir Nona Dewi sudah sesuai dengan kepala bayi, hingga memudahkan bayi untuk keluar.


Jika punya nona Kei dulu dilakukan tindakan karna memang jalan lahirnya sempit, makanya harus ditambah jalan lahir." entah keterangan dokter bisa diterima akal keduanya atau tidak.


Terdengar gelak tawa dari bibir tuan Ken. Semua mata tertuju padanya.


"Berati punya Dewi sudah melebar." ucapnya disela tawa.


Kei menghela nafas. Ia reflek mengangkat tangan ingin memukul suaminya yang dirasa keterlaluan.


"Kenapa kau ingin memukulku?" Ken menyadari gerakan istrinya, ia menjadi waspada.


"Iya. Kau memang pantas untuk dipukul. Bahkan lebih dari itu. Entahlah, cara berpikir kalian ini bagaimana. Ada-ada saja."


"Cara berpikir kami normal. Aku cuma kesal, dulu kau melahirkan aku berpuasa 42 hari. Tapi Dewi melahirkan, kenapa cuma puasa 10hari, 'kan tidak adil." Ken mengatakan alasannya.


"Astaga..." ucap Kei.


"Dokter, jelaskan pada mereka tentang masa nifas." Kei meminta dokter untuk menjelaskan.


"Tuan Ken, sekretaris Lee. Masa nifas ibu melahirkan itu rata-rata hampir sama, yaitu 42hari bahkan bisa lebih. Tidak ada masa nifas yang hanya 10hari. Meski mereka melahirkan dengan cara menambah jalan lahir atau tidak, bahkan yang melahirkan dengan cara operasi cesar pun menjalani masa nifas 42hari." terang dokter.


"Kasian lu Lee." Ken tergelak lagi menertawai sekertarisnya.


Lee hanya mendengus sebal. 'Sial, aku kira karna sarang Dewi tidak digunting bisa lebih cepat buka puasa tapi ternyata sama aja. Sama-sama 42 hari. Benar-benar angka keramat. Hah... tikus, kau siap-siap tamat. Menunggu 42 hari.'

__ADS_1


__ADS_2