Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Pesan


__ADS_3

"Fin, hari ini Naya masuk kerja nggak?" tanya Akio lewat seberang telepon.


"Enggak, Bos. Naya nggak masuk lagi tanpa keterangan," jawab Alfin jujur. Ingin berbohong tidak mungkin karena ada kamera pengawas yang bisa di periksa kapan saja. Berbohong pun akan ketahuan.


Tanpa ba-bi-bu, Akio menutup telepon. Beberapa kali mengintip nomor ponsel Naya, tetapi tak ada riwayat online setelah pukul 10 pagi tadi. Dia mencoba mengirim pesan tes, tetapi ceklis.


Seperti halnya Naya, Akio pun malas melakukan apapun selain berada dalam kamar. Pria itu mondar mandir dengan pikiran penuh. Bingung, tak tahu harus bagaimana.


Sedikit beruntung karena kabar Naya hamil sesudah acara wisuda. Jika semua terungkap dalam waktu sebelumnya, entah akan seheboh apa berita yang tersebar. Selama ini yang mereka tahu, Naya masih seorang gadis lajang belum memiliki suami. Sudah pasti mendapat kecapan gadis murahan bila hamil di luar nikah. Padahal Naya tidak seperti itu. Kesalahan murni, karena mereka berdua tak bisa mengendalikan nafsu. Bukan sengaja Naya menggodanya. No like that!


Tok ... tok ...


"Kak ...." Kyu memanggil.


"Apa?" Akio menyahuti.


"Ada keluarga Kak Zee di bawah." Kyu memberitahu.


"Iya, nanti Kakak turun."


Akio mencoba menghilangkan pokiran kalutnya dan bergegas masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah kurang lebih 20 menit, dengan sedikit terburu-buru dan tidak ingin membuat keluarga Zee menunggu lama, Akio segera turun ke lantai bawah.


"Maaf sudah membuat menunggu lama," ucapnya sesudah duduk di dekat Daddy Ken.


"Tidak pa-pa, Tuan Muda," jawab Lee.


"Lee, 2 bulan lagi putraku menjadi menantumu, apa kamu akan tetap memanggilnya tuan muda," sahut Ken. Yang lain tergelak mendengar ucapan Ken.


"Benar itu Sekretaris Lee, jadinya lucu kalau masih manggil tuan muda," timpal Kei.


Meski Lee ikut melebarkan bibirnya, tetapi dibarengi kerutan di kening. "Lalu aku harus merubah panggilan dengan sebutan apa?" bingungnya. Ken menghendikan bahu, tidak menyumbang ide.


"Mungkin untuk sekarang bisa memanggil dengan calon menantu. Begitu," usul Kei.


"Iya, boleh juga," sahut Dewi.

__ADS_1


"Sayang, jangan ikut campur memikirkan sebutan Lee pada anak kita. Biar dia sendiri yang memikirkannya." Ken memperingati, memasang wajah jutek.


"Apa sih, cuma bantu gitu aja nggak boleh. Sebentar lagi kita akan besanan sama sekretaris Lee, harusnya kamu lebih baik-baik sama dia."


"Nggak ada pasal yang mengatur aku untuk lebih baik pada Lee. Nggak akan merubah apapun."


"Kalau bisa, satu yang harus kamu rubah, Koi. Jangan jadikan aku samsak hidup lagi." Lee terkekeh kecil.


"Khusus satu itu tidak bisa, Lee. Tapi kamu tenang aja, tenagaku sudah tidak sekuat dulu. Lumayanlah sedikit berkurang." Ken menanggapi.


"Malah jadi bahas apa kalian ini. Ayo kita cicil dulu untuk membahas konsep atau tamu undangan yang akan kalian undang," kata Oma Lyra menghentikan kekehan Lee dan Ken.


"Untuk itu, biar Lee yang urus. Kalau Mami mau menambahkan teman-teman Mami tidak apa. Masih ada kesempatan untuk undang seribu tamu lagi.


"Hah? Seribu? Itu terlalu banyak, sayang," kata Kei.


"Pesta pernikahan putra kita harus meriah, Honey. Rencana aku ingin mengundang 50 ribu orang dari berbagai kalangan."


