Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Nostalgia sikap Ken


__ADS_3

Satu Minggu berlalu, kesehatan Naya sudah membaik, dokter pun sudah mengizinkan pulang. Dan hari ini, di jemput dengan Zee dan Faskieh, Naya pulang ke apartemen Zee.


Zee sangat mengizinkan mereka tinggal di apartemennya untuk sementara waktu sampai kondisi Naya sudah stabil dan bisa kembali ke Indonesia.


Memang hanya sebuah apartemen, tetapi bangunan itu lumayan besar untuk di tinggali beberapa orang lagi. Akio pun bisa menginap di apartemen Faskieh ada di depan apartemennya.


"Zee, maaf, kami merepotkan mu lagi," ujar Naya merasa tidak enak hati, dari beberapa bulan lalu, dia menumpang hidup dengan Zee. Dan sekarang, karena kondisinya belum bisa perjalanan jauh, mereka masih harus merepotkan Zee.


"Ya ampun, Nay. Kamu selalu saja merasa tidak enak begitu, kamu kira apartemen ini milikku sendiri. Enggak. Apartemen ini pilihan paman Tuan Ken juga. Jadi nggak usah sungkan."


"Bagaimana perasaanmu? Jauh lebih baik kan?" tanya Zee. "Aku juga, Nay. Perasaanku jauh lebih baik setelah aku lebih ikhlas," ungkapnya.


Naya tersenyum. "Benerkan kamu sudah ikhlas, Zee?" Naya menanggapi tidak serius.


Zee yang tahu memutar bola mata ke atas. "Lalu bagaimana? Apa kamu mau aku tarik ucapan ku dan kamu akan kabur lagi? Ninggalin makhluk menggemaskan ini denganku?" tantang Zee hanya becanda.


Naya tertawa. "Tidak-tidak. Aku sekarang tidak ikhlas harus menyerahkan bayiku padamu, dia segalanya bagiku. Kalau aku pergi, dia akan aku bawa kemanapun aku pergi."


"Tuh, kan, sayang. Mimi mu lupa dengan ucapannya. Kemarin sebelum kamu lahir, dia mau menitipkan kamu kepada Anty, sekarang setelah kamu lahir Mimi mu justru tidak rela," ledek Zee. Dia dan Naya tertawa.


*


Hari ini, Naya, bayinya, Kei juga Akio akan kembali ke Indonesia. Bagaimanapun mereka harus kembali karena pekerjaan dan keluarga dan tempat tinggalnya memang di Indonesia.


Zee menangis ketika mengantarkan ke bandara, rasanya tidak ingin berpisah dengan makhluk kecil yang menggemaskan. Dan, setelah ini pun apartemennya akan terasa sunyi sepi. Ingin rasanya ikut pulang ke Indonesia, akan tetapi belum saatnya dia pulang. Dia masih harus menyelesaikan kuliahnya.


Di Indonesia


Ken berjalan kesana kemari, terlihat gelisah. Dia tidak sabar menunggui rombongan keluarganya yang akan tiba sekitar pukul delapan nanti. Bahkan sedari bangun tidur, dia sudah bersemangat untuk menjemput mereka.


Dan baru pukul 07.00 pagi Ken sudah menelpon Lee untuk mengantarnya ke bandara.


"Aku tidak sabar bertemu mereka, Lee," ucapnya.

__ADS_1


"Hanya kurang lima puluh menit lagi, Tuan." Lee menanggapi.


"Lima puluh menit itu lama, Lee," keluhnya.


"Lebih lama lagi lima puluh jam, Tuan."


"Heh! Kau menyebalkan, Lee!"


"Anda lebih menyebalkan, Tuan." Lee terkejut dengan jawabanya sendiri, dia tidak sadar dan secara reflek menyahut.


"Apa kau bilang, Lee?!" Ken melotot dari kursi penumpang. Dia mendengus kasar.


"Tidak, Tuan, mungkin Anda salah mendengar," kilah Lee agar Tuan Ken tidak marah.


"Kau salah dan sekarang kau menuduh telingaku tidak berfungsi dengan benar!" Ken masih terlihat kesal. "Aku mendengar mu, Lee!"


"Bukan begitu. Maafkan saya." Lebih baik meminta maaf dari pada berbuntut panjang, pikir Lee mencari aman.


Supir yang sedari tadi diam, sesekali melirik ke samping dan ke belakang. Dari dulu hingga sekarang, sang penguasa dan sekretarisnya tidak pernah berubah. Padahal zaman sudah banyak yang berubah.


