Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Kebahagiaan Yang Lengkap.


__ADS_3

Kebahagiaan datang membawa senyum. Ketika rasa sakit datang, hanya ada kesedihan yang berteman dengan airmata. Bukan hanya kebahagiaan saja sebagai anugerah, rasa sakit juga anugerah dari Tuhan pemilik Alam.


Rasa sakit itu memang menyedihkan. Tapi percayalah, bahwa akan ada orang yang selalu menemanimu dan memberi kata penyemangat untuk sembuh. Dari itu, kita bisa lihat seseorang yang benar-benar tulus menyayangi kita.


Disaat sakit melanda, segala aktivitas seakan terbatas, kita banyak memiliki waktu untuk merenung, hingga disaat kau diberi kesehatan pandai-lah untuk bersyukur. Dari rasa sakit jua kita bisa belajar menghargai diri sendiri untuk menjaga kesehatan, karna itu nikmat dan anugerah terbesar.


"Honey..."


Kelopak mata Kei bergerak pelan, tak lama kelopak mata itu terbuka. Menyesuaikan keadaan sekitar.


Betapa senangnya hati tuan Ken, saat melihat istri tercinta mampu membuka mata kembali.


Kesedihan lenyap, kekhawatiran hilang, kecemasan telah menjauh. Hingga kesenangan yang datang membawa secercah harapan, dan menerbitkan senyum indah.


Kei mengedipkan mata, seluruh kesakitan ia rasakan, tak mampu menggerakkan anggota tubuh.


"My wife, Sweety, Honey, aku senang kau sudah sadar." kebahagiaan ini terlalu besar, hanya mampu mengungkapkan dengan kata dan senyuman.


Wanita tengah sakit itu mencoba menarik ujung bibir demi membalas senyum baik dari suaminya.


"Kau telah berhasil, Honey. Kau berhasil melahirkan anak kita, malaikat kecil kita. Terima kasih untuk pengorbanan dan perjuangan yang luar biasa. Aku sangat mencintaimu."


Kei baru tersadar, tuan Ken bersemangat mengungkapkan seluruh isi hati. Berdiri dan mencium kening Kei dengan dalam.


"Tak ada keinginan lain, selain melihatmu bisa sembuh. Aku selalu dibayangi rasa takut saat melihat matamu terpejam, takut mata indah itu tidak terbuka lagi." kedua bola mata tuan Ken menyiratkan ketulusan. Apa yang dia ucap adalah sebuah kejujuran.


Kei melebarkan senyum, tak ada kebahagian lain selain hari ini. Ia telah berhasil melakukan jihat sebagai seorang wanita. Kebahagiaan yang semakin lengkap memiliki suami yang sempurna seperti tuan Ken.


"Kenapa kau diam saja? apa kau kesakitan? aku akan memanggil dokter." banyak kata yang ia ucap belum mendapat jawaban dari Kei, berpikir apa yang terjadi dengan istrinya. Ia segera berdiri untuk menekan tombol yang terdapat didinding.

__ADS_1


"Aku tidak pa-pa," Kei menjawab dengan suara lirih, bahkan suara itu nyaris hilang.


Tuan Ken mengurungkan niat dan kembali duduk.


"Dimana anak kita?" sedari tadi itulah pertanyaan yang ingin ia katakan.


"Tunggu sebentar, aku akan membawa anak kita." tuan Ken segera berdiri dan membuka gorden yang menghalangi pandangan, dari sana sudah terlihat box bayi yang menampung tubuh kecil anaknya. Perawat dan mami Lyra bisa melihat jika Kei sudah sadar. Mertua yang sedari tadi merasa cemas, berjalan cepat menghampiri menantunya.


Mengecup pucuk kepala Kei dengan sayang. "Sayang, kamu sudah sadar? mami senang melihatmu baik-baik saja, Kei." airmata dikedua sudut mata tuanya telah jatuh. Bukan airmata kesedihan, tapi airmata kebahagiaan tiada tara.


"Terima kasih sayang, kau memberikan cucu yang sangat tampan." bukan hanya tuan Ken yang mengucap terima kasih, mami Lyra bersyukur dan berterima kasih dengan kebahagiaannya saat ini. Itu semua balasan dari perjuangan Kei.


Tuan Ken mencoba menggendong bayi kecil, meski tangan itu sangat kaku tapi ia bisa melakukannya. Mendekati tubuh istrinya dan mendekatkan diwajah sang istri.


