Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Dua duanya seperti anak kecil


__ADS_3

"Aahk'....." Kei berteriak kencang. Seolah menggemparkan ruangan kamar. Ken yang terlelap disampingnya harus berjingkat kaget. Ia benar-benar terkejut.


"Ada apa, Honey?" bertanya cepat, bola mata yang mengamati tubuh istrinya. Tapi tidak ada apa-apa?


"Huh... Aku bermimpi, Kio diculik orang." Kei menjawab dengan wajah pucat. Seolah mimpi itu benar terjadi. Irama jantung yang mendadak berdebar kencang. Sebelah tangan mengusap bagian dada.


Tubuh Ken yang tadi menegang, kini menjadi lemas. Ia menghirup udara dan menghembuskan dengan pelan. "Itu hanya mimpi buruk. Tidak akan terjadi apapun pada putra kita, dia baik-baik saja." kedua mata Ken melihat keranjang yang diatasnya ada Kio masih tertidur pulas.


Lagi-lagi terdengar ketukan pintu. Ken malas untuk beranjak, setengah berteriak ia menyuruh untuk masuk.


"Maaf Tuan, Nona. Petisan jambu airnya sudah selesai dibuat." kata Koki. Disampingnya ada satu koki yang sudah membawa nampan berisi petisan.


"Wah... pasti enak sekali," kata Kei. Seolah lupa dengan mimpi buruk barusan. Kei mulai menjejakkan kaki diatas marmer dan menghampiri 2koki.


Menelan air liur dengan cepat, ia tak sabar ingin melahap semuanya.


Ken yang masih diatas bed, kini sudah turun dan menghampiri Kei. Melihat bentuk dan warna buah itu membuat Ken bergidik.


"Hei kalian, kau mau meracuni istriku. Lihatlah, buah itu belum masak!" Ken berbicara dengan nada tinggi dan menatap tajam.


"Ma maaf Tuan. Tapi dihalaman belakang hanya ada yang seperti itu. Jambu air itu sudah bisa dimakan meski belum masak, kami sudah mencobanya." satu Koki menunduk, sudah pasti ketakutan.


"Kalian mau tanggung jawab kalau istriku sakit perut!" Ken menyalahkan keduanya. Ini tak bisa dibiarkan. Dari dulu Ken menjaga pola makan istrinya, mengingat Kei hanya mempunyai satu ginjal. Dia selalu extra hati-hati. Tapi memang dari dulu tuan muda itu sudah memiliki sikap over protective, semua-semua harus dengan pengawasan extra.


"Tidak Tuan. Kami akan membawanya kembali." satu Koki akan mengambil nampan berisi petisan lengkap dengan jambu air yang menjadi malapetaka. Tapi Kei tak membiarkannya begitu saja, ia segera mencegah. Mendekap piring buah dengan erat dan menghadapkan tubuhnya kesamping.


"Berikan piringnya," pinta Ken.


"Tidak, aku mau makan ini!" Kei menjawab ketus.


"Perutmu bisa sakit, itu tidak baik dikonsumsi dalam lambung." Ken membujuk.


"Biarkan saja, lambung milikku, kalau sakit biar aku tanggung." jawab Kei. Bukan maksut untuk melawan, hanya saja entah dorongan dalam dirinya ia ingin sekali memakan petisan itu.


"Daddy...." Kio terbangun. Ia sudah duduk diatas bed yang empuk. Bocah itu terbangun dan menangis memanggil Daddy nya.


"Kenapa jagoan?" Ken beralih menghampiri ranjang Kio. Ia lupa dengan urusannya bersama Kei.

__ADS_1


Mendapat kesempatan emas, nona muda itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia segera menikmati petisan dengan binar bahagia. Seperti manusia yang tidak pernah makan, melahap dengan rakus. Sesekali mulutnya terbuka karna sambal petis yang ditaburi kacang almond terasa pedas.


"Dad, dimana robotan Io yang besar?" Dad janji mau pergi ke Mall!" ucapnya disela tangisan.


"Daddy lupa Sayang. Nanti sore saja kita pergi ke Mall." setelah tadi membujuk istrinya, kini Ken disibukkan membujuk putranya.


"No...! Io mau sekarang!" permintaan yang tidak bisa dibantah, masih kecil sudah memiliki jiwa Bossy. Mungkin turunan dari Daddy nya.


