
Menghadiri rapat penting diluar daerah sangat menguras tenaga. Ken dan Lee sudah dalam perjalanan pulang.
"Jangan lupa makanan pesanan Kei tadi. Jika aku tidak membawanya dia mengancam akan pergi menginap ke Apartemen mu." Ken memperingatkan. Ia memejamkan mata seolah dirinya benar-benar kehabisan tenaga.
"Iya Tuan Muda, Saya sudah mencari di aplikasi xxx tentang makanan itu. Dan Saya sudah tau tempatnya." sebenarnya Lee lebih lelah dari Ken. Tapi profesinya sebagai sekretaris tidak boleh lemah. Apapun yang diperintahkan ia harus melakukan.
"Hem... terserah kau saja Lee. Aku ingin istirahat sebentar sebelum Singa ku mengamuk." ucap Ken tak bersemangat.
Lee menyengir. "Dulu aja disebut Sweety, My Wife, Honey en they. Sekarang dipanggil Singa ngamuk." Lee cekikikan sendiri dikursi depan.
"Lee, kau akan ku kenakan pasal berlapis-lapis berani menertawai ku begitu!" sahut Ken dingin.
Mulut Lee terbungkam seketika. Dalil pasal berlapis sudah dikeluarkan maka akan tamat riwayatnya.
Tak lagi mengganggu, Lee fokus menyetir mobil. Ia mengaktifkan layanan petunjuk jalan menuju Restauran atau Cafe atau apalah untuk membeli makanan bernama seblak yang ia sendiri tidak tau. Saat ini hanya mengikuti petunjuk arah di ponselnya.
Begitu dekat dengan lokasi yang ditunjukan lewat ponsel Lee melihat kearah pinggiran jalan, ditoko yang tidak terlalu besar ada sebuah gerobak dengan bertuliskan seblak ceker pedas.
Kedua alisnya menyatu, ia bingung kenapa berhenti ditempat seperti itu? Ia kira makanan seblak pesanan nona mudanya ada di Restauran. Tapi tempat penjual itu berada dipinggir jalan.
Kepala Lee menoleh ke kursi penumpang. Tuan Ken masih terlelap dengan damai. Pilihan yang cukup sulit. Jika membangunkan tuan mudanya ia harus siap mendapat kemarahan. Tapi ia juga bingung harus membeli makanan itu atau tidak.
Lee tau tuan Ken tidak suka makanan yang dijual bebas dipinggir jalan. Makanan yang menurutnya kurang higienis. Lee sedikit kebingungan untuk mengambil keputusan, haruskah ia membeli atau tidak.
Melirik kesana kemari seolah berpikir dengan serius dan akhirnya ia memutuskan untuk membeli makanan aneh itu.
Lee turun dari mobil dan mendekati penjual itu. Sampai disana tercetak jelas kekesalannya. Setelah memesan 1porsi ia harus berdiri dipinggiran toko karna didalam sana sudah penuh dengan orang-orang penikmat seblak pedas.
Lee melirik kedalam, ia keheranan dengan orang-orang didalam yang sedang menikmati makanan itu seperti orang kelaparan. Ia bergidik sendiri melihat mangkok beling berisi bahan makanan yang tidak jelas dengan kuah berwarna orange kemerahan. Entah seperti apa rasanya. Seumurnya ia tak pernah tau menu makanan itu bahkan tidak mau tau. Tapi hari ini terpaksa tau karna itu permintaan nona Kei.
Berdiri dipinggir gerobak dengan tampang kebingungan dan didominasi kekesalan membuatnya seperti orang bodoh. Berkali-kali ia mengumpat kesal, mengutuk penjual seblak yang menciptakan menu makanan aneh dan juga tidak menyediakan ia tempat duduk. Benar-benar sial.
Ken yang puas tertidur kini mulai membuka mata. Ia juga kebingungan, kenapa mobil itu berhenti. Mengamati sekitar tapi ia tak tau berada dimana. Melongok dikursi kemudi tapi Lee tidak ada disana. Kemana dia?
Mengedarkan pandangan diluar mobil dan terkejut melihat Lee berdiri dipinggiran toko.
"Kenapa Lee berdiri disana seperti orang bodoh?" Ken berbicara sendiri tapi sudut bibirnya tersenyum lebar. Ia mengambil ponsel dan... tak lama ia tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Sedang ditempat Lee berdiri ia sibuk mengambil ponsel yang disimpan disaku jas. Ponsel itu berdering singkat menandakan ada pesan masuk, harus segera dicek siapa tau itu pesan penting.