Dengan seneng hati, Kei memberikan senyum pertama untuk malaikat kecilnya. Airmata menggenangi kedua sudut mata hingga tak lama cairan bening itu terjauh.


Makhluk kecil yang mengisi rahim selama 9bulan lebih dan menemani hari-hari dengan gerakan tendangan diperutnya, kini makhluk itu sudah keluar menjadi sosok yang imut dan menggemaskan.


Mendapat sentuhan dari Mommy-nya, bayi kecil itu terbangun dan membuka mulut mungil untuk menguap. Semua yang menyaksikan itu tersenyum gemas. Baru menutup mulut, bayi itu berganti menangis. Ia ingin merasakan sumber makanannya kembali.


Perawat segera melakukan seperti yang tadi, menaruh tubuh kecil itu diatas tubuh Kei dan membiarkannya untuk mencari sumber makanannya sendiri.


Senyum dibibir Kei tak pernah surut, selalu mengembang dan mencermati kegiatan anaknya yang sedang menyusu dengan kuat.


Jari-jari tangan yang sangat kecil, rambut tebal dan hitam. Hidung mungil dan juga bibir merah seperti cerry, sangat pas perpaduan dari wajah Kei dan tuan Ken.


"Dia laki-laki, kau akan tetap menyayanginya?"


Pertanyaan tuan Ken barusan mengalihkan perhatian Kei. Ia segera memandang kearah suaminya. "Apapun jenis kelaminnya, aku tetap menyayangi anakku. Tak ada alasan untuk mengabaikannya, ia sumber kebahagiaan kita." Kei menjawab dengan senyuman. Ia tidak marah dengan pertanyaan dari suaminya. Waktu hamil ia selalu menginginkan anak perempuan, bahkan sempat berdebat kecil dengan tuan Ken karna suaminya itu menginginkan anak laki-laki.

__ADS_1


"Ken, Kei.. anak itu adalah anugrah dari Tuhan. Kita tidak bisa memilih dan menentukan jenis kelaminnya, itu sudah takdir dari-Nya. Kita hanya bisa berdo'a dan berharap, tapi Tuhan yang memberikan. Bersyukurlah Nak, malaikat kecil itu berada ditengah-tengah kita. Apapun jenis kelaminnya tak harus mengurangi rasa sayang kalian." petuah dari mami Lyra. Ia mengelus rambut cucunya.


"Iya Mi, makasih untuk nasehatnya. Kei tidak mempersalahkan jenis kelamin. Saat ini Kei bersyukur sudah berhasil melahirkan dan masih bisa menemani kalian. Aku akan menyayangi putraku dengan segenap jiwa."


Tuan Ken tersenyum bahagia, tangan yang tak henti mengelus rambut Kei.


"Kalian akan memberi nama siapa, malaikat kecil ini?" tanya Mami Lyra.


Tuan Ken dan Kei saling pandang, untuk nama ia juga belum terpikir karna hingga proses melahirkan keduanya tidak mengetahui apakah anak itu perempuan atau laki-laki.


"Kau ingin memberi nama siapa, Sweety?" tuan Ken berganti menanyai Kei. Meminta rekomendasi sebuah nama.


"Siapa ya? aku juga belum punya nama untuk anak kita." jawab Kei.


"Kalian ini bagaimana, kenapa tidak mencari dari sebelumnya." mami Lyra melihat tuan Ken dan Kei bergantian.


Tuan Ken menggaruk pelipis dan tersenyum, ia sampai lupa untuk menyiapkan nama untuk anaknya.


Ketika tak ada pergerakan dari anaknya, Kei melihat kebawah. Ternyata makhluk kecil itu sudah kembali terlelap. Perawat segera menggendong dan akan memindahkan kedalam box. Tapi Kei mencegah, ia masih ingin melihat wajah malaikat kecil itu. Akhirnya perawat menidurkan baby boy disamping tubuh Kei.


Pintu ruangan terbuka, muncul sekretaris Lee dan Dewi dari balik pintu itu. Mereka mendekat keranjang, Dewi sudah melayangkan senyum terbaiknya.


"Nyonya besar, tuan." Dewi menunduk sebentar untuk menyapa. Mami Lyra mengangguk dan tersenyum, tuan Ken hanya mengangguk.


"Kei, selamat ya... kamu sudah berhasil menjadi seorang ibu."


"Iya mbak, terima kasih. Mbak juga akan segera menjadi seorang ibu seperti ku."


"Iya. Tapi masih lama, aku juga tidak sabar menunggu anakku lahir." ia mengelus perut buncitnya.

__ADS_1


__ADS_2