Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Ragu


__ADS_3

Ketika Zee pamit pergi ke kantin rumah sakit, Akio cepat-cepat mengambil ponsel di atas nakas dan menghubungi seseorang.


"Fin, pekerja baru yang ngambil shift paruh waktu apa dia masuk kerja?"


"Tidak, Bos. Baru sehari masuk tapi sore ini nggak datang tanpa keterangan. Memang kenapa Bos? Apa dia harus saya pecat."


"Nggak-nggak, jangan! Aku cuma tanya itu aja. Dan satu pesanku, jangan pecat dia." Akio mewanti-wanti, membuat seseorang diseberang sana mengerutkan dahi karena bingung. Tetapi tak ada kuasa untuk banyak tanya.


"Baik, Bos."


Klik! Akio memutus sambungan. Dia diam dengan pandangan menerawang. Sesaat kemudian mengacak-ngacak rambutnya seolah frustasi.


"Sial! Nggak usah dipikirin! Toh, dia bilang semuanya memang sengaja dan jangan sampai dibahas lagi. Ssttth!" Akio mendesah berat.


"Kakak kenapa ih kayak orang putus cinta." Kyu tiba-tiba masuk. Dia baru datang sejak pagi tadi menghilang. Lantas, gadis tanggung itu mendekati sang kakak.


"Ini Kyu bawa pancake buat Kakak." Menaruh paper bag di atas nakas dan duduk di kursi tunggal. "Mom ke sininya nanti bareng Dad. Kata Mom, Kakak ditemani Kak Zee. Kemana dia?" Kyu celingukan di dalam ruangan. Tetapi tidak menemukan siapapun.


"Lagi ke kantin," jawab Akio singkat.


"Kakak kenapa wajahnya kusut banget? Tengkar sama Kak Zee?"


"Apa sih, bahas Zee terus," sungut Akio. Suasana hatinya sedang tidak menentu, rasanya malas untuk berinteraksi pada siapapun. Ingin menyendiri dan merenung.


"Ya harus bahas Kak Zee, bentar lagi kan dia jadi ipar aku." Kyu cengengesan. Akio memutar bola mata. Jengah.


"Kyu, berarti kamu tahu acara tadi malam memang mau bahas aku dan Zee?" tanya Akio Serius.


"Sebelumnya nggak tahu. Baru tadi malam aja. Cie ... dari kecil bersama, sampai tua juga bakal tak terpisahkan. Sweet banget, Kak." Kyu menggoda sang kakak.


Mendengar itu bukannya merona justru membuat hati Kio menjadi gelisah. Entah, kekacauan hatinya terus bertambah. Apalagi, mengingat gadis baru bernama Naya. Rasa bersalah dan rasa tanggung jawab begitu menghantui.


Ceklek! Pintu terbuka. Zee masuk membawa 2 cup minuman. "Kyu, kapan kamu datang?"


"Barusan, Kak."

__ADS_1


"Yah ... Kakak cuma beli 2 minuman, Kakak nggak tahu kalau kamu mau ke sini," ujar Zee tak enak hati.


"Nggak papa, Kak. Kyu nanti bisa beli sendiri." Kyu melempar senyum. "Kakak uwuw banget nungguin Kak Io dari pagi sampai sekarang. Kakak juga ikut ijin kuliah, ya?"


Zee membalas senyum dan mengangguk. "Nggak ada kakakmu, nggak asik. Makanya Kak Zee ikutan izin nggak masuk."


"Huuu ...!" Kyu bersorak seperti anak kecil yang membuat Zee tertawa lepas.


"Kamu cantik kalau pas ketawa lepas, Zee," kata Akio menyela.


Seketika tawa Zee terhenti. Berganti senyum malu, dengan rona pipi berubah memerah.


"Yey-yey-yey! Aduh, yang jomblo dibikin iri." Kyu meledek dengan wajah dibuat seolah cemberut. Namun tidak sungguhan, karena berikutnya gadis itu berganti terbahak. "Dunia milik berdua. Adik pun tak terlihat."


"Kyu!" Akio melirik.


"Oke-oke, Kyu tunggu di luar ajalah. Nggak mau ganggu." Dia berdiri.


"Kyu, kamu nggak ganggu, kok," kata Zee.


"Mau minum, Kak?" Zee menawari.


