
Naya yang tak bisa memejamkan mata memilih berbalik posisi menghadap suaminya. Wajah teduh pria itu sedang menyelami mimpi. Lekat mata Naya memandangi wajah Akio. Rupawan dengan segala fisik nyaris sempurna.
Jatuh cinta? Tidak munafik, semua perempuan pasti akan jatuh cinta melihat fisik suaminya yang tak ada cela.
Meski Akio adalah suaminya, tetapi sampai detik ini dia tak pernah mengungkap tentang perasaanya. Dan sebaliknya, sejauh ini Akio hanya menunjukan perhatian tapi tak pernah mengungkap perasaan juga.
Apa yang mau diungkap? Pede sekali kalau pria yang menjadi suaminya itu juga memiliki perasan terhadapnya. Mereka bersama karena kesalahan satu malam dan karena ada calon anak di antara mereka, belum tentu Akio memiliki perasaan untuknya.
Tubuh Akio bergerak membuat Naya segera berpura-pura memejamkan mata. 3 bulan lebih tidur berdampingan di satu ranjang, namun tak terjadi apapun. Sungguh luar biasa pria bernama Akio dalam menahan syahwat. Dia sama sekali tidak menyentuh Naya karena perempuan itu belum siap.
Sebenarnya belum siap secara batin karena sebuah kebimbangan. Dia merasa Akio hanyalah pria pinjaman yang harus dikembalikan ketika semuanya sudah usai.
Tentang perasaan, biarlah dia pendam hingga nanti tiba waktunya mereka harus saling merelakan.
"Aku tahu kamu belum tidur," ucap Akio tiba-tiba mengejutkan Naya.
"Hayo ... aku tahu kamu tadi curi pandang liatin aku," gencar Akio menahan tawa. Lucu melihat gerakan bola mata Naya meski dalam keadaan terpejam.
"Pede! Siapa yang curi pandang liatin kamu," sungut Naya berkilah, menutupi rasa malunya.
"Ngaku! Orang udah ketahuan juga." Akio tertawa.
"Apaan sih! Tengah malem juga." Naya pura-pura memberengut kesal.
"Oke-oke. Calon uma nggak boleh ngambek." Akio menghentikan tawanya.
"Apaan calon uma segala! Uma-mi kali!" Naya memutar bola mata ke atas.
"Terus apa? Calon mama, calon ibu, calon bunda atau calon mimi?"
"Calon ibu aja," balas Naya.
"Panggilan itu nggak cocok. Itu panggilan zaman dulu," sahut Akio.
"Ya udah, terserah."
"Ssshhtt ...." Naya mendesis.
"Kamu kenapa?"
"Tiba-tiba aku pengen makan nasi goreng tiwul," pintanya.
"Hah? Apaan itu?"
"Ya nasi goreng, tapi pakek tiwul."
Akio menggaruk pelipis. "Nasi goreng aku tahu, tapi pakek tiwul aku nggak tahu."
"Aku pengen banget. Ibu punya persediaan nggak, ya?" ujar Naya seolah lebih bertanya pada diri sendiri.
"Nay, ini jam 12.25." Akio berkata untuk memperingati Naya. Tak enak kalau malam-malam harus menganggu ibu mertuanya. "Tunggu 5 jam, nanti aku ke rumah ibumu buat tanya timul."
__ADS_1
"Bukan timul! Tiwul!" Naya membenarkan.
"Iya itu namanya."
"Ya udahlah, ayo tidur aja," kata Naya dengan wajah setengah dongkol. Dia saat ini sangat ingin memakan nasi goreng bercampur tiwul, tapi harus menunggu 5 jam lagi. Padahal bayangan makanan itu sudah membuat air liurnya membanjir. Entah mengapa tiba-tiba dia sangat menginginkannya.
Naya merubah posisi lagi membelakangi Akio. Matanya juga tidak terpejam, terus terbayang nasi goreng tiwul.
Tak lama terdengar pergerakan dari Akio. "Kamu nggak tidur juga. Nanti aku telpon ibu dulu," katanya. Naya berbalik.
Beberapa saat, Akio menghela napas panjang. "Nggak dijawab sama ibu."
Naya nampak kecewa. Tak mengatakan apapun tapi wajahnya bertekuk. Akio masih sibuk dengan ponselnya.
"Halo, Dad ...."
'Io, ada apa malam-malam telpon? Apa istrimu sudah mau melahirkan?' tanya Ken dari seberang. Suaranya serak, juga terdengar menguap.
"Heh? Melahirkan gimana? Kehamilan Naya masih 5 bulan, Dad! Belum waktunya melahirkan."
