
Siomay yang menguras tenaga tadi sudah matang. Lee memindah siomay itu kedalam piring dan menghidangkan didepan Dewi.
Dewi sangat ingin mencicipi siomay perdana yang dibuat oleh suaminya, tangan itu segera meraih sendok.
Tak... suara aduan sendok dengan piring, Dewi menatap kearah suaminya. Lee juga memandang kearah Dewi.
Tak... yang pertama tidak berhasil, yang kedua pun gagal. "Istri, sini biar aku potongin." Lee mengambil piring siomay dihadapan Dewi dan mencoba memotongnya. Keningnya berkerut, itu bukan seperti siomay, sangat keras seperti bola bekel. Mengambil garpu lalu menancapkannya, itupun butuh perjuangan. Ditambah Lee mengambil pisau dan mengiris siomay itu menjadi beberapa bagian.
"Istri, siomay ini jangan dimakan. Nanti kau bisa sakit perut. Lihat, ini terlalu keras." meski sudah berhasil memotong menjadi kecil-kecil tapi Lee khawatir jika Dewi memakannya pasti akan sakit perut. "Tapi aku ingin." mengeluarkan jurus merengek.
"Makan siomay yang aku beli tadi aja, ya?"
"Pengennya yang itu!" Dewi menunjuk siomay dihadapan Lee. "Baiklah, coba saja kalau kau tidak percaya." Lee sengaja tidak mencegah lagi. Dipikir istrinya tidak akan suka siomay buatannya karna terlalu keras. Lee membiarkannya begitu saja.
Lee hampir tidak percaya, dalam sekejap siomay itu sudah habis. Dirinya mengedipkan mata beberapa kali. Apakah istrinya itu memiliki sistem pencernaan dari karet?
"Ka-u tidak sakit perut? kenapa dihabiskan? kalau perutmu sakit bagaimana?" Lee mencecar pertanyaan. "Siomay buatan suamiku ternyata lebih enak." Dewi memuji dengan mantap.
Lee manautkan kedua alisnya, apakah benar yang dibilang istrinya itu? kini ia penasaran ingin mencicipi. Melakukan seperti tadi, memotong siomay itu dengan pisau. Mengambil garpu dan memasukan satu potong kedalam mulutnya. Lee memelototkan mata, siomay itu bukan hanya keras tapi rasanya pun terlalu asin. Mengambil tissu dan segera mengeluarkan itu dari mulutnya.
"Istri... yang begitu kau bilang enak? apa kau tidak merasa keasinan?" Lee bertanya keheranan. "Tidak, siomay itu rasanya gurih." Dewi sangat antusias. Membuat Lee tidak habis pikir, ibu hamil memang aneh.
'Mengerikan.' batin Lee.
Dirumah sakit.
Tuan Ken keluar dari dalam kamar mandi, duduk kembali disamping ranjang. Hasrat menggelora tadi sudah dingin. Ia membuang pemikiran liarnya tadi dikamar mandi, membasuh wajah dengan air dingin yang segar. Kini ia sudah berani duduk disamping Kei.
"Dengarkan aku! jika kau sudah diperbolehkan pulang, aku akan lebih extra mengawasimu. Aku tidak akan teledor seperti kemarin." tuan Ken memberi sedikit ancaman agar Kei menurut padanya.
__ADS_1
"Iya. Aku tidak akan memaksakan diriku lagi. Saat melakukan kegiatan, ketika sudah merasa lelah akan berhenti." Kei bertekad akan menuruti perintah dari suaminya.
"Bagus. Sekarang tidurlah, sudah malam." titah Ken. Kei mengangguk. "Aku ingin dielus." manja Kei. Tuan Ken segera mengabulkan, mengelus perut Kei dengan gerakan pelan. Kei memejamkan mata dengan damai, menikmati elusan dari suaminya.
Berapa lama mengelus, sepertinya Kei sudah terlelap. Tuan Ken membenarkan kancing baju yang sempat terbuka, ia tidak mau Ray tiba-tiba datang dan melihatnya.
Tuan Ken menelisik wajah Kei, merasa kasihan dengan istrinya yang selalu menahan kesakitan. Andai dia bisa menggantikan, sudah pasti akan dia lakukan. Menggenggam dengan erat jemari Kei, tidak akan rela jika suatu saat menghadapi kenyataan pahit. Saat ini hingga 2bulan kedepan tuan posesif itu akan tenang, dirinya akan merasa cemas sampai Kei akan melahirkan nanti.
