
Akio membawa Naya dan bayinya ke rumah orang tuanya. Itu atas permintaan Kei. Bila mereka tinggal bersama, Kei bisa membantu Naya mengurus bayinya.
Rencananya, setelah dua hari, mereka akan mengadakan syukuran sekaligus pemberian nama untuk bayi kecil itu.
Ketika Naya datang kembali ke rumah Ken, seorang perempuan renta menyambutnya dengan tangisan.
"Naya ...," panggil oma Lyra dengan serak nan lirih.
"Oma ...." Naya ikut meneteskan air mata. Karena oma, dia sampai memutuskan pergi. Jika teringat, sakit hati atas perbuatan oma masih membekas. Namun, demi keluarga kecilnya, dia harus bisa berdamai dengan hati, melupakan segala kesalahan oma dan tidak lagi mengungkit.
Naya berjongkok untuk memeluk oma yang duduk di kursi roda.
"Maafin, Oma. Maafin, Oma," ucap Oma berulang kali.
"Oma, sudah. Naya sudah memaafkan Oma. Oma jangan memikirkan yang sudah berlalu. Tidak perlu diingat lagi, Oma. Kita buka lembaran baru."
"Oma merasa sangat bersalah. Sebelum mendapat maaf secara langsung, Oma masih kepikiran."
"Sekarang Naya sudah memaafkan Oma secara langsung dan ikhlas, jadi, jangan di pikirkan lagi. Naya hanya ingin minta restu dari Oma untuk pernikahanku dengan cucu oma."
"Terima kasih, Naya. Memang benar kata Io, kamu sangat baik. Oma merestui hubungan kalian. Sekali berjodoh, walau bagaimana pun akan tetap berjodoh. Semoga keluarga kecilmu, bahagia," ujar Oma Lyra kini sudah merestui pernikahan Naya dan Akio. Dia membubuhi sebuah doa, supaya keluarga kecil itu dilimpahi kebahagiaan.
Di kamar Akio.
Naya baru saja selesai membersihkan diri, dia menyuruh Akio untuk menjaga anaknya sebentar. Saat dia melihat ke atas ranjang, ternyata dua jagoannya itu sama-sama tertidur.
Naya masuk ke ruang ganti, baru selesai memakai sebagian pakaiannya, dia dikejutkan dengan pelukan hangat dari belakang tubuhnya.
"Au' ... astaga ...," pekik Naya.
Akio menundukkan kepala, menenggelamkan wajah di ceruk leher Naya. Menghirup wangi tubuh Naya yang memabukkan. Napas Akio pun terasa menggelitik, membuat Naya bergerak karena kegelian.
"Hei ... bagaimana dengan putra kita. Kenapa kamu tinggal begitu saja," ucap Naya menoleh ke samping dan justru membuat wajahnya menempel dengan wajah Akio.
"Dia sedang tidur. Kita luangkan waktu sebentar. Pipi nya juga butuh waktu berduaan dengan mimi nya," balas Akio tidak mau beranjak dari posisi ternyamannya.
"Eih, kita belum bisa berduaan."
"Kenapa?"
"Aku belum selesai masa nifas. Kamu masih harus menunggu."
"Apa mencicip sedikit juga tidak boleh?"
"Apanya yang mau kamu icip? Jangan mencoba, kalau tahu akhirnya tidak bisa tuntas. Nanti kelimpungan sendiri," ejek Naya.
Akio membuang napas kasar. "Terus sampai kapan?" tanyanya melemas.
"Ya sampai selesai. Sampai saus merahnya udah nggak keluar lagi." Naya menahan tawa, merasa geli dengan ucapannya sendiri.
__ADS_1
"Aku harus menahan lagi? Lima bulan lebih, sayang. Selama itu aku fokus mencari kamu sampai lupa ngurusin senjataku. Bagaimana kalau dia lupa bagaimana caranya berdiri?" Akio baru menjauhkan tubuhnya.
"Pas aku tempel, dia juga tidak bangun," imbuh Akio dengan bola mata membesar.
"Ih, ngomong apa sih? Hayo ... bagaimana? Aku juga nggak tahu."
"Perlu di tes, nih, dia bangun apa, enggak."
"Tadi aku udah bilang. Belum bisa sekarang."
"Separuhnya aja, yang itu." Akio terfokus pada buah da** Naya, yang membesar dan seolah menantang. Padahal tertutup jubah mandi.
"Kamu mau saingan sama anakmu? Yang bagian ini udah jadi jatahnya anakmu," kata Naya.
