
Kening Lee mengkerut saat melihat tuan mudanya begitu lahap menyantap menu seblak ceker pedas.
Kei semakin bersemangat untuk memberi dukungan. "Enak 'kan? apa aku bilang, rasanya itu gurih-guruh enyoi." ucap Kei.
"Lee, cobalah." perintah Ken.
Lee yang tadinya ragu kini dibuat penasaran untuk mencobanya.
Saat kuah itu sudah masuk kedalam mulut, reaksinya seperti tuan Ken tadi. Ia melebarkan mata karna terkejut. "Lumayan," ucapnya.
Ia mulai menyendok lagi dan lagi, hingga kedua pria dewasa itu seolah berebut makan.
"Hei, jangan dihabiskan Lee." Ken memperingati.
"Rasanya mantap Tuan," Lee menyengir. Mulutnya sebentar-sebentar terbuka karna kepedasan. Tuan Ken pun sama, bahkan matanya memerah. Tapi karna rasa gurihnya seblak ceker pedas mengalahkan rasa pedas sampai tidak berhenti makan sebelum mangkuk itu kosong.
Kini tinggal cekernya yang masih utuh. Keduanya saling menyorong kekanan dan ke kiri. Melihat bentuk ceker itu membuatnya bergidik.
"Kenapa setelah habis baru terasa pedas," ucap Ken dengan mata yang berair. Satu gelas air putih sudah ludes tapi rasa pedas masih mendominasi. Mulutnya terasa terbakar.
"Lee, pedas sekali." Lee berbicara pada Lee.
"Iya Tuan, saya juga kepedasan."
"Memang tadi pesannya minta level berapa?" tanya Kei.
"Sepertinya level atas, Nona." jawab Lee.
Kei terkejut, level atas itu biasanya paling pedas. 'Pantas saja mereka kepedasan' batin Kei.
"Tuan Muda, seblaknya sudah habis. Boleh kan saya pulang. Sepertinya perut saya sedikit tidak enak," kata Lee dengan meringis.
"Auh... terserah kau Lee. Perutku juga bermasalah." Ken sudah beranjak dan pergi kekamar mandi.
"Permisi, Nona." Lee setengah berlari meninggalkan kamar itu.
Sedangkan Kei tertawa terbahak-bahak menyaksikan keduanya yang kalang kabut karna sakit perut.
"Mom," Kio memanggil.
"Iya Sayang," jawab Kei. Kio menghampiri Kei dan meminta duduk di pangkuannya.
"Kapan hari ulang tahun Io?" tanya Kio. Seolah bocah itu sudah tidak sabar ingin merayakan hari kelahirannya.
"Besok. Memang kenapa? Io mau minta kado apa dari Mom? Adik bayi?" Kei juga bertanya. Setelah mendengar dugaan dari mami Lyra, Kei berpikir ada benarnya juga bahwa mungkin dirinya sedang hamil karna semakin hari ia pun menyadari semakin merasakan keanehan pada tubuhnya juga sikapnya yang berubah drastis.
"Io tidak mau punya adik. Perut Mommy tidak boleh besar seperti mamanya Ze." Kio melipat tangan mungilnya didepan dada dengan mulut yang dibuat cemberut.
"Loh memang kenapa Mom tidak boleh hamil? bukannya Io ingin adik seperti Ze?" Kei heran.
"Iya, tapi sekarang Io udah nggak mau adik. Pokoknya Io nggak mau!" Kio semakin cemberut.
"Iya iya Sayang, Mommy tidak hamil kok. Lihat, perut Mom tidak besar. Kalau Mom boleh tau, memang kenapa io nggak mau punya adik?" dengan lembut Kei bertanya alasannya karna yang ia tau, Kio sangat menginginkan dirinya hamil. Lalu dengan cepat kenapa bisa berubah pikiran?
__ADS_1
"Kalau Mom hamil, Mom tidak akan sayang lagi sama Io."
Kei terkejut, dari mana putranya yang masih kecil bisa mendapat pemikiran seperti itu. Pemikiran yang salah.
"Kata siapa kalau Mom hamil, Mom nggak sayang lagi dengan Io? dengar ya Nak, meski Mom hamil lagi Mom tetep sayang sama Io. Io masih tetep jadi kebanggaan Mom. Tidak boleh berpikir seperti itu lagi. Punya adik itu menyenangkan, Io bisa bermain bersama sama adik bayi." Kei memberi pengertian agar putranya tak lagi takut jika kasih sayangnya terbagi.
