
Ken, Kei dan Kyu tengah menikmati makan malam. Satu kursi yang biasa di duduki oma Lyra terlihat kosong. Oma Lyra masih belum pulih, tubuhnya belum kuat untuk duduk dengan waktu lama. Meski demikian, Kei dengan telaten mengurus, menyuapi dan meracik obat yang harus di minum mertuanya.
Semarah apapun dengan oma Lyra, Kei tidak bisa abai begitu saja dengan keadaan ibu mertuanya. Kebaikan oma Lyra jauh lebih banyak untuk dipertimbangkan dari sekedar kesalahan besar yang dilakukan.
"Apa mami sudah makan dengan benar, sayang?" tanya Ken. Dia yang baru pulang dari menghadiri pertemuan rekan bisnis, belum sempat pergi ke kamar maminya.
"Sudah. Aku yang suapi mami. Mami makan lumayan banyak," jawab Kei.
"Dad, kak Io belum menghubungi Dad? Kyu kirim pesan juga belum dibuka," kata Kyu.
"Dad belum sempat. Nanti Dad telepon."
Beberapa saat Ken terdiam, ponselnya berdering. Dia membaca nama Akio yang menghubungi dengan panggilan video call.
"Baru saja dibicarakan, tapi dia sudah menghubungi."
"Siapa, Dad?"
"Io."
Ken menggeser warna hijau, dan berikutnya bisa melihat wajah juga tempat Akio berada.
"Dad ...."
"Io, ada apa?" Ken langsung tahu keadaan Akio secara langsung. Wajah putranya memerah, mata dan hidungnya juga memerah. Akio sedang menangis. Ken yang terkaget melihatnya reflek berdiri.
"Kamu seorang pria, kenapa kamu menangis? Katakan! ada apa?!" Ken mendadak panik melihat Akio seperti itu. Kei dan Kyu kalang kabut merapatkan diri dengan Ken. Ingin tahu yang sebenarnya terjadi.
"Aku sudah menemukan istriku. Aku menemukan Naya."
Ken, Kei dan Kyu serempak terkejut. Kei yang lega bercampur bahagia sampai berkaca-kaca dengan mengucap puji syukur.
"Akhirnya kamu menemukan Naya. Mom ikut senang, Io. Mom ikut bahagia," ucap Kei.
"Naya sudah melahirkan, Mom. Sekarang Io sudah menjadi seorang ayah. Putraku sangat tampan dan sehat." Akio memperlihatkan senyum namun senyum itu terbalut air mata. Beberapa kali Akio menghapusnya.
__ADS_1
"Anakmu sudah lahir? Cucuku sudah lahir? Ya Allah, terima kasih. Terima kasih untuk anugerah dari-Mu." Tak henti Kei mengucap syukur.
"Kita punya cucu, sayang? Aku akan dipanggil opa, dan kamu di panggil oma. Keluarga kita bertambah anggota baru," ucap Ken menyahut.
"Iya."
"Kakak, Kyu pengen lihat keponakanku. Di mana bayi kakak?" Kyu ikut andil bersuara. Tapi dia justru antusias ingin melihat makhluk kecil, yang tak lain adalah keponakan barunya.
"Dia ada di ruang bayi."
"Tapi Io, bagaimana kamu bisa menemukan Naya di sana?" tanya Ken.
"Zee yang memberitahuku. Ternyata selama ini Naya tinggal bersama Zee."
Pengakuan Akio membuat Ken dan Kei kaget.
"Naya tinggal bersama Zee? Bagaimana bisa?" sahut Kei.
"Io belum tahu cerita detailnya. Tapi, Io juga ingin mengatakan kabar buruk, Mom." Akio kembali bersedih.
Ibu hamil punya resiko besar ketika berjuang untuk melahirkan. Bisa saja nyawa yang harus di taruhkan. Namun, tak sedikit jua yang berhasil melahirkan dengan selamat.
"Kondisi Naya sekarang sedang kritis."
"Astagfirullah hallazhim ...," ucap Kei.
"Hah, Kak Naya kritis?" Kyu ikut terkejut.
"Ya Allah, sabar, sayang. Kamu masih di suruh untuk bersabar." Mendengar kabar itu, Kei merasa iba, putranya pasti sangat sedih.
"Secepatnya Dad akan menyusul ke sana," ucap Ken.
