Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Tengah Malam.


__ADS_3

"Ken, Kei. Ya ampun, kalian mau buka toko perlengkapan bayi? Astaga?" mami Lyra terkejut, didepan rumah ada mobil box yang penuh dengan perlengkapan bayi.


Kei menyengir kuda saat menanggapi keterkejutan mami Lyra. Barang sebanyak itu karna kekhilafan dirinya, tak bisa berhenti mengambil barang-barang ditoko perlengkapan bayi.


Tuan Ken biasa saja, tidak mempersalahkan, yang terpenting istri tercinta bahagia.


"Maafin Kei, Mi. Itu tadi aku yang ambil barang sebanyak itu, ditoko." Kei merasa tidak enak dengan mami Lyra. Ia telah memborong begitu banyak barang. Apakah, ibu mertuanya itu akan marah?


Mami Lyra mendekati Kei yang masih duduk dikursi roda, mengelus rambut hitamnya. "Ah...tidak pa-pa sayang. Itu juga buat calon cucuku."


"Tadi baju bayi yang dipajang ditoko bagus-bagus Mi, gambarnya lucu-lucu. Kei nggak tahan buat ambil semua." tersenyum lebar kearah mami Lyra.


Membiarkan mami dan Kei mengobrol, tuan Ken mengurus barang yang sedang turunkan.


Berbincang-bincang dengan sekretaris Lee.


Semua barang telah diturunkan dari atas mobil box. Barang-barang sudah berpindah tempat dikamar khusus yang disiapkan untuk calon penerus Taisei Comporation.


Tinggal pelayan rumah yang akan menata dengan rapi.


Mendekati Kei dan mengajaknya untuk beristirahat. Sudah hampir seharian mereka berbelanja dan menghabiskan waktu diluar rumah. Tuan Ken khawatir jika Kei kelelahan dan kondisi badan menurun. Mengingat hanya kurang berapa hari lagi Kei harus menyiapkan kondisi badan fit agar melahirkan dengan normal.


Sejak kehamilan menginjak 9bulan, Kei sudah berkonsultasi mengenai persalinan. Bertanya, apakah wanita hamil hanya mempunyai ginjal satu bisa melahirkan normal?


Dokter spesialis kandungan dan dokter spesialis dalam memberitahu, jika ibu hamil dengan satu ginjal bisa saja melahirkan secara normal, asalkan dalam kondisi sehat dan tidak mengalami penurunan. Jika pada saat kontraksi kondisi ibu mengalami hipertensi tinggi, dokter akan segera mengambil tindakan Cesar. Bukan dalam arti operasi Cesar aman 100persen. Semua pilihan itu tetap ada resiko, hanya bisa berdo'a dan berpasrah.


Saat mendengar penjelasan dari dokter, ada kelegaan dihati Kei. Sebuah harapan baru bisa melahirkan secara normal.


Ia ingin merasakan perjuangan seorang ibu melahirkan dengan perjuangannya sendiri, merasakan kesakitan seperti wanita pada umumnya.


Kini Kei sudah berbaring diranjang king size, tuan Ken ikut berbaring disampingnya. Beberapa hari terakhir, ibu hamil tua itu sering menonton video persalinan.


Terkadang meringis, saat memutar video persalinan yang dramatisir dichanel Youtube.


Tuan Ken tak mau memperhatikan, ia sendiri begitu ngilu melihat video dilayar ponsel. Mengalihkan perhatian dengan memainkan rambut sang istri.


"Lihat sayang, bayinya sudah terlihat kepalanya." Kei antusias menunjukan video didepan tuan Ken.


"Kei, kau mau ponselmu ku sita? Huh, itu mengerikan!" tuan Ken tetap tak mau melihat, menutup mata serapat mungkin.


Kei tertawa lucu menyaksikan reaksi tuan Ken yang ketakutan.

__ADS_1


"Sweety, sudah cukup liat videonya. Simpan ponselmu!" tuan Ken memberi peringatan.


"Baiklah, sudah aku simpan ponselnya." menaruh ponsel diatas nakas samping tempat tidur. Ia beralih melingkarkan tangan diatas dada tuan Ken.


Merasakan sebuah sentuhan, tuan Ken membenarkan posisi menjadi berhadapan dengan Kei. Kei tampak nyaman dengan posisi itu.


"Sayang..." Kei memanggil lirih, menciumi dada bidang suaminya.


"Hem..." tuan Ken menikmati yang dilakukan Kei, mengelus rambut hitam panjangnya.


