Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Operasi Caesar


__ADS_3

Seperti apapun Kio dan Kei merengek atau memberikan tatapan mengiba tetap saja si raja bisnis tak akan mengizinkan anak dan istrinya jajan disembarang tempat. Larangan itu pantang dilanggar harus sesuai prosedur ketetapan tuan Ken. Bukankah itu sangat menyebalkan.


Kei tengah cemberut kesal, mulutnya bergerak-gerak demi melayangkan protes tanpa suaranya. Ia tak punya keberanian besar untuk melawan tuan Ken yang salah-salah malah mendapat larangan atau penuturan yang membosankan karna tiap hari hampir sama kata kata yang keluar dari mulut suaminya yaitu larangan dan sikap protective yang berlebih.


Kei terkesiap saat Kio memanggil dan meminta untuk diantar kekamar mandi sedangkan Ken tengah sibuk mengobrol lewat sambungan video call bersama sekretaris Lee. Mungkin sedang membahas sesuatu darurat dari Kantor karna beberapa hari ini tak masuk kantor demi menemani dirinya.


Dengan cara jalan yang seperti kesulitan Kei menghampiri Kio yang tengah mendekap buru ng kecilnya karna menahan sesuatu yang ingin dikeluarkan.


"Kita izin Daddy dulu," kata Kei.


"Mom, Io udah mau keluar." wajah Io terlihat menahan sesuatu. Kei sangat tau ekspresi itu, hingga senyum kecil telah tersungging dibibir sebelah. Tentu menertawai Io.


Kei menggandeng tangan mungil itu dan mengajaknya menjauh dari keberadaan Ken. Tapi baru beberapa langkah sudah ada 3 pengawal yang menghadang. Pengawal itu jeli mengawasi pergerakan mereka berdua, hingga tau jika nona muda bersama tuan muda kecil berjalan menjauh dan sebelum terlambat harus mencegah.


"Nona, anda mau kemana?" tanya salah satu pengawal.


"Mau ke toilet," tunjuk Kei mengarah pada bangunan persegi yang ada di ujung barat dan berjalan lumayan jauh dari tempatnya tadi.


"Baik, kami antar." kata pengawal tadi. Mereka bertiga mengikuti dibelakang dengan jarak 2meter.


Sampai dibangunan bertulis toilet umum, Kei segera menuntun Kio masuk dan membantunya didalam. Selang waktu tidak lama Kio terlihat keluar sendiri sedangkan didalam berganti Kei yang sedang menggunakan toilet umum itu. Kini Kio menunggu didepan pintu dengan jarak yang tidak jauh masih tetap diawasi oleh tiga pengawal tadi.


Tiga pasang mata pengawal yang terus fokus memperhatikannya gerak gerik tuan muda kecil, mereka takut bocah kecil itu lewat dari pengawasannya.


"Aaa'..." terdengar suara teriakan dari dalam kamar mandi, membuat Kio terkejut dan langsung membuka pintu yang tertutup. Mata kecilnya terkejut Mommy Kei sudah terjatuh dengan dahi yang mengeluarkan cairan merah.


"Mom, bangun. Hua..." Kio menangis dengan menggoyangkan tubuh Kei tapi sudah tidak sadarkan diri.


Pengawal juga terkejut dan memberanikan diri melihat didepan pintu, matanya hampir melompat saat melihat kaki nona mudanya penuh darah. Salah satu dari mereka langsung berlari tunggang langgang kembali menghampiri tuan Ken. Meski ketakutan akan amarah tuan Ken yang pasti meledak tapi mereka harus melaporkan kejadian darurat tadi.


"Tu tuan muda," panggilnya dengan suara ngos-ngosan seperti berlari memutari lapangan.


Ken langsung melihat kearahnya. "Ada apa?" tanya Ken dingin.

__ADS_1


"Itu tuan, dikamar mandi gawat darurat." saking gugup dan takut membuatnya bertele-tele.


"Dikamar mandi kenapa?" suara Ken tidak sabaran.


"Nona Kei. No na terjatuh." nyali pengawal itu menciut demi melihat mata Ken yang melotot tajam.


Ken segera berlari menuju toilet umum diikuti Lee dibelakangnya yang juga terlihat khawatir.


Hampir dekat telinga Ken mendengar suara Kio yang menangis. Ia segera masuk kedalam dan kembali bola mata itu membulat sempurna dengan berteriak. "Honey...!"


