Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
42Hari


__ADS_3

"Masih harus menunggu lagi?" tanya tuan Ken. Ia tak percaya. Baginya, 10hari sudah sangat lama, lalu dokter mengatakan masih harus menunggu masa nifas selesai? apa itu nifas? kapan selesainya?


Pemikiran tuan Ken tidakk sampai pada hal-hal seperti itu.


"Iya tuan," jawab dokter Sofia dengan senyuman. Lagi-lagi dokter itu merasa geli jika harus menjelaskan. Dia bisa menduga jika tuan protective itu tak akan mengerti dengan pengertian masa nifas. Itu terlihat dari raut wajah Ken yang mengerutkan dahi.


"Apa itu masa nifas?"


'Benarkan dugaanku, tuan arogan itu pasti tidak tau, apa itu masa nifas' batin dokter Sofia. Menghela nafas dan bersiap untuk menjelaskan.


"Nifas adalah keluarnya darah dari rahim. Nifas itu sama halnya dengan haid, yaitu keluar darah dari bagian inti seorang perempuan. Lama waktu nifas biasanya 6minggu dan paling cepat 42 hari. Setelah masa nifas selesai, suami istri sudah diperbolehkan melakukan hubungan lagi." Sofia menjelaskan. Sejenak menahan nafas, ia merasa ketar-ketir, apakah tuan muda itu bisa mengerti penjelasannya.


"42 hari? selama itu?" tuan Ken mengedipkan mata dengan cepat, menelan air liur dengan susah payah. Penjelasan dari dokter Sofia membuatnya shok. Bukankah itu waktu yang sangat lama?


"Apa tidak bisa dipercepat? Carikan obat terbaik, meskipun dengan harga triliunan aku akan bayar." ucapnya cepat.


Kumpulan dokter sekuat tenaga menahan tawa yang akan pecah, pernyataan dari tuan Ken benar-benar seperti lelucon.


"Bukan masalah harga tuan, masa nifas bukan seperti penyakit yang harus diobati. Itu sudah kodrat seorang wanita, mengalami masa haid dan masa nifas. Anda harus bersabar."


"Hah... bersabar, bagaimana aku bisa sabar kalau selama itu! tidak berguna." desahnya berat. Setelah mengucap kalimat terakhir, tuan muda yang nampak kecewa meninggalkan ruangan dokter tanpa pamit. Ia datang pun tidak ada yang mengundang.


Berjalan gontai memasuki ruangan Kei lagi.


"Sayang, kamu kenapa?" melihat wajah suaminya yang murung membuat Kei penasaran. Padahal tadi baik-baik saja.


"Aku harus berpuasa selama 42 hari." ucapnya lemas. Menjatuhkan diri dikursi tunggal yang ada didekat ranjang sang istri.


'Puasa? puasa apa selama 42 hari?' batin Kei. Ia mengerutkan dahi.


Tuan Ken menangkap kebingungan diwajah istrinya, "Aku tidak bisa mengunjungi sarang ku." jawabnya acuh. Bukan acuh karna tidak perduli, lebih tepatnya acuh karna kekesalan. Apa yang harus ia lakukan agar masa nifas itu segera selesai dan tidak memakan waktu 42hari. Jika bisa angka 4 itu lenyap dan hanya tinggal angka 2.

__ADS_1


Kei tersenyum lebar, "Sabar. Nanti setelah masa nifas selesai dan sarangku sudah sembuh, burung gagak hitam pasti bisa masuk." kata Kei. Ia merasa geli sendiri dengan ucapannya.


"Bagaimana aku bisa sabar Honey, bayangkan saja aku harus menunggu sampai 42 hari." sungut tuan arogan itu tampak kesal. Ia menekankan kata 42hari.


"Jika selama itu, bisa saja burung gagak hitamku lupa sarangnya." tambahnya lagi.


"Au'," tuan Ken meringis saat Kei mencubit lengan tangganya dengan kuat.


"Sakit, Sweety." adunya. Mengusap-usap bekas cubitan yang berwarna merah. Kulit tuan Ken memang putih bersih, saat mendapat gesekan kulitnya mudah memerah.


"Apa kamu bilang? lupa sarang? kalau lupa sarang, lalu cari sarang baru?" kata Kei kesal.