"Berbagai kalangan, apa kaum jompo dan kaum bawah juga akan diundang?" timpal Lee.


Baru membahas tamu undangan pun mereka sudah berdebat. Tak ingin pusing, dengan obrolan para orang tua, Akio, Zee dan Kyu memilih memisahkan diri menuju halaman belakang.


"Berita terbaru ... Khanayya Rumi Sahila dikabarkan positif hamil setelah petugas kesehatan di kampus kita memeriksa keadaanya."


"Eh, seriusan berita ini?"


"Ah, mungkin gosip aja."


"Iya, kale ... cuma gosip."


"Atau, mungkin Naya sudah menikah. Tapi statusnya nggak ada yang tahu?"


"Gila aja Naya hamil? Apa dia udah nikah?"


"Siapa yang tahu Naya sudah menikah? Keknya dia masih gadis."


"Tuh, bunga kampus kalian yang dibangga-banggain. Hamil tanpa suami. Duh ... murahan banget."

__ADS_1


"Eh, jangan sangsi duluan. Siapa tahu berita ini nggak bener."


Sebagian ada yang langsung mengecam Naya sebagai perempuan murahan, karena hamil tanpa status pasti. Yang mereka tahu Khanayya Rumi Sahila memang masih gadis, lalu tiba-tiba terdengar gosip sedang hamil. Jika sudah menikah, harusnya Naya segera mengklarifikasi agar gosip itu tidak semakin merambah. Tetapi hingga pesan itu memenuhi layar, dengan lebih dari seratus chat, Naya tidak muncul untuk memberi penjelasan.


"Nggak nyangka, si pendiem taunya mau-an."


"Duh, tampang aja sok alim. Tapi yang dibawah diobral. Ngeri."


"Naya, nggak usah sok suci kalau ternyata kamu wanita murahan." Dengan menyebut nama Naya langsung.


"Jangan-jangan kamu sering terima job."


Beberapa perempuan yang tidak suka dengan Kanaya seperti mendapat kesempatan untuk menjatuhkannya. Iri hati karena sejak kemunculan Naya di kampus, banyak kaum pria yang mengejar dan mengagungkan nama Kanayya, membuat beberapa perempuan terang-terangan tidak suka. Bahkan bersikap sinis, salah satunya Zee.


"Yang disanjung-sanjung justru nggak punya moral. Menyedihkan."


Akio beralih menatap Zee. "Zee, jangan ikut-ikutan," ucapnya.


Zee mencebik tetapi fokus lagi melihat ponsel dengan tersenyum simpul.


Berbeda dari Zee, Akio nampak pucat dengan jantung berdebar tak karuan.


Merasa kasihan karena semua pesan menyudutkan Naya dan mengecam Naya sebagai wanita murahan. Di sisi kasihan, darah Akio seolah mendidih. Walau berita itu benar, tetapi mereka yang terpelajar harusnya bisa menjaga ucapan. Entah sesedih apa Naya saat ini. Mungkin sangat terpuruk.


Akio mengirim pesan pada seseorang.


"Hentikan beritanya sekarang juga!"


Seketika pengaturan grup menjadi terbatas. Hanya admin yang bisa mengendalikan grup. Mendadak sunyi tak ada lagi pesan masuk.



Pukul 10 malam, Akio telah berdiri di seberang rumah Naya. Tidak berani mengetuk pintu karena sadar sudah terlalu malam. Alhasil hanya memandangi sekeliling rumah Naya. Lampu ruang tamu sudah dimatikan, tetapi lampu di salah satu ruangan masih terang benderang. Dia hanya menduga bahwa itu kamar Naya, terletak persis di samping ruang tamu.


Akio menilik ponselnya, ternyata beberapa menit lalu Naya sedang online. Bahkan pesan yang dikirim sewaktu mengetes nomor Naya sudah centang 2 meski tak berwarna biru. Kemungkinan masuk tetapi sengaja tidak dibuka.


'Nay, ini aku. Kamu pasti tahu aku siapa. Keluarlah, aku di depan rumahmu.' Akio kembali mengirim pesan, tetapi nomor Naya justru kembali tidak aktif. Dia menghela napas panjang.

__ADS_1


Hanya karena naf su yang tak terkendali, semua menjadi berantakan. Bastard!


__ADS_2