
Sesuai perjanjian, di jam makan siang Naya menemui Dina di sebuah cafe tak jauh dari kantor tempat Dina bekerja.
"Oh ... Nay, akhirnya kita bisa ketemu. Aku kangen banget sama kamu." Keduanya berpelukan untuk melepas rindu. Sejak acara wisuda, juga pada saat Naya diketahui hamil, Dina tak lagi mengetahui kabar temannya itu.
"Aku juga kangen kamu, Din." Naya membalas pelukan temannya dengan suka cita, pasalnya selama kuliah dia hanya dekat dengan Dina. Selain Dina, dia tidak begitu akrab.
Usai melepas rindu, keduanya duduk dan memesan makanan.
"Perutmu besar, tapi badanmu kurusan, Nay. Lucu tau," ujar Dina dengan melihati Naya dari atas sampai sebatas perut, karena bagian perut ke bawah tertutup meja.
"Masa aku kurusan? Perasaan ya segini aja." Naya mencoba cuek, meski dia sendiri mengakui kalau dia memang lebih kurus.
"Eh, astaga ... aku sampai lupa buat tanya suamimu. Mana dia? Apa laki-laki yang datang bareng kamu itu? Tapi kok dewasa banget? Dia juga milih duduk di sana, kenapa nggak bareng kamu di sini?" cerocos Dina.
Naya melihat yang ditunjuk Dina, ternyata mengarah pada Jupri, supir yang mengantarnya tadi. Dia memang menyuruhnya untuk masuk, juga memesan makan siang.
"Bukan. Itu supir yang antar aku," jawab Naya.
"Hah? Pakai supir segala ... keren! Kamu nikah sama sultan mana pakek diantar supir segala."
Naya memutar bola mata ke atas, ucapan Dina tidak penting.
Obrolan mereka terjeda saat waiters mengantar pesanan.
"Din, kamu tahu Zee ... em ... Zee pergi kemana?"
"Gila! Ada aja kamu nanyain si ratu judes end forevernya Akio sama aku. Mana ku tahu, Nay."
Naya menelan ludah bulat-bulat 'forevernya Akio'? Ah, dia lupa, Dina belum tahu bahwa posisi Zee sedang dia gantikan.
__ADS_1
"Kamu juga tahu kalau Zee pergi keluar negeri? Eh, sempet denger kabar juga kalau dia batal nikah sama handsome Akio. Belum jelas sih gara-gara apa, cuma ... ku kira dia minggat ke luar negeri karena frustasi patah hati kalee, ya? Secara, dia dan Akio udah tunangan terus batal nikah. Duh ... nyeseknya gimana tuh? Sakit dan malu, pastinya." Dina benar-benar tidak menjeda kalimatnya, membuat Naya terhenyak sekaligus tertohok dengan kata-kata itu.
Merasa menjadi perempuan jahat, karena di sini posisinya memang salah. 'Tuhan ... maafkan pendosa sepertiku.'
Andai saat ini dia bisa mengembalikan Akio, sudah pasti akan dia lakukan. Dia akan memendam dan mengikis perasaan, lalu pergi sejauhnya.
"Dan berita lebih heboh lagi dikalangan temen-teman kuliah kita dulu, si pangeran tertampan itu sudah menikah tahu! Huh, apa nggak dobel patah hati tuh si Zee? Nggak kebayang deh! Nggak kebayang. Walau dulu nggak suka sama Zee, tapi denger kemalangan dia kek gini, agak sad juga sih." Dina benar-benar tidak memberikan kesempatan pada Naya untuk berganti bercerita. Seolah apa yang disampaikan adalah berita penting. Merasa dulu, Akio dan Zee adalah best seller di kampus mereka. Hingga berita yang disampaikan seperti keharusan.
"Ibaratnya, dia tuh kek cerita yang lagi viral itu. Jagain jodoh orang aja. Pacaran dari kecil, bahkan udah tunangan, eh ... nikahnya malah sama perempuan lain."
"Kamu tahu banyak cerita tentang mereka?" selidik Naya.
Dina menyengir. "Kamu lama ngilang, jadi nggak tahu juga gosip tentang aku. Aku sekarang pacaran sama Adit, makanya aku tahu. Secara, Adit deket sama Akio dan Zee juga."
"Kamu sama Adit?" tanya Naya ulang.