"Apa aku boleh cari sarang baru, selama sarangmu belum sembuh?" tuan muda itu ingin mengerjai istrinya.


Kei melirik sinis, "Lakukan saja. Jika berani masuk kesarang baru, aku akan membabat habis gagak hitam hingga kepangkalnya." sungut Kei. sudut bibir yang sebelah tertarik keatas, menatap tajam kearah suaminya yang reflek memegangi senjata terampuh.


Oh no... ancaman yang mengerikan.


"Ancamanmu mengerikan, Honey. Aku tidak akan berani mencari sarang baru, resiko terlalu besar."


"Semoga saja kau tahan berpuasa selama itu." tuan Ken berbicara sendiri, dan menunduk kebawah.


Terdengar suara tangisan baby Kio yang terdengar melengking, tuan Ken segera menghampiri keranjang putranya. Dengan gerakan kaku namun hati-hati ia memberanikan untuk menggendong baby Kio.


Memberikan baby Kio pada istrinya.


Dengan gerakan cepat Kei membuka kancing-kancing baju untuk menyusui bayi mungil itu. Posisinya sudah setengah duduk, setelah memangku baby Kio, ia segera membimbing mulut kecil itu untuk menyedot sumber makanan.


Melihat pemandangan indah didepannya, tuan Ken sudah payah menelan air liur. Pemandangan yang menggoda, buah da** sang istri yang semakin montok dan besar karna menampung banyak asi.


Biasanya dia yang selalu melakukan posisi itu, tapi kini posisinya diambil sang putra kecil. Tidak rela. Ia tidak rela putra kecilnya mengambil mainannya.

__ADS_1


Burung gagak yang sedari tadi menjadi topik pembicaraan sudah mulai bereaksi, mungkin sudah mulai mengembang. Otaknya mulai terbayang yang aneh.


Tuan Ken hanya bisa mengumpat dalam hati, kekesalan yang tak bisa diluapkan. Berkali-kali berdecak kesal.


Baru beberapa hari berpuasa rasanya sudah sangat tersiksa. Apalagi masih ada 42 hari sial lagi yang harus ia lalui. Sanggupkah?


Sebagai lelaki dewasa, ia mempunyai nafsu yang cukup besar.


"Sweety. Kalau begini, bagaimana aku bisa menahan." ucapnya lirih. Wajah tuan Ken terlihat frustasi.


Kei baru menyadari keadaan itu. "Jangan melihat, tunggu saja diluar. Baby Kio juga butuh sumber makanan. Dan makanan itu bersumber diair Asiku." jawab Kei. Ia baru menyadari raut wajah suaminya yang ditekuk seperti buku lipat.


"Baiklah, aku keluar sebentar. Jika sudah selesai panggil saja." ia mulai meninggalkan kursi, berjalan menuju ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan membasahi kulit kepala. Ingin mendinginkan pikiran panasnya.


Setelah dari kamar mandi, berjalan keluar untuk menunggu diruang depan.


Ia segera merogoh saku celana, mengambil ponsel dan menghubungi tangan kanannya untuk segera datang kerumah sakit. Tidak mengatakan apapun, hanya menyuruh untuk datang.


Ada beberapa pengawal yang berjaga, tapi tuan Ken tidak pernah menganggapnya ada. Hanya sekretaris Lee yang nyaman untuk tempat curhat dan berkeluh kesah.


Menunggu hal yang membosankan. Ia membuka aplikasi yang ada di ponsel.


Ada satu massage dari Tristan yang menanyakan kelahiran putranya. Ia hanya membacanya saja.


Melanjutkan dengan melihat massage penting lainnya. Hingga tak berapa lama, suara langkah kaki terdengar menggema.


Sekretaris Lee berjalan dengan langkah lebar menghampiri tuan mudanya. Mendapat panggilan tadi, ia segera meluncur. Mungkin saja tuan Ken sedang membutuhkan sesuatu.


"Tuan muda, ada apa anda memanggil saya?" Lee berdiri didepan tuan Ken.


"Duduk," perintahnya.

__ADS_1


"Lee, aku sedang kacau." mengatakan kalimat singkat. Biasanya sekretaris itu bisa menerawang isi kepala.


__ADS_2