
"Alvaro kenapa rewel gini?" tanya Lee pada Dewi yang baru selesai membuat susu dalam botol.
Dengan gerakan menimang-nimang sayang, Lee berusaha menenangkan putranya yang sedari tadi rewel.
"Iya, dia tuh sekarang mulai agak bandel deh. Mau nya digendong terus, kalau di tudurin pasti nangis." Dewi mendekat dan mencium putranya.
"Jangan rewel dong Nak, ini kan udah digendong sama Papa. Jarang-jarang loh Papa ada dirumah." ucap Dewi. Dalam kalimatnya ada sindiran.
Lee melirik dengan ujung mata, "Hanya beberapa hari ini saja aku sibuk karna istri Tuan Muda melahirkan. Biasanya selalu tepat waktu." Lee yang merasa tersindir berusaha menjelaskan.
Dewi menghembuskan napas. "Iya iya, aku tau. Tapi beberapa hari ini aku juga lelah ngurus Zee sama Varo. Apalagi kamu tau sendiri kalau Varo mulai rewel terus." Dewi mengeluh, namun bibirnya masih menyunggingkan senyum tipis. Ia tidak sepenuhnya menyalahkan suaminya, hanya saja ingin berbagi keluh kesah.
Menggunakan tangan sebelah kanan Lee mengusap rambut Dewi. "Kau lelah? nanti malam aku pijitin ya?" Lee mengering ke arah Dewi. Ada maksut terselubung dalam kalimat yang diucapkan.
Dewi memberengut sebal namun sedetik kemudian dia menyunggingkan senyum.
"Dasar, baru beberapa malam nggak begituan, giliran ada waktu longgar dikit mau tancap gas." sungut Dewi dengan gerutuan.
Lee tersenyum lebar menanggapi gerutuan dari Dewi. "Kau tau, begituan itu adalah obat mujarab saat badan terasa lelah." Lee menggoda.
Dewi langsung mencubit pinggang suaminya, meski dulu bersikap cuek dan acuh tapi semenjak menikah sikap Lee juga berubah.
Dewi pikir setelah menikah jalan rumah tangganya akan hambar dan lurus seperti jalan tol. Nyatanya berbanding terbalik dengan perkiraannya.
Lee bersikap hangat, sangat lembut dan menyayanginya dengan penuh limpahan rasa cinta. Menjadikan dirinya wanita paling beruntung di dunia.
Meski kekayaan Lee bukan sederajat seperti tuan Ken, tapi hidup Dewi tidak dan anak-anaknya tidak pernah kekurangan. Semua kebutuhan terpenuhi.
Lee sangat hormat dengan Ibu mertuanya, memenuhi kebutuhan Ibu Maryam. Namun Ibu Maryam menolak setiap kali Lee menawarkan untuk tinggal bersama, dengan alasan rumah yang ditempati banyak tercetak kenangan. Hingga sangat berat untuk berpindah.
Dewi pun tidak memaksa Ibunya untuk tinggal bersama. Namun Dewi memberi pesan agar setiap saat harus menghubungi jika ada sesuatu mendesak atau Ibunya merasa tidak enak badan.
__ADS_1
"Pa, ayo minum teh herbal buatan princess Zee. Teh ini spesial buat Papa tersayang." Alzena tiba-tiba muncul dengan membawa cangkir plastik mainan yang tidak ada isi nya sama sekali. Tapi berpura-pura bahwa cangkir itu ada isinya.
Lee meraih cangkir itu. "Terima kasih, princess Ze. Papa minum ya," Lee ikut berpura-pura dengan menempelkan cangkir itu pada mulutnya.
"Hem... ini teh terenak yang pernah Papa minum. Princess Zee memang pintar." Lee memuji putrinya.
"Terima kasih Pa, karna Papa udah kasih pujian sama Zee, jadi Zee kasih diskon ya. Papa cuma bayar seratus ribu aja," Alzena menyodorkan tangan di depan papanya.
Lee malah tergelak, "Putri Papa kecil-kecil sudah pandai berbisnis ya... Oke oke, Papa kasih seratus ribu, tapi harus ditabung." Lee berganti mengelus pucuk kepala Alzena.
Kini tangannya akan merogoh saku celana tapi sedikit kesusahan karna sambil menggendong Alvaro.
"Ma, tolong bantu ambilin dompet di saku depan." Lee meminta bantuan pada Dewi.
Dewi memasukan sebelah tangannya untuk merogoh saku depan.