"Ekhem ... selamat, ya, walau kamu kemakan omongan sendiri. Dulu siapa yang bilang 'Adit?! Play boy gitu?! OGAH! Eh, sekarang ogah pisah malahan," seloroh Naya.
"Nggak usah diinget, Nay. Itu dulu," kilah Dina.
"Eh, tapi nih masih ada satu misteri. Siapa yang nikah sama Akio? Aku udah desak si Adit, tapi katanya dia juga nggak tahu. Bikin penasaran banget. Selama ini yang kita tahu, Akio cuma deket sama Zee. Bahkan nggak pernah ada yang berhasil deketin Akio karena Zee selalu memasang badan. Sumpah, cewek itu bikin penasaran. Tapi agak sadis dan jahat juga, nggak kasihan sama Zee yang udah jadi tunangan, tau-tau di sledging tekel aja."
Ya Tuhan ... apa yang mau disampaikan, semua buyar ketika Dina justru bercerita panjang lebar. Kalau dia memberitahu Dina tentang kebenarannya, bakal se-histeris apa temannya itu.
Bagaimana ini? Apakah dia akan melanjutkan meminta bantuan pada Dina atau mencari solusi lain? Tapi, dia butuh teman berbagi yang bisa memberi solusi dan menolongnya.
"Ye ... malah bengong! Reaksimu kok biasa aja sih, Nay? Nggak syok atau wow gitu? Padahal ini trending banget digosipin temen-temen." Dina keheranan, pasalnya Naya sama sekali tidak terkejut atau memberi respon lebih. Justru diam dan melamun. 'Kan aneh?!
"Sebenarnya aku udah tahu."
__ADS_1
"What?! Kamu udah tau? Wih ... biasanya kamu ketinggalan gosip. Tumben-tumbenan nih?" Belum apa,-apa Dina menampilkan raut terkejut.
"Terus kamu tau nggak, cewek yang jadi perusak hubungan dua orang itu?"
Bibir Naya kelu untuk menjawab. Kata 'perusak hubungan' membuatnya tersudutkan. Kata itu memang benar, dia menjadi perusak hubungan Zee dan Akio. Dia perempuan sadis dan jahat, dia perempuan tega, tak berbelas kasih. Perempuan tak bisa mengendalikan diri hingga merusak semuanya.
Sudut mata itu memanas, setiap kali memikirkan keadaannya yang tersudut tanpa mereka tahu dia pun tak ingin dalam keadaan sekarang, hatinya terasa nyeri. Andai semua tahu bahwa dialah perempuan perusak hubungan Akio dan Zee, mungkin akan lebih banyak mendapat kecaman dan sumpah serapah.
"Pe-perempuan i-tu ... adalah ... a-aku." Naya berkata lirih, bahkan sangat lirih hampir tak terdengar. Dia memaksa berbicara, meski lidahnya terasa kaku.
"Hah?" Dina terbengong. Ah, masih belum percaya, juga alam bawah sadarnya sedang berusaha mencerna.
"Perempuan itu adalah aku, Din," ulang Naya.
"Apa?!" Dina tersentak kaget, bahkan setengah berteriak hingga mengundang pengunjung lain untuk menoleh kepadanya.
"Ka-mu salah ngomong, Nay? Nggak mungkinlah ...! Ah, ngaco, nih!" Saking tidak percayanya Dina tak menganggap serius pengakuan Naya. Dalam pikirannya, itu mustahil dan sulit dipercaya. Secara ... dia tak pernah melihat Naya dekat dengan Akio. Siapa yang percaya tiba-tiba Naya menjadi istri Akio.
"Aku nggak salah ngomong dan aku juga serius. Aku mengandung anak Akio," ungkap Naya.
"What?" Kali ini Dina tampak syok. Perempuan itu bergeming dan hanya mengedip-ngedipkan mata. Terlalu sulit dipercaya.
"Untuk itu aku ingin bertemu denganmu, untuk bercerita dan meminta bantuan," ucap Naya lagi.
"Sebentar, Nay! Ini nggak mimpi kan? Ya Tuhan ... ka-kamu yang nikah sama Akio? Rasanya aku mau pingsan denger ini, Nay."
Dina memegangi pelipis dan mengurutnya pelan, bibirnya berkata 'Ya Tuhan ... ya Tuhan ....'
"Aku butuh bantuanmu, Din. Aku mohon, bantu aku," mohon Naya bersungguh-sungguh.
__ADS_1