"Baiklah, Dad akan suruh orang untuk membeli robot itu." Ken berjalan menuju nakas untuk mengambil ponsel. Ken melupakan sikap protective pada istinya.


"Io maunya pergi ke Mall, Dad. Tidak mau dibelikan sama pengawal atau Paman Lee." benar-benar jiwa Bossy. Melipat tangan diatas perut, gaya yang paling sering ia lakukan.


Tangan Ken menggantung di udara, ia membalikkan badan untuk melihat Kio. Tapi tak sengaja malah melihat Kei yang asik memakan petisan.


"Hei... Honey! aku sudah melarang mu memakan petisan itu. Kenapa tetap kau makan?" Ken memarahi Kei.


Melihat suaminya sedang marah, Kei menghentikan kunyahan. Sudut mata keduanya sudah berair, ia menatap kearah Ken. Binar kebahagian tadi menjadi mellow.


Ken juga menatap kearah Kei, istrinya hampir menangis. Ia harus menurunkan ego.


"Honey, aku tidak bermaksud..." Ken menggaruk pelipis terlihat bingung. Kini ia yang menyebabkan Kei berubah sedih.


"Tidak, Cinta. Aku tidak suka kau mengabaikan perintahku." kata Ken. Ia berjalan pelan menghampiri Kei.


"Kenapa kau menangis? aku tidak sungguhan marah padamu." imbuhnya.


Kei menjatuhkan raganya di dada bidang Ken. Sedangkan tangan Ken mengusap pucuk rambut milik Kei.


"Daddy.... Io mau robot besar, sekarang juga!" bocah kecil itu menangis lagi.


"Iya Sayang. Sebentar."


Ken dibuat kebingungan dengan tangisan keduanya, ia harus membujuk yang mana?


'Kenapa dua-duanya seperti anak kecil? membingungkan.' batin Ken.


"Honey, sudah jangan menangis. Ayo kita pergi ke Mall." ajak Ken.

__ADS_1


"Tidak mau. Aku dirumah saja," jawab Kei. Badan yang bersandar di dada Ken tadi sudah kembali tegak.


"Tidak mau? biasanya kau paling suka berjalan-jalan keluar rumah?" setelah tadi kebingungan. Kini berganti keheranan.


"Kalau biasanya, ini luar biasa. Aku mau tiduran aja, tidak mau kemana-mana." Jawab Kei santai. Ia beranjak berdiri dan kembali menuju keranjang.


"Lalu aku hanya pergi dengan Io?" tanya Ken. Ia ikut beranjak. Bukan menyusul Kei, tapi menghampiri putranya.


"Aku malas kalau pergi berdua saja. Ayolah, kau harus ikut." Ken memaksa.


"Aku bilang tidak mau ya tidak mau!"


Ken mendengus sebal. Hari ini sikap Kei bukan hanya seperti anak kecil, tapi juga menyebalkan. Semakin susah diatur dan lebih sering membantah.


"Dad, Io maunya Mom ikut." belum hilang rasa sebal, kini berganti putranya yang merengek.


'Oh... astaga!' batin Ken frustasi.


Hari libur yang harusnya membahagiakan berubah menjadi kekesalan.


Bagaimana ia akan menyikapi?


"Io tadi sudah dengar 'kan, kalau Mom tidak mau ikut. Kita pergi berdua saja." hari ini menjadi sejarah pertama, Ken membujuk Kei dan Kio bergantian.


"Kalau berdua tidak seru Dad. Mom harus ikut."


"Honey, putramu ingin kau ikut pergi."


"Tidak mau."


"Ayo Mom ikut. Io mau sama Mom." Kio berganti merengek pada Mommy nya, bocah itu turun dan menghampiri disamping ranjang Kei. Menggoyangkan tangan Kei.


"Sayang, Mom merasa tidak enak badan. Sedikit pusing. Kamu pergi dengan Daddy ya. Io sudah besar, jagoan Mom harus pintar dan mandiri." Kei mengelus pucuk rambut Io.


Dengan wajah lesu Kio mengangguk. Ia berjalan pelan menghampiri Daddy Ken.


"Anak pintar. Kata siapa berdua tidak seru, nanti Daddy tunjukkin yang seru-seru. Senyum dulu dan beri kiss untuk Daddy." pinta Ken. Ia berjongkok didepan putranya.

__ADS_1


Kio mencium rata wajah Daddy Ken, kening, kedua pipi dan hidung tak luput dari jangkauan bibir mungilnya.


__ADS_2