
Sesudah jam kuliah berakhir, Akio memutuskan untuk mampir ke cafe. Bukan hanya mengecek saham cafenya, melainkan untuk mengisi waktu kosong.
Akio duduk di ruangan khusus yang ada di lantai atas. Berpangku tangan dengan menatap alam dari dalam ruangannya. Tak lama terdengar ketukan pintu diiringi seseorang masuk.
"Ngelamun aja, Bos. Ntar kesambet," seloroh seseorang yang baru masuk.
"Sialan! Kenapa?"
"Mau setor daftar rekap karyawan baru yang keterima kerja. Ada 5 orang, satu masih berstatus mahasiswa dan mengambil kerja part time." Seseorang itu menaruh map di atas meja.
"Oh ya, nanti malam ada yang boking cafe ini buat acara pesta. Udah bayar setengahnya, jadi aku setujui saja."
"Sampai jam berapa?"
"Jam 10 malam."
Akio mulai membuka satu persatu map yang tertumpuk dengan jumlah lima biji. Sampai di map nomor 4, dia dibuat mengernyit begitu melihat foto seseorang terlampir di kertas surat lamaran kerja itu. Dia lagi?
"Kapan mereka mulai kerja?"
"Hari ini, Bos. Dari mereka bersedia bekerja dalam waktu dekat. Jadi, mumpung ini tanggal 1, mereka yang sudah siap aku lakukan sistem uji coba. Bila berhasil, mereka akan diterima."
Sesudah tak ada lagi yang perlu dilaporkan, pegawai tadi beranjak keluar.
Pintu kembali tertutup, Akio berpindah ke sofa dan merebahkan diri dengan tiduran telentang. Sampai tak terasa mata indahnya terpejam.
Naya yang baru datang ke cafe langsung berganti pakaian dan menuju dapur. Memegang piring kotor dan harus mencuci semuanya.
"Selesai cuci piring, kamu bantu buat lap meja bekas tamu!" Perintah seorang perempuan lebih tua dari Naya.
"Baik, Mbak," jawab Naya. Sesudah perempuan yang bertugas sebagai pengawas itu pergi, Naya menghirup napas panjang. Lelah dari pulang kampus sudah harus bekerja dengan pekerjaan lumayan melelahkan. Apa daya, semua demi membantu ibunya.
Sejak ayahnya pergi dan tak tahu dimana rimbanya, ibunya yang harus banting tulang untuk mencari nafkah. Bahkan dia dan ibunya harus pergi dari kota yang sejak lahir dia tempati, semua terjadi karena sesuatu yang dialami. Kini, dia juga harus bekerja demi meringankan beban ibunya.
__ADS_1
Pukul enam sore cafe sudah ditutup untuk pengunjung luar. Tinggallah pelayan yang begitu sibuk mempersiapkan acara pesta. Begitu juga dengan Naya yang harus lembur sampai pukul 10 malam. Beruntung rumah Naya tidak begitu jauh dari cafe, jadi dia tidak perlu khawatir bila tak ada kendaraan lewat, dia bisa berjalan kaki meski jarak yang harus di tempuh sekitar satu kilo meter.
Acara pesta sudah berakhir, Naya pun bersiap pulang. Di parkiran khusus karyawan, keseluruhan dari mereka memang membawa kendaraan masing-masing. Naya yang belum begitu mengenal teman kerjanya tidak berani untuk menumpang. Padahal dia sendiri kurang yakin bila masih ada angkutan umum yang lewat di jam larut malam.
Terpaksa Naya berjalan pelan menyusuri trotoar. Namun, sialnya cuaca kurang bersahabat sampai gerimis mengguyur bumi.
Naya yang ingin segera sampai rumah memilih menerjang gerimis. Hingga bajunya sedikit basah.
"Gadis, sendirian aja nih?"
Tiba-tiba ada dua laki-laki sudah berdiri di depannya. Keduanya muncul dari bangunan kosong.
Naya tidak menjawab dan mempercepat langkahnya, bahkan jantungnya ikut berpacu cepat. 'Tuhan, ini pertama aku bekerja, kenapa harus begini?'
Karena dua pria itu terus mengikuti, Naya berusaha lari. Tetapi salah satu dari mereka menarik baju Naya dari belakang sampai kancing baju terlepas.
