Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Kei ingin mencari Kio


__ADS_3

Ban mobil putih telah berhenti didepan rumah berlantai dua. Lelaki tua itu mengajak Kio untuk turun, tanpa protes Kio mau mengikuti turun bahkan menggandeng tangan lelaki itu.


"Kakek sudah tua, tidak kuat gendong kamu." kata Herlambang.


"Io udah besar Kek, nggak mau digendong. Oma juga tidak kuat gendong Io." jawab Io.


Herlambang membuka pintu dan disambut pelayan rumah.


"Siapkan makanan. Kami akan makan malam," perintah Herlambang pada pelayan rumahnya.


"Baik Tuan." jawab pelayan itu segera berlalu.


"Rumah Kakek kecil, nggak kayak punya Dad besar banget." kata Kio. Mata kecilnya tak sengaja melihat bingkai foto yang terpasang didinding.


"Kakek, itu foto Daddy kenapa ada disini? tapi Dad sama siapa? itu bukan Mom?" tanya Kio.


"Eum... itu," Herlambang kebingungan harus menjawab apa. Jika dijelaskan pun Kio belum mengerti.


"Kek, kenapa diam saja?" Kio masih menunggu jawaban. Bocah kecil itu sudah memiliki rasa penasaran, bagaimana bisa foto ayahnya terpasang dirumah kakek-kakek yang baru dikenalnya.


"Mungkin foto itu hanya mirip dengan Daddy kamu." jawab Herlambang berbohong.


"Tapi itu foto Daddy," Kio yakin bahwa lelaki yang berada difoto itu adalah Daddy nya.


"Sudah ayo kita makan, perut Kio tadi sudah bernyanyi 'kan? itu tandanya minta dikasih makan." Herlambang menarik tangan Kio, ia harus mengalihkan rasa penasaran Kio.


Kio mengangguk dan mengikuti langkah kaki Herlambang. Anak kecil itu sangat kelaparan, perutnya sudah melilit sejak sore belum makan.


Melihat Kio memakan makanannya dengan lahap, membuat Herlambang terdiam. Sendok untuk menyendok makanan itu menganggur.


'Andai saja Kio adalah cucuku, aku pasti sangat bahagia. Hari-hariku tidak akan kesepian. Olive, Papa rindu denganmu. Andai saja kamu masih hidup, kamulah yang menemani Papa.' Herlambang menaruh sendok diatas piring, tangannya sibuk menghapus cairan bening.

__ADS_1


"Kakek kenapa menangis? apa Kio abisin ayamnya Kakek jadi sedih?" Kio bertanya dengan polos. Bocah itu masih mengunyah makanan, ia sangat kelaparan.


"Tidak Kio. Kakek tidak menangis. Kakek juga tidak sedih karna ayam itu habis. Kakek sedih teringat anak dan cucu Kakek yang sudah meninggal. Sekarang Kakek jadi kesepian."


"Kakek nggak punya siapa-siapa?" tanya Kio.


Herlambang menggeleng. "Kakek tidak punya siapa-siapa. Kakek sendirian dan kesepian."


"Kio juga tidak punya siapa-siapa Kek, Dad dan Mom sudah tidak sayang sama Kio. Dad dan Mom mau punya bayi, mereka melupakan Io." Kio bercerita dengan sedih. Tangan kecilnya berhenti menyendok makanan. Seolah nafsu makan itu menguap begitu saja. Ketika teringat Daddy dan Mommy nya bocah itu kembali bersedih. 'Kenapa Dad dan Mom tidak mencariku? apa mereka benar-benar melupakan Io?' begitu isi pikiran Kio.


Tanpa dia tau bahwa kepergiannya membuat kegaduhan seantero rumah sakit. Bahkan nyawa Mommy nya hampir melayang, belum lagi orang-orang yang tidak bersalah ikut menanggung kesakitan dan ketakutan ulah Daddy nya yang mengamuk.


"Oh ya... Eum... Kakek rasa tidak begitu. Tidak mungkin Daddy mu melupakan anak sepintar kamu. Kakek yakin, saat ini Daddy Ken pasti sangat khawatir untuk mencari mu. Setelah makan malam Kakek antar pulang kerumah ya." Herlambang mencoba membujuk, sedari menemukan bocah itu duduk dipinggir jalan Ia sudah berniat untuk mengembalikan Kio kerumah sakit tapi bocah itu tidak mau dengan terpaksa Herlambang mengajak Kio untuk pulang kerumahnya.


