Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Mengatakan


__ADS_3

Semalaman Akio dilanda kegusaran, bahkan mata yang sudah lelah juga tak mau dipejamkan. Pikirannya melalang buana tentang penyusunan kalimat yang akan disampaikan kepada daddy Ken juga mommy Kei. Meski ia tahu, kalaupun mengatakan dengan kalimat sangat hati-hati, tetap saja apa yang akan ia ungkap membuat kedua orang tuanya murka.


Namun, rencananya besok pagi ia akan segera berterus terang pada daddy Ken dan mommy Kei tentang kesalahan fatal yang dilakukannya yang telah menghamili Naya. Ia sudah mempertimbangkan dengan segala konsekuensi buruk yang akan diterima.


Untuk Zee, bukan Akio tak memikirkan perasaan gadis itu. Hanya saja saat ini pertimbangan Akio begitu berat dengan masa depan calon anaknya. Selain itu, ia pun memikirkan Naya. Hampir saja nyawa Naya melayang karena masalah peliknya.


Andai Naya benar-benar nekad untuk pergi jauh, mungkin ia akan dihantui rasa bersalah seumur hidup. Ia juga bersalah, tetapi hanya Naya yang akan menanggung derita, bukankah Itu sangat tidak adil.


Lagi pula, perempuan hamil tanpa suami, sudah pasti mendapat kecaman buruk di mata masyarakat. Ia tak tega kalau Naya harus menanggung semuanya sendirian, sedangkan ia lolos begitu saja dari tanggung jawab dan hidup bahagia dengan perempuan lain. Bahkan ia lebih pantas dijuluki pria paling brengsek dan sangat pecundang.


Terhitung hanya sekitar satu jam Akio mengistirahatkan fungsi tubuhnya, karena kini sang surya sudah menyingsing dari arah timur.


Tok ... tok ... !!!


"Kak ... tumbenan jam segini belum bangun!" Gedoran dan teriakan Kyu membangunkan nyawa Akio secara paksa. Akio beranjak untuk membuka pintu.


"Ada apa, Bawel?!" tanya Akio sambil menguap karena rasa kantuk masih menggelayuti.


"Tumben belum bangun, ini udah jam 7, Kak," ucap Kyu dengan melihat penampilan kakaknya. "Kakak begadang, ya? Ih, ngeri ada mata panda, tuh," cerocosnya.


"Ck. Biarin aja. Tadi malam tidur jam 2," bohong Akio.


"Kakak ditunggu mom sama dad."


"Ada apa?"


"Mau ngajak Kakak liburan sekaligus bahas pernikahan Kakak. Kan semalam Kakak tiba-tiba pergi, jadi belum tahu rencana mereka." Kyu menjelaskan.


"Hem. Kakak mandi dulu."


Setelah Kyu pergi, Akio menghela napas panjang. Semakin dekat waktunya untuk memberitahu, semakin gusar dan membuat jantungnya berdebar kencang seperti menghadapi persidangan hakim.


30 menit kemudian.


"Pagi, Mom, Dad," sapa Akio yang baru menemui Ken dan Kei di ruang belakang.

__ADS_1


"Pagi sayang," balas Kei.


"Pagi juga, Io," lanjut Ken.


Di sana Akio tidak melihat oma dan adiknya, tetapi ia memutuskan untuk duduk di samping mommy-nya.


"Mom nyuruh adikmu bangunin kamu, udah siang begini belum bangun. Mentang-mentang hari libur," ujar Kei.


"Maaf mom, semalam Io nggak bisa tidur, jadi telat bangunnya."


"Apa ada masalah serius di cafe?" tanya Ken.


"Enggak Dad."


Akio tak bisa menyembunyikan kegusarannya. Ia menunduk dan meraih telapak tangan mommy Kei. Wajah tampannya dibalut kecemasan, kesedihan dan juga kebingungan.


Sebagai seorang ibu, Kei tahu Akio sedang menyembunyikan sesuatu. "Ada apa? Cerita aja," ucapnya. Ken yang duduk di sisi sebelah Kei ikut memperhatikan putranya. Menunggu hal apa yang akan disampaikan oleh Akio.


"Mom, Dad, Io mau bicara serius. Tapi sebelum itu Io ingin minta maaf yang sebesar-besarnya pada Mom dan Dad."


Setelah beberapa detik, tetap saja Akio belum lagi membuka mulutnya, membuat Kei setengah mendesak untuk bicara.


