Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Nyaris


__ADS_3

Seharian Kei hanya berdiam diri didalam kamar, malas ketika turun kebawah dan melihat wanita munafik.


Kebetulan hari ini tuan Ken pulang lebih awal, pukul 3sore sudah sampai dihalaman rumah dan diantar oleh sekretaris Lee.


Ketika membuka kamar, sosok istrinya sedang bermain dengan baby Kio.


Meski ada 2babysister yang sudah disiapkan, tapi Kei lebih suka menjaga baby Kio sendiri. Selain lebih aman, ia juga tidak pernah ada pekerjaan lain.


Baginya, bermain dengan baby Kio hal yang sangat indah. Hari-harinya sudah tidak kesepian.


"Honey..." panggil Ken saat menutup pintu kamar.


"Sayang, jam segini sudah pulang?" tanya Kei.


"Iya, aku merindukanmu dan juga jagoanku." jawab Ken sambil berjalan ingin menghampiri mereka.


"Stop! kau lupa lagi. Cuci tangan atau mandi sekalian, jangan mendekati baby Kio ketika baru pulang dari kantor. Siapa tau banyak kuman yang menempel dibajumu." Kei melarang Ken untuk mendekat.


Ken menghentikan langkahnya. "Oh... Honey. Aku bekerja dikantor, diruang steril dan ber-AC tidak ada kuman yang menempel di bajuku." ucap Ken.


"Nggak mau tau! tetap saja, harus cuci muka, tangan dan kaki."


"Baiklah Mommy Bos!" jawab Ken. Ia menuruti perintah Kei untuk membersihkan diri dulu sebelum mendekati jagoannya.


Tidak lama tuan muda itu sudah segar sehabis mandi. Hanya mengunakan kaos berlengan pendek dan juga celana pendek, ia bersiap untuk menemani baby Kio bermain.


"Hay, jagoanya Daddy. Hari ini Daddy sangat-sangat merindukanmu, sayang." Ken yang gemas tak membiarkan pipi gembul itu menganggur, ia ciumi harum putranya yang menguar harum khas bayi.


Baby Kio terus mengoceh dengan riang, kedua tangan dan kaki yang tidak bisa diam. Bergerak bebas menendang dada Daddy nya.


Kei memperhatikan interaksi keduanya yang nampak bahagia, ia pun merasakan yang sama.


"Hei, kemarilah kau tidak ingin meminta cium dariku?" goda Ken pada Kei.


"Tidak." jawab Kei singkat. Meski begitu, senyumnya mengembang.


Ken naik ketengah ranjang dan mendekati istrinya, ia mencium Kei.

__ADS_1


"Apa sih, malu diliatin baby Kio." ucap Kei.


"Dia belum paham dengan apa yang kita lakukan."


Kei mencubit pinggang suaminya hingga Ken terkejut dan meringis.


"Dia itu sudah paham dengan sekitarnya, hanya saja belum bisa bicara."


"Benarkah?"


Kei mengangguk.


Setelah terdiam, Ken kembali bermain dengan jari-jari mungil baby Kio.


Ia membaringkan tubuh ditengah, baby Kio berada didepannya sedangkan Kei berada dibelakang dan mengusap rambut yang lurus.


"Sweety, kenapa hari ini kau berada didalam kamar terus?" Ken bertanya tanpa menengok kebelakang.


"Sayang, bolehkah aku bercerita?"


"Hem, ceritakan apapun yang ingin kau ceritakan. Aku akan mendengarnya." jawab Ken.


"Hem..."


"Dulu dia sudah berhenti bekerja, tapi hari ini dia kembali kerumah ini."


"Hem..." lagi Ken hanya berdehem, tapi yang kedua ini terdengar lebih lirih.


Kei terus saja bercerita tentang Ita, namun ada yang janggal, Ken tak lagi merespon. Kei melihat wajah suaminya yang sedikit tertutup bantal. Pantas saja tuan muda over itu tidak menanggapi ceritanya, ternyata ia tertidur. Bukan hanya Ken saja yang pulas, tapi baby Kio begitu nyaman berada di samping Daddy, hingga bayi mungil itu juga tertidur.


Sedikit kesal, tapi Kei memaklumi. Suaminya pasti lelah mengurus perusahaan yang bukan hanya satu, ada puluhan anak cabang perusahaan yang juga harus diawasi.


