Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Menenangkan


__ADS_3

Bulir tetesan air masih menetes. Kei masih tampak shok dengan kejadian yang dialami. Airmata yang jatuh tak terlihat karna bercampur dengan tetesan air.


Tak bisa dibayangkan andai saja suaminya tidak segera datang, entah nasibnya akan seperti apa.


Ia memang tidak tau siapa yang mendorongnya, tapi ia yakin, ada seseorang yang sengaja ingin membuatnya celaka.


Jika semua terlambat, bagaimana nasib baby Kio selanjutnya. Ia masih sangat kecil dan perlu sosok Ibu yang harus menjaga.


Entah diwaktu sekarang ini Kei tidak lagi memikirkan dirinya sendiri, ia yang begitu menyayangi putra pertamanya selalu memikirkan nasib baby Kio.


Bagi Kei, baby Kio adalah segalanya. Separuh nyawa yang harus dijaga dengan segenap raga, mengingat ia dulu sangat mendambakan seorang anak. Dan Tuhan yang Maha Tau telah mengabulkan do'anya, untuk itu ia akan menjaga dan melindungi anugerah terbesar dan terindah yang dikirim untuknya.


Baby Kio. Ia langsung teringat dengan putranya. Segera melepas pegangan tangan yang menggenggam baju Ken dengan erat.


Dengan sedikit lemas ia mengedarkan pandangan untuk mencari malaikat kecilnya.


Ia begitu terkejut saat melihat baby Kio berada di gendongan seorang wanita, yang ia sebut wanita munafik.


Ia tidak akan membiarkan putranya disentuh oleh wanita bermuka dua itu.


Dengan tertatih ia berdiri meninggalkan suaminya yang masih terdiam, Kei merebut baby Kio dari tangan Ita dan tangan sebelah Kei memberikan sebuah hadiah.


Semua yang menyaksikan begitu terkejut, Nona muda mereka yang selalu baik dan bersikap lembut bisa menampar dengan begitu keras.


Kepala Ita sampai bergerak kesamping karna tamparan dari Kei. Tangannya terangkat untuk memegangi pipinya yang memanas.


Bahkan Ken juga sangat terkejut melihat itu.


Mami Lyra ikut mematung menyaksikan kejadian yang begitu jarang terjadi.


Kei tak memperdulikan orang-orang yang ada disekitar, ia menatap dengan amarah, kebencian. Kedua bola mata yang menyiratkan api yang menyala. "Jangan sentuh putraku!" bentaknya dengan suara keras.

__ADS_1


Nafas Kei naik turun seirama dengan emosi yang sedang menguasai. Melihat Ita menggendong baby Kio membuat Kei begitu marah, ia takut wanita itu akan menyakiti putranya.


Wanita munafik itu sangat pintar berkamuflase dan membalikkan keadaan.


"No nona, salah saya apa? kenapa anda menampar saya?" tanyanya dengan wajah sedih.


"Aku bilang jangan sentuh putraku! kau berani mencelakai ku tapi aku tak akan membiarkanmu mencelakai putraku!" Kei berteriak seperti ada kekuatan yang merasukinya.


Ken segera mendekati Kei dan mendekapnya dari belakang. "Honey, tenanglah. Tidak ada yang akan mencelakai putra kita." ucap Ken menenangkan. Ia tau emosi istrinya sedang tidak stabil. Tapi ia juga tidak tau kenapa Kei bersikap seperti itu.


"Kei, sayang. Biar baby Kio mami yang gendong, kasihan baju yang dipakai ikut basah." Mami Lyra mendekati Kei dan berbicara dengan lembut.


Kei masih terus menatap kearah Ita. "Tidak, biarkan putraku bersamaku. Aku tidak akan membiarkan siapapun mencelakainya."


Mami Lyra tidak memaksa, tapi ia menyembunyikan keterkejutannya. Baru ini melihat sisi lain dari menantu yang biasa bersikap lembut, ia bertanya-tanya, apa yang membuat Kei sampai seperti itu.


"Ken, bawa istrimu kedalam." perintah Mami Lyra. Ia tak tega melihat baby Kio menanggis, tapi tak bisa berbuat apa-apa karna Kei tidak mengizinkannya untuk menggendong baby Kio.