Lee bereaksi meringis kan wajah karna kegelian. "Awas jangan ketengah, nanti salah pegang. Disitu ada tikus keramat yang dilindungi." Lee menggoda dengan tersenyum lebar.
Membuat Dewi melirik kesal. "Rasakan ini," sungut Dewi. Ia sengaja menyentuh benda keramat itu dengan sedikit kasar.
"Istri istri, Auh.. sakit tau! kalau tikus ku cedera nanti malam kita tidak bisa begituan." Lee menatap Dewi dengan wajah pias.
Tapi Dewi malah berganti terbahak-bahak melihat ekspresi suaminya yang menurutnya lucu.
"Pa, kok didalam celana Papa ada tikus keramat dilindungi? kalau hewan-hewan yang dilindungi harusnya ditaruh di kebun binatang. Tapi tikusnya malah dilindungi di dalam celana Papa?!" Alzena bertanya dengan polos. Wajahnya pun terlihat sangat kebingungan.
Keduanya, Lee dan Dewi terbengong mendengar pertanyaan Alzena. Lee langsung mengalihkan pandangan ke arah Dewi.
Tapi sedetik kemudian Dewi kembali tertawa terbahak-bahak sampai ujung matanya mengeluarkan air.
Wajah Lee semakin pias ditambah kebingungan untuk menjelaskan. Putrinya masih sangat polos, belum paham tentang istilah-istilah yang ia ciptakan sendiri.
__ADS_1
Lee menerutuki ke bo dohannya yang telah keceplosan mengatakan hal tidak masuk akal bagi anak kecil.
Ia menggaruk rambut kepala yang dirasa tidak gatal. Benar-benar kebingungan untuk menjelaskan. Sedangkan Alzena masih menuntut jawaban.
"Sayang, Papa tadi cuma salah bicara. Zee nggak perlu pikirin ya," sesederhana Dewi menjelaskan.
Zee mengangguk. Tapi masih menyimpan rasa penasarannya. Menatap wajah papanya.
"Pa, besok kapan-kapan sebelum tikus nya dibawa ke kebun binatang, Zee pengen liat ya." kata Zee.
Tak ada pilihan, Lee hanya mengangguk pasrah. Berharap putrinya menyudahi rasa penasaran tentang tikus keramat yang dilindungi.
"Makanya, besok lagi kalau berbicara didepan anak kita jangan asal bicara. Jadinya gini kan, repot sendiri mau kasih jawaban." Dewi meledek.
"Putri kita saja yang terlalu pintar, ke ingin tahuannya sangat tinggi. Jadi semua yang didengar dipertanyakan." Jawab Lee tidak mau disalahkan.
"Pa, besok Ze kalau udah besar mau menikah dengan Kak Io ya," ucap Zee asal.
Lee tidak menanggapi dengan serius, setiap kali keduanya bertemu memang sangat dekat. Hanya saja Lee tidak menaruh harapan besar bisa berbesan dengan manusia egois itu. Yang tak lain Tuan Mudanya sendiri.
"Memang kenapa?" Lee harus menanggapi, jika tidak, princess bawelnya akan marah.
"Karna ... Kak Io tampan dan keren," jawabnya dengan malu-malu.
"Astaga... Zee. Kamu ih, masih kecil udah genit gituh. Tau aja mana yang tampan dan keren." Dewi menggeleng-gelengkan kepala. Keheranan dengan pernyataan dari putrinya. Bahkan di umur yang baru menginjak lima tahun sudah mengenal istilah menikah.
"Iya lah Ma, Kak Io itu memang tampan dan keren. Nggak kayak Revan yang punya rambut ikal begitu, hidungnya pesek lagi."
"Ih.. nggak boleh gitu ah. Nggak boleh banding-bandingin orang." Dewi memperingati putrinya.
Mulut Zee sudah maju satu senti. Kesal karna Mamanya tidak mendukung penilaiannya.
__ADS_1
"Zee masih kecil, nggak usah mikirin nikah-nikahan ya. Nanti kalau Zee udah dewasa, baru boleh." Dewi memberi nasehat. Pemikiran Zee yang terlalu melampaui umur harus diluruskan, bahwa anak masih kecil tidak perlu memikirkan tentang pernikahan.
"Namanya masih anak kecil, dia juga belum paham dengan kata yang diucapkan. Kamu nggak perlu khawatir." Lee berganti menasehati Dewi.