Sebenarnya Herlambang ingin langsung menghubungi Ken, tapi daya baterai nya habis. Ketika daya baterai itu bisa digunakan maka segera ia akan menghubungi mantan menantunya.


Sepulang dari pesta pernikahan Tristan waktu itu, Herlambang termenung dengan perkataan Bram. Setelah dipikir-pikir memang dirinya lah yang kolot dan egois selalu menyalahkan Ken.


Saat pikirannya sudah sadar tapi lelaki paruh baya itu sudah terlanjur malu untuk mengakui.


Melihat kepolosan Kio tentu tidak tega untuk berbuat macam-macam pada bocah kecil itu. Tapi setitik dendam terus berbisik untuk melukai Kio.


"Io tidak mau pulang. Kalau Io tidak boleh tidur sama Kakek Io akan pergi, tapi tidak mau pulang kerumah. Dad dan Mom jahat." Kio merajuk.


"Baiklah, Kakek tidak mengantar Io kerumah. Sekarang habiskan dulu makanannya."


"Io senang punya Kakek. Io cuma punya Oma, tapi tidak punya Kakek."


"Io boleh anggap Kakek sebagai Kakek Io. Kakek juga tidak punya siapa-siapa pasti senang kalau punya cucu sepertimu."


Obrolan itu masih berlanjut, kesedihan Kio sedikit terlupa, bocah itu antusias mendengarkan cerita-cerita kakek Herlambang.

__ADS_1


Mobil yang dikendarai Lee kembali kerumah sakit. Lee tidak tega melihat tuan mudanya yang kehabisan tenaga. Tubuh Ken melemas.


Untuk itu sementara Lee mengantarkan Ken kerumah sakit untuk minta obat. Ken sudah berpasrah, tubuhnya begitu lemas.


Dirumah sakit.


Lamanya mata Kei terpejam, kini bulu mata itu bergerak dan kelopak mata yang mulai terbuka.


Menatapi sekelilingnya. Ada mami Lyra dan juga para dokter.


"Kei sayang, kamu sudah sadar?" mami Lyra terlihat senang, akhirnya Kei sadar.


Para dokter juga mendekat keranjang. "Nona, apa yang anda rasakan?" dokter Sofia bertanya.


"Mi, Io mana?" tanya Kei. Tidak menjawab pertanyaan dokter Sofia, ia langsung antusias menanyakan keberadaan putranya.


"Io... eum.. Io..." mami Lyra kebingungan untuk menjawab.


"Io mana Mi? apa dia belum ditemukan? putraku hilang?" Kei setengah berteriak.


"Kei sayang, tenanglah... Ken sedang mencari Io, putramu pasti ketemu. Ken pasti akan membawa Io pulang." mami Lyra menenangkan.


"Bahkan sampai malam begini Io belum ketemu! dimana dia? ya Tuhan, dimana putraku?" Kei menangis, ia berusaha untuk bangkit.


"Nona, anda tidak boleh bergerak. Anda bisa pendarahan lagi dan akan berbahaya untuk calon anak anda." cegah dokter Sofia.


"Dokter, aku harus mencari putraku, aku tidak bisa berbaring disini. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? tidak, aku harus mencari Io. Aku takut terjadi sesuatu padanya." dengan gerakan cepat Kei mencabut paksa jarum infus hingga bibirnya meringis kesakitan.


Gerakan yang cepat membuat dokter tak dapat mencegah. Saat Kei menurunkan kakinya, dengan segera dokter Sofia menghalangi. "Nona, tolong jangan nekad. Nyawa anda dan calon anak anda bisa bahaya."


"Aku tidak perduli, aku ingin mencari Io. Dia pasti kelaparan. Ini waktunya dia makan malam. Malam-malam begini dia kemana? Io, Io... awas, jangan halangi aku!!!" Kei terus histeris dan meronta-ronta. Beberapa dokter tetap menghalangi.

__ADS_1


Mami Lyra segera menghubungi Ken dan beruntung Ken baru sampai dihalaman parkir, mendengar laporan dari maminya, secepatnya ia segera masuk.


Lee yang tidak begitu paham juga mengikuti dibelakangnya.


__ADS_2