Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Tidak mau merepotkan


__ADS_3

Faskieh berusaha mencari, walau tidak ketemu setidaknya dia sudah berusaha mencari. Cuaca dingin tidak menyurutkan niat Faskieh untuk menyusuri jalanan sekitar apartment untuk mencari Naya.


Tiba-tiba ponselnya bergetar, lalu ada pesan masuk dari Zee.


'Kamu di mana? Tolong belikan aku makanan, aku malas keluar. Nanti uangnya aku ganti.'


Faskieh membalas 'oke' setelahnya lanjut untuk mencari Naya. Jalanan tampak sepi, cuaca dingin sehabis turun hujan membuat sebagian orang malas untuk keluar. Meski begitu, dia menjumpai beberapa pemuda yang berkumpul. Sekedar menghabiskan malam.


Faskieh hampir menyerah mencari Naya, mungkin apa yang dipikirkan hanya ketakutannya saja. Dia akhirnya pergi untuk mencari makanan pesanan Zee.


Di depan bangunan toko, dia melihat sesosok perempuan duduk meringkuk di bawah kursi dengan kain tipis sebagai penutup sebagian tubuhnya. Awalnya dia mengira hanya seorang pengemis yang memang suka tidur di sembarang tempat. Meski pihak keamanan sering melakukan razia, akan tetapi mereka tidak jera. Faskieh mencoba abai dengan apa yang di lihat. Dia melanjutkan langkahnya. Tapi ....


Eh ... tunggu! Dia berhenti ketika mengingat barang yang sekilas pernah dilihatnya. Tas kecil itu dia pernah melihatnya.


"Hah?" Dia berbalik dan segera menghampiri orang tadi.


"Kak Naya ...!" panggilnya terkejut.


"Ka-kamu ...?" Naya setengah menggigil dan terlihat lemas.


"Ya ampun, Kak. Kenapa Kakak tidur di sini?" Dia yang memakai mantel berbulu tebal saja masih kedinginan, apalagi Naya yang hanya memakai kain tipis.


"Kak, ayo, ikut aku."


Naya menggeleng. Penglihatannya mulai berkabur bersamaan dengan darah yang lagi-lagi keluar dari hidungnya. Setelahnya menggelap ....


"Kak ... hei, bangun, Kak!"


*


Faskieh berjalan mondar-mandir di depan sebuah klinik kesehatan. Dia membawa Naya ke sana karena perempuan itu tidak sadarkan diri.


Andai dia tidak bertekad keluar untuk mencari Naya, mungkin besok pagi dunia berita akan digemparkan dengan penemuan mayat yang berasal dari negara Indonesia.


Faskieh merasa cemas dengan kandungan Naya. Yang dia tahu, biasanya perempuan hamil rentan keguguran jika ibunya dalam kondisi lemah.


Dia sempat terpikir untuk memberitahu om Lee, tetapi dia memikirkan selanjutnya, akankah semakin rumit atau tidak? Apakah itu solusi baik?

__ADS_1


Bingung memikirkan Naya, dia sampai lupa tidak memberi kabar kepada Zee, sampai nona nya itu justru menghubunginya lebih dulu.


'Kamu di mana, woi! Aku kelaparan! Kenapa lama banget, buruan pulang,' sembur Zee kesal dari seberang telepon.


"Maaf Kak, aku belum jadi belikan makanan. Sekarang aku lagi di klinik, tadi menemukan kak Naya pingsan di depan toko orang," jelas Faskieh.


"Apa ... ?"


"Iya, aku lagi nungguin Kak Naya. Kasihan dia."


Sambungan telepon tiba-tiba mati. Tak lama Faskieh di panggil untuk mengisi riwayat data pasien. Dia meminta waktu untuk menggeledah tas Naya dan mencari Kartu Tanda Pengenal.


Tak berapa lama Zee datang.


"Kak ...."


"Bagaimana?" tanya Zee.


"Tidak tahu. Dokter belum selesai memeriksa." Faskieh dan Zee duduk di kursi tunggu. "Kakak tahu, aku menemukan kak Naya tidur di emperan toko. Dia pingsan mungkin karena kedinginan."


Meski dalam hatinya mulai tersentuh dan miris, akan tetapi dia berkeras hati tidak akan luluh. Biarkan saja Naya menerima ganjarannya.


"Bagaimana dengan keadaan pasien?"


"Bagaimana dengan calon anak pasien?"


