
Lelaki berpakaian formal, berwajah tegas dengan tatapan tajam seolah bisa menghunus siapapun yang berani menghalau langkah lebarnya. Kendra Kenichi berjalan dengan langkah lebar, dengan terburu-buru sedang menyusuri lorong rumah sakit. Tak memperdulikan tatapan sekitar yang memandangnya dengan penuh ketakutan.
Saat ini hatinya sedang merasakan kekhawatiran tingkat dewa. Mendengar Kei pingsan membuat tuan muda sangat cemas. Ia meninggalkan acara ulang tahun putranya begitu saja. Bahkan tidak meminta izin kepada Kio, rasa khawatir langsung memutuskan untuk menyusul kerumah sakit. Takut terjadi sesuatu pada Kei.
Berjalan menghampiri Lee, asisten tangan kanannya sedang berdiri didepan pintu dengan raut cemas, sama seperti tuan mudanya.
"Tuan Muda," Lee langsung membungkuk saat menangkap sosok Ken yang sudah hampir sampai dihadapannya.
Buk...
Dua kali Ken melayangkan pukulan. Wajah Lee mengarah kekanan saat menerima pukulan dadakan itu. Lee meringis kesakitan, ia memegangi ujung bibir yang langsung mengeluarkan darah.
"Bang**t kau Lee! istriku pingsan dan kau tidak memberitahuku. Hah!! kurang ajar, kau!!" suara Ken terdengar mengerikan. Menggema mengisi lantai paling atas. Tangan kanannya sudah kembali terangkat, siap untuk memberi pukulan ketiga tapi ada salah satu pengawal yang memegangi tangan itu, sontak membuat Ken lebih murka dan juga memukul pengawal yang mencegahnya.
"Tuan Muda. Tuan, tolong tenanglah..." berganti Lee yang mencegah tuan Ken mengamuk. Ia merengkuh dari tubuh itu dari belakang.
"Aaaaakkkkhhhh...." Ken yang sudah terlanjur emosi dan terlalu merasa khawatir kini melampiaskan kemarahan dengan meninju dinding rumah sakit yang kokoh hingga tangan itu memerah dan terdapat luka.
"Tuan Muda, tenanglah.. Percayalah Nona Kei pasti baik-baik saja." Lee kembali menenangkan.
Ken menatap dengan tajam. "Tenang? baik-baik saja? Huh... kau tidak bisa berpikir Lee! istriku pingsan dan aku harus tenang, duduk santai. Dan, bagaimana kau tau kalau istriku baik-baik saja. Kalau pun dia baik-baik saja tidak mungkin Kei pingsan. Ah... kau gila, Lee. Benar-benar tidak waras. Apa perlu aku mencari penggantimu." Ken mencengkram kerah kemeja Lee.
Lee mencoba tenang, menutupi rasa takut. Ia menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskan pelan tidak berani membalas tatapan tuan Ken. 'Sekian lama hidup tuan muda damai, saat ini kambuh lagi sikap overnya. Jika anda mencari pengganti ku, aku yakin tidak akan ada yang sanggup berada disamping anda. Mereka semua akan menyerah dalam waktu satu hari.' batin Lee meremehkan. Tapi Lee tidak akan berani mengatakannya langsung, saat ini tuan Ken benar-benar terlihat mengerikan.
Di gedung hotel tempat acara pesta ulang tahun Kio berlangsung tampak terdengar berisik, suara-suara dari para tamu undangan yang telah lama menunggu kemunculan Ken dan Kei.
Acara ulang tahun itu harus tertunda lumayan lama. Wajah Kio sudah sangat kesal dan cemberut. "Oma, Dad dan Mom dimana? kenapa lama sekali!" bocah itu bertanya dengan nada marah.
Mami Lyra dan Ray terlihat kebingungan untuk menjawab karena merekapun tidak tau dimana keberadaan Ken dan Kei.
"Kak Io, ayo potong kue nya, Ze nggak sabar pengen makan kue ultraman itu, pasti rasanya enak." pinta Ze.
__ADS_1
Kio semakin kesal. "Aku tidak akan potong kue kalau nggak ada Dad dan Mom!"