"Aku ikut." Kei menyahut cepat.
*
__ADS_1
Keesokan harinya, Ken dan Kei sudah bersiap untuk menyusul Akio ke negara xxx. Kei yang dari dulu mabuk perjalanan, tetap kukuh ingin ikut ke sana. Sebagai seorang ibu, dia sangat mengkhawatirkan Akio.
Lee dicegah ketika ingin ikut, Ken menyerahkan urusan kantor untuk di urus Lee. Agar semua jadwal tidak kacau.
Atas perintah Ken juga, Lee dan Dewi di minta untuk tinggal sementara waktu di rumah Ken. Selain untuk menemani Kyu, Ken menitipkan oma Lyra kepada Lee. Ken hanya percaya kepada Lee, karena Lee juga anak angkat oma.
"Aku nggak sabar lihat cucu pertama kita, tapi kalau inget kondisi Naya, aku kepikiran Io. Padahal dia baru mulai lupa dengan kesedihannya. Tapi mengetahui Naya seperti itu, pasti bertambah sedih."
"Kita berdoa yang terbaik. Semoga lekas pulih. Tapi kamu dulu juga sempat kritis waktu melahirkan Io dan Kyu, beruntungnya Tuhan masih memberiku kesempatan hidup bersamamu lagi. Semoga Tuhan juga memberi kesempatan kepada Naya untuk kembali dengan Io," doa Ken.
"Aamin ... semoga saja."
*
Ken dan Kei sudah sampai di negara xxx. Akio tidak ingin beranjak sedikit pun dari samping Naya, dan dia meminta tolong kepada Faskieh juga Zee untuk menjemput ke dua orang tuanya di bandara. Beruntung Zee maupun Faskieh sedang libur kuliah, hingga keduanya dengan senang hati menjemput Ken juga Kei.
Selepas kepergian Faskieh dan Zee, Akio kembali masuk ke ruang rawat Naya. Rasa takut setiap detik menghantui, membuatnya tak ingin meninggalkan Naya untuk sebentar saja.
Menatapi wajah Naya yang tenang dalam tidur panjangnya sudah membuat Akio bahagia. Betapa selama tiga bulan dia sangat merindukan istrinya itu. Meski pucat dan kurus, namun bagi Akio, Naya tetap paling cantik di hatinya.
"Aku sampai belum sempat menggendong putra kita. Kamu juga belum, kan? Ayo, bangunlah, Nay. Nanti kita sama-sama gendong dia. Kamu tahu? Kata perawat anak kita paling rewel, itu karena dia mencari ibunya. Mungkin putra kita ingin di dekapmu, Nay. Kasihan dia, bayi yang lain setiap saat dapat merasakan kehangatan seorang ibu, tapi dia ... dia sama sekali belum merasakan itu. Di mana rasa kasihan mu, ayo, bangun lah. Bangun demi putra kita, Nay. Kamu harus menyusuinya. Kamu juga harus memberi dia nama. Aku tidak punya nama yang bagus untuk putra kita."
Akio menunduk. Menjatuhkan wajahnya di bahu Naya. "Aku lelah. Aku lelah bicara tapi tidak pernah kamu jawab."
Satu jam berikutnya. Ken dan Kei sudah menyusuri lorong bersama Zee dan Faskieh. Zee menyuruh perawat untuk memanggil Akio keluar karena orang tuanya sudah datang.
Tak lama, pintu terbuka dan menampilkan Akio dengan wajah sembabnya."Mom, Dad?" Akio langsung memeluk keduanya.
"Sabar, sayang. Sabar," ucap Kei. Meski dia mengatakan untuk bersabar, tetapi dia sendiri pun tak kuasa membendung air mata. Mungkin sangat prihatin dengan Akio.
"Kuatkan dirimu, Io. Pihak rumah sakit pasti berusaha semaksimal mungkin menolong Naya. Istrimu pasti segera sadar," ucap Ken.
"Aku sangat berharap Naya segera sadar. Tapi melihat kondisinya, aku tidak tega."
Dia menyembunyikan kesedihan, Zee memilih masuk ke ruangan Naya dari pada harus mendengar pembicaraan Akio dengan keluarganya.
__ADS_1
Perlahan dia mendekati Naya. "Lihat, Nay. Betapa kak Io sangat mencintaimu." .