"Kau salah, Lee. Aku sangat merindukan istriku. Aku tidak sabar menunggu Kei."


"Hah?" Lee sangat terkejut. Dia mengira, tuan Ken tidak sabar menyambut cucu pertamanya. Ternyata, tetap Keihana Kazumi yang selalu dipikirkan.


Mobil yang mereka tumpangi sudah berbelok di pelataran bandara, sang supir menghentikan mobil di depan pintu bandara. Lee turun lebih dulu untuk membukakan pintu. Baru setelahnya Ken keluar dan langsung melangkah masuk.


Baru saja lima menit yang lalu duduk di kursi tunggu. Ken sudah berkali-kali berdecak, menggerutu tidak jelas.


Lee hanya memperbanyak menghela napas dan lebih bersabar. Terkadang Lee berpikir, entah mantra pelet atau pengasihan apa yang miliki perempuan bernama Keihana Kazumi untuk Ken, sampai tuannya itu menjadi budak cinta tingkat akut. Bahkan dari umur mereka kepala tiga, sampai sekarang sudah berkepala enam, ke bucinan Ken tidak berubah.


Memang, Lee mengakui kecantikan nona nya itu tidak berubah banyak, meski umur Kei juga sudah tua. Kei memang memiliki kecantikan yang natural.


'Eh, kenapa aku terpikir Kei. Kalau ketahuan tuan Ken. Tamat riwayatku.' Lee melirik tuan Ken yang sedang melihat jam.

__ADS_1


Entah sudah beberapa kali pria berjas putih itu menilik jam di pergelangan tangannya. Seolah Ken ingin mengintimidasi jam nya untuk berputar cepat. Padahal, ribuan kali dia melihatnya, waktu masih akan tetap sama. Yang Lee takutkan justru tangan tuan Ken bisa keseleo, karena seringnya bergerak secara berulang-ulang.


Pengeras suara sudah terdengar, memberitahu kalau pesawat dari negara xxx sudah turun dengan selamat.


Ken dan Lee berpindah tempat untuk menyambut kedatangan Kei, Akio, Naya dan cucunya. Senyumnya mengembang lebar mengetahui mereka sudah terlihat di pintu keluar.


"Honey ... aku sangat merindukanmu, cinta." Ken memeluk Kei. Seolah kerinduannya sudah sangat lama dan tidak terbendung kan.


Semua orang saling lirik, membiarkan pasangan the best forever itu menyalurkan kerinduan.


"Sweety, kau tidak membalas ku. Apa kau tidak merindukanku?" Ken melepas pelukannya. Bagi Ken, dua minggu terpisah dengan Kei itu sudah sangat lama. Padahal hampir setiap malam Ken melakukan panggilan video call. Tetapi tetap saja berbeda dengan bertemu secara langsung.


"Aku juga merindukanmu, tapi nanti di rumah. Bukan di sini. Malu. Malu dengan mereka," bisik Kei dengan gigi bergemeletuk.


Ken melihat ke arah mereka. "Jangan melihat!" ucapnya.


"Mari, Tuan Muda, Nona Naya, kita ke mobil lebih dulu. Kita biarkan mereka melepas kerinduan," kata Lee.


"Sialan, kau, Lee!" Ken menendang betis Lee cukup kuat, hingga Lee mengaduh.


Akio yang sudah hapal dengan sikap mereka hanya menggelengkan kepala. "Ayo, sayang, kita ke mobil duluan," ajaknya pada Naya.


Sedangkan Naya yang belum tahu bagaimana keluarga suaminya mememdam keterkejutan.


"Apa mereka memang seperti itu?" Naya bertanya kepada Akio.


"Biasanya lebih parah." Akio tersenyum. "Kebucinan daddy sudah mendarah daging. Biasanya lebih parah," imbuhnya.


"Tapi nggak tahu juga nanti, mungkin aku lebih parah daddy."


Akio dan Naya pulang lebih dulu, sedangkan Ken, Kei, dan Lee menumpang mobil yang lainnya.


"Kamu tidak malu dengan Naya dan cucumu, mengumbar kemesraan di tempat ramai," omel Kei.

__ADS_1


"Sudah lama terpisah, bukannya saling merindukan, malah tidak berhenti mengomel," ujar Ken mendengus. Kei balas mendengus.


__ADS_2