"Hanya tinggal beberapa hari lagi, aku takut." Kei berkeluh tentang ketakutannya menghadapi persalinan. Semakin mengeratkan pelukan didada bidang itu.


"Jangan takut, Honey. Semakin kau takut maka kondisimu bisa menurun. Jika itu terjadi, semakin besar resiko yang dihadapi. Percayalah, semua baik-baik saja. Kita berpikir rasional, jika semua ibu hamil gagal, maka tidak ada anak yang terlahir kedunia. Bukankah begitu?"


"Tapi kehamilan dan keadaanku berbeda dengan ibu hamil lainnya. Itu yang aku takutkan." tersirat kesedihan saat mengatakan kata-kata itu.


"Ada banyak ibu hamil yang lebih dari dirimu, Honey. Ibu hamil mengidap kanker servik, atau penyakit kanker lainnya. Mereka tetap berjuang, dan mereka berhasil. Kau juga pasti bisa berhasil melahirkan malaikat kita. Kau harus semangat. Oke, Sweety. Aku akan selalu mendampingimu."


Tak dipungkiri tuan Ken sendiri merasa takut, tapi ia tutupi. Saat ini, Kei sangat membutuhkan dukungan darinya.


"Heum, semoga saja aku bisa berjuang demi anak kita. Sayang... jika aku gagal melahirkan anak kita, apakah kau akan membenciku?"


"Itu tidak akan aku lakukan. Apapun yang tejadi, aku tetap memintamu berada di sisiku. Jangan tinggalkan aku. Disaat kau kebingungan, maka ingatlah ada aku yang akan selalu menunggumu."


"Ssstt... kau jangan bicara sembarangan. Sudah ayo kita tidur, kau harus banyak istirahat."


Mengakhiri pembicaraan, tuan Ken mengecup kening Kei dan keduanya mulai memejamkan mata. Meski tidur dalam bayang-bayang ketakutan, tapi ketakutan itu berangsur hilang saat merasakan pelukan hangat dari sang suami.




Pada tengah malam waktunya tertidur pulas, tapi tidak dengan Kei. Perutnya terasa sedikit kencang dan terus menerus ingin buang air kecil. Beberapa kali Kei harus bolak balik kekamar mandi. Tak tega membangunkan tuan Ken, ia berjalan pelan dan meraba apapun yang bisa menjadi pegangan.



Jam didinding menunjukan pukul 1dini hari, waktu yang sangat nyaman untuk bermimpi.


Kewalahan jika harus berjalan kesana kemari, Kei memutuskan duduk didekat kamar mandi. Dengan begitu lebih mudah dan tidak kelelahan.


__ADS_1


Sudah seperti itu tidak mungkin matanya bisa terpejam, perut yang semakin terasa aneh.


Sedikit merasa kencang dan sakit, tapi sebentar hilang.


Beberapa kali menghirup udara dan menghembuskan pelan, ia tidak boleh panik dan tegang. Sedari tadi telapak tangan yang tidak berpindah, terus mengelus perut buncit itu berharap bisa mengurangi rasa sakit.



Kei mengingat-ingat perkiraan angka kelahiran. Sepertinya masih kurang satu minggu lagi, dari angka perkiraan dokter. Tidak mungkinkan, ia melahirkan sekarang?



Diatas ranjang tubuh tuan Ken menggeliat, tangan kekar sedang meraba disamping tempat tidurnya. Merasa ada yang aneh, langsung membuka mata. Dan, tentu saja terkejut, istrinya tidak ada diranjang itu.


Mengedarkan keseluruh ruangan, menemukan Kei sedang duduk didepan kamar mandi.


Dengan gerakan cepat, ia menghampiri.



"Honey, kenapa kau disini?"



"Dari tadi bolak-balik kekamar mandi, aku lelah, jadi duduk saja disini."



"Kenapa tidak membangunkan ku?"



"Tidak pa-pa, tidurmu terlalu pulas, aku tidak berani menganggu. Ssstt." diakhir kalimat Kei meringis dengan memegangi perut.



"Perutmu kenapa? sakit?" sudah muncul kekhawatiran.



"Sedikit sakit," jawab Kei, ia mengatur nafas sedemikian rupa.

__ADS_1



"Ayo kita kerumah sakit." tuan Ken berjalan untuk mengambil ponsel, menghubungi pengawal yang berjaga diluar untuk menyiapkan mobil. Ia akan membawa Kei kerumah sakit sekarang juga.


__ADS_2