Ceklek... pintu ruangan terbuka, Ray muncul dan menutup pintu kembali. Tidak ingin Ray mendekat dan mengganggu Kei yang baru terlelap, tuan Ken lebih dulu mendekati Ray dan mengajaknya duduk disofa yang ada disudut ruangan.
"Kakak ipar sangat baik ya, kak. Mau membahayakan dirinya demi melahirkan anak kakak." celetuk Ray. Tuan Ken melirik adiknya. "Dia memang wanita sangat baik." jawab tuan Ken, tangannya mengambil gelas kopi dan mulai menyeduhnya selagi panas. Ia menikmati kopi itu.
"Kuliahmu sebentar sudah selesai, setelah wisuda kau harus segera terjun kedunia bisnis. Aku kewalahan mengurus semuanya sendiri." tuan Ken memulai obrolan yang serius.
"Baiklah kak. Padahal setelah wisuda aku masih ingin menikmati masa lajangku dengan menjelajahi berbagai negara." Ray menyangga dagunya, terlihat tidak bersemangat ketika kakaknya itu selalu menyuruh mengurus perusahaan. Menurutnya sibuk diperusahaan akan menyita waktu, membosankan. Dia tidak bisa bebas dan bersenang-senang seperti biasanya. Kehidupan Ray memang seperti remaja sultan lainnya, menghamburkan uang, bersenang-senang bahkan sering pergi ke club.
Meski begitu tuan Ken selalu memantau, dia tau segala aktivitas yang dilakukan adiknya.
__ADS_1
Tuan Ken memang sengaja menyuruh Ray segera ikut andil dalam urusan perusahaan agar Ray bisa lebih dewasa dalam bersikap, tidak lagi menghamburkan uang. Ia harus belajar menghargai rupiah yang ia keluarkan.
"Bukankah kakak sudah punya orang-orang hebat dikantor, kenapa harus menyuruhku segera mengurus perusahaan?" Ray bertanya, ia benar-benar belum siap dikekang oleh kakaknya. Ia masih ingin bebas.
"Apa kau tidak akan belajar dewasa? terus-menerus menghamburkan uang untuk hal tidak penting? setiap malam bersenang-senang pergi ke club?" suara tuan Ken terdengar dingin.
Itulah yang Ray tidak suka, kakaknya terlalu dingin dan keras. Dia jadi teringat almarhum Papinya, yang juga mirip dengan sikap Ken yang dingin dan banyak pertimbangan.
"Kakak tau kalau aku pernah pergi ke club?" Ray begitu terkejut, ia baru tau jika kakaknya memantau aktivitasnya. Selama ini Ray terlalu bebas, ia tidak pernah berpikir kakaknya itu akan mengirimkan mata-mata.
"Bukan pernah, tapi hampir setiap malam kau pergi ke club!" tuan Ken melirik sinis.
"Kakak memata-mataiku?" tanya Ray menelisik. Tuan Ken menanggapi dengan senyum meremehkan. "Kau pikir selama ini hidupmu bebas? mulai lulus kuliah jangan harap kedepannya bisa melakukan kebebasan seperti itu! Jangan sia-siakan waktu mudamu Ray, mulailah menata hidup. Kau tidak akan selalu seperti ini, harus belajar bertanggung jawab." tuan Ken memberi nasihat dengan sepenuh hati, meski dia bersikap dingin dan cuek tapi sangat menyayangi adik satu-satunya itu. Dia menggantikan tugas sang Ayah yang sudah tiada, membimbing Ray sampai adiknya itu bisa menjadi orang yang dewasa dan bertanggung jawab.
Ray menundukan pandangan, merasa malu karna ternyata kakaknya itu mengetahui aktivitas yang dijalani setiap sehari-hari nya.
"Iya kak, Ray akan belajar dewasa dan bertanggung jawab. Setelah lulus akan membantu kakak di Perusahaan." jawabnya tanpa bersemangat. Ketika mengatakan itu, berarti hari bebasnya akan segera berlalu.
"Kakak ingin membimbingmu lebih baik. Mengerti?" Ken menepuk punggung Ray. Ray membalas dengan anggukan dan senyuman. Seperti apapun, dia juga menyayangi kakaknya, pengganti sosok ayah baginya.
__ADS_1