Akio menatap mata tua kedua orang tuanya, tak tega, sungguh tak sanggup untuk menyampaikan berita buruk itu. Sudah bisa dibayangkan bagaimana kekecewaan mereka. Akan tetapi ia harus mengatakannya sekarang juga. Karena cepat atau lambat juga tak bisa merubah keadaan.


"Maaf, Mom, Dad, Io nggak bisa melanjutkan untuk menikahi Zee."


Deg! Ken dan Kei mematung.


"Io, kamu jangan becanda! Dad dan Mom sudah tua, jangan bermain-main hal serius seperti ini! Nggak lucu, Io!" ujar Ken dengan sedikit kesal. Ia menganggap perkataan putranya hanya sedang becanda, meski melihat raut Akio serius ia mencoba menyangkal.


Kei menarik tangannya dan beralih mengelus dada. "Ya Tuhan ... Io, Mom hampir pingsan denger candaan kamu," timpal Kei yang akhirnya satu frekuensi dengan pikiran Ken. Mencoba menyangkal hal buruk.


Dengan raut menyesal juga sedih, Akio menggeleng pelan. "Io nggak becanda. Io serius."


Ken mengembus napas kasar, sedangkan Kei menutup mulut dengan sudut matanya mulai berair.

__ADS_1


"Nggak Io. Kamu sadar dengan ucapanmu?"


"Io sadar, Mom."


"Ya Tuhan ...." Detik berikutnya Kei terisak dan seketika Ken mendekap tubuh istrinya dari samping. Sama halnya ia, Kei pasti lebih syok.


"Enggak, Io. Enggak! Dua bulan lagi kamu dan Zee akan menikah, nggak bisa batal begitu saja," ucap Kei disela tangisnya.


"Semua sudah dipersiapkan, dan kamu ingin membatalkan pernikahan yang sudah di depan mata! Apa maksudmu, Io!? Kau ingin keluarga kita juga keluarga Lee malu!" sentak Ken.


Baru ini seorang Kendra Kenichi memperlihatkan kilat kemurkaan di depan Akio. Semua itu karena Akio dianggap keterlaluan tiba-tiba ingin membatalkan pernikahan yang diibaratkan hanya menunggu hari saja.


"Maafin Io." Akio menunduk dalam. Sungguh hatinya hancur juga tak tega melihat Kei mengeluarkan air mata karena kesalahannya.


"Apa alasannya, Io? Bukannya kamu dan Zee saling mencintai? Apa yang membuatmu ingin membatalkan pernikahan kalian?" Meski sangat syok dan kecewa, tetapi Kei tetap ingin mengorek alasan Akio ingin membatalkan pernikahannya.


Akio benar-benar tak sanggup untuk mengatakannya.


"Apapun alasannya, Mom mohon padamu, Io, kalau bisa jangan batalkan pernikahanmu. Bagaimana dengan Zee juga keluarganya. Mereka akan sangat kecewa," ujar Kei masih terdengar isak tangisnya. Mata yang berlinang air mata itu menyorot dengan permohonan.


"Io benar-benar mohon maaf, Mom. Io nggak bisa menikahi Zee karena ...." Akio menelan ludah susah payah. Rasanya sangat sulit untuk melanjutkan kata-katanya.


"Karena apa!?" bentak Ken mulai sulit mengontrol emosi. Bukan hanya syok, kecewa tetapi ia pun terlihat marah.


"Karena Io menghamili perempuan lain."


Bagai tersambar petir disiang bolong, Ken dan Kei benar-benar sangat terkejut. Dan detik berikutnya tiba-tiba tubuh Kei melemas di pelukan Ken.


"Sayang ... hei! Honey ....!" Mengetahui Kei pingsan, Ken langsung panik.


"Mom ... Mom ...." Sama halnya Ken, Akio pun ikut panik.


Ken segera membopong tubuh Kei untuk dibawa ke rumah sakit, Akio yang ingin membantu dicegah.


"Diam dan tunggu! Setelah membawa Mom ke rumah sakit, Dad akan buat perhitungan denganmu!" ujar Ken dengan dingin.

__ADS_1


Dan kini berganti Akio yang mematung. Bayangan yang ditakutkan sungguh terjadi. Maafin Io, Mom. Semoga Mom nggak kenapa-napa.


__ADS_2