Zee dan Faskieh melayangkan pertanyaan secara bersama, namun yang ditanyakan berbeda.


"Kondisi pasien sangat lemah. Untuk bayinya sendiri, ketika ibunya dalam kondisi tidak stabil, maka bayinya juga sama. Jadi, bisa dibilang lemah juga. Tapi kami tadi sudah memasukkan obat penguat janin, jika kuat, maka bayi itu akan bertahan."


"Tapi ada satu yang saya khawatirkan. Takut pasien memiliki riwayat penyakit berbahaya. Saya sarankan pasien di pindah ke rumah sakit besar agar menjalani pemeriksaan keseluruhan." Dokter menerangkan.


"Baik Dok, kami akan diskusi terlebih dahulu."


Setelah dokter pergi. Faskieh menanyakan tindakan selanjutnya. Tetapi Zee sendiri belum tahu harus bagaimana.


Sungguh, dia ingin acuh dengan kondisi Naya. Tetapi, dia masih punya rasa kasihan. Ah entahlah, dia pun dilema.

__ADS_1


"Dia dulu memang jahat kepada Kakak. Tapi sepertinya dia sudah menyadari kesalahannya. Apa Kakak masih berat untuk memaafkan kak Naya?"


"Kenapa kamu membelanya?" tukas Zee.


"Bukan aku membela kak Naya. Tapi, kasihan. Ku pikir dia sudah mendapat kesedihan yang setara dengan Kakak."


"Dia baru saja kehilangan ibunya. Dia menyusul Kakak ke sini tanpa bekal apapun. Setekad itu dia ingin bertemu dan mengembalikan kak Io pada Kakak. Dia rela sampai tidur di jalan tanpa memikirkan dirinya. Sejauh itu, apa kakak masih tidak kasihan?"


"Lihat di dompetnya, cuma ada 500 dolar. Dengan uang segitu, apa cukup untuk bertahan hidup di negara ini."


"Kasihan, apa kita beritahu Kak Io kalau kak Naya ada di sini?"


"Akh, diam! Kamu terus saja bicara kasihan kasihan dan kasihan! Bilang tinggal bilang pada Kak Io. Aku tidak peduli!" bentak Zee. Bangkit dan pergi.


Faskieh mengembus napas panjang. Dia justru dalam posisi bingung. Dia bukan siapa-siapa, tidak ada sangkut pautnya, tapi terlibat rumitnya perdebatan mereka.


Pagi hari.


Naya mengerjap-ngerjapkan matanya pelan, menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke retinanya. Kenapa dia berbaring di tempat asing? Apakah pemuda bernama Faskieh yang membawanya ke tempat itu.


"Selamat pagi, Kak," ucap Faskieh yang baru tiba. "Aku bawakan bubur oatmeal buat Kakak sarapan. Makanlah mumpung masih hangat, masih enak. Kalau sudah dingin tidak enak."


Naya bergeming. Apa yang diucap Faskieh mirip dengan perkataan seseorang waktu dulu dia juga sedang di rawat.


"Terima kasih. Tapi kenapa membawaku ke sini? Aku merepotkanmu," ujar Naya lirih.


"Nggak merepotkan. Santai aja. Ini belum termasuk jam kerjaku, jadi santai. Kalau kuliah, masih jam satu nanti."


"Kakak kenapa nggak bilang kalau belum punya tempat tinggal? Aku bisa bantu Kakak mencari apartemen atau hotel. Nggak seperti tadi malam tidur di tempat seperti itu. Di sini sedang musim dingin Kak. Takutnya tubuh kakak nggak kuat, kan kasihan juga dengan bayi kakak."


"Sekali lagi terima kasih, tapi aku nggak mau merepotkan."


"Tidak ingin merepotkan tapi lebih dari sekedar merepotkan. Kamu kira di sini seperti di Indonesia, suhu dinginnya lebih tinggi dari pada di sana." Seseorang masuk dan menyahut obrolan Faskieh bersama Naya.


"Apa Kakak menyusul ku ke sini?" tanya Faskieh pada Zee.


"Aku tidak menyusul mu. Aku ke sini karena ingin menemui dia," ujar Zee melirik Naya sekilas.

__ADS_1


"Pulang saja ke Indonesia! Di sini bukan tempatmu!" kata Zee.


"Aku tidak akan pulang sebelum apa yang aku janjikan terlaksana."


__ADS_2