"Nanti. Taruh aja di situ."


"Kak, kuliah kita tinggal 3 semester lagi. Kata Tuan Dad, Beliau menyerahkan keputusan di tangan kita ...." Kalimat Zee di potong Akio.


"Keputusan apa?"


"Keputusan buat hubungan serius."


"Zee, apa kamu udah kepikiran hal serius itu? Nggak mau lanjut kuliah S-2 atau nikmati waktu dulu?"


Zee terdiam dengan kedipan mata beberapa kali. Bila yang lain terkendala restu, tetapi dia sudah dengan mudah mendapatkannya. Namun, saat ini yang terjadi justru sebaliknya. Kenapa sulit membuat Akio antusias untuk menyetujui. Akio terlihat ragu.


"Kak, selama umur kita sampai sekarang, kita selalu bersama. Banyak yang sudah terlewati, bahkan dari kecil Kakak pasti tahu apa yang Zee ingini. Ini mimpi terbesar Zee bisa seutuhnya bersama Kakak. Zee rela membuang waktu remaja demi Kak Io. Aku tidak membutuhkan gelar S-2 atau bersenang-senang dengan masa remaja, karena bagiku, bersama Kakak sudah jauh membahagiakan. Bukan begitu, Kak? Kakak memiliki perasaan sama sepertiku, kan?"

__ADS_1


Akio diam seribu bahasa. Ditelan bulat-bulat air liur yang serasa berubah pahit. Sepahit empedu. Apa yang harus dia jawab? Jujur, tidak mungkin! Karena akan menyakiti Zee. Dia benar-benar hanya menganggap Zee seperti Kyu. Adik yang harus dijaga dan di sayang. Namun bukan rasa sayang seperti kekasih. Hanya sekedar adik, namun tidak mungkin dia jahat dengan mengatakan semua itu.


Tak menampik bila dia sendiri memang paham dengan perasaan Zee yang menyukainya sebagai lawan jenis. Dia masih ingat perkataan Zee bahwa dari kecil keinginan perempuan itu hanya menikah dengannya. Meski selama ini Akio tak mengambil pusing tentang jodohnya di masa mendatang, namun semua itu terjadi juga pada saat ini.


"Kak ...?" Zee menyadarkan Akio karena pria itu malah melamun.


"Eh, aku lapar. Bisa kamu ambilkan makanan?" Akio mengalihkan topik.


Zee terdiam dengan raut kecewa, Akio terus saja menghindari pembicaraan serius tentang hubungan mereka. Apa Kak Io nggak suka aku? Tapi selama ini Kak Io nggak pernah dekat dengan perempuan manapun, nggak mungkin Kak Io menyukai perempuan lain. Tapi kenapa Kak Io kelihatan ragu?


Walau begitu, Zee tetap menyiapkan makan untuk Akio. Dengan senang hati dan telaten menyuapi Akio hingga beberapa suapan.



Di rumah sederhana.


Tok ... tok!


"Nay, kamu masih demam, Nak?"


Naya mengangguk. "Naya masih demam juga badanku lemas, Bu."


"Makannya kenapa masih utuh? Kamu nggak makan, gimana mau bertenaga." Ibu Naya duduk di tepi ranjang. "Eh, semalam di antar siapa?"


"Teman kuliah, Bu."


"Dia juga kerja di tempat kamu kerja?"


"Naya nggak tahu. Semalam nggak sengaja ketemu di jalan dan dia nawarin tumpangan. Daripada Naya kehujanan di tengah malam, lebih baik Naya ikut menumpang di mobil dia," papar Naya.


Padahal yang sebenarnya tidak begitu. Dia tidak mungkin jujur, kalau semalam hampir di lecehkan dua pria berandalan. Hal itu akan membuat sang ibu khawatir dan dampak buruknya bisa saja ibunya tidak lagi memberi izin untuk bekerja part time. Padahal dia sangat membutuhkan uang.


Ada yang menjadi beban. Dia lolos dari dua berandalan, tetapi terperangkap pada pria dingin yang tidak begitu dikenal. Setan benar-benar laknat karena berhasil memperdaya.


"Sepertinya pemuda itu baik. Tapi sayang, Ibu belum melihat wajahnya sudah keburu pergi."

__ADS_1


__ADS_2