
"Au'..." gadis berseragam putih abu-abu itu meringis kesakitan saat kedua lutut yang berbentur dengan lantai keramik.
Teman-teman yang lain menyoraki dan memaki dengan kata-kata yang tidak enak didengar, seringkali gadis itu mendapat bully dari teman-temannya, lantaran kaki sebelah yang tidak berfungsi.
Kejadian itu sering dialami, membuat Kei menutup diri tidak banyak memiliki teman. Tanpa menutup diri pun teman yang lain tidak mau berdekatan dengannya.
Disaat ia menunduk, ujung mata itu melirik kearah samping, sebuah uluran tangan menjulur kearahnya.
Meski tangan itu terarah padanya, tak lantas membuat Kei menerima uluran tangan. Ia mendongak untuk melihat orang siapa yang sudah membantunya. 'Pria ini?' batin Kei.
Dihadapannya sudah ada pria bertubuh jangkung dengan tubuh yang kurus. Wajah itu terlihat dingin tapi lumayan tampan untuk ukuran dewasa seusia lainnya.
"Kalian pergilah. Kalau tidak, aku laporkan pada guru." suara yang tegas mengancam segerombolan anak perempuan yang dari tadi membully Kei.
Tangan itu masih tetap terulur, akhirnya Kei menerima uluran tangan dengan pelan ia berdiri. Lelaki itu berjongkok mengambil alat bantu jalan dan memberikannya pada gadis yang baru saja dibantu.
Kei masih meringis, kedua lututnya terasa perih dan terluka.
"Lututku berdarah," ucapnya.
"Nggak pa-pa, makasih sudah bantuin aku." kata Kei.
"Kita duduk disana," ajaknya.
Entah kenapa Kei mengikuti langkah kaki itu, mereka duduk didepan halaman sekolah. Di sana tak banyak siswa yang berkumpul, di jam istirahat biasanya lebih suka nongkrong di kantin.
Tanpa berkata, lelaki itu pergi begitu saja. Kei hanya melihat derap langkah itu ternyata masuk kedalam kelas. 'Bukankah dia si cupu dari planet angkasa.' Kei membatin.
Si cupu dari planet angkasa. Ya, begitulah teman-teman satu kelas memanggil lelaki itu. Sebenarnya nama pria itu bagus, setiap guru menyebut nama untuk absen satu kelas ketika dipanggil dengan nama Tony Aditama maka lelaki itu akan mengangkat tangan.
Derap langkah kembali mendekat, lelaki itu kembali duduk disamping Kei. Tangannya terulur kembali kali ini ada plaster bergambar tokoh kartun.
Lagi, Kei tak langsung menerima. Ia tatapi sorot mata lelaki itu, tentu keheranan. Biasanya tak ada satu orang pun yang perduli dengannya. Sorot mata itu menunjukan ketulusan, tangan Kei menerima plaster dan menggenggamnya.
"Menjadi beda dari yang lain memang seperti ini. Sering dikatakan aneh, dianggap remeh. Tapi kalau aku hanya menuruti keinginanku sendiri." ucapnya.
__ADS_1
Kei keheranan dengan sosok lelaki disampingnya, lelaki itu jarang sekali berbicara. Ia lebih suka sendiri dan menyendiri tanpa seorang teman satu pun.
"Heum, kamu benar. Menjadi beda dari yang lain memang banyak konsekuensi yang ditanggung." jawab Kei.
"Aku Tama." lelaki itu memperkenalkan diri.
"Aku Keihana, tentu kau tau mereka memanggilku dengan nama Kei." kedua telapak tangan saling berjabat.
"Aku tidak memanggilmu sama dengan mereka, aku lebih suka memanggil nama Hana."
"Eum, terserah kau saja." keduanya berlanjut mengobrol bersama.
Dari perkenalan yang tidak disengaja itu Kei dan Tony semakin akrab, mereka sering mengobrol. Hingga suatu hari, pada saat ujian akhir sekolah, lelaki itu mengajak Kei ke suatu tempat yaitu dibelakang gedung sekolah. Disana ada pohon rindang, Tony dan Kei duduk berdampingan.
Duduk bersama bukanlah yang pertama, mereka sering mengobrol dan duduk bersama. Bahkan teman-teman satu kelas menjuluki sicacat dan si cupu berpacaran. Padahal mereka hanya berteman.