Kei turun dan beralih memutari ranjang, ia menaruh bantal disamping baby Kio agar tidak terjatuh. Meski anaknya belum bisa berpindah, tapi ia hanya berjaga.


Sejenak memandangi wajah suami dan anaknya, perasaan Kei merasa damai. Dalam hati terus mengucap syukur untuk anugrah terindah dengan kehadiran mereka dalam hidupnya.


Semoga saja tetap seperti ini dengan kebahagiaan yang mengelilingi. Dijauhkan dari kerikil-kerikil yang akan menghalangi jalannya.

__ADS_1


Setelah puas memandangi wajah mereka, Kei memutuskan untuk turun kebawah. Meski ada rasa malas tapi ia tidak boleh kalah dengan Ita. Ia bertekad akan melawan dan tidak lagi menjadi wanita lemah yang mudah ditindas. Baby Kio menjadi sumber kekuatan untuk menghadapi rintangan.


Dia akan menjadi wanita kuat demi anaknya yang begitu berharga.


Sampai dibawah ia menuju kedapur, disana ada dua pelayan lainnya. "Nona muda." sapanya dengan menunduk sebentar.


"Iya Mbak, aku hanya ingin membuat jus jeruk sepertinya segar diminum cuaca panas begini." sebenarnya Kei selalu ramah dengan pelayan yang ada dirumah itu. Hanya dengan Ita saja ia tidak menyukai perempuan itu karna munafik.


"Nona, biar kami buatkan. Nona tunggu saja." salah satu pelayan itu menawarkan jasa.


Kei tersenyum, "Terima kasih ya, Mbak. Tolong buatnya jangan manis-manis, saya tidak begitu suka."


"Baik, Nona." Jawab pelayan itu dan mulai membuat jus jeruk keinginan Nona mereka.


Kei berjalan menuju ke halaman belakang, ia sangat suka berada disana.


Disana sangat sejuk dengan pemandangan kolam renang yang luas. Kei sangat suka duduk ditepian kolam. Dia memang tidak bisa berenang tapi dirinya selalu aman berada dipinggiran kolam hanya dengan duduk dipinggiran tidak akan membuatnya tenggelam.


Keadaan dibelakang memang selalu sepi, dibelakang pun tidak ada pengawal yang berjaga.


Tiba-tiba saja ada yang mendorong tubuhnya hingga ia terjatuh dalam kolam.


Kei yang tidak bisa berenang tentu panik, menggapai-gapai apapun yang bisa dijangkau tapi tak bisa.


"To to long..." Kei berteriak meski suaranya tidak bisa keras tapi ia berusaha.


Didalam kamar baby Kio yang tadinya terlelap tiba-tiba saja menangis kencang hingga membuat Ken terpaksa bangun.


Ia melihat kesana kemari tapi tidak menemukan Kei, ia langsung menggendong baby Kio. Membawanya keluar dari kamar, terlalu lama jika menggunakan lift akhirnya menapaki anak tangga satu persatu. Baby Kio terus saja menangis.


Sampai dibawah Ken mendengar keributan dihalaman belakang. Ia segera menuju kesana.


Kedua matanya melotot dengan sempurna, meski ia terkejut untung saja kesadarannya masih ada. Ia tak membuang baby Kio ketanah, tetapi memberikan pada pelayan dan segera menceburkan diri kedalam kolam renang.


Meraih tubuh Kei dan membawanya ke pinggiran. Kei masih sadar, hanya tubuhnya yang begitu lemas. Ia terbatuk-batuk.


"Honey..." Ken mendekap tubuh Kei dengan erat. "Kau tidak apa-apa? bagaimana bisa kau terjatuh kedalam kolam? kau tidak bisa berenang, kalau tenggelam... oh... aku tidak bisa membayangkan itu terjadi." Ken menciumi Kei dengan perasaan. Tentu saja sangat takut saat melihat Kei hampir tenggelam dan hanya terlihat tangan yang melambai.

__ADS_1


Kei sendiri belum mampu menjawab, jantungnya berdebar kencang. Ia sendiri masih takut karna hampir celaka.


Mengatur nafas yang masih tersengal-sengal, memeluk tubuh suaminya dengan erat.


__ADS_2