Pintu kamar mandi terbuka, Ken muncul dengan raut keputusasaan. Ia berjalan pelan, di mulutnya masih meringis.
"Honey, perutku sakit." ia mengucapkan dengan nada lemah.
"Dad kenapa?" tanya Kio. Bocah itu khawatir melihat Ken meringis kesakitan.
"Perut Dad sakit," baru saja ia ingin duduk disofa, tapi perutnya kembali tidak beres. Ia kembali menuju kekamar mandi. Dan seperti itu hingga berkali-kali.
Lama kelamaan Kei merasa kasihan, ia menghubungi pihak rumah sakit untuk mengirim satu dokter dan menangani suaminya.
Sakit perut yang melanda membuat Ken tak berdaya, keringat dingin membanjiri sekitar dahi. Tuan muda itu telah berbaring diatas bed, perutnya sedikit membaik setelah dokter memberikan obat diare.
Begitu panik dengan kondisi Ken, keduanya tak ada yang kepikiran untuk sekalian memeriksa Kei dan memastikan apakah ibu muda itu benar hamil atau tidak. Semua ketutup dengan kepanikan.
"Besok ulang tahun Io, tapi Dad malah sakit," Io bersedih. Ia duduk ditengah ranjang dengan merebahkan kepala diatas ada Ken.
"Dad sudah diperiksa sama dokter, besok pasti sembuh dan bisa merayakan pesta ulang tahunmu." Ken mengelus pucuk kepala Kio.
"Sayang, maafin aku. Ini gara-gara permintaanku, kau jadi sakit." Kei ikutan bersedih.
"Hei... kenapa semua bersedih? aku baik-baik saja, nanti juga sembuh." jawab Ken ingin menenangkan.
Dengan perut besarnya Dewi mengambilkan obat pereda diare. Setelah meminum obat, Lee bersandar disofa dengan keadaan sangat lemah.
"Papa sakit? kalau sakit, Ze bisa jadi dokter." kata Alzena.
"Iya Sayang." Lee menjawab dengan lemas.
Dewi duduk disofa seberang. Ia cemberut menatap suaminya. "Memangnya abis makan apa sih, kenapa bisa sampai diare?" ucapnya ketus. Ya seperti itulah sikap Dewi, cuek, acuh dan dingin.
"Tadi Nona Kei menyuruhku makan seblak ceker ayam pedas. Saat makan terasa nikmat, tapi setelah itu perutku jadi mules." terang Lee.
__ADS_1
"Memang makan yang level berapa?" lagi-lagi pertanyaan itu sama seperti pertanyaan Kei tadi.
"Sepertinya level atas."
"Pantas saja sakit perut. Level atas itu untuk orang yang penggila rasa pedas. Gitu coba-coba level pedas!" sungut Dewi.
'Begini nih, sudah jatuh tertimpa gempa. Bukannya mendapat perhatian malah mendapat omelan.' dengan tubuh lemas, Lee masih bisa membatin.
"Ma, Papa lagi sakit. Kenapa malah diomeli?" ucap Lee.
"Lalu gimana? oh, Mama panggilan dokter saja." usulnya.
"Papa tidak butuh dokter lain. Papa butuh Mama jadi dokter buat obatin Papa."
"La itu udah Mama ambilkan obat 'kan?"
"Bukan itu, Papa kangen pengen dielus-elus."
"Ih, Papa... malu ada Ze."
"Ze lagi mainan sendiri, nggak pa-pa."
Dewi tampak berpikir. Semenjak hamil entah kenapa ia tidak suka berada disamping suaminya. Ia tidak menyukai aroma tubuh Lee bahkan jika dipaksa mendekat maka ia merasa mual.
Dewi beranjak menuju nakas, ia mengambil sesuatu dan setelah berbalik badan, ternyata ia menggunakan masker penutup hidung.
Setelah itu ia baru berani duduk disamping suaminya.
__ADS_1
'Ya Tuhan, apa harus seperti ini? bahkan ia harus menggunakan masker untuk mendekatiku. Kapan ujian ini berakhir. Ternyata benar ucapan tuan Ken, kalau bisa ibu hamil hanya satu hari saja lalu melahirkan. Kalau ada aksi ngidam aneh, para suami yang akan menanggung kesengsaraan.' Lee semakin melemas