
Tidak berapa lama Lee menunggu sosok mami Lyra telah terlihat berjalan mendekati dirinya yang sedang berdiri disamping mobil.
"Lee," panggil mami Lyra untuk menyadarkan Lee yang tengah melamun.
"Iya, Nyonya. Anda sudah selesai?" tanya Lee berbasa-basi.
"Sudah. Kamu tidak lupa kan dengan perkataan mu tadi?!" mami Lyra mengingatkan.
"Tidak Nyonya. Sebaiknya kita kembali ke rumah sakit sekalian menunggu Tuan Muda sadar dan juga saya akan menceritakan yang tadi." usul Lee.
Mami Lyra mengangguk.
Lee membukakan pintu samping mobil dan mempersilahkan mami Lyra untuk masuk. Tidak lupa memberitahu supir pribadi dan juga pengawal yang tadi menghantar mami Lyra untuk mengikuti dibelakang mobilnya.
Menempuh satu jam perjalanan tanpa adanya obrolan yang penting bahkan keduanya cenderung diam dalam pemikiran masing-masing. Mobil yang dikendarai Lee mulai memasuki halaman rumah sakit.
Lee memberhentikan mobil tepat didepan pintu rumah sakit agar tidak kejauhan saat berjalan.
Setelah membukakan pintu untuk mami Lyra. Lee melambaikan tangan pada pengawal dan memberi perintah untuk memarkirkan mobilnya ketempat yang semestinya.
Lee dan mami Lyra berjalan beriringan menuju lift dan melewati lorong yang nampak sepi karna ruangan Ken berada di ruang khusus.
Dari kejauhan nampak Herlambang dan Kei tengah duduk dikursi tunggu dan terlihat sedang berbincang-bincang.
Lee dan mami Lyra segera mendekat.
"Sayang, kamu dan Lee bisa datang bersamaan?" tanya Herlambang.
"Iya, tadi ketemu di pemakaman almarhum Papinya Ken." jawab mami Lyra memandang kearah Lee sebentar dan mulai duduk disamping Herlambang.
"Bagaimana dengan Ken?" mami Lyra berganti bertanya.
"Suamiku belum juga sadar, Mi." Kei menjawab dengan raut kesedihan.
Mami Lyra yang berjarak tidak jauh menjangkau pundak Kei dan mengelusnya untuk memberi ketenangan.
Beberapa saat terdiam, belum ada yang memulai pembicaraan hingga suara mami Lyra memecah keheningan itu.
__ADS_1
"Lee, duduklah dan ceritakan tentang yang tadi." mami Lyra menyuruh Lee duduk agar lebih nyaman ketika Lee bercerita.
Lee menurut dan duduk dikursi paling ujung. Menghembuskan napas panjang.
Dikira mami Lyra akan lupa, tapi ternyata tidak.
Herlambang dan Kei berbarengan memperhatikan ke arah mami Lyra dan Lee bergantian, mereka berdua tentu tidak tau kenapa mami Lyra menyuruh Lee bercerita.
"Sebelumnya saya ingin memberitahu bahwa si Tupai yang sering disebut oleh Tuan Muda saat masih kecil, itu adalah saya." ucap Lee.
Deg...
Mami Lyra langsung menatap Lee dengan kening mengernyit. "Bagaimana bisa Tupai itu adalah kamu? berarti kamu sudah kenal keluarga saya sejak lama? bahkan Ken waktu itu masih seumuran dengan Kio?" respon mami Lyra begitu cepat tanggap.
"Lalu kamu keturunan siapa?" tanya mami Lyra sangat serius.
"Sa ya ... Saya adalah keturunan John Lee."
"Apa...!"
Deg... Deg...
Mami Lyra Benar-benar sulit mempercayai bahwa Lee adalah anak tirinya.
Kedua pendengar lainnya tak kalah shok. Apalagi Kei, ia pun ikut terkejut sampai melebarkan bola matanya dengan dua tangan untuk menutup mulut.
Sedikit berbeda dengan Herlambang yang masih bisa menutupi keterkejutan dan hanya menatap Lee dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Ja jadi, kau... adalah Frank Lee?!" tanya mami Lyra dengan terbata. Kini kedua bola matanya sudah berkaca-kaca, memandang Lee dengan sayu.
Lee mengangguk lemah tanpa mampu menatap mata mereka.