"Buat anak kita yang sebelah kanan, aku yang kiri."
"Dasar ...!"
*
Tengah malam tidur Akio harus terganggu dengan lengkingan makhluk kecil yang setiap saat menangis.
"Sebentar, sayang. Sebentar, ya." Terdengar Naya menenangkan bayinya.
Akio yang terganggu dengan suara tangis anaknya terlanjur bangun. Dia melihat Naya menggendong bayinya dan sambil membuatkan susu for****, terlihat begitu kepayahan.
"Kenapa nggak bangunin aku, sayang?" kata Akio.
"Sini, biar aku yang bikin susunya." Akio mengambil botol susu dan menakar bubuk susu for**** dengan sendok takar. "Ini berapa sendok takar, sayang?"
"Empat sendok. Airnya 60ml."
Dengan menimang-nimang bayinya. Naya melihat punggung suaminya. Tidak menyangka, Akio bisa menjadi suami siaga. Dia yang tidak enak untuk membangunkan, juga meminta bantuan, Akio justru suka rela membantu.
"Air nya kepanasan nggak, ya?" Akio memberikan botol susu pada Naya. Perempuan itu meneteskan sedikit di punggung tangannya.
"Enggak, kok, ini udah pas." Naya memang menyusui bayinya, tetapi dibantu juga dengan susu for****. Karena Air susunya belum banyak yang keluar.
"Maaf ya, malah jadi ke bangun," kata Naya.
"Nggak pa-pa, dia juga anakku, harusnya memang bukan cuma kamu aja mengurus." Akio mendekati Naya dan tiba-tiba memeluk dari samping. Sedangkan tangan Naya masih memegangi botol susu.
"I love you, Khanaya," ucapnya mesra dan mencium pipi Naya.
"I love you too, I-o," balas Naya.
"Rasanya nggak pantes kamu manggil aku gitu. Lucu."
"Itu kan panggilan ke sayangan keluargamu. Aku ngikutin mereka aja."
__ADS_1
"Eh, lusa acara pemberian nama untuk anak kita. Kamu sudah siapin namanya?" tanya Naya.
"Belum. Kamu aja yang cari. Aku bingung."
"Aku juga belum nemu nama yang cocok."
"Ryuzay Kenichi Thunggadewa."
*
Keesokan harinya.
Seperti yang sudah di rencanakan, hari ini di adakan syukuran sekaligus pemberian nama untuk makhluk kecil menggemaskan dari anggota baru dari Kendra Kenichi.
Beberapa tamu yang di undang sudah terlihat berdatangan.
Akio terus mendampingi istrinya. Tidak membiarkan Naya sendirian. "Sayang, apa kamu siap kalau di adakan pesta ulang untuk pernikahan kita, agar semua orang tahu kalau kamu istriku."
Naya tetap menggeleng tidak setuju. "Nggak usah. Kita begini saja. Suatu saat orang-orang juga akan tahu tentang kita."
"Nay, Io ... acaranya sudah mau di mulai, ayo, bawa bayi kalian mendekati Daddy," titah Kei.
"Iya, Mom." Akio mengandeng tangan Naya.
Ken mengisi acara dan mengumumkan nama cucu penerusnya. Yang di beri nama : RyuZay Tunggadewa Kenichi.
Dari beberapa tamu memberi ucapan selamat sekaligus doa. Acara masih berlanjut dengan menikmati makanan. Ada juga yang berbincang-bincang.
Naya sedikit menyingkir dari tamu-tamu. "Halo, Zee ... apa aku menganggu?"
"Tidak Nay, kamu sama sekali tidak menganggu. Eh, di situ berisik banget, ada acara apa?"
"Lagi ngadain acara syukuran Baby Uzay."
"Hah? Baby Uzay?" bingung Zee.
"Makhluk kecil itu udah punya nama. Kami memberinya nama Ryuzay Tunggadewa Kenichi."
"Oh ya ... keren. Di mana makhluk kecil itu? Aku sangat merindukannya."
Naya mengarahkan kameranya kepada Kei yang sedang menggendong Baby Uzay. "Dia di gendong omanya."
"Kalian pulang, aku kesepian."
"Hehe ... sekali-kali pulang. Kan udah nggak pa-pa juga kalau pulang."
"Eh, kak Io mana?"
"Kok nanyain suamiku?"
__ADS_1
"Cie ... cemburu. Ha ha ...." Zee tergelak.
Begitulah Zee dan Naya, hanya beberapa bulan kebencian berubah seperti persaudaraan.