
Bukan hanya keluarga Izham saja yang mendapat kebaikan, kelurga bude Parmi pun mendapat jatah kebaikan dari tuan Ken.
Tuan milyader yang kini berubah menjadi dermawan karna sang istri tercinta.
Meski baikan itu dari tuan Ken tetap saja disini sekretaris Lee yang dibuat sibuk oleh perintahnya.
Tuan Ken memberi rezeki kepada keluarga bude Parmi dengan memberi uang 20 juta ditambah bahan pokok makanan sehari-hari. Tuan Ken sangat ingat bude Parmi mengatakan tidak punya gula untuk membuat minuman, dan akhirnya tuan Ken menyuruh sekretaris Lee untuk memesankan 2karung gula putih lengkap dengan bahan lainnya.
Satu keluarga lagi yang begitu beruntung bisa bertemu dengan tuan Ken dan juga Kei, walau awal pertemuan penuh kobaran api kemarahan.
Pakde Bejo dan Bude Parmi berpuluh kali mengucap terima kasih kepada tuan Ken, hingga telinganya seperti berdengung dengan ucapan terima kasih yang berlebihan itu.
Kini mereka sudah berada diperjalanan menuju ke hotel, senyum dibibir Kei tiada henti tersungging. Tidak bisa menutupi kebahagiaan merasa senang bisa berbagi dan menolong orang yang membutuhkan.
"Kenapa kau senyum-senyum seperti itu?" tuan Ken mengelus surai Kei yang panjang, menghirup wangi shampo yang sangat ia suka.
"Aku sangat bahagia." jawab Kei singkat, dihiburnya masih terdapat senyuman.
"Jangan katakan kalau kau bahagia, setelah bertemu dengan mantan suami jelekmu itu." terlihat tidak suka. Senyum dibibir Kei tadi sedikit memudar. 'Apa-apaan sih, siapa juga yang bahagia bertemu masa mas Izham. Huh... aku tau, dia pasti cemburu.' batin Kei lucu. Semangat 4-5 untuk mengerjai suaminya yang sedang cemburu.
"Eum, sedikit sih." jawab Kei. "Sedikit? itu sama saja kau suka bertemu lagi dengan mantanmu itu! ini tidak bisa dibiarkan, aku sudah melakukan kebaikan atas namamu tapi kau justru memanfaatkannya!" tuan Ken marah, menjauh dari tubuh Kei. Ho... Kei terkejut, tidak menyangka reaksi tuan Ken akan semarah itu. Dia lupa jika suaminya tidak bisa diajak bercanda, semua yang diucapkan akan ada konsekuensi yang harus diterima.
"Sayang..." belum menyelesaikan perkataannya tuan Ken sudah memotong perkataan itu. "Jangan panggil aku sayang, kalau dihatimu masih ada pria lain!" nada bicara masih ketus kini posisi duduk didekat jendela, kedua tangan disilangkan diatas perut.
__ADS_1
"Kebaikanku kau balas seperti ini." masih berbicara, dengan memandang kejalanan. "Hei... baby, lihatlah calon Daddymu dia sangat lucu seperti itu." Kei seolah berbicara dengan calon anaknya, tangan itu mengelus perut yang membesar. Tuan Ken tidak bergeming. Kei menjadi ketar-ketir, takut jika tuan Ken benar marah.
"Sayang aku hanya bercanda." Kei memberanikan diri berbicara keras dan cepat agar tuan Ken tidak memotong perkataanya.
"Terlambat."
'Hei, jawaban apa itu? apanya yang terlambat?' batin Kei.
"Maksutnya?" Kei bertanya, "Aku sudah terlanjur marah." jawab tuan Ken.
"Baiklah, maafkan aku suamiku sayang. Aku tadi hanya bercanda. Aku sudah tidak memiliki rasa apapun dengan mas Izham, jadi sebanyak apapun aku bertemu dengannya tidak akan ada perasaan seperti dulu. Cintaku hanya untukmu. Hem.." Kei mendekati suaminya. Tuan Ken menyembunyikan senyum tipis.
'Memang hanya kau saja yang pandai mengerjai?' batin tuan Ken tertawa puas, kini dialah yang berkuasa menjahili Kei.
"Kau menyebut apa tadi? mas Izham? Hem,,, romantis sekali." tuan Ken menyindir dengan nada dinginnya. Kei menepuk jidat pelan, dia lupa harus menambahkan kata jelek setiap menyebut nama laki-laki lain.