Melihat anggukan kepala Lee, mami Lyra mulai menangis. Tubuh yang lemas ia paksa berdiri dan mendekati Lee. Tangannya meraih punggung Lee.
"Kenapa? kenapa, kamu tidak memberitahukan ini sejak dulu." ucap mami Lyra. Mata yang hampir penuh dengan airmata tetap memandangi wajah Lee tanpa ada yang terlewat.
Tidak menyangka ternyata anak kecil yang dulu sempat dirawatnya sepenuh hati ternyata selalu berada disekelilingnya.
__ADS_1
Lee yang ikut berkaca-kaca tidak mau menyambut uluran tangan mami Lyra. Bukan karna benci atau marah, bukan. Tapi lebih kepada dirinya yang tidak percaya diri.
Lee menggeleng. "Biar semua orang mengenaliku dengan Samuel Aeron Lee bukan Frank Lee si Anak haram dan anak pembawa sial yang menyebabkan kedua orang tuaku meninggal." tangan Lee terangkat untuk menghapus bulir airmata yang telah berhasil lolos.
Sakit dan pilu saat menyebut dirinya sendiri sebagai anak haram dan anak pembawa sial yang menyebabkan kedua orang tuanya meninggal. Bahkan Lee mendengar itu saat mami Lyra tidak sengaja bercerita didepannya pada saat Lee ingin memperjelas alamat panti asuhan. Waktu itu mami Lyra menceritakan dengan detail dihadapan Lee.
Semalam suntuk Lee mengingat cerita itu. Sangat pedih, jiwanya terluka begitu dalam.
Mami Lyra menggeleng kuat-kuat. "Tidak Lee, kamu bukan anak haram. Kamu bukan anak pembawa sial, bukan!" tegas mami Lyra.
Tubuh Lee melemah, tak henti airmatanya ikut berderai. Biarlah dia dikatakan lemah dan cengeng. Mungkin jika Alzeena ada disini, dia akan menertawai papanya yang cengeng.
Seringkali ia menumpahkan kristal bening tapi tidak dihadapan orang lain. Dia selalu pintar menyembunyikan airmatanya.
Hanya dimalam yang sunyi senyap, dengan bersujud pada sang Pemilik Hidup ia menumpahkan segala resah dan beban hati. Bahkan Dewi, sang istri yang telah bertahun-tahun menemani disamping Lee tapi tidak sekalipun Lee menceritakan jadi diri atau sesuatu hal yang ditutupnya rapat-rapat.
Mami Lyra semakin terisak. Ia teringat beberapa waktu lalu dia sendiri yang menceritakan kebenaran itu pada Lee. Dia benar-benar tidak tau jika Lee itu adalah Frank Lee. Kini baru tahu Lee pasti terluka mendengar ceritanya.
"Maafin aku, Lee. Maafin Tante. Maafin semua kesalahan dan ke bo doh an Tante." suara mami Lyra lirih terdengar, tapi begitu jelas di pendengaran Lee.
"Anda tidak bersalah, kenapa minta maaf." ucap Lee.
"Tentu saja aku bersalah, begitu kejam meninggalkanmu didepan panti."
"Anda merasa bersalah, tapi menurut seseorang tindakan Anda tidak salah." kata Lee.
"Maksud mu?" mami Lyra tidak mengerti dengan perkataan Lee.
Lee menghembuskan napas dan menetralkan rasa sesak yang menghimpit rongga dadanya.
"Anda tidak bersalah. Karna tindakan Anda waktu itu dipaksa oleh seseorang."
Mami Lyra mengangguk."Iya, kau benar. Aku terpaksa meninggalkanmu di panti karna perintah almarhum Papi nya Ken. Tante mohon, maafkan almarhum Papinya Ken, karna dia melarang ku mengurusmu." mami Lyra merasa sangat bersalah.
"Almarhum Tuan Besar memang menyuruh Anda untuk membuang ku. Tapi beliau sendiri yang mengurusku dengan sangat baik." Lee mengatakan kebenaran.
Mami Lyra kembali dibuat terkejut. Bagaimana bisa almarhum Hiro mengurus Lee? padahal almarhum Hiro sendiri yang menentang keras saat dirinya akan mengadopsi Lee.
__ADS_1
Mami Lyra benar-benar bingung.