Semuanya akan ia usut nanti ketika keadaan Kei sudah membaik.


Ken menyuruh babysister untuk menggantikan pakaian baby Kio yang basah, ia takut anaknya bisa sakit. Baby Kio terus menangis, ikatan seorang ibu dan anak sangat kuat meski belum bisa berbicara baby Kio tau perasaan Mommy nya yang sedang tidak baik-baik saja.


"Tidak. Aku akan mengurusnya sendiri." tolak Kei dengan tegas.


"Honey, ada apa denganmu? tidak ada yang akan mencelakai anak kita. Kasihan baby Kio menangis, kau tidak kasihan jika putra kita kedinginan dan bisa demam?" Ken berbicara dengan selembut mungkin.


"Dia bisa mencelakai ku dia juga bisa mencelakai putraku. Tidak! aku tidak akan membiarkan itu."


"Siapa yang kau maksut akan mencelakai putra kita? aku akan membunuhnya."


"Sekarang tenangkan dirimu, biar aku saja yang mengganti pakaian baby Kio." Ken mengambil baby Kio dari tangan istrinya. Ia akan mengganti pakaian dan menenangkan putranya.

__ADS_1


Meski dengan gerakan kaku Ken berhasil mengganti pakaian baby Kio. Ia menggendong dan menimang-nimang agar putranya terdiam.


Kei masih belum beranjak dari duduknya. Ia terlihat melamun dan memikirkan sesuatu. Masih menebak jika orang yang mendorongnya masuk kekolam tadi adalah Ita, ia sangat yakin. Meski tidak melihatnya langsung, ia berasumsi dengan kuat.


Setelah baby Kio tidur, Ken menidurkan putranya didalam box bayi. Menyelimuti dengan kain hangat dan tebal. Setelah itu ia segera menghampiri Kei. "Honey, kau harus segera berganti pakaian, pakaianmu basah kau bisa sakit."


"Tapi baby Kio?" tanya Kei. Ia menatap mata Ken dengan sendu. Sorot mata yang menyorotkan rasa takut, dan ketakutan itu hanya dia yang tau.


Istrinya benar-benar masih terlihat ketakutan, ia berjalan menuju pintu untuk mengunci pintu.


"Sekarang sudah aman, tidak ada yang bisa masuk. Ayo ganti pakaianmu dulu."


Kei menurut, ia berjalan menuju keruang ganti. Menyuruh Ken untuk menjaga putranya, tidak boleh berpindah duduk.


'Apa yang terjadi? kenapa ia sangat ketakutan seperti itu? jika ada yang menyakiti istri dan anakku, aku tidak akan memberinya ampun!' batin Ken geram.


Beberapa saat, Kei sudah berjalan keluar. Ia mendekati suaminya yang duduk diranjang dengan menjaga putranya seperti perintahnya tadi.


Setelah Kei duduk disamping, Ken segera mendekap tubuh Kei.


"Ada apa Baby? katakan, siapa yang berani mencelakai mu? aku akan memberinya pelajaran!" tanya Ken dengan geram.


"Aku tidak mau pelayan bernama Ita bekerja disini, dia bisa membahayakan putra kita."


Ken terlihat berpikir, selama bertahun-tahun Ita bekerja dirumahnya tidak pernah membuat kesalahan. Tapi istrinya mengatakan seperti itu? apa ada yang tidak ia ketahui tentang pembantu itu?


"Kau tenanglah, hari ini juga aku akan memecat pelayan itu."


"Lebih cepat, akan lebih baik." kata Kei.


"Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui? Dan tadi, bagaimana bisa kau jatuh kedalam kolam? padahal kau tidak bisa berenang, itu sangat berbahaya. Melihatmu seperti tadi, aku benar-benar takut kehilanganmu." Ken mencium pucuk kepala Kei.

__ADS_1


"Entahlah, seperti ada yang sengaja mendorongku hingga aku terjatuh." adu Kei pada suaminya. Kini perasaanya jauh lebih tenang, karna pelukan hangat dan juga perkataan Ken yang akan memecat Ita hari itu juga.


__ADS_2