Mobil berbaris-baris tengah memenuhi jalan yang padat, Lee mengemudikan mobil seperti pembalap handal. Tak ayal suara klakson mobil yang hampir terdengar disepanjang jalan untuk memberi peringatan pada pengemudi mobil lain agar sedikit menepi. Keadaan sedang gawat darurat.


Goncangan ke kanan dan kiri tak dihiraukan Ken, ia terus mendekap tubuh Kei yang lemas dan pucat. Mulut Ken tak henti memanggil nama istrinya, meski Kei tidak bangun.


Kio yang berada dikursi depan masih menangis, sesekali melihat kebelakang kaki Mommy nya dipenuhi darah. Bocah itu sangat takut. Ia tau Mommy nya tidak baik-baik saja.


Sampai dihalaman depan rumah sakit, Lee segera memanggil perawat. Semua sigap mendorong brankar disamping mobil itu. Tubuh Kei dipindahkan keatas brankar dan didorong menuju ke lift untuk dibawa keruang VVIP bagian paling atas.


Ken tak memperdulikan jas abu-abu yang penuh darah dan berbau anyir, ia tetap menggenggam tangan Kei.


Sampai diruang persalinan Ken disuruh menunggu didepan. Tak ingin berdebat dan akan menghambat proses dokter menangani Kei, ia memilih menunggu didepan.


Lee baru muncul dari pintu lift dan berjalan di lorong panjang untuk menyusul tuan mudanya didepan kamar persalinan.


"Tuan muda," Lee menyadarkan Ken yang tengah berdiri dengan menyandar ditembok dan menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Lee.. ssstthhh." perasaan takut, panik dan khawatir membuatnya tak bisa mengeluarkan kata-kata, dari mulutnya hanya mendesis berat. Suaranya tercekat di tenggorokan hingga tak mampu untuk bersuara. Namun bola matanya menggambarkan semua rasa cemas.


"Dad... Mom berdarah." kata Kio dengan sesenggukan.


Ken mengambil Kio dari gendongan Lee. Bagaimana pun keadaanya kini ada Kio yang butuh dirinya. Untuk itu Ken tak bisa leluasa melupakan rasa khawatir seperti biasanya.


"Lee, hubungi mami dan suruh kesini untuk mengurus Kio." perintah Ken.

__ADS_1


"Baik tuan muda," Lee menjauh untuk menelpon mami Lyra. 'Untung saja ada Kio, kalau tidak, bisa dipastikan tuan Ken tak bisa menahan diri untuk mengekspresikan kecemasan.' Lee membatin.


Pintu terbuka, dokter keluar menemui tuan Ken untuk meminta persetujuan melakukan operasi Caesar.


"Tuan, karna kondisi Nona Kei tidak sadar dan juga mengalami pendarahan hebat kita perlu persetujuan anda untuk menandatangani surat persetujuan tindak operasi Caesar. Demi menyelamatkan nyawa ibu dan calon anaknya." dokter itu memberikan lembaran kertas didepan Ken yang segera di sahut untuk dibubuhi tanda tangan.


Tidak ada pertimbangan untuk berpikir, saat ini nyawa Kei dan bayinya yang paling penting. Meski Kei pernah bilang ingin melahirkan secara normal seperti melahirkan Kio tapi keadaan saat ini terlalu genting dan darurat. Ia harus menyetujui perkataan dokter.


Berkali-kali menghembuskan nafas panjang, dengan gusar berjalan mondar-mandir diluar ruang operasi.


Para pengawal tidak ada yang berani mendekat mereka mengawasi dari jarak beberapa meter yang terpenting aman dari jangkauan tuan Ken.


Jika mereka berdiri didekatnya, sudah pasti wajah mereka akan babak belur dihajar tanpa sebab alasan.


.


.


.


.


.


Sebelum bab akhir, kita baca keadaan yang mengkhawatirkan🤭


Hanya sekali ini kok, setelah lahir sudah pasti selesai.


Tapi, kondisi Kei cukup mengkhawatirkan loh. Tebak deh, happy ending atau sad ending?


Akak mei kasih pengumuman kecil ya, akak mei punya cerita lain yang masih on going loh, jika berkenan boleh mampir dan tinggalkan jejak kalian. Siapa tau kalian suka.


Tinggal klik profile akak mei dan cari aja mana yang kalian ingin baca kalau cerita yang akak mei garap berjudul TAWAKU TERBALUT LUKA dengan genre romantis, komedi.

__ADS_1


Terima kasih 🙏🙏🙏🤗


__ADS_2