Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Kebenaran Terungkap


__ADS_3

Seseorang menyembunyikan sebuah ratapan dari rasa jenuh. Tak bisa bergerak bebas, tak bisa berekspresi sesuka hati, hidup dengan kewaspadaan demi buah hati. Menjerit pun tak berdaya tak merubah keadaan, semakin menjerit maka semakin terasa ingin berontak. Kini hanya kesabaran yang dibutuhkan. Kehamilan trisemester ketiga lebih rumit dibanding trisemester pertama. Diawal kehamilan ia bisa melakukan apapun yang ia mau, termasuk meminta sesuatu diatas nalar. Tapi, diumur kehamilan yang mendekati masa jihat ia malah terkungkung dalam ruang petak yang amat membosankan.


Pagi sekali tuan Ken sudah pergi, bahkan kedua mata sang istri belum terbuka, tapi lelaki over itu telah lenyap dalam dinginnya pagi. Bola mata Kei menari-nari mencari sosok suami yang mampu memberi rasa nyaman.


Sang fajar masih bersembunyi diperaduannya, tapi suami siaga itu sudah menghilang. 'Kemana dia?'


Pintu ruangan terbuka, baru manik mata Kei mendapati tuan Ken muncul dibalik pintu. "Sayang, kau dari mana?" Kei langsung bertanya.


"Aku hanya jalan-jalan sebentar." kedua mata fokus menatap ranjang persegi panjang dengan tubuh Kei yang terbaring disana, tuan Ken berjalan mendekat. Memakai Jaket hitam dengan bagian lengan terdapat garis putih membuat tuan Ken semakin muda dan tampan, Kei mengagumi itu dan tersenyum.


"Bangun tidur kau senyum-senyum begitu? ada apa?" tuan Ken menyadari kecerahan diwajah sang istri. Bisa melihat senyum dibibir Kei membuat hatinya senang, ia tak terlalu merasa bersalah telah menjerat Kei dengan keadaan tak berdaya.


"Aku tersenyum mengagumi ketampanan suamiku," garis bibir semakin melebar dengan senyum yang semakin mengembang.


Sudut bibir tuan Ken ikut mengembang dengan sempurna, dipagi buta sudah mendengar kalimat pujian dari Kei. Tak mampu menutupi kebahagiaan yang dirasa, semburat kemerahan timbul. Untuk ukuran seorang lelaki, wajah tuan Ken memiliki kulit putih mulus seperti wanita, maka semburat kemerahan juga bisa terlihat.


"Pagi-pagi sudah mengatakan kata gombal? aku bisa menebak sesuatu," kata tuan Ken.


Kei langsung tertawa, "Menebak apa?"


"Pasti ada sesuatu yang kau inginkan?" meneliti wajah Kei.


"Heum, kau benar, sayang. Aku memang ingin meminta sesuatu." kata Kei.


"Dari wajahmu bisa ketebak. Kau meminta apa? jangan meminta sesuatu yang menyulitkan aku dan dirimu sendiri." belum-belum sudah mengatakan itu. Membuat Kei cemberut.

__ADS_1


"Hist... aku hanya ingin duduk ditaman." Kei memberitahukan permintaannya. Beberapa hari ia tidak bisa duduk disana, cuaca yang tak bersahabat karna awan mendung menjatuhkan rintik hujan. Beberapa hari pula terkurung dalam ruang petak, hanya mampu memandang indahnya bunga dari balik jendela.


"Jika hari ini cerah, aku akan membawamu ke taman. Tapi kalau hujan lagi, terpaksa kita berdiam diri."


Jawaban tuan Ken tak membuat kelegaan dihati Kei. Ternyata permintaan itu harus digantung dengan cuaca. Hanya berdo'a, semoga hari ini matahari bersinar cerah.


Tuan Ken membantu Kei untuk kekamar mandi, dengan kesabaran dan ketelatenan merawat istri tercinta. Sekalipun belum terdengar keluhan dari bibirnya. Namun, entah didalam hati hanya dia sendiri yang tau.


Setelah Kei selesai dengan kegiatan didalam kamar mandi, ia segera meraih tubuh Kei untuk digendong menuju keranjang.


Rasa syukur yang tak bisa diucapkan, hanya mampu mengatakan dalam hati. Betapa beruntungnya memiliki suami seperti tuan Ken, meski diawal harus menyesuaikan diri dengan segala sikap over, kini Kei sudah hapal dan membiasakan diri untuk mengimbangi.