"Kio Sayang. Kita potong kuenya sekarang aja ya, kasihan temen-temen yang lain udah nungguin. Mungkin Dad dan Mom lagi ada urusan." Mami Lyra berjongkok didepan Kio, memberi pengertian agar mengembalikan keceriaan yang hilang.
"Tidak mau! Io mau Dad dan Mom." tapi
Kio sudah terlanjur kecewa acara ulang tahunnya menjadi kacau. Ia ingin marah dengan Daddy dan Mommy nya. Kenapa mereka menghilang begitu saja, padahal bocah kecil itu sudah menunggu.
Dan sudut mata kecilnya sudah memerah, terdapat genangan air mata yang siap jatuh.
Ia terus saja menunduk, tidak ingin memperhatikan sekitar.
Salah satu staf mendekati mami Lyra, ia berbisik pelan memberitahukan apa yang terjadi. Seketika raut wajah mami Lyra berubah tegang, ia memandang Ray dan Kio bergantian.
"Ada apa, Mi?" tanya Ray. Ia menyadari raut wajah maminya yang berubah tegang.
"Kei dibawa kerumah sakit." ucapnya dengan panik.
"Entahlah Ray, Mami juga belum tau. Bagaimana ini? apa kita menyusul kesana? tapi bagaimana dengan acara pestanya?" mami Lyra kebingungan.
"Mom sakit apa, Oma?" tanya Kio.
"Oma juga belum tau Sayang. Kio cepetan potong kue dan kita nanti menyusul kerumah sakit ya." bujuk mami Lyra.
"Io sudah bilang nggak mau potong kue kalau nggak ada Dad dan Mom." Kio masih kekeh.
"Kalau gitu kita menyusul Mom kerumah sakit. Bagaimana?"
Kio mengangguk.
Sebelum meninggalkan pesta, mami Lyra telah berpesan pada pemandu acara untuk menghandle semuanya.
__ADS_1
Dewi yang diberitahu oleh Mami Lyra juga khawatir dan sekalian ingin ikut kerumah sakit. Kini semuanya sedang berada dijalan.
Sampai dirumah sakit, suara hentakan kaki terdengar ramai dilorong rumah sakit.
Ken berjalan mondar-mandir didepan kamar rawat. Lee berdiri dan bersandar didinding, gerakan mata memperhatikan tuan mudanya yang tak bisa diam. Serasa ia ingin memasung agar bisa diam.
"Dad... Hua ..." dari kejauhan Kio menangis dan berlari menunju Daddy nya.
Ken tersentak dan langsung melihat ke ujung lorong. Ketika Kio sudah mendekat, ia segera menggendongnya. "Hei hei... jagoan Dad kenapa menangis. Jelek tau," Kio mendekap erat. Suara tangis yang semakin keras. Sedari tadi ia menahan agar tidak menangis, ia malu dengan Ze. Tapi saat dekat dengan Ken tak bisa lagi menahan dan melepaskan tangisannya.
"Ssstttt... Io diem ya.." Ken mengusap-usap punggung anaknya. Tangan yang luka tadi sudah selesai diperban.
"Mom mana? kenapa nggak mau potong kue dengan Kio?" tanyanya.
"Sayang, Mom sedang sakit. Mom ada didalam sana. Kita berdo'a semoga baik-baik saja."
"Io nggak jadi potong kue," adunya.
"Iya Sayang, maafin Dad dan Mom." ucap Ken.
Meski suara tangisan Kio sudah mereda, tapi masih terdengar sesenggukan.
Pintu ruangan terbuka, dokter yang memeriksa Kei sudah mulai keluar. Dokter Sofia keluar dengan menyunggingkan senyum.
"Bagaimana dengan Kei?" Ken langsung bertanya dengan dingin. Dokter Sofia tentu hapal dengan sikap tuan Ken.
Ia tetap tenang. "Sabar Tuan Ken, istri anda baik-baik saja... Ha"
"Cih.. istriku pingsan dan kau mengatakan dia baik-baik saja! kau sama saja dengan Lee! aku bisa mencabut izin kerjamu dari rumah sakitku."
Senyum yang tersungging seketika menghilang. Tuan Ken benar-benar manusia arogan yang tidak bisa dirubah. 'Bagaimana bisa Tuhan menciptakan manusia seperti ini.' dokter Sofia mampu membatin dan melirik sinis.
__ADS_1