Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Kesedihan yang menyayat


__ADS_3

Tidak ada yang tahu takdir cinta seseorang. Kebahagian sampai akhir atau hanya dipertengahan jalan.


Bahagia bersama pasangan adalah do'a dari setiap insan, namun hanya bisa berdo'a. Sekuat apapun kita mempertahankan rasa jika Tuhan berkehendak lain, maka apapun bisa dirubah hanya dalam sekejap.


Bertahun-tahun menjalani rumah tangga bersama suami tercinta, membuat Kei berada diatas awan. Meski ia tak bisa bebas terbang ke awan lainnya dan hidup bagaikan berada didalam sangkar emas, tak bisa hidup bebas karna kekangan yang tak pernah melonggar bahkan semakin kencang menjerat kebebasannya.


Kini disaat ia mengeluh dengan sikap suaminya, ternyata Tuhan mendengar keluh kesahnya. Hingga hanya dalam beberapa hari cinta yang besar dan indah berubah menjadi pahit seperti empedu.


Kejadian beberapa waktu lalu harus terulang kembali. Kejadian yang begitu pelik dan menyedihkan bagi Kei. Tapi saat ini telah berbeda, bukan lagi pelik dan menyedihkan bahkan lebih dari itu.


Sangat menyakitkan dan memilukan hati. Bukan hanya dirinya yang harus merasakan perubahan sikap Ken, tapi putranya yang masih kecil harus merasakan kekecewaan dan sakit hati karna perubahan itu.


"Mom, Dad kenapa?"


"Ada apa dengan Dad, Mom?"


"Kenapa Dad tidak ingat dengan Io?"


"Kenapa Dad tidak mau peluk Io?"


"Apa Io nakal? lalu Dad menghukum Io?"


"Io pengen digendong Dad, Mom."


"Tolong bilang padanya, kalau Io nakal atau bikin salah, Io minta maaf. Tapi Dad jangan lama-lama marah sama Io."


Pertanyaan dan kekecewaan putranya bagai cambukan keras tepat mengenai ulu hati. Suara rintihan Kio, Kio yang menyebut Daddy nya membuat Kei ingin menjerit sekencangnya untuk melepas sakit hati.


Jika dirinya saja yang dilupakan ia masih bisa menahan, tapi ketika mengingat putranya yang bersikeras menginginkan dipeluk dengan ayahnya tapi malah ayahnya sendiri yang menolak mentah-mentah membuat hati Kei benar-benar terasa nyeri seperti ribuan peluru yang menembus seluruh tubuhnya. Hingga membuatnya lemah tak berdaya.


"Mom," panggil Kio yang duduk disampingnya.


Kei, Kio dan beberapa pengawal berada didepan ruangan Ken.


Tubuh Kei benar-benar lemas, semua tulang seolah tidak berada lagi ditempatnya hingga tak bisa menopang tubuhnya untuk duduk tegap.


Tak henti airmatanya mengalir dengan deras setelah dengan bentakan kasar Ken mengusirnya untuk keluar dari dalam.


"Pergi kau wanita munafik! mataku sakit melihat kau ada disini. Cih... menjijikan!" kalimat yang keluar dari mulut Ken seperti bola api yang langsung membakar hatinya.

__ADS_1


Kalimat itu terus terngiang dan begitu menyakitinya. Ken kembali seperti dulu awal mereka berjumpa. Sungguh perbedaan seratus delapan puluh derajat dari sikap Ken sebelum terjadinya kecelakaan.


"Apa, Sayang." jawab Kei. Hidung yang sudah tidak bisa bernapas normal, apalagi matanya semakin menyipit karna tangis yang tak berhenti.


"Mom jangan nangis." Kio meraih pipi mommy nya dan menghapus kristal bening yang terus berjatuhan.


"Sayang, Mom belum bisa jelasin keadaan Daddy. Tapi untuk sekarang kita jangan dekat-dekat dengan Daddy ya,"


Kio tidak menjawab, anak kecil itu menunduk. Sudah pasti merasa sangat sedih. Biasanya Kio akan menangis jika merasakan sakit atau perasaan yang tidak nyaman. Tapi sedari keluar dari kamar rawat Ken terhitung hanya sekali bocah itu mengeluarkan airmata.


Kei ingin melihat wajah putranya, Kei ikut menunduk didepan Kio, tapi bocah itu semakin dalam menunduk.