"Hahaha..." tuan Ken tidak bisa menahan gelak tawa hingga suara tawanya menggelegar. Kei yang berada disampingnya sampai terlonjak kaget. "Astaga... apa-apaan sih, tertawa seperti itu, mengangetkan ku saja." kesal Kei.
"Kau sangat lucu. Aku gemas denganmu." tuan Ken sudah kembali memandang istrinya, mereka berdua saling melempar senyum.
'Bahagia kalian, bahagia, tanpa memikirkan perasaanku. Pamer kemesraan didepanku, sedangkan aku jauh dari canduku. Dimana keadilan ini?' batin Lee meronta meminta keadilan. Dirinya kesal melihat kemesraan yang terumbar dikursi penumpang. Kedua matanya begitu sial selalu melirik kearah belakang hingga iri dengan kemesraan Bos-nya.
"Baby, Mommymu sudah mulai nakal, katakan Deddy harus memberi hukuman apa?" tuan Ken menundukkan wajahnya didekat perut Kei, ia ingin mengajak anaknya untuk berinteraksi. Bayi yang ada diperut itu seolah tau jika Deddynya sedang mengajaknya berbicara, bayi itu menendang dengan kuat membuat tuan Ken terkejut. Tapi kemudian ia tertawa bahagia, Kei juga dapat merasakan hal itu.
__ADS_1
"Baby kita menendang dengan kuat, apakah perutmu sakit Sweety?" tuan Ken bertanya kepada Kei. "Tidak sayang, tidak begitu sakit, hanya geli." jawab Kei.
Meski pengemudi didepan tadi sempat iri, tapi ada kebahagiaan yang dirasakan. Kini tuan muda yang dulunya kejam dan dingin itu menjadi sisi yang hangat.
"Tuan muda." panggil sekretaris Lee. "Ada apa, Lee?" tuan Ken menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya. "Satu Minggu lagi, tuan muda Ray akan kembali." sekretaris Lee memberi laporan tentang kembalinya Rayden adik dari tuan Ken.
"Kenapa pulang?" bertanya singkat. "Tuan Rayden merindukan anda dan Nyonya besar."
"Anak itu memang tidak berubah." kata tuan Ken, dia pasti tau sikap adiknya yang kekanak-kanakan.
"Tuan muda Ray juga ingin berkenalan dengan Nona Kei." sebelah alis tuan Ken terangkat, kini menegakkan tubuhnya keposisi tegap. Raut wajahnya menunjukkan ketidaksukaan.
"Benarkah? selama aku tinggal dirumah itu, aku belum pernah melihat adikmu. Benar juga, sampai saat ini aku dan adikmu belum saling mengenal." Kei menyahut obrolan itu.
"Hah...Kenapa? apa bedanya kenal atau tidak, sama saja. Dia itu menyebalkan, lebih baik kau tidak usah mengenalnya."
"Hei, kenapa begitu?" Kei bingung. "Sudah, tidak perlu membicarakannya lagi." kembali semuanya terdiam, larut dalam pikirannya masing-masing. Sampai tidak terasa mobil itu sudah sampai dihalaman Hotel. Petugas Hotel sudah ada yang menyambut untuk membuka pintu, Semuanya keluar dari mobil dan berjalan masuk kedalam hotel.
Setelah mengantar tuan Ken sampai didepan kamarnya, sekretaris Lee lekas masuk kedalam kamarnya sendiri. Ada waktu luang, kini ia gunakan untuk menghubungi candu yang sangat ia rindukan. Satu hari tidak melihat senyum Dewi membuat rindunya kian menggunung.
Mengambil ponsel dan segera menekan layar panggilan video, tak lama wajah Dewi sudah menghiasi layar ponselnya.
Bukan sebuah senyuman yang disuguhkan Dewi, melainkan kekesalan. "Istri, kenapa kau cemberut begitu?" tidak sabar Lee langsung menanyakan hal apa yang membuat istrinya terlihat murung.
__ADS_1
"Kenapa suami menghubungiku? aku tidak ingin melihat wajahmu." berbicara ketus.
"Hah.. memang apa salahku?" Lee menjadi bingung, padahal beberapa jam lalu saat menelpon, istrinya itu masih baik-baik saja. Lalu saat ini kenapa tiba-tiba marah dan tidak ingin melihat wajahnya? bukankah itu aneh?.