Sepertinya hari ini cuaca mengajak untuk bersahabat. Atau, mungkin Tuhan mendengar do'anya. Sang fajar mulai menyongsong dari ufuk timur, menampakan warna yang cerah, secerah senyum Keihana Kazumi. Ia tak sabar ingin menghirup udara segar.


Tuan Ken menggelengkan kepala, disana sudah ada perawat yang menyiapkan kursi roda, dokter sebentar lagi juga ikut mengawal.


Ketika melewati ruangan Melati ia teringat dengan orang masa lalunya. Kei melirik ruangan yang tertutup rapat, mungkin saja anaknya Mira sudah sembuh, mereka tak terlihat ada disana. Kei tak memusingkan itu.


Sampai ditaman rumah sakit tak banyak hal yang dilakukan, wanita dengan perut membuncit itu hanya duduk dikursi roda.


Sesekali tuan Ken memapah tubuh Kei, mengajaknya berjalan pelan, merenggangkan otot-otot yang mungkin mulai mengencang. Kei sangat rileks melakukan itu.


Hanya sekitar satu jam setengah menghirup udara segar, kini ia harus rela masuk kedalam lagi.


Sekretaris Lee baru datang, melihat tuan mudanya berada ditaman ia segera menghampiri. Memberikan beberapa berkas yang harus dibubuhi tanda tangan oleh Master Bisnis itu.

__ADS_1


Sedikit lama karna mereka membicarakan urusan kantor, membuat waktu Kei bertambah untuk menikmati hangatnya matahari pagi.


Selesai dengan urusan, sekretaris Lee kembali parkiran mobil dan pergi meninggalkan rumah sakit, mungkin akan kembali kekantor.


Tuan Ken mengajak Kei untuk masuk. Ketika sampai diruangan tadi, kejadian beberapa waktu lalu terulang lagi.


Suara Izham menggelegar didalam ruangan Melati. Suara yang terdengar penuh amarah, pertengkaran mereka sampai terdengar dari luar, ruangan itu juga tidak tertutup sempurna.


Kei dan tuan Ken bisa mendengar suara seorang lelaki yang menangis, seperti suara Izham, suara yang terdengar memilukan.


Suara tangis Mira dan Ibu Esih juga bersahutan.


"Izham..." suara Ibu Esih memanggil anaknya yang sedang duduk dilantai, dengan wajah menunduk dan terlihat sangat kacau. Rambut yang selalu tersisir rapi itu terlihat sangat berantakan.


Kei dan tuan Ken bisa melihat dari pintu yang terbuka, bukan hanya Kei yang penasaran dengan kejadian yang menimpa mantan suaminya, tuan Ken juga merasa penasaran karna keadaan Izham terlihat memprihatinkan.


"Diam Bu, aku tidak ingin mendengar apapun. Hidupku tidak berguna, aku seperti lelaki sampah!" Izham menangis disamping ranjang, diatas ranjang itu terbaring anak balita yang juga menangis ketakutan, Mira mendekap putri kecilnya. Ia tak bisa menenangkan laki-laki yang berstatus suami.


Ibu Esih berada tak jauh dari posisi Izham terduduk, dia ingin menenangkan lelaki itu.


"A-apa ini Bu, lagi-lagi kebenaran yang menyakitkan. Ternyata aku yang tidak sempurna sebagai laki-laki, aku tak bisa memiliki keturunan. Aku mandul! Izham ingin mati saja Bu, Izham nggak sanggup menerima kenyataan ini!" Izham berteriak dan memukuli kepalanya sendiri, Ibu Esih yang menangis tersedu-sedu merengkuh tubuh putranya dan mencegah tangan Izham agar tak melukai dirinya sendiri.


Diluar, Kei meremas ujung baju yang dipakai. Melihat dan mendengar kenyataan itu hatinya ikut teriris, bukan perasaan salah, melainkan perasaan iba dan kasihan.


Dulu ia pernah berada dalam posisi seperti itu, diklaim sebagai wanita mandul. Dia tau seperti apa rasa sakitnya. Izham mengetahui kenyataan itu masih ada yang mendukung, sedangkan dia, hanya ada hinaan dan cacian, bahkan didesa tempat tinggal yang dulu semua orang mengetahui aib itu.

__ADS_1


Sekarang semua kebenaran sudah terungkap, Tuhan maha Adil untuk segala kejadian.


__ADS_2