"Kenapa Sayang?" tanya Kei.


Kio hanya menggeleng. "Io pengen pulang aja." pintanya.


Kei menggenggam tangan putranya yang terasa dingin. Memberi kekuatan dan kehangatan.


"Io pengen pulang? tidak ingin disini?" tanya Kei memastikan.


"Io ingin pulang aja. Io anggap Daddy belum bangun. Nanti kalau Daddy sudah mau peluk Io, Io akan bertemu dengan Daddy lagi." Kio mengatakan keinginannya dengan lirih. Seperti menahan suara tangis.


"Io takut dengan Daddy." imbuh Kio.


Kei menutup mulutnya agar suara tangisnya tidak terdengar sampai ke dalam.


'Ujian apa yang Kau berikan padaku, Tuhan?' batin Kei ingin menjerit.


Kei memeluk Kio dengan erat. Hatinya sudah hancur lebur tak berbentuk. Apalagi mendengar keluhan putranya tentang sikap yang ditunjukkan Ken tadi.


Kio yang masih kecil dan belum pernah melihat ayahnya bersikap dingin dan kasar pasti sangat ketakutan menyaksikan Ken yang membentak Kei dengan suara keras.


Untuk menghindari luka hati pada putranya, lebih baik ia menuruti kemauan Kio untuk pulang ke rumah.


"Ya udah kita pulang dulu ya, mudah-mudahan Dad segera bangun seperti keinginan Io." ucap Kei menyetujui permintaan Kio.


Kei mengelus pipi Kio dan menguatkan diri untuk berdiri. kini dia lah yang menjadi sandaran dan kekuatan bagi Kio.


Melihat mommy nya berdiri Kio segera mendongak. "Mom," panggilnya lagi dengan menatap mata Kei.

__ADS_1


"Iya Sayang." Kei membalas tatapan Kio.


"Sebelum pulang, Io boleh melihat Daddy?" pinta Kio lagi.


"Tapi..." Kei ragu-ragu untuk menjawab. Bingung, akankah mengabulkan permintaan Kio atau langsung mengajaknya pulang. Ia benar-benar takut jika Ken kembali marah mengetahui dirinya kembali masuk.


Bola mata Kei mengarah keatas untuk menghalau airmata yang tak juga surut. Semakin menggenang bagai anakan sungai.


"Io cuma lihat Dad dari pintu." kata Kio.


Kei mengangguk lemah bersamaan dengan airmatanya yang juga tumpah.


Kio turun dari kursi yang diduduki, berjalan menuju pintu ruang rawat Ken yang bercat putih. Kei ikut menyusul dibelakangnya dan membuka handel pintu dengan pelan.


Pintu yang tidak dibuka dengan lebar tapi bisa membuat Kio mengintip Daddy nya dari pintu yang sedikit terbuka.


Semoga Daddy cepat sembuh dan ingat dengan Io lagi.


Io merindukan Daddy. Ingin dipeluk dan cium Daddy lagi.


Io pulang, Dad.


Airmata Kio lolos membasahi pipi, tapi secepatnya tangan mungil itu menghapus.


"Ayo Mom kita pulang." ajak Kio yang sudah puas mengintip wajah ayahnya.


Kei mengangguk. Ia segera mengambil ponsel dan menghubungi mami Lyra.


Tak berapa lama sambungan terputus mami Lyra sudah muncul dengan deraian airmata dan langsung saja menubruk tubuh Kei dan menangis pilu.


Beruntung Kyura tidak menangis.


"Yang sabar ya Sayang. Mami yakin, Ken pasti akan ingat denganmu. Sabar, ini ujian. Kamu pasti bisa melewati ya Nak." mami Lyra mengusap punggung Kei.


Kei semakin terisak, seolah tangisnya tak bisa terhenti padahal suaranya sudah hampir hilang. Kei tidak sanggup menjawab, hanya anggukan kepala yang mampu dilakukan.


"Mami akan mengupayakan pengobatan yang terbaik untuk suamimu."


Tubuh Kei benar-benar terasa lemas tak bertenaga. Ia menangis terisak dengan sesenggukan. Badannya tertopang pada tubuh mami Lyra karna seluruh badan seperti tak bertulang.

__ADS_1


"Kei... Kei!!!!"


__ADS_2