
Kei duduk disamping Ken. Sepuluh jemari yang saling bertautan, merasa cemas dan takut. Menunduk, tidak berani memandang kearah siapapun. Benar-benar seperti tersangka, begitu didukung dengan keadaan sunyi senyap yang mencekam, hanya terdengar hembusan nafas. Semua masih terdiam belum ada yang mengawali untuk berbicara atau menjelaskan.
Keadaan Tony tak jauh beda dengan Kei. Menunduk tanpa berani mendongakkan kepala.
Ken melihat kearah Kei dan beralih pada Tony, keduanya bereaksi sama. Itu membuat Ken curiga.
"Kenapa kalian begitu tegang," ucap Ken dengan nada biasa.
Terdengar suara itu, keduanya baru berani mendongak dan melihat kearah Ken.
"Reaksi kalian sama, suatu kebetulan atau memang ada yang tidak aku ketahui." nada bicara Ken masih datar. Tapi tatapan mata itu masih tajam.
"Sayang, aku ingin menjelaskan yang tadi," kata Kei.
"Bukan kau, tapi Tony." jawab Ken cepat.
"Saya tadi berjalan dibelakang perempuan, dia tersandung batu dan akan terjatuh, saya hanya menolong. Sungguh. Kami tidak berpelukan seperti yang anda pikirkan, tuan. Saya juga tidak tau jika perempuan itu adalah istri anda." Tony menjelaskan.
Ken menyangga dagu dengan sebelah tangan, mendengarkan penjelasan dengan seksama. Tapi masalah itu bukan hanya itu saja, ia penasaran dengan nama yang mereka sebut tadi.
Suara sendal yang beradu diatas keramik mengalihkan perhatian mereka. Ternyata Lee datang tanpa diundang.
"Tuan muda," Lee membungkuk hormat.
"Kenapa kau kemari Lee?" tanya Ken.
"Saya membawa laporan keuangan dari kantor anak cabang, tuan."
Ken memicingkan mata, "Siapa yang memintamu membawa laporan!" ucap Ken sinis. Ia tidak memerintahkan pekerjaan itu, dan lagi hari weekend semua libur.
"Laporan keuangan ini ada dirumah saya, saya takut hilang dan langsung membawanya kesini." alasan yang entah masuk akal atau tidak. Ia yang mendapat laporan dari salah satu pengawal tentang kejadian ditaman langsung bergegas datang, ia yang selalu menjaga keadaan disekitar tuan muda posesif agar kondusif. Tuan muda akan susah menerima penjelasan, ia takut amarahnya semakin membesar. Jika begitu, semua akan dibuat kerepotan.
"Ah, terserah kau. Aku sedang menangani masalah serius."
Ken memandang Tony. "Bukan penjelasan itu, aku ingin tau kenapa kalian menyebut dengan nama berbeda!"
__ADS_1
Tony kembali terdiam, inilah alasan yang belum ia rancang. Ia bingung bagaimana harus menjelaskan.
"Sayang, aku dan Tony memang sudah kenal..."
"Apa...!"
'Hei, baru begini, kenapa kau sudah sangat terkejut.' batin Kei.
"Dengar dulu," ucap Kei.
Ken menghembuskan nafas, pandangan tajam tadi berubah menelisik satu sama lain bergantian.
'Nona Kei dan Tony saling kenal? bagaimana bisa? setau ku Tony manusia anti sosial dan selalu bersembunyi.' batin Lee. Ia juga keheranan tapi diam saja, terus mengawasi jalannya sidang.
"Dia itu teman SMA ku waktu di Yogyakarta. Dia dulu dipanggil dengan nama Tama dan aku sendiri dipanggil dengan nama Hana." jelas Kei. Hatinya ketar-ketir, apakah Ken bisa menerima penjelasannya.
"Oh, begitu." jawab Ken, jari telunjuknya mengetuk dagu beberapa kali.
'Hah, aku lega. Tumben sekali tuan muda posesif ini bisa mengerti.' Kei merasa lega.
Kini bukan hanya Kei yang merasa lega. Orang yang paling direpotkan saat tuan muda mengamuk adalah Lee, ia yang sering mendapat bogem mentah tanpa alasan. Kini tangan kanan itu bisa bernafas bebas, dilihat tuan mudanya tidak begitu emosi. Berati kasus ini bisa ditangani dengan mudah.