Saat menatap layar ponsel kedua mata itu melotot sempurna. Sesaat kemudian ia terlihat kesal setelah melihat dirinya difoto dari dalam mobil oleh tuan Ken jangan tanyakan dengan berbagai pose yang membuat orang normal akan tertawa terbahak-bahak.
Dipesan itu tertulis. Fotomu akan aku simpan sebagai kenang-kenangan Lee. Dengan emoticon tertawa terbahak-bahak.
"Sial, bisa-bisanya tuan muda melakukan ini. Padahal harusnya dia yang berada diposisi ini tapi aku harus menggantikannya. Sudah dibantu bukannya mendapat pujian atau ucapan terima kasih seenaknya dia mengerjai ku. Jika kau bukan Bos ku, sudah aku pastikan akan ku pukul kau dengan sapu!" Lee berbicara sendiri. Ia terlihat sangat kesal.
"Pak, ganteng-ganteng kok ngomong sendiri?" suara penjual seblak menambah kekesalan. Lee menatap tajam seolah akan memangsa hidup-hidup.
Penjual seblak itu ketakutan dengan ragu-ragu menyodorkan plastik berwarna putih pada Lee.
Lee menerima dan memberikan uang nominal seratus ribuan. Setelah itu pergi begitu saja.
"Pak pak, kembaliannya." penjual seblak setengah berteriak.
Lee terhenti. Kembalian? bukankah ia memberikan uang seratus ribu kenapa masih ada kembalian? lalu berapa harganya?
Penjual itu memberikan selembar lima puluhan dengan uang kertas lain dan ada juga nominal uang koin. Lee terbengong, baru ini ia mendapat kembalian uang receh. Apa-apaan ini.
Selesai dengan penjual seblak, Lee kembali masuk kedalam mobil. Kantong plastik berisi seblak dibiarkan teronggok didasbor mobil. Ia tidak menyapa tuan Ken dan langsung menghidupkan mesin mobil.
"Lee, kau kenapa berdiri emperan toko dengan wajah bodoh begitu?" Ken sengaja menggoda dan senang melihat Lee kesal.
"Tidak pa-pa Tuan. Saya ingin merasakan menjadi rakyat biasa." ucapnya acuh.
"Kau pikir selama ini luar biasa?"
"Mungkin,"
"Hei... berani sekali kau mengacuhkan aku begini!" Ken yang berencana mengerjai Lee tapi ia sendiri yang tidak bisa menahan kekesalan.
Ingin melanjutkan kemarahannya tapi terdengar suara ponsel yang berdering. Tertera nama Kei disana.
Ken segera menjawab, berbincang-bincang sebentar lalu mematikan sambungan telpon.
"Lee, Kei menanyakan makanan pesanannya tadi. Apa kau sudah menemukannya?"
__ADS_1
"Apa anda tadi tidak tau kalau Saya berdiri diemperan toko karna membeli makanan itu?" jawab Lee.
"Apa maksudmu? jadi makanan pesanan Kei dijual dipinggiran jalan dan ditoko kecil tadi?" ucap Ken tak percaya.
"Benar, Tuan,"
"Oh.. tidak Lee. Aku tidak akan membiarkan istriku memakan makanan aneh itu. Aku tau pasti itu tidak higienis."
"Saya pikir juga begitu, tapi nona Kei yang meminta jadi Saya belikan. Jika nona benar hamil, maka apapun itu harus dituruti."
Dikursi belakang Ken terdiam. Berpikir memang benar, jika ngidam ibu hamil harus dituruti. Tapi ia paling tidak suka makanan yang dijual dipinggir jalan.
"Coba bawa sini aku ingin lihat," perintah Ken. Dengan tangan sebelah Lee mengambil plastik berisi seblak dan memberikan pada Ken.
Ken menerima dan membukanya, ketika dibuka aroma khas seblak tercium begitu kuat segera ia menutup hidung dan melempar dikursi sampingnya.
"Augh.. Lee. Itu makanan apa? kenapa baunya aneh dan bentuknya tidak lazim."
'Huh... lama-lama perkataan anda tidak lazim tuan' batin Lee kesal.
"Apakah makanan ini layak dimakan?" tanya Ken.
"Saya juga tidak tau Tuan,"
Melihat warna makanan itu membuat Ken bergidik. Bagaimana istrinya meminta makanan seperti itu. Ini tidak bisa dibiarkan.
.
.
.
.
.
Mohon maaf, ini hanya cerita tidak ada maksut menyinggung atau merendahkan suatu menu makanan. Lanjut dipart berikutnya, tuan muda itu dibuat terbengong dengan rasa seblak.
__ADS_1
Pecinta seblak ceker pedas.