
3 Minggu kemudian.
"Saya terima nikah dan kawinnya Khanayya Rumi Sahila dengan mas kawin 100 gram emas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Sah ...?"
"Sah ...."
Begitu mendengar kata 'sah' pak penghulu langsung membacakan doa sesudah akad agar Akio dan Naya menjadi keluarga sakinah, mawadah dan warahmah. Aamiin.
Selanjutnya Akio disuruh menandatangani surat nikah dan dilanjut oleh Naya. Dengan bukti itu mereka berdua sudah sah menjadi suami istri dimata agama dan hukum negara.
Dua kristal bening membasahi wajah ayu Khanayya yang berbalut full make-up. Mulai detik ini, dia sudah menjadi istri seorang Akio Ryuga Kenichi. Pria yang sama sekali tak pernah dibayangkan akan mengucap janji suci untuknya. Bahkan Naya baru hapal nama lengkap Akio beberapa waktu lalu, sebelumnya dia tak pernah ada urusan untuk menghapal nama pria itu.
Akio menyodorkan tangan kanannya di depan wajah Naya, membuat perempuan itu tersadar dari lamunan. Bisik-bisik dan perkataan dari pak penghulu tidak didengar sama sekali, begitu larut dalam pemikirannya.
"Monggo dicium tangan suaminya, mbak," perintah pak penghulu melihat Naya diam saja.
Naya segera melakukan apa yang diperintahkan. Ada gelenyar aneh saat menyentuh dan mencium punggung tangan Akio. Rasa canggung nan gugup pun turut menyertainya.
Di samping sisi kiri Naya ada Kei, ibu Naya, oma Lyra, Dewi dan Kyu. Keempatnya menangis haru, sedangkan Kyu masih saja memasang wajah tak percayanya yang berbalut kesedihan. Masih belum percaya kalau kakaknya yang diketahui sudah lama dekat dengan Zee harus menikah dengan orang lain.
Kyu ingin memberontak tidak setuju, tetapi mommy Kei mengatakan alasan kakaknya menikahi perempuan bernama Naya. Mommy Kei memberi perintah agar dia setuju saja dengan pernikahan itu.
Segala proses akad dan sebagainya sudah selesai. Segelintir orang termasuk pak penghulu mulai berpamitan pulang. Tinggal ibu Naya, Dewi dan Lee saja orang lain yang masih berada di rumah itu.
"Nay, selamat ya, kamu sudah menjadi menantu di keluarga kami," ucap Kei.
"Terima kasih, Bu," balas Naya mencoba tersenyum meski perasaanya campur aduk tak karuan. Dia sama sekali tidak berani menatap orang yang ada di samping ibu mertuanya. Di sana ada Dewi, walau tengah tersenyum menatapnya namun entah mengapa justru senyuman itu membuat Naya makin merasa bersalah. Bersalah karena harusnya putri dari Dewi lah yang sekarang menjadi menantu di rumah Kendra Kenichi, bukan dirinya. Tetapi sekarang ...?!
__ADS_1
"Kei, aku senang kamu bersikap baik dengannya," bisik Dewi lirih meski sudah menjauh dari posisi Naya.
"Mau bagaimana lagi, mbak, aku juga nggak tega kalau musuhin Naya. Kesalahan mereka memang besar, tapi sebagai seorang ibu, apa aku setega itu membenci mereka. Aku sangat bersyukur kamu dan sekretaris Lee berbesar hati. Aku juga mendoakan agar Zee sukses," ucap Kei terselip doa juga untuk Zee. Satu-satunya orang yang tidak hadir di pernikahan Akio dan Naya.
Di sofa ruang tamu ada Ken, Lee, Akio dan beberapa orang lagi. Namun Akio yang kurang nyaman dengan obrolan para pria paruh baya, memilih mendekati Naya yang terus-terusan bersama ibunya.
"Bu, ayo kita pulang, acaranya sudah selesai, Naya nggak mau tinggal di sini. Lebih baik kita pulang saja."
"Loh, kamu itu gimana, Nay. Sekarang kamu sudah menjadi istri Nak Io. Kamu harus nurut sama dia. Kalau Akio maunya disini, ya, kamu juga tinggal di rumah ini," nasehat ibu Naya.