'Oh iya, Dad lupa,' jawab Ken.
"Dad, mom sudah tidur?"
'Sudah. Ada apa?'
"Tanya mom, apa mom punya nasi goreng tiwul."
"Nasi goreng tiwul, Dad."
'Sayang ... bangun! Kamu punya nasi goreng tiwul, tidak?' terdengar Ken membangunkan dan bertanya pada Kei.
'Entah, putramu tanya, kamu punya nasi goreng tiwul tidak?'
'Halo, Io. Ini Mom.' Kali ini suara Kei mengambil alih telepon.
"Iya, Mom. Mom punya nasi goreng tiwul nggak?"
'Eh, nasi goreng tiwul? Buat siapa?' tanya Kei.
"Ini ... Naya malem-malem minta dibuatkan nasi goreng tiwul," kata Akio.
'Istrimu ngidam nasi goreng tiwul?' ulang Kei.
"Iya."
'Aduh, gimana ya? Di sini nggak ada. Kan kita nggak pernah makan itu,' ucap Kei, seperti kebingungan.
'Sayang, cucumu mau nasi goreng tiwul, ayo, carikan!' perintah Kei pada Ken yang masih terdengar dari telepon.
'Eh, kok, aku?! Tengah malam begini mau cari dimana makanan aneh itu!'
__ADS_1
'Terserah. Coba kamu kerahkan anak buahmu buat cari itu.'
'Ada-ada aja. Belum lahir udah nyusahin. Persis seperti ngidammu dulu. Merepotkan!'
'Hust! Jaga bicaramu. Kau ini opa macam apa. Ngidam calon cucu kamu bilang nyusahin!' sentak Kei.
"Mom ... dad! Ya sudah, nggak pa-pa biar Akio yang cari," ucap Akio.
'Nggak pa-pa, Io, daddy-mu juga akan ikut carikan.'
Setelah telepon dimatikan. Kei menyuruh Ken ikut berusaha memikirkan dan mencari nasi goreng tiwul.'
Ken menggerutu, meski begitu dia tetap menjalankan apa yang disuruh Kei. Seolah tak ingin sengsara sendiri, Ken menghubungi seseorang.
"Lama sekali kau mengangkat telepon! Carikan nasi goreng tiwul sekarang juga!" perintah Ken tanpa basa-basi.
'Heh? Anda mengigau, Tuan?'
"Aku sadar sepenuhnya!" Ken masih terbawa rasa kesal, waktu istirahatnya terganggu.
'Nasi goreng tiwul? Kalau nasi goreng saja, ada, Tuan. Kalau pakai tiwul, sepertinya nggak ada.'
"Pokoknya harus ada!"
'Memang untuk apa, Tuan?'
"Istrinya Akio ngidam aneh. Kalau nggak dituruti, kau tahu mitosnya, bukan? Nanti pas lahir anaknya ileran. Perempuan ngidam memang merepotkan!"
"Hei, kau ulangi lagi kata-kata itu!"
"Adu-duh, sakit, sayang." Ken mengaduh karena lengannya dicubit Kei.
"Pokoknya harus ada, Lee. Aku tunggu." Ken mengakhiri teleponnya.
"Di mana, ya, tengah malam begini nyari tiwul?" Kei bertanya sendiri.
"Tiwul itu rasanya bagaimana, sampai calon cucu kita ngidam makanan aneh itu?" tanya Ken.
"Kamu belum coba, kalau udah makan sekali, bakal ketagihan."
*
Hampir jam 1, Akio mendapat telepon dari post satpam, memberitahukan ada anak buah yang Ken datang untuk mengantar tiwul. Akio turun ke bawah untuk mengambil.
"Seperti ini bentuknya, Nay," ujar Akio. Dia dan Naya sudah di dapur.
"He'm. Pasti enak banget tuh dijadiin nasi goreng." Naya berbinar melihat yang diinginkan sudah ada di depan mata. Dia cekatan menyiapkan bumbu, sedangkan Akio masih saja menatapi tiwul yang berwarna coklat kehitaman. Bukan dia tak tahu makanan yang terbuat dari singkong itu, hanya saja dia belum pernah memakannya.
Harum dari bumbu yang di tumis Naya menguar ke penjuru ruangan. Harusnya memang menggugah selera.
Setelah tiwul dieksekusi bercampur nasi goreng. Naya lekas memakannya dengan lahap, rasanya sangat nikmat tiada tara. Akio dibuat bengong melihat Naya melahap dengan cepat. Dia sampai lupa menanyakan dari mana mendapat makanan itu.
__ADS_1