Tapi pertemanan itu harus renggang saat Kei menolak perasaan Tony, dengan alasan ingin fokus pada ujian akhir.
Saat itu Tony menerima keputusan Kei untuk sama-sama fokus dalam mata pelajaran.
Tapi, pada saat kelulusan sekolah. Didepan gerbang sekolah Tony melihat Kei dijemput seorang lelaki yang tak lain adalah Izham.
Sedari SMA dia sudah mempelajari tentang data-data dikomputer hingga ia bisa menjadi hacker seperti saat ini.
Setelah lulus SMA, Tony memutuskan untuk merantau di Jakarta. Lelaki itu tak sengaja bertemu tuan Ken dan membantunya, dari itu Ken mengangkat Tony sebagai tangan kanan yang disembunyikan. Tony sendiri lebih suka begitu.
Seperti itu flasback masa lalu mereka.
Kei yang sedang menyusui baby Kio menggeleng-gelengkan kepala. "Kenapa aku teringat masa sekolah." ucapnya dengan diri sendiri.
Bibir Kei tersenyum, ia masih teringat kebersamaanya dengan lelaki si cupu dari planet lain. Lelaki yang awalnya sangat kaku dan irit bicara, tapi setelah mengenal lebih jauh Tony lebih bawel dari biasanya.
Kini setelah bertahun-tahun mereka dipertemukan kembali.
Pertemanan yang putus karna perpindahan Tony yang misterius, sejak berakhirnya ujian sekolah Kei tak pernah lagi bertemu dengannya.
__ADS_1
Bahkan untuk mengucapkan kata perpisahan pun tak bisa. Dia menghilang bagaikan ditelan bumi.
Setelah dipertemukan lagi, ternyata Tony adalah tangan kanan suaminya.
Meski mereka bertemu lagi tak akan merubah apapun, mereka sudah memiliki kehidupan yang berbeda.
Baby Kio sudah tertidur di pangkuannya. Tapi Kei masih asik bernostalgia dengan kenangan SMA.
Decitan pintu menyadarkan Kei dari lamunan. Lee muncul dibalik pintu. "Nona, anda sudah diperbolehkan kembali kekamar tuan muda." perintahnya.
Kei menghembuskan nafas."Tidak kembali juga tidak pa-pa." sungut Kei. Ia masih kesal dengan perintah suaminya yang menyuruh dirinya untuk bersembunyi.
Melihat Kei tak ada pergerakan, Lee bersuara lagi. "Mari Nona."
"Ah, iya iya. Baiklah." akhirnya Kei beranjak untuk keluar dari ruang persembunyian dan menuju keruang Ken.
Disana ia terlihat acuh.
"Honey," panggil Ken.
Kei mendekat dan duduk disofa tunggal. Didalam gendongan baby Kio masih terlelap.
"Kemari kan, aku ingin mencium jagoan tukang tidur itu." perintah Ken.
Kei mendekatkan putra kesayangan dihadapan Ken, dengan segera sang Daddy menciumi seluruh wajah putranya. Baby Kio bergerak dalam tidurnya, merasakan ada gangguan. Tapi matanya begitu berat untuk terbuka, hingga bayi mungil itu tidak terbangun.
Setelah puas, Kei beralih menidurkan baby Kio didalam box.
"Kenapa istri cantikku cemberut begitu? kau ingin meminta jatah."
Kei memutar bola mata, dalam hati sudah pasti menggerutu.
"Aku kesal, kenapa kau harus mengungsikan aku didalam kamar lain. Apa aku tidak boleh berinteraksi dengan orang lain." ucap Kei kesal.
"Siapa yang melarang mu berinteraksi dengan orang lain. Aku hanya tidak suka kau jadi pusat perhatian para lelaki lain."
__ADS_1
Lagi-lagi Kei menghembuskan nafas berat. "Wajar lah mereka melihatku, aku manusia yang bisa terlihat. Bukan hantu kasat mata!" sungutnya.
Ken malah menanggapi dengan gelak tawa. Tuan muda yang arogan, dulu sangat jarang menunjukan deretan gigi tapi kini telah berubah. Setiap saat bisa tertawa jika didekat sang pujaan hati.