"Naya bakal nggak betah di sini, Bu."
Naya sedang merengek pada ibunya, tiba-tiba Akio datang menghampiri. "Ada apa?" tanyanya melihat ke arah Naya.
"A-aku ingin pulang," kata Naya.
Akio mengernyit. "Pulang?! Pulang ke mana maksud kamu?"
Akio berganti menyipitkan mata, tidak percaya dengan keinginan Naya yang ingin pulang ke rumahnya.
Mereka sudah menjadi suami istri, harusnya tinggal satu atap. Dan umumnya seorang perempuan mengikuti kemana suaminya tinggal.
"Kamu dan aku akan tinggal di sini, Nay."
"Enggak-enggak! Aku mau tinggal di kontrakan bersama ibu," sungut Naya.
Keduanya masih melanjutkan eyel-eyelan mereka, sampai Kei memperhatikan dan langsung mendekat. Saat itu sudut mata Naya sudah sedikit berair. Mungkin karena suasana kurang nyaman dan kehendaknya ditolak paksa oleh Akio, membuat mood Naya lebih buruk. Hormon kehamilan memang sangat sensitif.
"Ada apa, Io?" tanya Kei. Akio menjelaskan apa yang diperdebatkan tadi. Setelah paham, Kei tersenyum dan menepuk bahu putranya.
__ADS_1
"Nggak papa, turuti saja dulu keinginan istrimu. Mungkin calon anakmu yang belum mau tinggal di sini. Mungkin masih asing, ya, Nay, ya?" Kei menoleh pada Naya. Perempuan itu menampilkan senyum singkat.
Akio menghela napas. "Baiklah, nanti kita pulang ke rumahmu," ucap Akio akhirnya.
Akio mengajak Naya naik ke kamarnya untuk membereskan beberapa baju yang akan dibawa.
Ini pertama kali Naya menyusuri rumah super megah milik billionaire sang penguasa bisnis. Dalam hati tak henti-henti mengagumi kemewahan rumah itu. Namun kemewahan yang dilihat tak membuat hati Naya silap untuk memanfaatkan statusnya dan menikmati kekayaan Akio. Tidak! Bahkan jika bisa, dia ingin mengajak Akio tinggal di kontrakannya yang sangat sederhana, karena disana membuatnya damai dan tenang.
Justru ... kekayaan keluarga Akio membuatnya minder dan kecil hati, betapa tak sepadan dengan keadaan keluarganya yang serba kekurangan.
Lamunan Naya buyar saat pintu lift berdenting. Akio mengajak Naya menuju kamarnya sambil memberi arahan beberapa kamar berjajar milik orang tua dan adiknya. Naya hanya mengangguk saja.
Ketika Akio membuka kamarnya, jantung Naya berdebar tak karuan. Rasanya begitu aneh dan asing dengan status barunya. Meski Akio bersikap baik, tapi tetap saja dia belum terbiasa.
"Kalau capek duduk aja dulu," perintah Akio. Dia menyadari sikap Naya yang sedikit kaku.
"Tunggu sebentar, ya, aku mau mandi dulu." Akio melangkah menuju kamar mandi.
"Kamu bilang mau ngemasin baju, kok malah mandi, sih?"
"Nanti ada asisten yang bantuin. Cuma mandi bentar, apa kamu juga keberatan?"
"Ya sudah, biar aku aja yang beresin bajunya." Naya hampir beranjak. Tapi Akio berjalan cepat mengarah padanya.
"Kata mommy, orang hamil nggak boleh capek-capek, jadi kamu cukup diam dan tunggu sebentar," kata Akio dengan tatapan yang memberi tanda tidak bisa dibantah.
"Cuma kemas baju nggak bakalan capek. Sebelumnya aku bantuin ibu loundry baju punya tetangga juga nggak masalah."
Akio sedikit melotot. "Nggak masalah bagaimana? Kalau terjadi pendarahan lagi nanti bahaya, Nay. Kemarin ya kemarin, tapi besok dan seterusnya, kamu nggak akan aku biarin mengerjakan seperti itu lagi," tegas Akio.
__ADS_1
Naya mengarahkan bola mata ke atas, memandang Akio dengan mata menyipit. Baru tahu kalau suaminya itu banyak bicara dan banyak aturan.