"Lee, telpon si jelek dan tanyakan padanya, apa dulu waktu dikampung istriku dipanggil dengan sebutan nama itu." Ken memberi perintah dengan santai.
Tuan muda itu santai tapi tidak dengan manusia terdakwa, mereka semakin mengkerut. Bagaimana tuan Ken sampai mengusut sebuah panggilan nama dengan detail. Sampai menyuruh Lee bertanya pada orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini. Merepotkan, pemikiran Ken benar-benar merepotkan.
Ketiga orang itu jelas tak habis pikir. Membatin, dia benar tuan muda raja bisnis atau manusia aneh.
"Siapa yang anda maksud si jelek, tuan?" Lee tidak mengerti.
"Ah, payah kau. Aku harus menyebut namanya, padahal aku malas."
"Mantan suami Kei, si Izham jelek." imbuhnya. Diakhir kalimat ia mendengus sebal.
Ketiga orang yang sedang tegang kini menahan tawa oleh perkataan tuan Ken.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, tuan muda. Saya coba hubungi dia." Lee mengambil ponsel dan mencari kontak nama bertuliskan Izham. Beruntung ia masih menyimpan nomor Izham dari sewaktu dikampung dulu untuk mengurus biaya rumah sakit Pak Wahyu.
Lee berbicara dalam telpon, untung saja Ken tidak curiga dan tidak menyuruh mengaktifkan loud speaker, jadi Lee aman untuk melakukan sedikit drama kebohongan agar emosi tuan mudanya tidak kembali meledak.
"Benar tuan muda, dikampung dan waktu sekolah dulu sebagian orang memanggil nona Kei dengan nama Hana." jawab Lee berbohong.
'Maafkan aku tuan muda harus membohongi anda, ini juga demi kebaikan kita semua. Dengan kebohongan ini anda tidak akan emosi dan darah tinggi. Aku juga terhindar pusing. Kasihan dengan Tony dan nona Kei yang ketakutan dan pucat. Mudah-mudahan kasus ini segera diketuk palu.' isi hati Lee.
'Terima kasih sekretaris Lee, kau sudah menyelamatkan aku dan Tama. Aku tau jika kau berbohong, tidak ada orang lain yang memanggilku dengan nama Hana.' Kei tersenyum tipis dan melirik kearah Lee.
Lee menganggukkan kepala sekali.
Pemikiran Tony juga sama, bahkan ia melihat kearah sekretaris Lee. Kini Lee berganti mengedipkannya mata sekali. Kode-kode itu ditangkap dengan baik, ketiga orang itu pasti tau.
Ken yang tadi duduk dengan tegap kini mengendur, raut wajahnya tidak segarang singa mengamuk. Mungkin emosinya sudah menurun. Itu pemikiran ketiga orang tadi.
Ken merenggangkan otot tangan dengan menekan satu sama lain. Ia terlihat santai, berdiri dan mendekati Tony.
Tony biasa saja, kasus ini sudah selesai. Tuan Ken pasti bisa mengerti dengan penjelasan tadi.
Buk...
Tiba-tiba Ken melayangkan pukulan pada sudut bibir Tony hingga mengeluarkan sedikit darah.
Pemandangan itu membuat Kei dan Lee sangat terkejut. Perkiraan mereka meleset. Dipikir semua sudah aman terkendali, kasus sudah selesai tapi tuan Ken tiba-tiba saja melayangkan bogem mentah pada Tony.
"Aku bisa menerima penjelasan kalian. Tapi, aku tetap memberi hukuman karna tanganmu sudah memeluk istriku." ucap Ken santai, ia kembali duduk ditempat semula.
"Sayang, apa yang kau lakukan. Orang tidak bersalah tapi kau beri pukulan." Kei menatap Ken dengan kesal.
"Harusnya kau mengucap terima kasih pada Tony, karna dia aku tidak jadi terjatuh." imbuhnya lagi.
"Ck... kau ini menyalahkan aku!"
"Apapun alasannya dia sudah memelukmu, itu hukuman yang harus diterima." ucapnya lagi.
__ADS_1
"Terserah kau saja, kau memang tuan muda arogan!" sungut Kei dengan kesal.