"Tolong jangan ganggu saya!" mohon Naya dengan memegangi kemeja bagian depan.
Mendengar itu Naya semakin ketakutan, dia berusaha kabur dengan berlari menjauh. Tetapi tetap di kejar.
Srak!
Kali ini baju Naya yang sobek. Naya menjadi kurang seimbang dan justru tersungkur. Dia mulai menangis. Berdoa dalam hati, semoga ada yang menolongnya.
"Lek! Seret ke pinggiran, biar kita bisa eksekusi."
Kedua tangan Naya dipegang dan di seret paksa untuk digiring ke bangunan yang tidak terpakai.
Naya berontak dan berteriak meminta tolong, namun jalan begitu sepi dengan hujan mengguyur lebih deras. Dia hampir tak memiliki harapan, tiba-tiba ...
Din! Din! Klakson mobil berbunyi, dan pencahayaan lampu mobil menyorot terang kearah Naya dan dua pria tadi.
Seseorang keluar dari mobil dan mendekat. Bahkan tanpa di duga menendang dan memukul dua orang yang berniat jahat pada Naya.
__ADS_1
Terjadi baku hantam satu pemuda melawan dua pria dewasa. Pemuda yang bersuka rela mengorbankan tubuh berharganya demi membantu seorang perempuan yang hampir dilecehkan.
Dua kali pemuda itu mendapat bogem mentah-mentah di bagian pelipis dan ujung bibir sebelah kanan. Meski sempat terjungkal di tanah, namun pemuda itu berhasil bangkit dan berusaha mengerahkan segala tenaga yang dimiliki. Hingga kedua pria dewasa itu berhasil di lumpuhkan dan kabur begitu saja.
Bruk! Pemuda itu menjatuhkan lutut di atas aspal. Naya berusaha mendekati.
"Apa kamu terluka parah?" tanya Naya. Jalanan itu kurang terang, hingga Naya tak begitu jelas melihat pemuda yang menunduk sambil memegangi bibirnya.
Pemuda itu beberapa kali meludah, mungkin karena ujung bibirnya mengeluarkan darah dan membuat tidak nyaman.
"Kamu sendiri belum diapa-apakan sama mereka, kan?" Pemuda itu mendongak.
"Ka-kamu, Akio, kan?" Naya terkejut sampai memundurkan kepala.
Akio tidak menjawab, dia berusaha bangkit dengan mendesis-desis kesakitan. Maklum, selama ini Akio jarang terluka bahkan hampir tidak pernah. Maka dari itu, luka di pelipis dan ujung bibirnya begitu terasa perih.
Hujan masih setia mengguyur meski dengan ritme tidak terlalu deras tetapi mampu membuat baju keduanya basah.
"Masuk ke mobil, biar aku antar pulang," kata Akio setelah dari tadi diam.
"Tapi ...." Naya terlihat bingung.
"Tapi apa? Kamu mau jalan kaki lagi dan ketemu orang seperti tadi?"
Naya menggeleng. "Bajuku basah, nanti kursi mobilmu ikut basah." Dia mendekap tubuhnya sendiri karena baju yang dipakai sudah robek sana-sini.
Hah? Akio melotot. Bagaimana perempuan kacau didepannya masih kepikiran dengan kursi mobil yang akan ikut basah. Apakah semua itu penting ketimbang keselamatan perempuan itu sendiri. Dasar konyol.
"Tidak usah memikirkan itu." Akio menuju mobil dan akan masuk. Tapi berhenti melihat Naya yang sama sekali bergeming. "Kalau tidak mau, aku tinggal."
"I-ya iya, tunggu!" Naya segera menuju mobil Akio. Dia sempat ragu untuk naik atau tidak, tetapi tidak mau tinggal sendiri di tempat sepi itu.
Sesudah duduk di kursi samping kemudi, Naya mengamati isi dalam mobil yang begitu mewah dan terlihat canggih. Sungguh, baru pertama kali naik ke mobil seperti itu. Jantungnya berdetak tak beraturan, dengan sesekali melirik arah Akio. Canggung. Namun dalam hati sangat bersyukur berkat pemuda itu dia bisa lolos dari kehancuran masa depan.
__ADS_1